Waiting To Lose (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 23 January 2016

Setiap kali waktu mempertemukan Edo dan Emily. Setiap kali mereka dihadapkan pada sebuah keputusan, hal itu semakin buram dan kelabu. Dua orang yang saling mencintai namun tak pernah ingin bicara. Mereka naif! Ya, mereka takut akan saling melukai. Meskipun terkadang cinta selalu membawa mereka dalam kebahagiaan yang tak pernah padam. Seorang gadis belia duduk dengan tatapan merendah di balik jendelanya. Bekas air matanya yang baru saja mengering masih nampak jelas di sana. Matanya sendu namun teduh.

Kedua pipi dan bibirnya yang memerah menjadikan keanggunan tersendiri di sana. Cantik. Bola matanya yang bulat dengan hidung runcing yang tergores dengan sempurna. Serta dua lesung pipi yang begitu manisnya tercetak setiap kali bibirnya melengkung. Beberapa hari ini. Saat Edo tak sengaja memandang salah satu jendela dari apartement yang tidak jauh dari komplek perumahan yang ia tinggali. Seorang gadis mungil yang anggun selalu meratap disana kala pagi buta. Terkadang Edo menatapnya lekat-lekat. Sama. Gadis itu masih sama sedihnya seperti kemarin. Bahkan Edo rasanya seperti memahami kesedihan yang gadis itu rasa.

Pagi itu. Ketika Edo melewati Apartement itu, matanya menemukan sesuatu yang ganjal. Gadis yang beberapa minggu terakhir selalu ia perhatikan saat itu menghilang entah ke mana. Edo seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Ia kecewa entah karena apa. Tapi hal itu diabaikannya. Ia terus berjalan menyusuri jalan di seberang apartement itu. Edo mengernyit saat melihat gadis mungil dengan perawakan sedang itu berdiri membelakanginya. Rambutnya yang panjang terurai dengan anggun. Semilir angin kala itu semakin menambah keindahan dari gadis itu. Edo terdiam dan membeku di sana.

Gadis itu menoleh pada Edo. Seulas senyum dari sudut bibirnya mengembang. Senyum manis itu. Senyuman yang tak pernah ia lihat dari gadis misteriusnya itu kini ada tepat di hadapannya. Seperti anak kecil yang menemukan sebuah hal baru rasanya. Kebahagiaan yang membuncah dari dadanya itu entah datangnya dari mana. Yang pasti Edo begitu terpesona dibuatnya. Sebuah perbincangan singkat terjadi pagi itu. Perkenalan tak terduga yang tak pernah Edo lupa setiap detiknya. Gadis misterius yang begitu cantik.

Gadis itu, Emily. Seseorang yang punya kesan hangat yang begitu dalam. Dia seseorang yang membuat setiap detik dalam hidup lelaki itu begitu berharga. Bahkan setelah perbincangan canggung itu terlewat ada sebuah pemikiran gila yang terus bersarang di pikiran Edo. Ia selalu teringat akan tatapan berbinar dan senyum manis dari Emily. Gadis misteriusnya. Gadis yang entah datangnya dari mana sampai secantik itu. Ah, tidak! Dia begitu manis. Edo bergumam dan menertawai dirinya sendiri yang begitu bodoh dalam menyimpulkan.

Dret. Dret. Dret. Ponsel Edo bergetar beberapa kali. Ada sebuah pesan singkat di sana. Edo enggan melihatnya. Benar-benar muak karena pesan itu. Pasti. Pasti dari seorang gadis pengkhianat itu. Edo tampak geram di sana. Ponselnya mati. Dimatikan! Yah, pasti begitu! Pikir Alea. Alea berada dalam klimaks kesabarannya. Kali ini ia benar-benar marah pada Edo. Edo yang begitu acuh dan tak pernah mempercayainya lagi. Edo yang begitu menyebalkan! Umpatnya dalam hati.

Alea adalah salah satu dari mahasiswi terpopuler di kampus Edo. Seorang gadis cantik nan anggun. Dewasa, ambisius dan begitu tegas dalam segala hal. Alea. Ia jatuh hati pada pemuda sederhana yang tampan itu. Edo dan Alea beberapa bulan teakhir menjalani hubungan mereka dengan begitu baik. Semuanya serba sempurna dan penuh cinta, namun kebersamaan mereka kian surut saat Alea melakukan kesalahan yang membuat hancur hati Edo.

Alea mengkhianatinya. Alea dan sahabatnya membuat sebuah permainan yang menjijikkan di belakang Edo. Mereka ibarat duri dalam daging. Mereka benar-benar tak punya hati sampai tega mempermainkan perasaan seseorang. Membuatnya terbang sampai ke awan lalu dengan sengaja menghunuskannya ke tanah dengan begitu menyakitkan. Edo tak mau mengingat-ingat hal itu lagi. Ia selalu menahan dirinya untuk tidak membiarkan sebuah kebencian bersarang dalam hatinya. Dan lagi-lagi Emily menghampiri pikirannya. Gadis itu. Gadis yang bisa dibacanya dengan jelas. Gadis yang begitu tulus dan murni. Meskipun Edo hanya mengenalnya lewat sebuah perbincangan singkat kala itu. Emily terasa sudah begitu akrab untuk Edo.

Lama. Ya, lama setelah perkenalan Edo dan Emily. Mereka kerap dipertemukan dalam ketidaksengajaan yang membisu. Mereka ternyata seorang mahasiswa dari universitas yang sama. Hanya saja mereka baru mengenal setelah tahun kedua berjalan karena fakultas mereka berbeda. Kebisuan yang menyerang pemuda itu terasa begitu mengganggu. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Emily bahkan frustasi melihatnya. Ia tak tahan melihat pemandangan seperti itu. Ia tak pernah melihat pemuda itu terhempas jauh dalam dunia khayalan itu. Apalagi ini tempat umum. Dasar, lelaki memang suka seenaknya. Umpatnya dalam hati. Emily yang sudah tak tahan dengan geramnya sontak punya pemikiran nakal dalam otaknya. Ia kerjai saja lelaki pelamun itu. Biar sekali-kali jadi pelajaran untuk tidak melamun lagi di tempat umum. Emily terkekeh.

BRAKK!!

Edo sontak terjingkat dan tersadar dari lamunannya. Tumpukan buku-buku itu jelas-jelas sengaja dihantam tepat di atas meja yang Edo tempati. Edo geram di sana. Hendak dicacinya sang pelaku yang kurang ajar itu. Namun saat sosok bidadari mungil itu muncul dari balik tumpukan buku itu, Edo tertegun.
“Hai, ini perpustakaan, Tuan. Bukan tempat untuk berkhayal..” Tutur Emily dengan nada datar. “Eh, Emily. Kau, kenapa kau di sini? Dan kenapa juga kau sengaja menghantamkan buku-buku ini ke atas mejaku?” Emily hanya tersenyum simpul dengan pertanyaan Edo. Emily tak bergumam lagi. Ia sontak menyeret Edo ke luar dari perpustakaan itu dan mengajaknya duduk di bangku taman. Emily dan Edo membeku di sana.

Mereka melontarkan pandangan setelah cukup lama bungkam. Emily tersenyum manis lagi. Aura hangatnya memang sangat menyenangkan. Bahkan Edo benar-benar merasakan ketenteraman itu. Mata Emily yang hitam legam itu begitu teduh. Serasi dengan kedua alis matanya yang menggantung indah di sana. Sungguh karunia Tuhan yang begitu manakjubkan.
“Edo.. bolehkah aku menanyakan sesuatu?” Suara Emily merendah. “Katakan semua yang ingin kau katakan padaku, Emily. Aku tak akan keberatan.” Tutur Edo lembut.
“Kau pasti tak lupa bukan? Saat dimana kau setiap kali memperhatikanku?”
“Ya, aku tak lupa itu.. dan itu berjalan cukup lama. Lantas kenapa kau tanya seperti itu?”

“Edo, aku mengenalmu tanpa sengaja saat aku kerap melihatmu memperhatikanku waktu itu. Aku, bukankah kau memperhatikanku?” Mata Emily berbinar. “Aku? Benarkah? Apa kau sempat melihatku memperhatikanmu?”
“Kenapa justru kau menanyaiku soal hal itu? kau kerap kali sengaja manatapku lekat-lekat dan aku tahu itu..” Pipi Emily memerah. Ada sebuah rasa malu yang membahagiakan dari rautnya yang manis. Semua itu menimbulkan rasa tersendiri dalam hati Edo. “Jadi, kau mengira aku menyukaimu?” Edo terkekeh.
“Aku? Aku, aku kan hanya bertanya padamu. Apa salahnya menanyakan semua itu padamu? Aku tak pernah berharap lebih padamu.” Emily tersipu. Nampak seperti orang kelabakan yang tanpa sengaja mengungkapkan kebodohannya.

Edo hanya terkekeh geli melihat Emily begitu tersipu di hadapannya. Edo tak menganggap ini perbincangan serius karena Emily begitu canggung di hadapannya. Edo selalu bisa mengurai perbincangan itu dengan lihai hingga nampak seperti lelucon hangat. Namun di sisi lain Edo menyesalinya. “Emily.. bolehkah jika aku mengatakan ini padamu? Berjanjilah untuk tidak tersinggung karena perkataanku ini.” Edo bergumam. “Baiklah. Katakan saja, aku tak akan keberatan.” Sahut Emily mantap.

“Maafkan aku, Emily. Aku hanya tak ingin kau berharap lebih padaku lagi. Aku tahu, ini menyakitimu. Aku tahu ini hal yang salah.” Suara Edo merendah dan terdengar amat serak di sana. Entah apa yang mengganjal di tenggorokannya. Edo benar-benar seperti berusaha menyakiti dirinya sendiri. Emily membeku mendengar semua yang Edo katakan. Ia menelan kepahitan yang amat. Mencoba mencerna setiap kata yang terlontar dari pemuda tampan di hadapannya. Emily tersiksa dalam perbincangan itu.

“Apa kau mengira pertemanan ini sebuah hal yang lebih untukku? Aku temanmu bukan?”
“Aku hanya tak ingin menyakitimu. Aku tahu kau temanku.. maaf jika aku merasa semua ini tak pantas.”
“Edo, sudahlah. Mengenalmu, menjadi temanmu.. semua itu sudah cukup untukku..” Emily tersenyum miris dalam jengkalan kata itu. “Ah, ya, aku ada kelas siang ini. Aku harus buru-buru.. jadi, aku duluan ya? Daaah. ..” Emily secepat kilat mengambil langkah seribu dari bangku taman itu. Ia takut tak kuasa menahan buncahan rasanya itu mencuat dari sudut matanya. Dan, yah, memang benar ia ada kelas siang ini.

Emily menyusuri koridor yang mengarah ke ruang kelasnya itu dengan gontai. Pandangannya menghilang entah ke mana. Gadis itu tak tahu lagi bagaimana memperingatkan diri. Rasanya terlalu dalam untuk dibercandai. Semuanya hanya seperti mimpi. Tak tahulah! Pikirnya kejam pada dirinya sendiri. Ia tak peduli lagi, meskipun itu naif. Kenapa ia harus merasakan hal seperti ini setelah semua sakit yang ia terima. Tidak! Ia tak boleh memikirkan terlalu dalam tentang ini. Ia kesepian dan hanya butuh seorang teman! Itu saja. Entahlah! Entahlah! Lupakan itu Emily! Umpat Emily yang segera memasuki kelasnya.

Bersambung

Cerpen Karangan: Ismatul Laila
Facebook: Izma Laila

Cerpen Waiting To Lose (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senja Untuk Fajar

Oleh:
Fajar akankah Senja terus begini? Akankah Senja hanya memantulkan sinarnya yang indah tanpa Fajar datang untuk menyatukannya? Sinar itu mungkin akan terlihat lebih indah. Syair demi syair telah kuhembuskan

Antara Cinta dan Persahabatan

Oleh:
Mentari dan rembulan, mereka tak pernah bertengkar, mereka tak pernah bertabrakan saat muncul di langit, mereka tak bersahabat tapi saling melengkapi. lalu bagaimana dengan persahabatan di bumi? mereka selalu

Faith (Part 2)

Oleh:
Ayu tertegun mendapati Oscar yang berdiri tegap bersama Monica di depannya dan Dimas. Ayu berusaha setegar mungkin, menyunggingkan senyum manis kepada Oscar dan Monica yang terlihat mesra di depannya.

Cerita Dibalik Karyaku

Oleh:
Miniatur rumah pohon. Yups, ini dia karyaku, Karyaku ini terinspirasi dari seseorang yang telah membuat Saya nyaman berada di sampingnya (cie cie). Saya membuat ini dari bahan bahan sederhana

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *