Wanita Di Remaja, Semoga Baik Baik Saja Masa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 20 April 2016

Waktu terasa seolah bergerak dengan sangat lambat ketika ku lihat dua orang karyawan berseragam putih hitam di salah satu Mall tengah bersenda gurau. Kembali terbayang masa-masa indah itu. Ketika seragam hitam putih masih ku kenakan. Sebuah seragam khusus yang dikenakan untuk anak-anak baru ataupun anak-anak praktek kerja lapangan (PKL) di mall tempatku PKL. Mungkin sedikit terlambat untukku menemukan cinta pertama. Tepatnya pada saat itu aku masih duduk di kelas dua SMK. Di saat keingintahuan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan keinginan untuk belajar. Di saat hal-hal buruk merupakan hal yang paling menarik dan menantang untuk dilakukan. Dan di saat itulah pertama kali aku belajar untuk jatuh cinta.

Jika mall tempatnya bekerja adalah sebuah desa, maka Mega adalah bunga desanya. Dia adalah buah bibir di antara anak-anak lelaki yang PKL di mall tempatnya bekerja separuh waktu. Bukan sekedar karena keelokan wajahnya saja, tapi juga karena sifatnya yang sangat menarik. Matanya adalah bagian terindah yang ia miliki. Senyumnya adalah cahaya yang terpancar dari wajahnya. Dan ada banyak hal lain yang membuatnya menjadi medan magnet bagi para lelaki. Aku adalah seseorang yang sangat kekanak-kanakan dan usil. Hobiku adalah membuat orang lain tertawa. Menurutku membuat orang tertawa adalah salah satu alasan aku dilahirkan di dunia ini. Itu sebabnya aku selalu memanfaatkan sisi kreatif di bagian otak kananku untuk membuat lelucon ataupun hal-hal konyol yang mampu membuat orang lain tertawa ataupun kesal. Tingkat percaya diriku sangat tinggi. Bahkan saking tingginya, aku sering dikatakan sebagai seseorang yang tidak memiliki rasa malu.

Di balik semua sifat menarik yang ku punya, tetap saja butuh usaha yang lumayan keras untuk membuat Mega menyadari kehadiranku di antara para siswa PKL atau karyawan lelaki di Mall tempatku PKL tersebut. Selama sejam sekali Mega bekerja berpindah-pindah tempat. Aku selalu berusaha berdiri di tempat yang berada dalam jangkauan pandangannya. Aku juga sering mengantarkan keranjang belanjaan atau troli yang menumpuk di kasir-kasir ketika Mega sedang bekerja di tangga eskalator ataupun tempat yang tak jauh letaknya dari tumpukan troli dan keranjang belanjaan. Mega terlihat sedang menata aksesoris-aksesoris wanita di lantai dasar. Ia berada sangat dekat dengan tempatku bekerja waktu itu. Ketika itu aku sedang mendorong satu buah troli.

“Tin tin… Tin tin,” ku tabrakan troli tersebut dengan lambat ke arahnya.
“Ishhh…” katanya dengan mimik wajah yang jutek.
“Kan tadi udah diklakson Mbak,” jawabku mati langkah yang berada sedekat itu dengan dirinya.
“Kadonya mana?” pintanya dengan nada yang lumayan menekan.
“Kado apa?” jawabku bingung.

Otakku pada saat itu seperti sebuah mesin tua yang sudah lama tidak dihidupkan. Butuh waktu yang cukup lama untuk sekedar memanaskannya. Dan setelah cukup lama akhirnya aku sadar, hari itu adalah hari valentine. Hari yang katanya orang-orang adalah hari kasih sayang, padahal bagiku itu adalah hari biasa yang tidak lebih istimewa dari hari minggu. Kejadian di aksesoris cewek itu merupakan awal percakapanku dengan Mega. Setelah itu aku mulai lebih berani untuk mencari perhatiannya. Setelah berusaha lumayan keras, aku mulai merasa tidak ada bedanya untuk mendapatkannya dengan menciptakan sebuah mesin waktu. Itu adalah hal yang mustahil. Mendadak aku mulai percaya bahwa aku bisa menciptakan sebuah mesin waktu ketika Mega mulai memberikan isyarat bahwa ia mulai tertarik kepadaku. Seorang lelaki kampung yang baru belajar gaul dan belum mengerti apa-apa tentang cinta mulai mendapatkan sebuah harapan dari seorang gadis yang merupakan idaman para lelaki.

“Selamat pagi Kakak. Udah bangun belum? Jangan lupa sarapan ya,”
“Pagi juga Mega. Kakak baru bangun nih. Oh ya Kakak sayang Mega,”
“Apa sayang? Ya udah deh kalau gitu sayang balik,”

Sebuah cerita di pagi yang indah. Sebuah awal dimana kami dulu mulai menjalani hari dengan benar-benar berbagi sayang. Dua orang remaja yang saling menyayangi namun tidak pernah memiliki sebuah hubungan yang jelas. Sedikit pun aku tidak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan bahwa betapa aku sangat menginginkannya untuk jadi kekasihku. Selama ini aku pikir aku adalah seorang lelaki yang penuh percaya diri. Tapi di saat itu aku baru tahu bahwa di depan wanita yang sangat-sangat ku sayangi aku adalah seorang pengecut. Bahkan aku tidak memiliki sedikit pun keberanian untuk sekedar mengajaknya jalan berdua ataupun mengungkapkan betapa inginnya aku untuk menjadi kekasihnya.

Waktu dan keadaan yang aku punya tidak sama dengan anak lelaki umumnya. Di pagi dan malam harinya aku harus bekerja dan di siang harinya aku bersekolah. Itu sebabnya hubungan yang indah antara aku dan Mega tidak pernah melebihi sebatas tempat kerja dan komunikasi melalui handphone saja. Sebuah hubungan di dalam keterbatasan namun sangat membahagiakan bagiku. Justru dengan keterbatasan hubungan ini aku menjadi mengerti bahwa rasa yang ku rasakan saat itu murni hanya cinta. Tidak ada embel-embel lainnya. Cinta ini menjadikanku menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Minuman keras, tindik, dan banyak hal-hal buruk yang sudah mulai hilang dari diriku. Bahkan karena cinta inilah aku mulai bisa dan berani mengendarai motor. Aku berharap Mega kelak menjadi wanita pertama yang duduk di belakangku. Sekalipun aku tidak memiliki keberanian untuk mengajaknya jalan. Tapi aku tetap berharap.

Jarak dan waktu adalah salah satu kekuatan terbesar dari cinta. Kebahagiaan yang ku rasakan ini tidak akan bertahan lama. Di saat aku sudah selesai PKL dan di saat Mega sudah menjalin hubungan dengan lelaki lain. Aku memang menyetujuinya menjalin hubungan dengan lelaki lain. Karena ada hal-hal yang tidak bisa ku berikan kepada Mega dan aku masih ingin tetap bersamanya. Walaupun aku sempat tidak percaya dia akan tega melakukannya. Terkadang cinta memaksa kita untuk melakukan hal-hal bodoh yang sebenarnya tidak diperlukan hanya karena rasa takut kehilangan cinta tersebut.

Hubunganku dengan Mega tetap bertahan meskipun Mega sudah memiliki sebuah hubungan yang lain. Untuk sesaat aku merasa sangat bodoh. Aku merasa hubunganku dengan Mega hanyalah hiburan baginya atau hanya karena aku yang terlalu percaya diri dan berharap dari kata-kata sayang yang ia ucapkan. Luka yang membekas tetap tidak mampu menghapus rasa sayang yang begitu besar ini. Aku menunggu hingga rasa sayang ini memudar dan hilang dengan sendirinya. “Mega pengen Kakak jadi Ayah, Kakak, teman, dan pacar untuk Mega,” kata-katanya yang ku dengar ketika aku meneleponnya.

Aku pernah mencoba untuk menjadi ayah, kakak, teman, dan pacar sekaligus untuk Mega, namun aku berhenti. Karena di saat dia sibuk dengan hubungan barunya. Aku merasa Mega hanya menginginkanku untuk menjadi temannya saja. Tidak pernah lebih. Lambat tapi pasti, rasa sayang ini pun mulai memudar. Tepat di hari ulang tahunnya aku melakukan hal konyol. Tidak mengenakan pakaian yang rapi dan sangat kaku ketika menjumpainya. Dari pesan-pesan yang ia kirim, Ia terlihat bahagia dengan hadiah yang ku berikan. “Mega baru sadar kalau selama ini ada orang yang bener-bener sayang sama Mega,” sebuah pesan yang ia kirimkan yang membuatku sadar bahwa hubungan ini telah berakhir.

Satu-satunya hal yang membuat Mega mengerti dan merasakan cinta yang aku punya hanyalah waktu dan keadaan. Sudah sangat terlambat untukku menyadarinya. Masa-masa yang indah itu mungkin memang tak pernah menjadi seindah yang Menginginkan. Memang tak seindah kisah-kisah romantis dari negeri dongeng seperti cinderella, si cantik, dan si buruk rupa ataupun putri salju. Tapi bagiku itu adalah salah satu kisah terindah yang pernah ku alami. Yang sesekali mampu membuatku tersenyum sendiri. Setelah sekian lama berpisah, akhirnya rasa rindu itu pun muncul.

Sesekali aku memperhatikan Mega melalui jejaring sosial yang ia punya. Aku tidak pernah bermaksud untuk masuk atau merusak hidupmu Mega. Aku hanya memastikan bahwa kamu di sana baik-baik saja. Di saat kita begitu mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh maka tidak ada lagi rasa sakit ketika melihatnya bahagia bersama pilihan hidupnya yang baru. Dari hati yang terdalam doa agar ia bahagia akan terpanjat dengan sendirinya. Mega kamu memang pantas bahagia dengan lelaki yang lebih baik dariku. Mega. Aku hanya berharap kamu di mana pun berada semoga baik-baik saja dan lebih berbahagia di sana.

Cerpen Karangan: Nanda Satria
Facebook: Nanda Satria Maulana

Cerpen Wanita Di Remaja, Semoga Baik Baik Saja Masa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


3 Sahabat dan Adik Masa Lalu

Oleh:
“Hufffttt” kata ketiga gadis remaja ini sambil membaringkan tubuh mereka ke sofa (karena mereka tinggal di rumah yang sama). Mereka adalah anggita, pipit dan riska, 3 sahabat yang tak

I Found My Love At The End Of The Year

Oleh:
Aku terhibur dengan percakapan di akun sosial twitterku… dengan orang-orang yang menyenangkan di dalamnya, sehingga aku terlena dengan semua cekikikan, kejaihilan, dan itu membuatku lupa akan rasa sakitku, yaa…

Tuyul dan Kunti

Oleh:
Tuyul, hidup itu memang seperti ini ya… kenapa mesti aku? Hiks! Aku udah rajin belajar, tapi tetep aja nilaiku pas-pasan kayak gitu! Sebel! Eky menatap diary kecil warna biru

Kamu Yang Terakhir

Oleh:
“Kamu yang terakhir”. Itulah kalimat yang selalu muncul di dalam hatiku setelah mengenal dia. Di minggu pagi yang cerah ini aku duduk di taman sambil memandangi layar handphoneku. Tring…

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *