Waktu Yang Pernah Kita Miliki

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 31 January 2018

Aku berjalan menyusuri jalanan kota yang panas, mendengar deru bising kendaraan dan mau tak mau harus aku naik bus tua reyot meski begitu bus itu tetap penuh dengan berbagai macam manusia. Sangat menyebalkan apa yang tidak pernah aku sukai selalu menjadi aktifitas keseharianku, membosankan. Sudah sekitar 10 menit aku berdesakan dengan orang yang kadang silih berganti sambil menahan penatnya siang yang harus aku lalui. Rasa kesalku memuncak bukan hanya karena aku belum juga mendapatkan tempat duduk melainkan 2 orang pengamen yang naik ke bus. Menambah sesak bus yang sudah sesak sedari tadi. Aku diam tak ingin aku mengeluarkan sepeserpun untuk mereka. Salah satu di antara mereka berjalan untuk mengumpulkan recehan yang diberikan oleh penumpang lain. Hingga tiba ia padaku, aku menggeleng pelan. Bahkan kupikir terlalu pelan karena pemuda itu berdiri beberapa saat di depanku sambil menatapku, ketika kulirik wajahnya pemuda itu tersenyum padaku. Perasaan kesalku makin bertambah, apa dia sedang meledekku? Pikirku.

Siang yang masih sama panasnya dengan siang-siang yang lain, begitu juga hari ini aku tidak sedang dalam keadaan ingin tersenyum atau sekedar basa-basi dengan orang yang aku temui sepanjang perjalananku menuju kampus. Hariku tambah mengesalkan ketika aku tau jika sepatu yang aku pakai rusak. Aku tidak bisa berjalan secara nyaman. Aku berdiri di depan sebuah warung, rasanya aku tidak ingin melanjutkan perjalananku kembali ke kosan. Aku ingin segera tiba di kamarku tanpa perlu bersusah payah jalan dengan sepatu yang rusak. Membayangkan tidur dengan nyaman di kasurku. Menyebalkannya aku hanya membawa uang secukupnya untuk ke kampus. Dan sedikit melegakan sepatuku rusak setelah turun dari bus ketika pulang dari kampus, jika itu terjadi ketika aku masih di kampus mungkin aku bisa lebih kesal dari ini. Aku memandangi orang yang berlalu lalang di jalanan depanku. Kulihat raut kesal yang juga terpancar dari para pengguna jalan. Siang yang panas mungkin menjadi faktor utamanya, setidaknya membuat orang merasa lebih lelah. Tapi aktifitas tetap harus berjalan tidak ada waktu untuk menunda pekerjaan, karena hidup layaknya ruang pemburuan jika tidak cukup kuat maka akan diburu.

“Ini.” seseorang melempar sepasang sandal padaku. Aku terdiam bagaimana dia tahu jika aku sedang kesulitan berjalan dengan sepatu yang aku pakai sekarang, tanyaku dalam hati. Pemuda itu tersenyum padaku, senyum yang tidak asing lagi bagiku.
“Kau bisa mengembalikannya nanti.” Lanjutnya. Aku menoleh ke sekitar menimbang panasnya hari ini. Tanpa pikir panjang lagi aku mengambil sepasang sandal yang dilemparnya.

Hari berikutnya aku kembali ke bengkel motor tempat dimana aku bertemu pemuda aneh itu. Aku melihat ke wajah tiap orang di bengkel itu tapi tidak aku temukan wajah pemuda yang yang telah menolongku, kuputuskan untuk kembali pulang.

Di lain kesempatan, seperti pada hari-hari biasanya aku naik bus untuk pergi ke kampus. Aku kembali bertemu dengan pemuda aneh itu. Aku ingat dia adalah pengamen yang tersenyum padaku di bus waktu itu. Hari ini aku memberinya recehan tapi dia kembali tersenyum padaku. Keadaan bus hari itu tidak terlalu ramai, hingga pemuda aneh itu bisa duduk di bangku belakang. Kupikir ia akan segera turun di lampu merah selanjutnya tapi aku salah ia malah menghampiriku.

“Kau mungkin tidak ingat aku.” Ucapnya duduk di bangku seberang.
“Aku ingat, kamu yang meminjamkanku sandal.” Balasku. Hari itu suasana hatiku cukup baik hingga aku bersedia berbincang dengannya, dihitung-hitung untuk membuang rasa bosan selama sisa perjalanan. Dia tertawa kecil.

“Kau yang mengamen di hari itu.” Ucapku pelan
“Hari yang mana?” Tanyanya. Aku terdiam.
“Aku mengamen di bus ini tiap hari, kita bertemu tiap hari entah di bus ataupun di bengkel dan tempat lainnya.”

“Apa maksudmu?”
“Kau sudah kuliah di kota ini kurang lebih 2 tahun bukan?” Ucapnya mengejutkanku
“Bagaimana kau tahu?”
Dia kembali tertawa kecil. Tak selang beberapa lama dia sudah turun di bus.

Aku tidak juga mengerti perkataan laki-laki itu, tapi yang membuatku gila aku terus memikirkannya.

Hari-hari selanjutnya aku kembali bertemu dengan laki-laki itu. Namun kali ini berbeda, aku mengetahui nama laki- laki itu. Namanya Randy.

“Apa hal yang tidak kau sukai?” tanya Randy padaku. Dia duduk di bangku dekatku setelah mengamen.
“Pertanyaan macam apa itu? Bukankah biasanya seorang pria akan bertanya apa yang disukai seorang gadis kenapa kamu malah bertanya sebaliknya?”

“Apakah menurutnya aku berbeda?”
“Iya sepertinya.” Jawabku.
“Maka dari itu aku mengajukan pertanyaan yang sedikit berbeda.”
Aku tersenyum kecil mendengar ucapannya. Randy masih menunggu jawabanku.

“Aku tidak suka menunggu.”
“Kenapa?” Tanya lagi.
“Menurutku itu membuang waktu.”
“Tapi terkadang dengan menunggu dapat membuat kita belajar banyak hal.” Ucap Randy yang membuatku tak mengerti

“Lihatlah anak kecil di sana.” Ucapnya sambil menunjuk seorang anak yang sedang duduk di depan warung.
“Pernahkah kau berpikir kenapa anak itu duduk sendirian di pinggir jalan seramai ini?”
“Kenapa aku harus memikirkannya?”
“Aku sudah bilang padamu kamu bisa banyak belajar dari menunggu, melihat dan memperhatikan lihatlah anak itu duduk di depan warung mungkin dia sedang membantu orangtuanya menjaga warung.” Ucap Randy sambil kembali menunjuk anak itu.

“Itu hanya hipotesa.” Balasku.
“Bukankah segala kemungkinan berasal dari hipotesa?” Ucapnya yang membuatku tak percaya. Tapi bisa jadi yang dikatakan Randy benar.
Dan begitu selanjutnya hampir tiap hari aku bertemu dengan Randy. Jika dia telah selesai mengamen dia akan duduk di bangku di dekatku agar kami bisa berbincang, meski tidak banyak yang bisa kami bicarakan karena aku tipikal seorang yang pendiam. Kadang aku khawatir Randy akan bosan dengan apa yang aku katakan.

Suatu ketika aku pulang lebih sore dari biasanya. Aku berjalan lemah. Aku sangat lelah hari itu.

“Hai.” Sapa seseorang, aku melirik padanya. Aku melihat Randy tepat di belakang laki-laki yang menyapaku beserta beberapa laki-laki lain. Pikiranku mulai gusar beberapa dari mereka berpenampilan layaknya preman. Aku mempercepat laju jalanku.
“Ih sombong.“ Sahut laki-laki lainnya.

Sesampainya di kamar kosan, aku memberanikan diri mengintip dari jendela apakah tadi yang aku lihat benar-benar Randy atau bukan. Ternyata itu memang Randy, dia juga melihat ke arahku. Kini aku sedikit mengerti dengan ucapan Randy tempo hari, yang mengatakan jika sebenarnya selama ini kami sering bertemu hanya saja aku tidak menyadarinya.

“Nay, perutku lapar.” Teriak Arina ketika masuk ke kamarku. Aku tidak menghiraukannya.

Dia menghadapkan wajahnya tepat di depan wajahku.
“Nay, aku lapar.” Ucapnya lagi.
“Makanlah, memang aku siapa? Laporan dengan aku tidak akan membuatmu kenyang.” Ucapku tanpa mengalihkan pandanganku dari laptop.
“Makan dengan kamu ya?” Rayu Arina. Arina satu-satunya temanku di kosan karena aku cukup sulit bergaul apalagi dengan sifatku yang kadang kasar dan acuh pada orang lain. Meski begitu aku bersyukur Arina masih bersedia menjadi temanku di antara orang lain yang menjauhiku. Akhirnya aku bersedia mengabulkan permintaan Arina ditambah aku juga belum makan malam. Aku butuh udara segar untuk mencari ide mengenai tugas makalahku yang tidak kunjung diterima.

“Makan di sana saja Nay.” Tunjuk Arina pada tempat makan yang cukup kecil.
Aku mengiyakan permintaan Arina. Di tempat itu juga ada Randy dan teman-temannya. Ternyata Arina juga mengenal Randy dan teman-temannya. Arina dan Randy sibuk berbincang sedang aku hanya diam disamping Arina tidak mempedulikan isi pembicaraan mereka.

“Kamu tidak suka susu kan Nay?” tanya Arina padaku yang membuatku kebingungan, aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Arina.
“Tidak suka apa karena belum pernah minum?” tanya teman Randy
“Kedua-duanya.” jawab Nay
“Kalau kau minum susu itu kita pacaran.” bisik Randy padaku ketika Arina sedang cuci tangan. Entah apa yang ada di pikiranku, aku meminum susu yang dipesan Arina hingga membuatku muntah.

Sejak malam itu aku tidak mau lagi menyembunyikan perasaanku pada Randy karena aku menyukainya tidak peduli siapapun dia.

Banyak yang tidak percaya pada hubunganku dengan Randy. Untuk mereka yang tau banyak juga yang mencela meski yang aku lakukan bukanlah menjadi istri kedua atau simpanan. Aku melempar kertas yang aku bawa sedari pagi ke lantai kamar kosanku. Kubiarkan kertas-kertas itu berserakan tak karuan. Randy yang baru saja masuk terdiam menatapku dan juga menatap kertas-kertas itu. Aku membenamkan kepalaku ke bantal agar aku bisa berteriak tanpa perlu mengeluarkan banyak suara. Aku tau aku tidak seperti diriku yang biasa yang bisa menahan semua keluhan tentang beratnya menjadi mahasiswa akhir tingkat apalagi pada Randy. Hanya saja kemarahanku benar-benar memuncak hari itu. Randy sudah selesai merapikan kertas yang berserakan tadi. Tidak sepatah katapun keluar dari mulut Randy, dia hanya duduk di sampingku.

Aku bersandar di pundak Randy. Sangat salah bagiku jika aku mengeluh tentang hidup pada Randy. Nyatanya dia lebih mengerti bagaimana sulitnya kehidupan. Bagaimana cara orang memandangnya yang hanya seorang pengamen di bus kota.

“Marahlah.” ucapnya pelan
“Kenapa aku harus marah?”
Ucapan Randy cukup membuatku terkejut untuk apa aku marah padanya, lagipula dia juga tidak punya salah padaku.

“Lampiaskan apa yang ada di pikiranmu.”
“Marah ataupun menangis semua itu wajar karena kita manusia biasa yang juga punya emosi, lebih salah jika emosi itu kita simpan yang akhirnya malah menyakiti kita.”
“Tapi juga salah jika kita melampiaskannya pada orang yang salah.” Ucapan Randy terasa mengaung di pikiranku memang tak salah untuk sesekali marah atau menangis hanya masalahnya siapa yang terkena imbas kemarahanku. Sekejap muncul kilatan ingatan tentang orang-orang yang telah aku buat kesal hingga aku hanya memiliki sedikit teman. Untuk beberapa hal aku merasa kagum dengan cara Randy melihat kehidupan. Dia juga mengajariku mengenai itu semua.

Hubungan kami mengalir layaknya aliran air yang tenang namun begitu dalam. Aku tidak peduli orang berkata apa tentangku apapun Randy, tentang dia hanya pengamen ataupun pengangguran. Yang aku lakukan hanya cukup memegang tangannya. Aku ingat sebuah kalimat yang mengatakan kau hanya punya dua tangan yang tidak mungkin bisa digunakan untuk menutup ribuan mulut, tapi kamu punya dua tangan yang dapat digunakan untuk menutup kedua telinga. Tapi bagiku tanganku hanya akan aku gunakan untuk tetap memegang erat tangan Randy, karena aku percaya suatu saat kami akan berlari bersama dari hujatan orang lain.

Itu bukan pertama kalinya aku masuk ke kamar Randy.
“Randy.” Panggilku.
“Iya.” Sahut Randy dari kamar mandi.

Aku menemukan sebuah surat yang diterima Randy.
“Apa kau akan mengambilnya?” Tanyaku menunjukkan surat yang Randy terima. Randy mengambil surat itu dari tanganku.
“Kau tidak pernah bilang kalau kau cukup pintar?” Lanjutku.
“Ini hanya kiriman dari Pamanku yang bekerja di sana.”

“Kau tidak ingin mengambilnya? Itu kesempatan yang berharga Ran.”
Aku bisa melihat keraguan dari wajah Randy.

“Tapi ini terlalu jauh Nay.”
“Lalu kenapa?” Tanyaku berusaha mencari tau dari kilauan matanya.
Randy tidak berani melihat mataku, ia mengalihkan pandangannya pada sesuatu yang lain.

“Apa ada hubungannya denganku?”
Dia masih diam.
“Kupikir kamu tidak bisa menjadikanku sebuah alasan Ran.”
“Itu terlalu jauh Nay, kamu sendiri yang bilang tidak percaya dengan hubungan jarak jauh.”

“Iya aku pernah bicara seperti itu, tapi ini bukan soal aku dan kemauanku tapi ini soal masa depanmu.”
Aku mengambil nafas panjang sejenak.
“Dan aku pikir pamanmu mengirim ini pasti karena dia tau akan kemampuanmu.”
“Mari kita hitung-hitungan tanpa aku dimasukan ke dalamnya, hitung-hitungan untuk masa depanmu, kalau kamu mengambil kesempatan itu maka hidup kamu bisa lebih baik, mungkin kamu bisa dapat pekerjaan yang lebih baik, kalau pekerjaan kamu seperti sekarang ini, jika nanti kamu punya anak kemudian anakmu menuntut banyak darimu, apa kamu tidak ingin membahagiakannya? Kalau aku jadi kamu aku akan mengambil kesempatan itu karena kesempatan itu ada dan buat aku, aku tidak menuntutmu untuk mengambil keputusan itu tapi setidaknya dengan ini aku jadi tau bagaimana kamu mengambil keputusan untuk jangka panjang.” Ucapku mencoba menyakinkan Randy agar dia menerima program beasiswa yang didapatkannya di Jepang.

Akhirnya Randy bersedia menerima beasiswa itu. Aku tahu aku akan berpisah dengan Randy dalam kurun waktu yang tidak singkat ataupun dengan jarak yang tidak dekat. Ini bukan soal aku tidak bersedia menerima Randy apa adanya. Tapi ada kalanya aku harus melepas genggamanku agar orang lain juga dapat berlari lebih kencang, berlari diatas batas kemampuannya.

Cerpen Karangan: Tristiani
Blog: kuali-kaktus.blogspot.co.id

Cerpen Waktu Yang Pernah Kita Miliki merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Bisa Memiliki

Oleh:
Hatiku memang mencintainya, tetapi tidak dengan sebaliknya, ia hanya menganggapku seorang teman atau bahkan dia sama sekali tidak menganggapku. Aku bukan type orang yang mudah jatuh cinta, bahkan banyak

Maaf (Part 1)

Oleh:
Dear Fatih… Assalamulaikum, mungkin ketika kamu baca surat ini aku udah gak disini. Besok pagi-pagi aku berangkat ke luar kota dan akan menetap disana. Aku diterima bekerja, senang banget

Gadis Mungil Dari Stand Alphabet

Oleh:
“perhatian, pada seluruh ketua stand harap menuju sumber suara” kataku menggunakan TOA yang aku pegang. Sudah 15 stand yang sudah melapor padaku selaku ketua pelaksana kegiatan bazar yang diadakan

Kutunggu di Pintu Akhirat (Part 2)

Oleh:
Saat itu, dasar curug begitu dipadati pengunjung. Beberapa anak kecil riang bermain air yang jernih, sedang para orangtua di belakang mengawasi. Sejumlah muda-mudi asyik mengabadikan foto, beberapa yang lain

Selalu Ada Maaf

Oleh:
Malam ini begitu menyedihkan bagiku, aku menatap sekeliling kamarku kenapa harus begini, ku kira semua akan sesuai rencanaku tapi ternyata tidak, padahal seharusnya hari ini jadi hari yang membahagiakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *