Waktu Di Balik Senja (Part 5)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 18 February 2016

“Ray..” panggil Devan. “Lo gak apa-apa kan?” tanyanya lagi.
“Enggak, emang gue kenapa?”
“Kenapa kemaren gak masuk? Ada masalah sama Adit? Atau sama Bara?”
“Apaan sih, gak ada kok. Gue lagi males masuk aja.”
“Lo tahu kabar Bara?” tanya Fany yang tiba-tiba membuat jantungku berdegup kencang.
“Dia udah gak ada Ray..”
“Apa?” Air mataku mengalir tak terbendung. Aku menangis sejadi-jadinya.

“Gak, gak mungkin. Gak mungkiiinnn…”
“Tenang Ray, tenang.” Ucap Fany berusaha mendiamkanku sambil memelukku.
“Gak mungkin Bara udah gak ada Fan, gak mungkin.”
“Semua ini udah takdir Tuhan Ray, kita semua gak akan ada yang tahu sampai mana umur kita. Mungkin ini sudah waktunya untuk Bara pergi. Ikhlaskan Ray.” Bujuk Fanny mencoba menenangkanku. “Rayya, kalau lo mau tahu semua kejadian yang sebenarnya, pulang sekolah ini kita bicara di depan loker lo.” Ucap Devan.
Aku mengangguk pertanda setuju. Aku sangat tidak bersemangat mengikuti pelajaran. Aku hanya menunggu kapan jam sekolah berakhir. Aku ingin tau, sebenarnya apa yang terjadi? Akhirnya waktu yang aku tunggu-tunggu datang. Aku mengikuti Devan lalu kami berdua berhenti di depan lokerku. Tempat pertama kali aku bertemu Bara.

“Lo inget waktu pertama kali lo ketemu sama Bara?” aku mengangguk.
“Di sini, tempat di mana kalian pernah bertabrakan. Tempat ini mengisahkan banyak sejarah baginya. Lo inget waktu Bara dan Adit berantem? Itu semua cuma gara-gara lo Ray. Bara itu sayang banget sama lo. Cinta sama lo. Tapi kenapa lo gak pernah mahamin itu sih! Lo inget waktu lo disuruh jumpain Bara sama Adit di gedung belakang sekolah? Itu semua cuma akal-akalan Bara doang Ray. Dia cuma mau tahu seberapa besar pengorbanan yang mau lo lakuin demi orang yang lo sayangi. Tapi ternyata dugaan dia benar, lo cuma pura-pura memilih dia agar tak ada yang tersakiti. Tapi apa Ray? Lo malah menyakiti Bara lebih dalam!” Aku hanya terdiam mendengar seluruh perkataan Devan sambil menangis menyesali semua yang telah terjadi.

“Dan lo tahu kenapa Bara malam itu bilang ke lo kalau dia minta maaf dan janji gak bakal ganggu lo lagi? Itu karena dia sekarat Ray. cuma itu permintaan terakhirnya, dia cuma ingin lo bahagia. Bara itu mengidap penyakit kanker darah. Ray, apa lo pernah tahu itu? Apa lo pernah tahu kalau dia itu mimisan? Apa lo pernah tahu kalau dia itu lagi sakit, apa lo pernah sadar kalau terkadang dia pingsan? Apa lo tahu? Lo gak tahu Ray, karena lo gak pernah peduli sama Bara sedikit pun. Lo cuma butuh dia untuk nemenin hari-hari lo dong. Lo jahat banget Ray, jahat. Lo gak tahu rasanya kehilangan sahabat yang paling kita sayangi?”

“Cukup Dev! Bukan lo doang yang merasa kehilangan, gue juga! Gue juga kehilangan Bara Dev, sangat kehilangan.”
“Gue bilang semua ini ke lo, gue cuma ingin lo tahu yang sebenarnya Ray.”
“Gue ingin tahu di mana kuburan Bara. Please Dev, anterin gue ke sana.”
Devan pun mengiyakan perkataanku. Tak butuh waktu lama aku tiba di tempat peristirahatan terakhir Bara. Aku berdiri menatap sebuah batu putih yang bertuliskan Bara Reanaldi. Air mataku masih menetes. Menetes sederas-derasnya. Bagai air hujan yang membuat air laut tak terbendung dan ingin memuntahkan segala isinya.”Gue tinggal dulu.” Kata Devan sambil pergi meninggalkanku.

“Bara, ini gue Rayya. Masih inget kan lo sama gue? Rayya yang sikapnya seperti anak-anak yang selalu mau pergi entah ke mana, Rayya yang kers kepala. Gue masih seperti Rayya yang lo kenal. Gue ke sini mau minta maaf sama lo Bar. Maaf karena selama ini gue gak peduli sama lo. Maaf kalau gue membuat lo jadi berpikir kalau lo cuma pelarian gue. Maafin gue Bara. Devan bener, gue emang jahat. Gue gak pernah mau tahu gimana lo, gak pernah peduli sama hidup lo. Di dalam pikiran gue cuma ada Adit, Adit, dan Adit. Tapi gue juga mau berterima kasih sama lo. Karena lo udah banyak ngajarin gue arti kehidupan. Lo ngajarin gue bagaimana cara kita memperjuangkan cinta kita. Makasih banyak Bar. Seberapa banyak dan seberapa besar rasa sayang lo sama gue, segitu besar juga rasa sayang gue sama lo. Jaga diri lo baik-baik Bara Reanaldi. Semoga lo tenang dan diterima di sisi-Nya.”

Dengan penuh penyesalan, aku meninggalkan kuburan Bara. Masih terlintas di pikiranku saat-saat bahagia yang pernah kami lalui bersama. Aku jalan merunduk. Tanpa sadar, ada seseorang yang berdiri tegap memakai kaca mata berdiri di hadapanku. “Kalau jalan itu lihat ke depan. Entar ketabrak pohon masuk rumah sakit, diimpus baru tahu.” Adit yang sedang ada di hadapanku. Aku tak menjawabnya. Aku menangis di hadapannya. Lalu dia memelukku.

“Menangislah, tumpahkan semuanya. Aku bersedia menjadi kursi untuk disandarkan.”
Aaaaaa.. Aku bisa apa? Menangis? Air mataku sudah kering menangisinya. Menyesal? Mungkin tiada orang di dunia ini yang paling menyesal kecuali aku. Mengharap? Apa yang bisa aku harapkan? Mengharapkan hadirnya kembali di sisiku? Aku tidak sejahat itu. Aku tak kan mengulangi kesalahaan terbesarku untuk kedua kalinya.

Bara Reanaldi. Mengenalnya membuatku mengerti arti sebuah kehidupan. Mengenalnya membuatku memahami betapa pentingnya rasa kepedulian. Mengenalnya membuatku mengenal indahnya persahabatan. Saat kau sendiri, itu bukan karena dunia tak ingin bersahabat denganmu. Namun, dunia hanya ingin tahu seberapa kuat dirimu untuk mengatasi kesendirian itu. Saat kau merasa tersakiti, itu bukan karena dunia membencimu. Namun dunia hanya ingin tahu seberapa kuat niatmu untuk bangkit dan berusaha mencintai dunia itu. Terima kasih Bara.

– Impian itu harus digapai
Pagi ini masih sama seperti biasanya. Duduk di kursi taman bersama Adit menjadi rutinitasku. Kali ini aku melihat ada yang berbeda dari diri Adit. Ya, dia sekarang selalu membawa buku binder berwarna cokelat yang dia miliki dan dia selalu menulis sesuatu di bukunya itu. Aku memandanginya penasaran.

“Jangan dilihatin, entar jadi sayang lagi.” Ucap Adit.
“Apaan sih, Dit.”
“Kenapa? Makin ganteng ya?” Adit menutup bukunya dan balik memandangku.
“Fokus bener sih?”
“Harus. Kan untuk masa depan lo juga.”
“Hah? Maksud lo?”
“Rayya gue kok gak pinter-pinter sih?”
“Iya deh Adit yang pinter.” Adit tersenyum sambil mengacak rambutku.

“Katanya lo Secret Admirer gue.”
“Terus hubungannya apa?”
“Lo pasti tahu dong apa isi buku ini.”
“Nathan Aditya, gue Secret Admirer lo, bukan mata-mata lo.”
“Rayya Arthamevia, namanya aja udah secret, pasti lo tahu dong rahasia gue.”
“Rahasia apaan? Rahasia kalau lo jarang masuk kelas?”
“Itu bukan rahasia. Itu kebiasaan.”
“Terus apa dong?”
“Hem, ah lupa. Bentar ya, gue ke loker.”
“Oke. Penasaran gue dia buat apaan.”

Lembaran pertama: “Alur kuliah ke luar negeri.”
Lembaran kedua: “Alasan ingin kuliah keluar negeri.”
– Membuat orangtua bangga (membuat mereka tidak akan menyesal pernah melahirkanku).
– Mendapat pengakuan dari orang sekitar (ya, tidak diakui itu rasanya sakit).
– Wonderfull (sudah lama aku ingin melihat bunga sakura, salju dan bertemu orang asing).
– Life is short and only once (aku tidak ingin menyesali apa pun saat meninggal nanti).
Lembaran ketiga: “Japan, wait me in there!”
Lembaran keempat: “I will go to Japan with my Secret Admirer. Nice to ever know you Rayya Arthamevia.”

“Lihatin apa?” tiba-tiba Adit datang, segera aku menutup buku itu, takut kalau Adit tahu, dia pasti akan marah besar bukunya dipegang orang lain.
“Gak apa-apa. Gue boleh nanya sesuatu?”
“Apa?”
“Lo beneran ingin banget lihat bunga sakura?”
“He-em. Impian terbesar gue.”
“Mau ambil beasiswa ke sana?”
“Pastinya.” Wajahku menjadi murung ketika mendengar itu.
“Kenapa? Takut gue hilang?”
“Gak kok.”
“Jadi? Takut gak jumpa orang yang gantengnya kayak gue lagi?”
“Adiitt, apaan sih.”

“Hehe, terus kenapa?”
“Tekad lo beneran udah bulat?”
“Emang kenapa sih?”
“Kejar impian lo Dit. Gue bakal dukung lo sepenuhnya.”
“Apaan sih. Kok tiba-tiba sok bijak gitu.”
“Adiitt, gue serius.”
“Gue lebih serius Rayya.”
“Tahu ah. Adit gitu.”
“Cie ngambek ciee. Ya udah, entar lo gue kasih ice cream, mau?”
“Masa dikasih ice cream.”
“Terus maunya dikasi apa? Cinta?”
Aku tersenyum.

“Apaan sih senyum-senyum gak jelas. Kesambet baru tahu rasa lo.” Kata Adit.
“Cie.. Adit, Adit.”
“Apa?”
“Adit.”
“Apaan Ray.”
“Adit.”
“Nih orang bising ya. Gue cium juga lama-lama.”
“Cium cium.”

“Kenapa? Mau?”
“Enggak.”
“Sini kalau mau biar gue cium.”
“Apaan sih Dit. Enggak.”
“Sini. Malu-malu lagi.”
“Apaan sih. Enggak Diitttt.” Aku berusaha menghindarinya. Adit juga sedang berusaha mengejarku. Indah bukan? Kalau ternyata secret admirer kita akhirnya menyadari bahwa ada orang yang tulus sayang sama dia, dan dia membalasnya! Bahagia itu sederhana. Cukup dengan melihatnya tertawa. Karena semakin dia tertawa itu menambah pesonanya. And right! Aku makin dibuatnya jatuh cinta.

Nathan Aditya. Mengenalnya membuat aku mengerti arti cinta sejati. Mengenalnya membuat aku memahami arti sebuah kesetiaan. Mengenal dirinya membuatku mengenal akan arti sebuah perjuangan. Di kehidupan dunia ini hanya terdapat dua warna, kalau bukan merah, ya cerah. Namun, semenjak aku mengenalnya kutemukan warna-warni kehidupan. Indahnya rasa kasih sayang, juga saling pengertian. Dia pria ketiga yang aku cintai setelah Papa dan Kak Raffa. Aku berjanji tidak akan meninggalkannya. Karena aku telah menemukan dia yang mengukir pelangi di hatiku.

Tak terasa, setahun sudah aku duduk di kelas 2. Setahun ku jalani indahnya kehidupan bersama orang terkasihku, Nathan Aditya. Ingat impian terbesarnya? Ya, melihat sakura di negeri matahari terbit. Sekarang, aku akan berusaha mewujudkannya. Hari ini adalah hari yang paling ditunggu anak sekolah. Terutama kelas 3. Pembagian nilai UN dan kelulusan Universitas. Sungguh, aku sangat tidak bersemangat untuk melihat isinya. Karena aku sudah mengetahui nilaiku. Namun yang aku tunggu adalah apakah Adit lulus di Universitas Tokyo impiannya. Dari kejauhan aku melihat Adit dengan wajah lesu tidak seperti biasanya. Adit menghampiriku.

“Ray, gue mau ajak lo pergi.” Kata Adit.
“Ke mana? Keliling Bandung lagi? Bosen gue.” Balasku.
“Menuju impian terbesar gue.”
“Lo lulus Dit?” Adit mengangguk dan tersenyum.
“Aaaaa!! gue seneng banget dengarnya.” Teriakku sambil memeluk Adit bahagia.
“Lo gimana?” tanya Adit.
“Gue gak berani lihat.” Jawabku takut.

“Lo lulus Rayya.” Kata Adit dengan wajah tanpa ekspresi.
“Apa?” aku sangat terkejut. Apa benar yang dikatakan oleh Adit? Aaaaa..
“Gak akan ngulang untuk kedua kalinya.”
“Adiitt…”
“Selamat sayang, kejar mimpi lo di Jerman. Ingat, jangan sampai ada yang ketinggalan.”
“Lo juga. Tapi awas aja kalau sampe gue tahu lo punya secret admirer baru di Jepang.”
Adit mengacak rambutku sambil tersenyum seraya berkata, “You will be the one and the last, I promise.”
“Arigato.”

Yah begitulah. Kami mulai menjalani hidup masing-masing, di negara masing-masing. Remember? Aku pernah punya impian bahwa aku akan membawanya menuju negeri sakuranya. Ya, itu sudah ku lakukan. Setelah 4 tahun kami berpisah, kami bersatu kembali di negeri di mana berkembangnya teknologi, di negeri sakura, negeri matahari terbit, Jepang. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Tetaplah bermimpi. Tak perlu tertidur untuk bermimpi. Karena dengan mata terbuka pun kamu bisa bermimpi bahkan mewujudkan mimpi itu menjadi sebuah kenyataan.

Hidup itu adil. Seadil Tuhan menciptakan makhluk-Nya. Hidup itu setia. Bagai mendung yang setia pada hujannya. Hidup itu penuh mimpi. Karena dengan mulai bermimpi, kamu bisa mewujudkan segalanya. Itulah hidup yang semua orang membicarakannya. Sesuatu dalam hidup akan terasa indah saat ada seseorang yang mampu mengerti. Sangat indah ketika air mata yang menjadi simbol dari luka berubah menjadi senyum tanda bahagia. Seperti yang orang katakan, sesuatu akan terasa indah pada waktunya.

Selesai

Cerpen Karangan: Ella Yolanda
Facebook: Yolanda Nakatsuka
Ella Yolanda Nakatsuka. umur 17 tahun. SMAN Unggul Aceh Timur. Jalan Tgk Yahya dan Utama Perumahan Thariq Permai Blok A nomor 13, Paya Bujok Tunong, Langsa Baro, Langsa, Aceh.

Cerpen Waktu Di Balik Senja (Part 5) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cat Dog

Oleh:
Kesan pertama: Berawal dari pindah ke rumah baru, ternyata tetanggaku juga orang baru. Dari situlah semuanya berawal. Anak bungsu tetanggaku itu seorang cowok pecinta anjing. Orangnya pun galak seperti

Diammu Adalah Pertanyaan Terbesarku

Oleh:
Perkenalkan namaku Senja Alyandra Yussuf aku seorang siswi di sekolah ternama di Bandung. Aku menyukai dunia pramuka selain itu aku masuk pramuka karena dia yaa, dia orang yang selama

Rosalia

Oleh:
“Siapa wanita itu?” “Kenapa?” “Dia wanita sempurna yang pernah kulihat!” “Jangan bodoh, bung!” “Mengapa?” “Sebaiknya kau jangan mengganggunya, jika kau masih menyayangi hidupmu!” “Maksudmu apa?!” “Kau pura-pura bodoh atau

(Masih) Rani, Si Otak Kritis

Oleh:
Ya, ya, ya. Kehidupan pondok memang melelahkan. Cuci baju sendiri, cuci piring sendiri, menyetrika baju sendiri, makan sendiri (bohong!), tidur sendiri (bohong lagi!), mandi sendiri (ini baru bener!). Semua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *