Vicky (The Series of Haztin) Part 3

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 11 May 2018

Dunia yang aku temui saat ini, berbuih putih dengan awan mengelembung bagai balon. Ada kapas-kapas berwarna merah muda. Seseorang memegang tanganku, membangunkan aku, seseorang dengan wajah berbalut awan.

“Kamu sudah sampai.” Begitu katanya, aku membuka kedua mataku, menerjap-nerjap dengan perasaan iba untuk diri sendiri.
“Kenapa aku ada di sini?” aku berjalan berdampingan dengan orang berbalut awan itu, dia menuntunku memasuki jalan setapak, dengan beralaskan kepingan emas berkilau dan awan biru yang menghiasi.
“Kamu hanya tidak beruntung di dunia namun cukup beruntung di sini. Mari kutunjukan jalan, kamu harus menemui beberapa sesepuh.”

Aku berjalan dalam kebingungan, mengikuti langkah orang yang tidak kukenal dalam dunia yang benar-benar indah.
Lalu merpati datang dari kejauhan, namun merpati di tempat ini memiliki sayap yang lebih besar daripada tubuhnya, dengan kepala merpati yang dihiasi awan kecil.
“Kau membawa pesan? Mari, aku lihat.” Orang itu mengambil kertas yang dibawa merpati itu dan membacanya.
“Kau harus kembali.” Begitu pria itu berbalik ke arahku dia langsung mendorong tubuhku ke belakang dan membuat aku hilang kendali.
Aku terjatuh ke dasar yang hilang, membuat tubuhku berputar dalam waktu lama.

Seseorang menangis.
Aku melihat kepalanya menunduk dengan tangan yang menutupi wajahnya.
Aku mengangkat tanganku, menarik tangan orang itu.
Dia melihat padaku, dengan mata memerah.
“Apa aku di surga?”
Namun lelaki itu kembali menangis. Dia tersungkur jatuh dan mulai menangis lagi.
Dia seperti baru kehilangan seseorang dalam hidupnya.
“Kenapa menangis?” aku merasa benar-benar kosong saat ini dan yang bisa kulihat hanyalah lelaki ini, aku bahkan tidak menyadari di mana aku berada saat ini.
“Bolehkah aku memelukmu?” lelaki itu bertanya
Awalnya aku merasa bahwa dia adalah lelaki mesum atau sejenisnya, namun segera sadar jika aku berada di Surga dan di sini hanya ada orang dengan hati tulus.
“Bolehkan aku memelukmu?” aku kembali bertanya padanya. Mendapatkan respon yang sangat berbeda, dia menarik tanganku dan meraih kepalaku ke dalam pelukannya, dia kembali menangis.
Bahkan aku tidak ingat kapan terakhir aku menangis seperti lelaki ini.
Lalu alasan apa aku bisa sampai ke sini?
Ke dunia putih, dengan awan berwarna biru dan jalan beraspal emas…

Tubuhku bergerak perlahan. Merasakan punggungku yang kelelahan, aku membuka kedua mataku.
Kamar besar dengan beberapa figuran foto berukuran jumbo berhias di atas dinding, sebuah lemari tunggal yang agak memanjang memenuhi kamar, sebuah bilik kecil di ujung ruangan, dan jendela yang sedikit terbuka dengan tiupan angin yang memainkan gorden berwarna merah.
Aku berada di sini.
Entahlah.
Tapi bukan Surga.
Ini terlihat seperti kamar wanita dewasa.

Pintu di sana bergeser.
Aku melihat pria yang menagis itu sedang berdiri di sana, sedikit ragu dan terpaku didepan pintu yang sedikit terbuka
“Aku boleh masuk?” terdengar sedikit ragu, ia terkesan malu.
Aku mengangguk kecil.
“Kau butuh sesuatu?”
Aku menggeleng.
“Kau mengingat sesuatu?”
Aku menggeleng.
“Aku hanya ingat, berada di tempat berawan biru, beraspal emas, dan seorang dengan jubah putih besar, dan merpati bersayap besar, dan kau yang menangis.”
Dia sedikit terbatuk ketika mendengar kalimat terakhirku.
“Kamu hanya bermimpi. Sekarang kau sudah lebih baik?”
“Memangnya apa yang terjadi padaku?”
“Ehm, a-aku,”
Aku menunggu jawabannya dengan tidak sabar, lelaki ini malah menarik kursi dan duduk di sana.
“Maaf, bolehkan aku perkenalkan diri lebih dulu?”
Ah, benar juga. Itu adalah poin penting.
“Baiklah.”
“Namaku Vicky,” dia terdiam dan mulai berpikir lagi, aku rasa lelaki ini terlalu banyak berfikir, dia lalu melanjutkan “kita harus segera pergi dari sini.” Aku berbalik menatapnya.
“Tapi kenapa? Apa kamu mencuri rumah orang?”
Vicky tertawa dan aku menyaksikan deretan gigi putih dengan satu gigi ginsul di bagian kiri, tawa yang indah.
Dia menggeleng keras. Katanya, “Tentu saja tidak. Ini rumah Tanteku dan dia baru saja pergi, entah ke mana, dan aku merasa tidak berhak untuk tinggal lebih lama di sini.” Wajah ceria itu tergantikan oleh raut sendu yang mendatangkan awan hitam.
“Ya, aku bersedia pergi dari sini. Tapi siapa aku? Di mana rumahku? Apa kamu tahu sesuatu? Dan kenapa aku bisa berada di sini?”
Aku tahu ini tentu saja pertanyaan yang menyebalkan untuk situasi seperti ini, tapi aku memang harus tahu itu semua sebelum aku pergi dari sini. Aku hanya merasa, dia bukanlah keluargaku.
“Kau tidak ingat apa-apa?” suaranya sedikit meninggi dan itu membuatku khawatir, bagaimana kalau aku adalah korban tabrak lari atau sesuatu yang lebih menyeramkan dari itu?
“Aku rasa aku sudah pernah memberitahu kamu.”
Dia terdiam cukup lama, mungkin mencoba mengingat pembicaraan kami beberapa menit yang lalu.
“Ah, benar juga. Maafkan aku.”

Itu ingatan masa lalu.
Sekarang aku dan Vicky bahkan sedang duduk semeja dengan makan siang yang penuh dan air mineral dengan porsi besar.

Aku tidak akan menceritakan bagaimana dan kenapa, karena jujur saja, aku bahkan tidak mengingat dengan jelas segala sesuatu mengenai diriku sendiri maupun mengenai lelaki yang sudah menemaniku selama dua ini.

“Hei, Haztin,” kudengar teriakan seseorang, lalu muncul Exera dengan membawa banyak buku seperti biasanya.
“Kalian makan lagi? Beberapa menit yang lalu bukannya kalian sudah makan?” begitu dia sampai di meja kami, dia meletakan semua buku-bukunya dan langsung menyambar air mineral kami.
“Hey, itu milikku.” Teriakan Vicky tidak menahan Exera untuk meminum air mineralnya.
“Apa bedanya antara Milikmu atau miliknya Haztin?”
“Kau baru saja melakukan ciuman tidak langsung.” Bisikku, membuat Exera tertawa keras namun membuat Vicky terjebak dalam wajah memerah dan berubah menjadi lelaki kalem.
“Apa aku first kiss tidak langsung kamu, Vick?”
Vicky berdiri dan meninggalkan meja tanpa menyelesaikan makanannya, dia bahkan tidak membawa botol mineralnya.
“Ah, Manisnya.” Tanpa sadar aku menyuarakan isi hatiku.
“Siapa?” Exera bertanya sembari mengambil sendok dan menyuapi amkan siangku kedalam mulutnya.
“Dia ada kelas ya?” aku bertanya pada Exera yang memang merupakan tetanga fakultas dengan Vicky.
“Aku rasa tidak ada, ah, tapi dia sedang ada tamu.”
“Ada tamu?”
“Iya, kamu kenal Keynes dari Hukum? Dia tadi mencari-cari Vicky dan sepertinya mereka punya urusan penting.”
“Ah, benarkah? Aku baru mendengar nama itu,”
“Ya, memang, untuk anak kesenian sepertimu memang tidak mungkin mengenal anak hukum. Fakultas kalian jauh.”
Aku seperti merasa ada sesuatu yang menjanggal. Rasanya aku ingin mengejar Vicky saat ini juga, bertanya “Apakah dia baik-baik saja?” namun aku tidak memiliki hak untuk terus bertanya seperti ini. Dia sudah cukup baik dengan menyelamatkan hidupku, mencari pekerjaan sambilan, dan menghidupi hidup kami berdua, meski kadang itu semua tidak cukup.
“By The Way, besok mau nonton The Bangtan Movie tidak? Aku sudah punya 3 tiket, kau boleh mengajak Vicky.”
Dan kami terlarut dalam obrolan, makan siang dan rutinitas kuliah yang memberatkan bahu.

Satu yang sampai saat ini tidak aku ketahui adalah Di mana Kedua orangtua kami.
Aku memang mengenal Vicky sebagai orang yang menyelamatkan hidupku. Membawaku ke Inggris bukanlah hal gampang. Membiayai sekolah kami juga bukanlah hal yang bisa diselesaikan oleh seorang yatim-piatu seperti Vicky, meski dia memiliki pekerjaan namun gaji yang ia miliki tidaklah besar.
Kami menyewa dua apertemen berbeda. Bahkan ini membuatku merasa aneh.
Kami hanya dua remaja yang melarikan diri tapi kenapa sepertinya kami memiliki banyak persiapan?
Aku ingin bertanya tapi rasanya itu sedikit tidak sopan. Aku merasa seperti tidak menghargai kerja kerasnya. Dan bahkan merasa menyakiti hatinya.
Apa yang harus aku lakukan?
Vicky, siapa sebenarnya aku ini? Orang yang hanya bisa menyusahkan kamu, orang yang bahkan merasa lebih menyakitimu daripada orang lain.
Maafkan aku Vicky.
Tapi bolehkan aku tahu sesuatu? Biar kecil. Aku mohon.

– VICKY PART END –

Cerpen Karangan: Bunga Salju
Blog: velerianarahayaan.blogspot.co.id

Hai, Maaf ya membuat kalian jadi bertanya-tanya tentang cerpen karya aku.
Jadi aku membuat Cerpen Series ini dengan Judul Utama HAZTIN.
PART 1 – KEYNES
PART 2 – HAZTIN
PART 3 – VICKY

Jadi aku memakai tiga tokoh utama untuk menjadi judulnya.
kalian boleh terus stay tune untuk cerita ini.
Aku akan update untuk part berikutnya.
Nantikan yaa.
Semoga kalian menyukainya.

GOMAWO

Cerpen Vicky (The Series of Haztin) Part 3 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyuman itu

Oleh:
“Panasnya lapangan hari ini” Ujarku. “Iya nih.” Lanjut seorang cowok di sampingku. Cowok sok tahu, dia adalah Vikron. “Apa sih? nyambung-nyambung aja lu.” Ucapku ketus. “Iya dah, Kha.” Jawabnya

Penyelamat

Oleh:
Di dunia nyata ini, hidupku terasa hampa. Tidak ada seorang pun teman yang dapat menghiburku ketika aku sedih. Seperti kebanyakan orang yang berada di posisi ‘merasa paling tak berguna’,

Pelangi Arka dan Rain (Part 2)

Oleh:
Tak lama, karena Ray tak juga membuka mulut, Kayla menambahkan. “Tapi Ray. Perlu loe ketahui satu hal. Arka udah punya Catrine. gua mau loe jangan jatuh terlalu dalam. gua

Melodi Cinta Penuh Makna (Part 1)

Oleh:
Namaku Sirius. Pagi ini terlihat sangat indah. Ya lihatlah matahari mulai memancarkan sinarnya dan awan pun mulai merubah warnanya, terdengar suara memanggil tepat di depan jendela kamar. Ku buka

Waktu Itu

Oleh:
“Vio! Kamu enggak bisa gini terus!!! Sebenarnya kamu ini kenapa? Sejak 1 bulan ini kamu sering melamun enggak jelas, nilai kamu turun, terus yang kita pelajari enggak masuk ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *