Waktu Yang Dinanti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 12 February 2020

Lima tahun lalu seseorang yang pernah mengisi hari-hariku memberikanku sebuah video kumpulan dari foto-fotoku dengan backsound lagu yang tak pernah aku dengar sebelumnya, ia mengirimnya melaui media sosial facebook. Hanya beberapa kali saja aku melihatnya, bahkan tak pernah samapai selesai karena aku pikir itu hanya kumpulan foto-fotoku yang memang kupunya, jadi aku tak menganggapnya spesial.

Selama lima tahun aku tak pernah mengingatnya, sering ia mengirim inbox di facebook untuk sekedar bertanya kabar, namun aku selalu membalasnya sesingkat mungkin. Aku tak pernah berpikir tentang apapun saat ia berusaha menghubungiku, mungkin ia hanya ingin tetap menjaga tali silaturahmi. Jangankan untuk berlama-lama untuk berbasa-basi, mau membalas chatnya saja kadang aku malas. Selain itu, aku pun tak ingin jika sampai istrinya salah faham akan hal ini, dan menganggapku wanita perusak rumah tangga orang. Karena fitahnya orang yang cemburu itu sangatlah menyakitkan. Meski tak melakukannya.

Dia memang telah berkeluarga, aku lupa kapan dia menikah, mungkin setelah dua atau tiga tahun setelah kami berpisah. Selain ia seorang suami ia pun seorang ayah. Namun entah mengapa, terkadang ia masih memberikan perhatian-perhatian kecilnya padaku, yang seharusnya tak ia berikan pada wanita lain selain istrinya. Mungkin jika istrinya tau, sudah pasti ia akan sangat murka, karena lelaki yang dulu dipilihnya menjadi pendamping hidup memberikan perhatiannya pada wanita lain.

09 Januari 2016
Hari ini adalah sabtu, tak ada yang spesial untuk hari ini, Randi selalu sibuk sendiri.

Kulihat jam di kamarku menunjukan jam 8, untuk membunuh bosan iseng aku membuka facebook di hanphone, ada notification yang memberitahu bahwa Robi Cobbaint menyukai postinganku dan kuklik. Entah mengapa aku ingin sekali melihat profilenya mungkin karena sudah lama ia tak menghubungiku. Entah apa yang aku rasa saat kulihat kronologi terbarunya, 3 jam lalu dia menshare video yang dulu dia berikan untukku.

Kuklik video itu, lama rasanya aku tak melihatnya, entah mengapa air mata tak mampu untuk kubendung saat ku perhatikan setiap foto dan kuresapi setiap kata yang ada dalam lirik backsound di video itu. Segera kututup facebook dan kubuka google lalu kuketik lirik yang sedikit kuingat dalam video itu “Lirik lagu betapa aku mencintaimu, betapa aku menginginkanmu” lalu klik search. Dari hasil pencarian itu aku tau judul lagunya Waktu Yang Dinanti dari Ungu dan ku mulai untuk mencari mp3 yang bisa didownload, setelah menunggu beberapa saat menunggu akhirnya berhasil.

Aku mulai mendengarkan lagu itu dan merasakan setiap kata dari setiap lirik, merasakan yang munggkin dulu bahkan sampai saat ini dia rasakan. Mungkin ini caramu, agar aku tau betapa kamu mencintaiku dan menginginkan aku. Semua kenangan yang pernah kita lalui bersama seakan menari-nari dalam pikiranku, bagaimana acuhnya aku, keras kepalanya aku, bagaimana aku tak menganggapnya ada, seakan menginginkan aku semakin merasa bersalah, sesak terasa dada ini, lebih menyakitkan dari hanya sekedar patah hati, lebih menyakitkan dari sekedar cinta bertepuk sebelah tangan, isakku semakin tak bisa kubendung. Tak dianggap ada, tak diinginkan, terabaikan, itu yang dulu ia rasakan, tapi mengapa aku tak pernah menyadari itu, mengapa aku terlambat untuk mengerti, ingin rasanya saat itu bertemu dengannya, menatap wajahnya, mengatakan maaf, meski ku tau semua terlambat bahkan mungkin sia-sia.

Kuulang dan terus kuulang lagu itu, dan semakin dalam lagi terasa sesak dada ini. Menangis, hanya itu yang bisa aku lakukan dan mengumpat betapa bodohnya aku. Kini hanya sesal yang ada, semua tak lagi sama, kini dia telah bersamanya, aku tak ingin mengusik kehidupannya dengan hadirnya aku, semoga penyesalan ini kau pun merasakannya, meski raga tak pernah lagi berjumpa.

Terimakasih untuk semua kasih sayang yang kau berikan untukku, semua kesabaran untuk menghadapi aku yang tak pernah menganggapmu ada, semua cinta tulusmu untukku meski tak kuhiraukan, diammu yang selalu mengalah, senyum termanismu untukku meski hatimu sakit, aku tau tak mudah menjadi kamu, bahkan membayangkannya saja aku tak sanggup. Maaf hanya perih yang selalu kuberi selama kita bersama. Semoga kamu bahagia dengan kehidupanmu saat ini, jangan pernah ingat lagi tentang aku, kita. Kini akupun mengerti apa yang dulu kamu rasa, sakit seperti yang kamu rasa. Terikasih karena kau mencintaiku. Robi.

Cinta yang tulus dalam hatiku
Membuang semua hasrat mimpiku
Tuk bisa menyatakan sayang
Tuk bisa mengungkapkan semua
Pada dirimu

Tak mungkin bagiku tuk memilikimu
Segala rasa yang pasti tak mungkin
Tuk bisa kau terima semua
Tuk bisa kunyatakan rasa
Ku cinta kamu

Ketika bunga tak bermekar lagi
Dan dunia tak mungkin berputar lagi
Saat cinta tak membakar hati ini
Kau kan tau betapa aku mencintaimu
Betapa aku mengingikan kamu

Riana…

Cerpen Karangan: Weni Ana
Blog / Facebook: Weni Ana

Cerpen Waktu Yang Dinanti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hingga Akhir Waktu (Part 2)

Oleh:
“Kasihan Naaa Kak Ramly, aku melihat sendiri mukanya babbak belur dan darah mengucur deras di mulutnya.” “Liiin, sudah jangan menangis lagi. Mulai sekarang aku tak akan mengungkitnya di hadapanmu.

Antar Aku Dengan Senyuman

Oleh:
“iya bun.. bunda juga jaga kesehatan ya..!! daaah bunda.. assalamualikum..” ku tutup telpon dari bunda dan segera kurebahkan tubuhku diatas sebuah sofa. Hari ini matahari sangat terik, lumayan juga

Bimbimbab Bulgogi

Oleh:
“Cincah!, njang! salamdeul-eun wae eojjaessdeun e naleul ttaleula ida?! ttohan sonsil, yeogi seong su issseubnida! jenjang jenjang! salamdeul-eun wae eojjaessdeun e naleul ttaleula ida?!,” hardiknya kepada dirinya sendiri sembari

Gitar Tua Joko

Oleh:
Joko benar-benar bingung gimana harus meyakinkan Ayahnya yang udah mati-matian cari duit buat membiayayai sekolah Joko. Pasalnya, setelah Ayahnya membayar SPP ternyata Joko sering sekali bolos sekolah, Kata teman-temannya

Nyopet is My Job (Part 2)

Oleh:
“Iya, hm bukan penyakit yang serius kok. Kita kerja yuk?” ajak Pian. “Oke,” jawabku. Gue dan Pian naik angkot yang berbeda, di samping gue ada ibu-ibu yang gayanya menor

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *