Wanted: A Boy Friend

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 February 2014

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.00, terlihat dari kejauhan Pak Jajang, satpam SMK Sakti Kencana mulai menutup pintu gerbang sekolah. Semakin cepat kukayuh sepeda lipat yang baru dibelikan ayahku seminggu yang lalu. Namun, setelah sepedaku tepat sampai gerbang, gerbang sudah ditutup. “pak, buka ya gerbangnya!” kataku sambil memelas. “makannya neng, kalau berangkat lebih pagi!” ucap pak jajang kepadaku. “pak saya kan Cuma sesekali saja telat!” ucapku membela diri.

Tiba-tiba, datanglah siswa SMK Sakti Kencana, perawakannya tidak terlalu tinggi, hanya sedikit lebih kecil dibandingkanku. Kulitnya pun cukup putih, dia juga termasuk salah satu anak yang pintar. Siswa itu pun menghampiri aku dan Pak Jajang yang sedang berseteru. “ada apa, pak?” tanyanya. Suara yang cukup lembut bagi ku. “ah, nak Kinan, ini ada siswi yang telat minta dibukakan gerbang.” kata Pak Jajang. “sudahlah pak. Bukakan saja gerbangnya, kasihan!” katanya seraya membujuk satpam killer itu. “baiklah!” kata Pak Jajang dengan terpaksa. Yaa, mungkin karena Kinan adalah ketua OSIS jadi satpam killer itu pun menuruti perintahnya. “terima kasih, pak!” ucapku sambil melihat muka Pak Jajang yang tersenyum kecut kepada kepadaku. “terima kasih, pak! Biar saya saja yang menghukumnya!” kata Kinan. Sontak wajahku berubah canggung, memang sih dia ketua OSIS, tapi masa tega menghukum sahabat karibnya yang sudah bersahabat sejak kelas 2 SMP? Tanyaku dalam hati.

Saat menuju kelas kami, dia bertanya kepada ku, “Xanya, tumben kamu terlambat.” tanya Kinan. “Jangan panggil Xanya panggil saja Putri!” kata ku sedikit menggerutu kepadanya. Memang benar namaku Xanya, Xanya Adinda Putri begitu nama lengkapku, tapi aku sedikit kesal apabila ada yang memanggilku dengan sapaan Xanya, menurutku itu adalah sapaan yang cukup aneh. Aku lebih suka jika dipanggil Putri. Tapi sepertinya Kinan lebih suka memanggilku dengan sebutan Xanya daripada Putri, aku pun tak tahu apa alasannya. “tadi aku kesiangan.” Jawabku sedikit lama karena melamun. “dan lo jadi hukum Gue?” sambungku. “ya enggak lah!! Mana tega gue hukum cewek dengan nama teraneh di dunia!” candanya. Aku sedikit kesal mendengar hal itu, tapi itu tak menjadi masalah berarti bagiku.

“assalamualaikum! Maaf bu saya terlambat.” Kataku kepada Bu Fany, guru tergalak di SMK ini. Kelas yang tadinya tenang karena takut akan kegalakan Bu Fany kini berubah menjadi ricuh karena kedatangan kami. Terdengar paduan suara dengan lagu “cieee..” disambung dengan gelak tawa seisi kelas. Sudah tak heran lagi, bila kami datang bersama selalu disorak-sorakan seperti itu. Padahal aku datang bersam Kinan karena rumah Kinan memang dekat dengan rumahku. Namun, alasanku tak berarti bagi mereka. Mereka selalu menganggap kalau kami ada hubungan khusus diluar pertemanan biasa. Aku sudah tak heran lagi dengan semua itu.

Kami pun duduk di bangku kami masing masing. Bel istirahat pun berbunyi. Aku dan Shilla pun bergegas ke kantin. Di kantin Shilla bertanya kepadaku “put, beruntung banget kamu bisa pacaran dengan si ketua OSIS.”. “siapa yang pacaran dengan dia? Aku dan dia itu Cuma bersahabat doang, kok!” ujar ku. “kalaupun pacaran juga gak apa apa! Lagi pula dia cukup keren, kok!” kata Shilla. “Benar juga apa yang dikatakan Shilla, Kinan juga lumayan cakep” fikirku. “woy!! Lamunin siapa hayo? Kinan ya? Ciee, putri lagi jatuh cinta nih?” kata kata Shilla membuyarkan lamunan ku. “E..e.. enggak, gak lamunin siapa siapa. Udah gak usah ngomongin Kinan ah!” jawabku mencoba mengalihkan pembicaraan. “tuh kan! Mukanya merah!” ujar Shilla. Aku tak menyadari ternyata memang wajahku sedang memerah dan senyum senyum sendiri.

Di tengah tengah obrolan Xanya dan Shilla, datanglah Kinan yang ingin mengajak Xanya ke perpustakaan. “Xanya, ke perpus yuk!” ajak Kinan. “tuh, kan Pangerannya putri datang juga!” ujar Shilla. “apa sih, shil?” ujarku secara spontan. “gimana mau gak ke perpus bareng gue?” tanya Kinan. “emm.. ya udah. Ayo! Shilla, sorry ya gue ke perpus bareng Kinan dulu! Atau lo mau ikut gue ke perpus?” ajak ku. “enggak usah deh, gue gak mau ganggu kalian berdua!” kata Shilla. “ya udah”. aku dan Kinan pun menuju ke perpus. Selain karena aku dan Kinan yang selalu datang bersama kami juga punya beberpa kesamaan, kami sama sama suka baca komik, suka jus jambu, dan satu lagi suka musik jazz, mungkin hal hal itu yang menyebabkan kami sering digosipin pacaran.

Aku pun keliling perpustakaan. Setelah menemukan buku yang menurutku seru, aku pun membacanya. Tak ku sadari ternyata diam diam Kinan memperhatikan ku. Aku pun tahu itu dari temanku yang ada di perpustakaan. Lalu, kucoba untuk menanyakan hal itu kepadanya “Kinan, tadi ada yang bilang ke gue kalau lo dari tadi perhatiin gue, emang bener?” tanya ku. “Masa sih? Jangan ke-pede an deh!” jawab Kinan berusaha meyakinkan. “oh, bagus deh kalau gitu.” Ujar ku. Tanpa menjelaskan alasan apa pun aku aku meninggalkan Kinan.

Sesampainya di rumah, fikiran ku hanya tertuju kepada Kinan, apa benar Kinan diam diam menyimpan perasaan kepada ku? Aku bertanya tanya dalam hati. Kalau memang benar, berarti persahabatan kami harus dikorbankan?. Fikiranku kacau memikirkannya. Aku pun berusaha untuk melupakan kejadian itu.

Esoknya, seperti biasa, aku dan Shilla menuju ke kantin. “put, emang kamu gak mau punya pacar gitu?” tanya Shilla. “aku Cuma mau cari BOY FRIEND.” Jawab ku tegas. “maksudnya pacar?” tanya Shilla ingin meyakinkan. Aku termangu untuk menjawab pertanyaan itu. Aku teringat akan sikap Kinan akhir akhir ini yang mulai perhatian kepadaku. Ternyata Kinan tak sengaja mendengar percakapan itu. Ia merasa bahwa ia memiliki peluang sebagai pacar Xanya, setelah mendengar percakapan itu, ia pun pergi. Ternyata yang dimaksud Xanya BOY FRIEND itu bukan pacar, dan ia pun mengatakannya kepada Shilla “maksud aku bukan pacar, tapi sahabat laki-laki. Aku belum mau pacaran, aku mau serius belajar dulu.” Ucapnya. Namun, Kinan tidak mendengar arti BOY FRIEND bagi Xanya yang ia tahu, boy friend ya pacar.

Saat bel istirahat kedua berbunyi, Kinan langsung mengajak Xanya ke taman, ia ingin mengatakan perasaannya kepada Xanya. “putri, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” Ujar Kinan lembut. “tumben lo panggil gue Putri, biasanya lo panggil gue Xanya?” tanyaku. “aku Cuma nurutin yang kamu mau. Kamu kan maunya dipanggil Putri, bukannya Xanya, iya kan?” jawab Kinan. “aku, kamu? Tumben dia ngomongnya kaya gitu. Sontak ia mengerti maksud Kinan. “Put, aku Cuma mau kalau kita gak sekedar teman atau sahabat, tapi aku pengen yang lebih dari sahabat.” Ujar Kinan. Aku setengah tak percaya mendengar ucapan Kinan. “tapi, bagaimana dengan persahabatan kita? Sebenarnya aku juga ada rasa sama lo, tapi gue lebih pengen kita bersahabat saja, kan sahabat melebihi segalanya termasuk pacar. sorry ya!” ujar ku. Kinan pun tersenyum, “lo bener juga! Sahabat kan lebih dari segalanya.” Kinan sangat lega karena sudah menyatakan perasaannya kepada Xanya.

Tak terasa hari-hari itu telah berlalu, sekarang aku, Kinan dan Shilla sudah kelas 3 SMA. Sepulang sekolah, seperti biasa aku pulang bersama Kinan, setelah sampai di depan gang rumahku, Kinan berkata kepadaku, “terima kasih ya, lo udah mau jadi sahabat gue!”. “ya, gue juga terimaksih sama lo karena lo udah mau jadi sahabat gue, dari dulu sampai sekarang. Tapi kita gak tau kan, kita kedepannya akan seperti apa?” jawabku sambil berlari ke rumah meninggalkan Kinan yang sedang bingung akan ucapanku.

Cerpen Karangan: Dealya Adira
Hai!! Nama saya dealya adira, silahkan memberikan komentar seputar cerpen saya ini..
terima kasih.

Cerpen Wanted: A Boy Friend merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bahagia Ku Bersama Mu

Oleh:
Setiap manusia tidak ada yang tahu kapan malaikat maut akan menjemputnya dari kehidupannya. Tidak ada manusia yang abadi dan kekal, kita harus menerima apa yang memang seharusnya kita terima.

Ceritaku Hari Ini

Oleh:
Pagi menyapa dengan tenangnya hari ini. Semangatku untuk beranjak dari tempat tidur kesayangan juga sudah mencapai batasnya. Kini saatnya aku siap-siap untuk berangkat ke sekolah. Entah kenapa hari ini

Modus Tipis

Oleh:
“Nik, aku denger-denger dari temen-temenku, Arga kemarin kecelakaan lho,” beritahuku kepada Nikka, sahabatku yang menyukai Arga. “Hah? Apa? Kapan? Di mana? Kok bisa?” tanya Nikka dengan segala kekhawatirannya. “Kemarin.

Bantuan

Oleh:
Hanif bingung ingin menulis apa ketika diberi tugas menceritakan pengalaman berkesan saat berada di SMA Cakra. Tangan kirinya berhenti menulis, mulai menyadarkan diri di kursinya. Ah iya! Kepalanya mendongak

Ujung Ujungnya LDRan (Part 1)

Oleh:
Masa SMA adalah masa paling kritis dalam kehidupan ber remaja kita. Bisa dibilang ini masa awal penentuan kehiupan sosial kita. Kalau kita disegani, maka seterusnya pasti banyak orang segan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Wanted: A Boy Friend”

  1. Rendy says:

    Bagus ko

  2. Mutiara says:

    Bagus cerpen nya (y)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *