Warisan Rasa Rindu (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 20 October 2021

Untuk Nagendra

Saya tak pernah menyangka, tak pula punya insting mengenai hadirmu dalam hidup saya.
Saya kira kita hanya manusia yang terlibat adegan dalam bingkai yang sama.
Nyatanya kita diberi naskah untuk bersinggungan dalam drama kita sendiri.
Meski singkat namun membekas, cukup memberi tamparan keras bagi saya yang tak peduli dengan hidup manusia lain.
Saya tak menyesal mengenalmu.
Tak pula lupa akan amanahmu.

Dari Radmila yang menyapamu lewat doa.

Embun membawa sejuk menyentuh telaga. Dinginnya masih terasa meski mentari hangat telah menyapa. Kicau burung temani diri dari sunyinya suara manusia. Suasana lembah kian ramai oleh dersik yang menyapa rerumputan. Perlahan namun pasti mentari menerobos celah lebatnya hutan.

Diriku sempat bermimpi bertemu denganmu di sini. Senyum hangatmu bahkan mengalahkan sang surya. Jelas ada rindu yang datang ketika memori tentangmu kembali berputar. Namun engkau tak datang menemuiku seperti di mimpi waktu itu.

“Mila, ayo pulang. Hari beranjak siang. Nanti Mbah Nur nyari kamu.”
“Iya, Mbak.”

Ke mana aku harus menyampaikan rasa rindu ini padamu? Waktu tak cukup bisa untuk buatku rela melepas sosokmu.

“Dari mana, Nduk?” Wanita tua itu ibunya ayahku.
“Mila ke lembah sebentar, Mbah.”

Wajah tuanya mengeras. Mbak Aida yang menemaniku tadi bergegas masuk rumah.

“Apa lagi yang kamu cari di sana?”
“Nggak ada, Mbah. Mila hanya ingin melepas penat.”

“Keluarga Wikrama akan datang hari ini dari kota.”
Giliran wajahku yang mengeras. “Untuk apa mereka datang ke sini?”
“Ini kampung halaman mereka. Lagipula Na–”
“Maaf, Mbah. Mila masuk dulu.”

Aku tahu ke mana pembicaraan Mbah Nur nantinya. Sungguh aku sangat paham, hanya saja hati ini enggan menerima kenyataan kalau bagian dirinya masih ada di sini. Di tanah ini.

Mereka datang menjelang waktu makan siang. Ada sepasang suami istri dan sepasang anak mereka. Kuintip dari jendela kamarku, Mbah Nur menyambut mereka dengan tangan terbuka. Berpelukan layaknya keluarga yang jarang bertemu muka. Mbak Aida bergegas menyalami mereka juga. Mengawal mereka untuk masuk ke rumah.
Aku kembali ke dapur menghindari kerumunan suara mereka.

“Mila, kamu ini ya ada tamu ya disambut. Malah bengong di sini. Sana ke depan.”
Mbak Aida menjawilku lantas mendorong tubuhku menjauhi area dapur.

Mereka menatapku berbinar seolah menemukan intan di balik sampahan.
“MasyaAllah Mila… Ibu kangen sekali, Nak.”
Aku bergeming tak pula membalas pelukan eratnya wanita paruh baya ini.

“Kamu sehat kan, Nak?” Aku mengangguk dan tersenyum tipis.
“Kamu ndak punya mulut untuk bicara?” Mbah Nur menegur sikapku.
“Udah nggak apa-apa, Bu. Mungkin Mila masih kaget melihat kami di sini.”

“Mbak Mila, apa kabar? Arum kangen banget sama Mbak.” Gantian sekarang gadis remaja ini memelukku erat setelah ibunya.
“Aku baik.”
Arum cengengesan menatapku setelah melepaskan pelukannya.

“Pak.” Aku menyalami Pak Darto suaminya Bu Lastri.
Terakhir seorang pria dewasa yang berwajah familiar. Aku hanya tersenyum. Aku tahu yang lebih sakit hati itu pasti pria ini. Tapi seolah ia baik-baik saja di balik wajah datarnya itu.

“Bapak, Ibu, Mas Darpa, sama Arum ayok kita makan siang. Sudah disiapkan di meja makan.” Mbak Aida sepupuku itu muncul dari belakang.
“Mila, ajak tamunya ke meja makan.” Mbah Nur menatapku penuh arti.

Sejak kejadian itu aku enggan berhubungan baik dengan orang-orang termasuk tamuku hari ini. Rasa malu itu terus menghantuiku hingga kini. Meskipun mereka si biang kerok telah hilang dari pandangan tapi dampak perbuatan mereka masih berasa hingga kini.

Makan siang berjalan dengan penuh kehangatan tapi tidak bagiku. Rasanya hambar.

“Hoeekkkk…”
Aku bergegas berlari ke kamarku. Bayi laki-laki gembul di sana menangis nyaring.
“Sayang kenapa? Haus ya? Bunda bikin susu dulu ya… Sabar ya, Nak.”
Aku menepuk-nepuk pelan pantatnya agar bayi gembul ini tenang dan berhasil. Matanya menangkap gerakanku yang terus memperhatikannya sembari menyeduh susu di dot kecilnya.

Aku menggendong tubuhnya, kudekap sejenak, menghidu aroma khas bayi di tubuhnya.
“Mimik ya Nak.”

“Mila, dia…” Bu Lastri berdiri di ambang pintu kamar.
“Caraka, Bu.”
“Boleh Ibu yang gendongnya?” pinta Bu Lastri dengan wajah haru.
Aku menyerahkan bayi gembul ini ke gendongan Bu Lastri. Ia nampak tak masalah berpindah tangan dariku. Menangis sejenak namun dengan cepat kembali tenang di tangan ibu 3 anak tersebut.

“Mama, dedeknya lucu banget.”
Arum mendekati ibunya menjawil pipi gembul Caraka yang nampak senang diajak main.

Kami kembali ke meja makan dengan Caraka yang masih digendong oleh Bu Lastri.
“Ma…”
“Namanya Caraka, Pa.”
Bu Lastri nampak senang dengan bayi mungil yang ia dudukkan di pangkuannya.

“Bu, biar saya aja.”
“Nggak usah. Mila habiskan aja makanmu ya, Nak. Biar Caraka sama Ibu dulu nggak apa-apa.”
Aku menurut. Melanjutkan makanku yang tertunda. Pria yang duduk persis di depanku makan dalam diam cenderung tegang. Aura dirinya terasa berbeda, lebih suram dari pertama ia sampai.

Lepas makan siang Mbah Nur dan Mbak Aida menuntun mereka ke tanah pekuburan. Tak semua ikut Mas Darpa memilih tinggal. Bisa dimaklumi mungkin ia masih sakit hati atas kelakuan keduanya.

Kami bertiga duduk di teras depan menunggu yang lainnya pulang. Dengan Caraka duduk anteng di pangkuanku menggenggam mainannya. Kulirik dari ujung mataku Mas Darpa menatap lurus ke depan, halaman luas rumah Mbah Nur yang ramai tanaman.

“Kenapa kalian menyembunyikan dia?” yang bertanya tak payah untuk menoleh padaku.
“Caraka lahir di kota tempat saya tinggal. Dia prematur. Nggak ada niatan untuk menyembunyikan dia. Waktunya tidak tepat untuk memberitahu hal ini pada kalian.”
“Dia anak Nagendra?”
Aku diam sejenak meresapi rasa aneh yang menjalar dalam diriku ketika nama itu disebut. Akhirnya aku mengangguk tanpa melihat si penanya.

“Mama Papa tahu?”
“Ya.”
“Bahkan Arum pun tahu?”
“Ya.”

Ia mendengus sinis. Mungkin dirinya merasa bodoh karena orang di keluarganya tahu adanya Caraka sedangkan dirinya sendiri yang tidak tahu. Sengaja memang aku meminta kedua orangtuanya untuk merahasiakan hal ini. Soal Arum yang juga tahu itu karena dirinya yang ngotot meminta penjelasan karena kecurigaannya selama ini. Gadis remaja itu mencurigai aku yang membawa bayi ketika kami tak sengaja bertemu di mall.

“Mereka berdua menikah di kota.”
“Saya minta kalau pun kamu nggak suka anak ini tolong jangan membuatnya tumbuh dalam kebencian. Meskipun nasabnya ada pada keluarga kalian, saya nggak menuntut apa-apa sama kalian. Saya bisa menghidupi Caraka sendiri,” lanjutku.

“Kenapa?” ia menatapku penuh tanya.
“Kenapa apanya?”
“Kenapa kamu mau merawat anak ini?”
Aku tertawa pelan dan menatapnya, “Saya nggak punya tanggungan selain Mbah Nur. Kalau bukan saya siapa yang merawat Caraka?”
“Mengorbankan masa depan kamu?”
“Masa depan yang bagaimana memangnya yang saya korbankan itu?”
“Suami kamu nanti, keluarga besarnya.”
“Dia harus terima paket komplit saya juga Caraka.”

Lagipula Caraka adalah amanah yang harus aku emban dari Nagendra. Lelaki yang berhasil menemaniku bangkit dari rasa terpuruk akan hilangnya rasa percaya pada manusia. Ketika kami begitu dekat dan akrab disitu pula semua perlahan kabur dan hilang.

Cerpen Karangan: Galiot Sastra

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 20 Oktober 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Warisan Rasa Rindu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Tanpa Nama

Oleh:
Kusapa engkau dari ribuan juta mil jarak “Assalamualaikum engkau pemilik hati.” Tanyakan kabar pada angin samudera yang menyejukan dan mengenyahkan gundah hatimu. Ia mengatakan kau akan selalu bahagia dan

Abu Abu Setelah Biru

Oleh:
Aku terdiam di sudut ruangan menyandarkan tubuhku yang kurasakan amat lelah. Lututku ku tekuk kemudian ku peluk. Pandanganku kosong. Aku sibuk menikmati suasana hati yang bergemuruh. Teringat semua ucapan

Cinta Nggak Bisu

Oleh:
“kita putus!!!“ “ya sudah. Aku akan cari yang lain!” “hah?” Pinkan adalah gadis super cuek dan dia pun paling gensi jika menangis di depan cowok. Bagi dia cewek yang

Surat

Oleh:
Aku masuk ke dalam kelas. Ternyata ada Nauval, dia sudah sampai duluan. “tumben datang pagi-pagi sekali, kerasukan setan darimana kamu?” ejekku. “ya pengen aja berangkat awal, males kena hukuman

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *