Waktu Di Balik Senja (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 18 February 2016

– Nathan Aditya POV
Hari ini aku sungguh tidak bersemangat untuk sekolah. Apalagi ditambah dengan janjiku sama Salman agar tak mendekati Secret Admirerku, Rayya Arthamevia. Entah apa yang membuat aku menjadi tertarik pada gadis itu. Gadis sederhana yang orangnya biasa saja, dengan rambut yang selalu terurai rapi, selalu memakai gelang di tangan kirinya, dan selalu malu ketika bertemu denganku. Diam-diam aku juga telah menjadi Secret Admirer Rayya. Saat aku melintasi taman yang biasa aku duduki, aku melihat Rayya jalan sendirian. Wajahnya sangat pucat. Sepertinya dia ada gangguan pikiran. Aku menatapnya dari jauh. Sampai ada seseorang yang menyebut namanya.

“Rayya.” Panggil Devan.

Tiba-tiba Rayya terjatuh, dengan cepat aku berlari dan menangkap tubuh Rayya. Aku menggendongnya dan membawanya ke ruang UKS. Aku menidurkannya dan mengompres keningnya sedikit dengan air. Saat ku pegang kepalanya terasa hangat. “Mikirin apa sih lo Ray sampe sakit gini?” aku sangat khawatir akan keadaannya. Aku rela gak masuk pelajaran hanya untuk menemaninya di UKS. Aku menunggunya sampai dia sadarkan diri. Tak butuh waktu lama Rayya pun sadar.

Saat aku terbangun, ku lihat Adit di sampingku.
“Lo ngapain?”
“Jagain lo lah.”
“Berapa lama gue pingsan?”
“Seabad.”
“Hah?”
“Deh, nih anak kecil. Pecaya aja sih. Kalau lo sakit ngapain sekolah?”
“Gue gak sakit.”
“Gak sakit, cuma banyak pikiran.”
“Gak kok.”
“Lo mikirin gue aja sampe segitunya.”
“Pede bener lo.”
“Udah deh ngaku aja. Anak kecil kayak lo tu mudah banget ditebak.”
Aku tak menjawab perkataan Adit. Aku hanya memandanginya. “Jangan dilihat. Entar suka lagi.”
“Apaan sih Dit.” Gue emang suka sama lo Nathan Aditya. Masa lo gak peka juga sih. Bisikku dalam hati.

“Lo mau beduaan terus sama gue?” kata Adit yang membuatku sedikit bingung.
“Hah? Gue baru sadar.”
“Sadar apa? Sadar lo kalau lo tuh suka sama gue.”
“Sadar kalau selain pede lo gede, lo juga cerewet ternyata.”
“Gue gak cerewet, cuma sedikit lebih banyak berbicara.”
“Sama aja kali Dit.”

“Terus apa?”
“Apaan?”
“Masih mau di sini sampe taman bersalju?”
“Mau ngomong aja ribet ya Dit. Rumit. Kayak orangnya.”
“Rumit susah ditaklukin?”
“Adiitt, genit banget sih.”
“Sama adek kecil gak apa-apa.”

Hahaha… bicara sama Adit sedikit membuatku melupakan masalahku. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak masuk kelas hari ini. Aku ingin bebas, aku ingin menghirup udara segar di luar. Aku sama Adit pun menyelinap untuk ke luar dari sekolah. Untungnya Adit banyak tahu seluk beluk sekolah ini, jadi itu mempermudah kami untuk ke luar.

“Lo kok tahu jalan terpencil gini sih Dit?”
“Gue juga tahunya dari kakak lo.”
“Hah? Kak Raffa?” Adit hanya mengangkat bahunya.
Tak ku sangka ternyata motor Adit sudah terparkir rapi. Motor Ninja berwarna merah kesukaannya itu.
“Ayo naik.” Perintahnya. “Em.”
“Jangan lama-lama. Entar gue keburu diambil orang lo.”

Aku hanya tersenyum dan segera naik ke motornya. Aku sangat senang hari ini. Adit membuatku melupakan semua masalahku. Bahkan aku hampir tak mengingatnya lagi.
“Kita mau ke mana Dit?”
“Suatu tempat yang pastinya akan membuat lo senang.”

– Waktu di balik Senja
Seharian aku jalan-jalan dengan Adit. Tak terasa senja pun menghampiri. Adit membawaku ke dermaga, tempat yang sangat indah untuk melihat matahari terbenam. Untuk pertama kalinya aku merasakan waktu di balik senja bersama orang yang sangat aku cintai.

“Ini adalah tempat di mana lo bisa lihat indahnya anugerah Tuhan. Waktu dimana terang menjadi gelap. Biru menjadi hitam. Juga matahari menjadi bulan.” Jelas Adit.
“Menurut lo waktu di balik senja itu gimana sih?” tanyaku.
“Waktu dibalik senja itu adalah waktu di saat gue harus menutup lembaran hari ini untuk hari esok yang sudah menanti gue.”
“Bagi gue Waktu di balik senja itu adalah dimana saat semuanya berganti. Waktu yang gue tunggu untuk melihat titik-titik kecil yang bercahaya di atas sana.”

Tiba-tiba Adit memelukku dari belakang. “Lo pernah bilang kalau lo ingin tahu yang mana bintang milik lo kan?” ucap Adit. Aku hanya mengangguk. “Sekarang lo bisa melihatnya.”
“Bintang yang mana Dit?”
“Lo gak perlu cari jauh-jauh ke angkasa hanya untuk mencari bintang itu Rayya. Karena bintang yang lo cari itu sekarang ada di belakang lo.”
Seketika sesuatu jatuh dari mataku. Aku tak sanggup lagi membendungnya. Hari ini aku menyadari, aku telah melihat bintang yang paling bersinar jatuh dari langit dan sekarang berada tepat di belakangku hanya untuk membuatku kembali tersenyum.

“Senang?” tanya Adit.
“Lebih dari itu.” Aku membalikkan tubuhku dan memeluknya. Sungguh hangat ku rasakan pelukan itu. Setelah sekian lama, akhirnya ku taklukan Secret Admirerku, Nathan Aditya.
“Betah banget meluk gue.” Kata Adit membuatku malu. Segera ku lepaskan pelukan itu.
“Kok dilepas?” Tanya Adit.
“Terus? Maunya apa?”
“Peluk lagi sini.” Ucapnya sambil merentangkan tangan seakan ingin memeluk seseorang.

“Gak.”
“Yakin?”
“Adit..” panggilku manja. “Apa sayang?”
“Gendong…”
“Hadeh, lo kira lo kecil banget apa?”
“Gendong…”
“Adek kecil, walaupun lo gue panggil adek kecil bukan berarti lo masih kecil.”
“Aaaa Adit gendong…”

Tiba-tiba Adit jongkok dan menawarkan pundaknya. “Mau apa enggak? Sebelum gue berubah pikiran.” Kata Adit.
“Aaaa jangan galak-galak dong.” Dengan segera aku menaiki punggungnya.
“Aduh, berat juga ya lo.”
“Masa sih?”
“Berat-berat tapi gue sayang juga kok.”
“Apa lo bilang?”
“Apa? Pura-pura budek apa beneran?”
“Hem, kayaknya Nathan Aditya makin galak.”
“Galak-galak suka juga kan?”

Aku hanya tersenyum lebar tak bisa membalas ucapannya. Nathan Aditya yang dikenal cuek, cool, irit bicara itu bisa membekukan mulutku. Dialah Secret Admirerku. Enak kan kalau punya Secret Admirer dan terbalaskan? Rasanya itu seperti diajak terbang ke langit dan memetik satu bintang yang paling indah di sana. Fiks, Indah sekali!

– Terima Kasih, Bara Reanaldi
Hari ini aku seperti terlahir kembali. Semangatku kembali membara. Aku seperti anak baru di sekolah ini. Anak baru yang menjadi sorotan publik karena sekarang aku berhubungan dengan Adit tidak diam-diam lagi. Adit sudah berani menjumpaiku walau banyak orang yang melihat. Tempat favorit kami juga tidak berubah, masih sama seperti setahun lalu. Kursi taman dekat loker di depan lapangan.

Walau bagaimanapun, aku masih menjadi Secret Admirernya Adit. Aku masih memantaunya seperti apa dia kalau tidak sedang bersamaku. Walau kami tidak memiliki hubungan khusus seperti pacaran, tapi kami tahu bahwa kami saling menyayangi. Aku menyukainya karena dia berbeda dari yang lain. Seperti cowok yang aku impikan selama ini, cowok memakai kacamata, tinggi, putih, cool, keren, rambutnya sedikit acak-acakan, ramah lingkungan juga irit bicara. Perfect! Adit masih sama seperti yang dulu, Adit yang dikenal diem dengan semua orang. Tapi tidak denganku. Meski kata-kata yang ke luar dari mulutnya itu secukupnya namun berhasil membuatku merasakan indahnya jatuh cinta. Entah seberapa banyak virus merah jambunya disuntikkan ke tubuhku, yang pasti hatiku memilihnya.

“Hei.” Sapa Adit.
“Hei.” Balasku.
“Taman yuk.”
“Oke.”

Aku dan Adit berjalan menuju taman, tempat biasa kami bertukar cerita.
“Ray, masih ingat Bara Reanaldi?”
“Iyaa, kenapa?”
“Sadar kalau dia seperti menghilang?”

Aku terdiam mendengar ucapan itu. Apa benar Bara benar-benar menghilang? Apa semua yang diucapkannya malam itu benar? Oh Tuhan, aku jadi merasa bersalah karenanya. Apa semua ini terjadi gara-gara aku? Oh tidak! Haruskah aku meminta maaf padanya? Bagaimana ini?
“Rayya.. ngelamunin apaan sih? Orangnya udah di depan mata masih aja dilamunin.”
“Adiitt, apaan sih. Emangnya dia gak kasih tahu lo dia mau ke mana gitu?” Adit menggelengkan kepala.

“Yaudah, gak usah dipikirin. Entar lo pingsan lagi gue juga yang repot ngangkat lo.”
“Halah, padahal senang tuh bisa ngangkat gue.”
“Oh, udah bisa nih.”
“Bisa apaan?”
“Masuk kelas gih. Jangan kecantol sama guru ganteng ya. Awas aja.”
“Kenapa? Cemburu?”
“Mulai genit? Hati-hati, gue banyak yang ngantre.”
“Udah ah, gue duluan ya Dit.”
“Oke. Inget pesan kesan gue.”
“Iyaa.”

Aku berlalu meninggalkan Adit menuju kelas. Lalu Adit? Apa dia gak masuk kelas? Jangan khawatir, dia termasuk anak paling pintar di sekolahku. Masuk tidaknya dia di sekolah, dia tetap bisa mengejar pelajaran yang tinggal. Ingin rasanya aku memenuhi keinginan terbesarnya yaitu melihat bunga sakura. Ya, dia sekolah hanya untuk mencari ilmu agar bisa pergi ke negeri matahari terbit itu. Tidak hanya pintar di bidang ilmu pelajaran, tapi juga pintar dalam berbahasa. Dia bisa menguasai bahasa inggris dan jepang dengan baik. Hebat bukan?

Bersambung

Cerpen Karangan: Ella Yolanda
Facebook: Yolanda Nakatsuka
Ella Yolanda Nakatsuka. umur 17 tahun. SMAN Unggul Aceh Timur. Jalan Tgk Yahya dan Utama Perumahan Thariq Permai Blok A nomor 13, Paya Bujok Tunong, Langsa Baro, Langsa, Aceh.

Cerpen Waktu Di Balik Senja (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta di Akhir Usiaku

Oleh:
Tepat pada tanggal 28 Oktober 2010 para siswa dan siswi SMK BINA KARYA diadakan pengambilan rapot tengah semesternya. Anggota osis pun telah dipersiapkan pambina untuk membantu melancarkan jalannya pengambilan

Randa Tapak Mejikuhibiniu

Oleh:
Suara siulan burung menemani keheningan di dinginnya kebutaan pagi pada hari ini, Tiwi seorang gadis duduk di depan cermin memandangi wajahnya. Tiwi percaya bahwa ia hidup dalam kesempurnaan, tetapi

Cinta Takkan Terpisahkan

Oleh:
Namaku dinda asyifah. Aku siswa kelas 3 SMA dan hari ini aku akan melihat hasil ujianku. “dinda cepetan, ntar terlambat” teriak mama Aku pun bergegas mandi dan segera berganti

Di Balik Seventeen

Oleh:
Tring.. tring… tring… terdengar suara bel sekolah ke seluruh penjuru kelas, hampir seluruh murid bersorak ria mendengar itu, tapi lain bagi Fika, yang merasa risih campur kesal mendengar suara

Butterfly

Oleh:
“Loh pagi-pagi gini kamu kok sudah cemberut, jelek tau…” kata Rima yang melihat Nita yang sudah duduk termenung di bangkunya, teman-teman yang lain juga tampak berusaha menghibur Nita. “Benar,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *