Wacht Op Mij, Holland

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 4 August 2016

Terakhir kalinya Edo merasakan kehangatan itu sudah lama sekali, ia pun mungkin sudah lupa dengan wajah ayahnya yang terakhir kali ia lihat saat ia kelas 3 SD sebelum Ayah, Ibu, dan Adiknya terbang ke Amsterdam. Namun, ia masih ingat betul pesan ayahnya ‘Jangan pernah membenci atau berbuat jahat pada siapapun karena kita tidak tau bisa saja suatu saat nanti dia bisa menolong kita.’ Itulah pesan ayahnya yang masih terekam dengan jelas di otak Edo.
Hingga Edo menjadi mahasiswa FISIP di Universitas Diponegoro, ia dibesarkan oleh pakde dan budenya yang baru memiliki satu putra yang duduk di kelas 3 SMP, Rama namanya. Edo selalu menjaga Rama dari pahitnya pergaulan ABG di lingkungan sekitarnya, layaknya Rama adalah adiknya sendiri. Begitu juga dengan Rama, ia patuh terhadap nasihat dan perintah Edo, layaknya kakaknya sendiri. Pakde Bagus dan Bude Yuni pun sudah menganggap Edo seperti anaknya sendiri. Pakde Joko dan Bude Yuni pun dirawat oleh Edo karena mereka sudah berusia 67 dan 65 tahun. Tak ada yang tahu bahwa Edo sebenarnya hanyalah ponakan pakde Joko. Orang orang taunya mereka adalah sebuah keluarga.

Seiring berjalannya waktu, Edo mulai mengenal wanita saat ia masuk semester 4. Untuk anak seumuran Edo, ia sebenarnya telat memasuki masa itu. Ia terpikat saat ada mahasiswi asing jurusan Sastra Indonesia di kampusnya lewat di hadapannya saat ia makan siang di kantin. Dengan modal kemampuan bahasa Inggrisnya yang belum dibilang cukup itu, ia memberanikan diri menghampiri wanita itu.
“Hello. Where are you come from?” Sapa Edo sambil mengulurkan tangannya
“Hello. I come from Groningen?” Jawab wanita itu
“Groningen? Where it is? OMG, im forget, what is your name?” Tanya Edo lagi dengan suara yang medog itu.
“Hahaha, My name Clara from Netherland, Student of ‘Sastra Indonesia’ in this campus.” Jawab Clara.
“Can i sit here beside of you? Hehe. Im sorry my english is not good, so can you speak bahasa?” Kata Edo mulai gugup
“Tentu saja. Tapi maaf jika bahasa Indonesia saya kurang memuaskan. Hahaha.” kata Clara dengan logat khas bule eropa.
“Oh gak papa gak papa gak masalah hehe kirain gak bisa bahasa Indonesia. Tau gitu tadi gak nyari nyari dulu di kamus bahasa Ingris.”
“Kamu mahasiswa disini? Jurusan apa? Kamu belum sebut nama kamu.”
“Oh iya, saya mahasiswa jurusan Komunikasi tapi Inggrisnya malah belum lancar hehe. Kenalin, Timotius Ridho Prasetyawan, mahasiswa semester 4 disini hehe.”
“Salam kenal ya Edo. Kamu orang Indonesia pertama yang saya kenal di Semarang ini. Bersyukur banget akhirnya bisa dapet temen orang Indonesia sekalian ngelancarin bahasa Indonesia hehe.”
“Ah bisa aja kamu. Oh iya, kamu tinggal dimana? Ngekos? Atau sama saudara?”
“2 Bulan ini aku tinggal sama pamanku, rumahnya lumayan jauh sih dari kampus. Pamanku ini istrinya asli orang Klaten.”
“Wah enak dong jadi belajar bahasa Indonesia sama bahasa Jawa hahaha.”
“Hahaha aku juga sebenernya tertarik sama bahasa Jawa. Tapi orangtuaku lebih ngedukung aku buat masuk di Sastra Indonesia. But actualy, I want to learn Javanese language.”
“Tenang aja, bahasa jawa tuh gak usah belajar di kampus, belajar sama tante kamu dan sama aku juga bisa kok hehe.. Aku asli dari Jogja loh. Do you know Jogja?”
“Jogja? Of course i know. Istimewa. Hahahaha”
Ya, Edo merasakan hatinya berbunga bunga saat ia bisa berkenalan dengan junior yang bahkan berasal dari Belanda. Ia langsung bangga pada negerinya sendiri saat ia tau anak muda Eropa rela meninggalkan negeri mereka yang begitu indah itu hanya untuk belajar bahasa Indonesia.

Di kampusnya, bukan hanya Clara mahasiswi asing sastra Indonesia. Ada kurang lebih 20 orang Eropa di gedung Sastra Indonesia. Yang ia tau hanya Clara dari Belanda, Mary dari Inggris, Dave dari Finlandia, Silva dari Spanyol, dan Dominic dari Itali. Yang lebih hebatnya lagi, mereka sudah lancar berbahasa Indonesia.

Waktu berjalan, Edo membawa Clara ke rumahnya dan kebetulan ada pakde Joko dan bude Yuni. Mereka berdua heran kapan Edo pergi ke Eropa? Namun mereka tetap santai dan Pakde Joko teringat anak dari teman kuliahnya, Smith, di Belanda dulu. Clara benar benar mirip dengan anak temannya itu. Mereka akhirnya larut dalam perbincangan dan Edo pun kagum saat pakdenya mengeluarkan kemampuannya berbahasa Belanda yang selama ini anaknya pun tidak tau akan hal itu.
“Als je verliefd op Edo? Hahahaha” kata pakde Joko dengan nada bercanda
“Kunnen optreden hahaha. Mungkin lebih enak dengan bahasa saja pakde, biar Edo dan Bude bisa paham.”
“Ooo bude Yuni ini bisa bahasa Belanda. Kita kan dulu ketemu di University of Utrecht. Sama sama orang Indonesia hehe. Ayahnya Edo pun sekarang masih di Amsterdam, ngurusin KBRI disana.” Kata pakde.
Mendengar Pakde Joko menyebut ayahnya, Edo berlalu ke kamar dan sibuk membongkar lacinya dan akhirnya ia mendapatkan apa yang ia cari. Foto Utrecht dari udara. ‘Gua harus S2 disana! Gua harus ke Utrecht! Gua pengen nunjukkin ke bokap kalo gua bisa nyusul dia!’ Kata Edo dalam hati.

Singkat cerita, Edo wisuda S1 tahun 2009. Clara, Mary, Dave, Silva, dan Dominic hadir dalam acara wisuda itu. Sementara itu, Clara sedang sibuk sibuknya di semester 5. Saat itu, Clara sudah fasih berbahasa Indonesia, bahkan logat bule Eropanya pun perlahan lahan makin menghilang. Edo masih berkeinginan kuat untuk ke Utrecht dan ia sampaikan mimpinya itu kepada Clara

“Clara, I want to tell something to you.”
“Something? What it is?”
“Ya aku udah lulus dan aku udah 2 bulan kerja di media cetak. Dulu waktu semester 1, I have a dream to fly to your country, Holland. I want meet my Dad, I want meet my Mom, I want look at your country. Jadi bukan cuman kamu yang nengok Indonesia. Aku juga harus ngerasain Belanda. Hehe”
“OMG? Are you f*cking seriously? Tapi kenapa Do? Aku udah nyaman disini dan aku gak mau ke Belanda lagi sebelum aku lulus S2 disini, Indonesia.”
“Ya kamu kan bisa tetap disini, jadi yang kesana aku aja. Kamu tinggal disini kan bisa.” Jawab Edo dengan raut wajah yang sedikit bingung.
“Edo, Just you are the reason for me to live here right now. I don’t want you leave me for a long time. Edo, look at me! I Love You!” Jawab Clara dengan nada sedikit kesal.
“But, oh my God! I’m so stupid, sampe gak tau kalo kamu sayang sama aku. Clara, jujur dari hati aku, aku udah mulai sayang sama kamu saat dulu kita pertama kenalan di kantin itu.” Kata Edo sambil menengok ke Kantin.
“Tapi ya aku gak bisa. Malem nanti aku mau ngurus tiket, paspor, visa, dan segala macemnya.” Kata Edo lagi.
“Please stay here, Edo. Sampai aku wisuda, kita ke Belanda bareng bareng.” Jawab Clara sambil memohon
“Oke. Aku tunggu kamu sampai wisuda dan kamu harus tepatin janji kamu.”
“Janji?”
“Iya janji!”

Edo pun rela menunggu 3 semester bagi Clara. Begitu juga Clara semakin semangat menjalani 3 semester terakhir di Indonesia sebelum ia akan liburan ke negerinya, Belanda.

15 Juni 2011, Clara mengikuti wisuda tanda bahwa ia sudah lulus program S1 jurusan Sastra Indonesia. Edo hadir disitu dengan tampilan yang amat menawan. Sepatu Fantofel, celana bahan berwarna hitam, dan kemeja lengan panjang yang ia gulung berwarna putih, tak ketinggalan sisirannya yang khas dan kumis tipis menghiasi bibirnya. Pakde Joko juga hadir disitu bersama Bude Yun dengan mengenakan batik dan kebaya. Pakde Joko sudah menganggap Clara adalah anaknya sendiri, begitu juga Bude Yun. Mereka bangga masih ada orang bahkan dari luar negeri belajar Bahasa Indonesia.

“Congratulation Clara! All the best for you!” Pakde Joko menghampiri Clara bersama Bude Yun dan Edo
“Makasih Pakde, Bude, Edo. Aku gak ada apa apanya tanpa kalian.” Jawab Clara sambil memeluk bude Yun dan pakde Joko.
“Ehmm ehmm, pakde, bude, kita cari makan yuk. Warteg depan kampus kayaknya masih ada deh hahaha.” Canda Edo
“Halah koe iki guyon wae le le!” Sahut pakde Joko.

Sesampainya di Gudeg Bu Minah, Edo bingung untuk menyampaikan keinginannya, mimpinya, untuk terbang ke Belanda menemui kedua orangtuanya yang sudah bertahun tahun meninggalkannya.

“Pakde, bude, Ehmm, Aku mau ketemu Bapak, Ibu, sama Adekku di Belanda. Mungkin aku disana cukup lama.” Kata Edo dengan mata yang entah menatap kemana.
“Hukk uhukk,.. Kok tiba tiba gini sih Do?” Jawab Pakde Joko dengan kaget
“Ya, sebenernya aku udah mau bilang udah dari jauh jauh hari, cuman sekarang aku ehmm mau ngomong juga ke pakde sama bude kalo aku mau ke Belanda sama calon istri aku, Clara.” Pakde Joko, Bude Yuni, dan juga Clara tersedak mendengar ucapan Edo.
“Hah? Calon istri?” Jawab pakde Joko, bude Yuni, dan Clara secara bersamaan
“Iya, Clara, aku sayang sama kamu, kita udah lama bareng bareng, kamu mau jadi istri aku?” Kata Edo sambil mengeluarkan cincin dari saku celananya.

Clara menjawab bukan dengan ucapan. Ia tersenyum dan mengulurkan tangan kirinya sebagai tanda ia menerima pinangan Edo. Pakde Joko dan bude Yuni pun menangis sambil tersenyum, pakde Joko mengusap kepala Edo, keponakan yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri sejak kelas 3 SD hingga kini Edo telah bekerja dan siap kembali lagi pada ayahnya di Belanda.

“Do, nek koe arep metu Belanda, aku karo budemu arep melu yo le?”
“Nggih pakde boten nopo nopo. Kan aku juga belom ngerti jalan jalan di Belanda hehehe.”

Mereka berempat terbang ke Belanda seminggu kemudian. Sesampainya di Utrecht, perasaan Edo malah tidak enak, entah kenapa. Padahal, sepanjang perjalanan ia sangat antusias dan tidak sabar untuk bertemu orangtuanya sekaligus mengenalkan Clara pada mereka.

Pukul 1 siang, sampailah Edo di depan rumah orang tuanya. Ia masuk dan hanya ada ibunya disitu sendiri. Ia terdiam sejenak dan melepaskan tasnya sebelum ia berlari dan memeluk ibunya dengan mesra dan penuh kerinduan di antara mereka berdua.

“Bu, aku udah lulus kuliah, aku udah kerja, aku kangen banget sama ibu.” Kata Edo tanpa melepas pelukannya sambil menangis.
“Iya do, Pakde udah ngabarin ibu kok selama kamu disana. Ibu juga tau kalo kamu mau terbang ke sini. Mana calon istri kamu do?” Kata Ibunya sambil melepas pelukan hangat mereka.
“Itu bu, kenalin, namanya Clara, dia lahir di Utrecht tapi besar di Groningen sampe dia lulus SMA trus dia kuliah S1 di UNDIP bu jurusan Sastra Indonesia. Dia baru lulus tuh hehe.”
“Oh iya?” Kata ibunya Edo sambil menyalami Clara dengan penuh senyum bahagia.
“Iya tante, saya Clara.”
Edo melepas rindu pada ibunya dan menunggu kehadiran ayahnya hingga waktu menunjukkan pukul 10 malam namun Edo belum melihat sosok ayahnya hingga malam ini. Ia tetap menunggu hingga larut malam, Ibunya tau bahwa Edo menunggu ayahnya walaupun Edo tidak menanyakan padanya. Lama kelamaan, Edo bosan menunggu dan akhirnya ia menanyakan pada ibunya.

“Bu, bapak kemana sih? Kok belom pulang?” Tanya Edo
“Ya udah kamu tidur aja dulu besok pagi kamu harus udah rapi kalo mau ketemu bapak.”
“Emang bapak dimana sih bu?” Tanya Edo lagi.
“Ya udah kamu istirahat aja dulu sana.”

Edo menyerah dan melangkah menuju bilik dengan arsitektur khas Belanda yang sudah disiapkan oleh ibunya. Ia tidak langsung memejamkan matanya. Ia melihat foto foto ayahnya yang dipajang di dinding bilik itu. Ada juga satu foto saat ayahnya menggendong dia saat ia berumur kurang dari umur anak kelas 4 SD.

“Nak, mana calon istrimu? Bapak mau liat.”
“Hah? Calon istri? Belum jadi calon istri pak. Edo baru pacaran beberapa bulan sama Clara.”
“Ya tapi kenalin dong ke bapak, kan bapak mau tau cewek yang deket sama kamu? Orang mana dia le?”
“Dia warga negara Belanda pak, baru lulus S1 di UNDIP jurusan Sastra Indonesia, namanya Clara Van Derg”

“Le, bangun le, bangun.. Mau ketemu bapak gak?” Kata ibu sambil menggoyahkan badan Edo.
“Emhhhh, iya iya bu sebentar.” Jawabnya.

Dia terbangun dari tidurnya dimana sang ayah masuk ke dalam mimpi. Lekas ia mengambil handuk dan segera mandi.
“Kom je? (Apakah kamu ikut saya?)” Tanya Edo pada Clara
“Waarom? (Kenapa?)” Clara bingung.
“Semalem aku mimpiin bapak. Dia mau ketemu kamu, buruan siap siap! Aku juga mau mandi nih.” Jawab Edo seraya melantur ke kamar mandi
Ya, Edo sudah siap memeluk ayahnya lagi, ia tak sabar untuk menangis meluapkan semua kerinduan kepada ayahnya. Semuanya sudah siap, bukan hanya Edo, Pakde, Bude, Ibu, dan Clara pun telah berpakaian rapih. Namun apadaya? Ibu, Pakde, dan Bude malah membawa Edo ke pemakaman. Ibu berjalan di depan diikuti Edo yang tak berani bertanya apapun pada ibunya. Sampailah mereka pada suatu kubur dan tumpahlah air mata Edo saat ibunya mengucapkan satu kalimat.

“Disinilah Bapak.”

Ayah Edo meninggal karena serangan jantung, tepat disaat Edo menyelesaikan studi S1 nya di Undip. Pakde Joko dan Bude Yuni tak berani dan tak mau mengatakan bahwa ayahnya telah berpulang saat itu. Edo menangis tiada henti seolah inilah akhir kehidupan. Ia pun berhenti menangis, dan dengan tabah ia berkata di depan batu nisan ayahnya:

“Pak, aku janji gak akan ngecewain bapak, aku janji aku pasti sukses. Sekarang aku bawa pacar aku yang bapak tanyain, ini orangnya pak, ini calon istri aku. Dia pasti ada di samping aku saat aku seneng, atau saat aku lagi jatoh pun dia selalu ada buat aku. Dia yang nyemangatin aku. Aku mohon restu bapak ya pak.”

TAMAT

Cerpen Karangan: Krishna
Blog: www.cumanmiripkrishna.wordpress.com

Cerpen Wacht Op Mij, Holland merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kado Terindah

Oleh:
Waktu itu aku masih sekolah, kelas 1 sma. Cuacanya agak gerimis cukup lebat, hingga tak seorang pun yang berani main di lapangan, hanya berjalan jalan di lorong teras depan

LDR Pertemuan Yang Tak Disangka

Oleh:
Aku kenal dia dulu waktu aku SD, kami seumuran tapi dia seniorku karate dulu. Dulu waktu karate dia adalah senior yang lumayan ditakuti karena mukanya yang juga agak menyeramkan,

Aku, Kamu dan Dia

Oleh:
Aku dan kamu adalah sahabat sejak kita kecil. Kita sangat dekat dan selalu menghabiskan waktu bersama. Hingga kita beranjak remaja, kita mulai menyadari bahwa ada perasaan lebih dari sekedar

Sayonara

Oleh:
Aku capek memendam rasa yang nggak terbalas ini. Aku capek dengan sikap Azraq itu. Dia cuek, dia sadis, dia nggak peduli, dia nggak pernah senyum sama aku. Dia pikir

Hujan (Part 2)

Oleh:
Sesampainya di kamar Kost, Hanni pun memikirkan apa yang dibicarakan Sherly saat bertemu dengannya tadi. Apa benar karena sebuah rasa benci yang terpendam dihatinya yang menyebabkan Hanni menjadi pendiam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *