Warisan Rasa Rindu (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 20 October 2021

Untuk Utari

Aku tidak tahu mengapa hati ini mudah sekali tertaut pada sosokmu.
Dirimu yang ceria, supel, penuh perhatian, juga kasih sayang.
Rasa cinta dan sayang untukmu saja tak cukup.
Kamu memilih pria lain untuk berlabuh.
Tinggalkan aku yang diam terpaku.
Bagian dirimu hadir dalam bentuk bayi gembul menggemaskan.
Haruskah aku mengikhlaskan kalian berbahagia di sana?

Dari Darpa yang sepenuhnya rela melepasmu.

Kubawa tubuh gembul bayi ini ke teras depan. Setelah Mila mengganti celana bayi ini yang basah karena pipisnya sendiri. Melihat Mila yang telaten mengganti celana serta memasangkan popok pada Caraka membuatku terpaku. Dirinya seolah ibu hebat yang bisa apa saja untuk anaknya.

Ada desiran aneh tiap kali bayi ini tertawa menatap wajahku. Bagaimana aku bisa membenci anak ini? Dengan polosnya ia merebahkan kepalanya di dadaku. Bergumam tak jelas dan sesekali mengoceh.

“Pa.. pa.. pa.. pa..”
“Apa sayang? Raka mau ikut Ayah nggak ke kota? Raka bisa naik rollercoaster atau naik bianglala sama Ayah ya.”

Ucapanku akan terdengar aneh bagi orang dewasa namun biarlah toh Caraka juga belum mengerti bahkan ia tertawa antusias melihat gerakan bibirku yang mengajaknya bicara. Mungkin akan sebahagia ini rasanya jika aku punya anak nanti.

“Duh maaf Mas lama. Sekalian mandi sore. Sini biar Raka saya yang gendong.”
Aku berbalik badan mendapati perempuan pertengahan dua puluh itu nampak lebih segar.
“Nggak apa-apa saya aja yang gendong. Liat Raka malah anteng banget saya gendong.”
“Kalo capek bilang ya Mas. Raka masih kecil gitu berat loh.”
“Apa kabar kamu yang gendong dia tiap hari? Nggak patah tuh tanganmu?”
Dia hanya tertawa pelan. Mila mulai sedikit terbuka perihal Caraka tentunya. Melihat antusiasmenya bercerita dapat aku simpulkan kalau Mila sangat menyayangi anak ini.

Aku menciumi pipi gembulnya. Caraka tertawa riang nampak senang pipinya kujahili.

“Saya dengar Nagendra dulu sempat melamarmu?”
Mila tak langsung menjawab. Jelas ada pertimbangan sebelum ia berani mengeluarkan suara.

“Saya tolak karena saya nggak yakin dengan pernikahan.”
“Setelah Endra dengar kalau Mbak Utari masih suka sama dia walaupun Mas Darpa dan Mbak Utari akan segera menikah, Endra mengambil kesempatan itu.”
“Jelas dia nggak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bersama cinta pertamanya itu,” ujarnya.
“Saya berani menerima perjodohan itu karena yakin Endra nggak akan berpaling dari kamu. Yang saya lihat kalian begitu dekat sepertinya,” timpalku.
“Mas tahu Endra suka Mbak Utari?”
“Meskipun saya dan Endra jarang komunikasi tapi saya tahu gerak-gerik dia selama di sini.”
“Bagaimana pun jalan ceritanya kalau memang takdir akan tetap berjodoh,” tandasnya.

Kejadian 2 tahun lalu itu masih membekas, aku yang ditinggalkan ketika hari-H pernikahan. Miris memang. Utari pergi tanpa penjelasan namun menyadari kalau Nagendra juga menghilang saat itu buatku paham. Mereka pergi bersama entah ke mana. Sampai terdengar kabar bahwa mereka kecelakaan, Utari meninggal di tempat dan Nagendra kritis sempat siuman namun Tuhan berkata lain, segera ia menyusul Utari. Dan hari ini, 3 bulan setelah kepergian mereka aku baru dikabari perihal kematian mereka. Tentang Caraka aku sungguh baru tahu hari ini. Orang rumah – Mama, Papa, dan Arum bahkan tidak sedikitpun membahas bayi ini. Aku merasa bodoh, sepanjang makan siang kupikir bayi ini anak Mila. Sungguh lega ternyata Caraka anaknya Nagendra dan Utari.

“Ya ampun ponakan Tante lucu banget sih… Sini-sini Tante gendong ya.”
“Bersih-bersih dulu sana. Banyak kuman kamu tuh.”

Arum cemberut karena Caraka kubawa menjauh dari jangkauannya. Mama menenangkan anak itu dan mengajaknya masuk ke rumah. Papa tersenyum tipis melewatiku. Mbah Nur hanya mengangguk pelan sambil berlalu ke dalam bersama Mbak Aida.

Menjelang senja langit menguning sinarnya menerpa batu nisan di hadapanku. Sepasang insan manusia telah pergi bersama menghadap-Nya. Entah rasa apa ini yang hadir ketika menjumpai mereka yang telah hilang wujudnya.

Mila menabur bunga di kedua makam ini. Ia mengelus nisan Utari sambil menghela napas rendah. Dirinya melihatku sekilas sambil tersenyum tipis. Lalu beralih ke makam Nagendra. Melakukan hal yang sama dan beranjak berdiri di sebelahku.

“Mau marah sama mereka pun rasanya percuma. Toh semua sudah terjadi. Saya ikhlas melepas mereka dengan maaf.”

Besar sekali hati perempuan ini. Setelah apa yang ia lalui dirinya memilih ikhlas. Aku tahu Mila dan Utari ditinggal orangtua mereka bercerai ketika mereka masih kecil. Orangtua mereka seolah tak peduli dengan anak-anaknya. Utari dan Mila tumbuh jadi sosok yang sangat berbeda. Mila cukup pembangkang hingga berani keluar rumah di usia belia. Nekat merantau ke kota besar seorang diri. Tak peduli nenek dan saudarinya yang ia tinggalkan begitu saja. Diselingkuhi pacar dan ditinggal menikah mantan. Semua cerita yang kudengar dari Mama yang kenal dekat dengan Mbah Nur. Melihat sosok Mila sekarang yang berani ambil keputusan untuk merawat Caraka dan kembali tinggal di kampung ini adalah hal yang besar. Dirinya ternyata peduli dengan keluarganya.

Ada rasa rindu yang kini perlahan terkikis dan berganti rasa lega yang luar biasa. Mengikhlaskan ternyata selega ini rasanya. Beban yang menyangkut di hati terangkat dengan sendirinya.

Kami beranjak pulang kembali ke rumah. Berjalan menyusuri jalan tanah berbatu dalam diam.

Kami sekeluarga memang memutuskan untuk menginap di sini barang sehari. Mama dan Papa bahkan tak membicarakan perihal siapa itu Caraka. Seolah aku telah tahu dari mana asal bayi gembul ini.

Lepas makan malam kami berkumpul di ruang keluarga, asik bermain bersama Caraka. Bayi gembul itu seolah tahu dirinya sangat disukai orang, dirinya terus saja bertingkah menggemaskan. Menjelang larut malam Arum tepar di kamar depan. Mila terkantuk-kantuk menunggui Caraka bermain sendiri.

“Tidur sana. Biar Caraka Mas yang jaga.”
“Makasih, Mas.”
Dirinya menurut masuk ke kamar depan yang ditempatinya bersama Arum dan Mbak Aida.

Aku mengambil Caraka menggendongnya ke teras depan menemui Mama, Papa, dan Mbah Nur. Dengan tekad mantap untuk ikut andil dalam tumbuh kembangnya Caraka kedepannya. Ya aku harus meyakinkan tiga orang tua itu segera. Malam ini juga.

Cerpen Karangan: Galiot Sastra

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 20 Oktober 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Warisan Rasa Rindu (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Mencintaimu

Oleh:
Pagi itu seperti biasa aku melakukan aktivitasku. Hari ini adalah hari senin, hari dimana para murid-murid sekolah merasa suntuk dan malas karena upacara, tapi tidak denganku! Aku sangat bersemangat

Kisah Kehidupan 4 Saudari

Oleh:
Terdapat 4 orang saudara yang bernama Dhea, Ghefi, Devina, Talitha. Mereka adalah 4 anak yang baik, mereka selalu membantu satu sama lain. Pada suatu hari mereka sedang tertidur, tiba-tiba

Kantil dan Kenanga

Oleh:
Tak ada yang istimewa dari tempat tinggal Sania. Sebuah rumah sederhana berdindingkan kayu jati, tapi di situlah rasa kasih sayang dan cintanya ia curahkan terhadap kedua orangtuanya. Ia sangat

One Time

Oleh:
“Felly! Gue tunggu di studio, ya?!,” ucap Bram dengan semangat saat mereka telah menjalani mid-semester di hari terakhir. Felly hanya dapat mengangguk mantap dengan senyuman yang lebar. Dan juga,

Lelaki Cengeng Ku

Oleh:
“Suasana kota tengah malam memang paling sempurna. Langit gelap dengan awan hitamnya. Remang-remang cahaya terpancar dari lampu jalanan kota. Merdunya suara kendaraan berlalu lalang. Beberapa orang terlihat mondar-mandir dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *