Warna Langit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 18 April 2015

Aku menengadah. Kelabu. Hitam. Awan berkumpul, berbaris menutupi birunya langit dan hangatnya matahari. Sedetik kemudian bisa kurasakan setetes air jatuh ke keningku. Dingin.

Kutatap kedua tanganku yang kosong terbuka. Hanya kehampaan yang kini bisa kurasakan di sana. Namun sekarang air hujan sudah mulai membasahi. Orang-orang di sekitarku mulai berlarian mencari tempat untuk berteduh, sementara yang beruntung telah membawa payung dengan terburu-buru mengeluarkannya dari dalam tas mereka. Tak satu pun orang menegurku. Tapi aku bisa merasakan tatapan beberapa dari mereka, yang heran karena aku bergeming, tak beranjak dari tempatku sekarang.

Mereka bilang kehampaan itu kosong, kembali ke nol. Tapi arti hampa yang sebenarnya sudah ada bahkan sebelum matematikawan menemukan angka nol. Hampa itu kosong, bahkan tidak diisi dengan angka nol. Ruang tanpa udara – bukan, malah ruang itu sendiri pun tidak ada. Dan ‘ruang kosong’ itu harus kita isi dengan sesuatu, untuk membuktikan bahwa ‘ia’ ada. Untuk menghidupkan kembali sesuatu yang telah hilang. Untuk menciptakan kembali sesuatu yang baru.

Persetan dengan teori aksi-reaksi Newton. Manusia sudah terlalu congkak untuk mengikuti hukum alam. Ketika mereka sudah menerima sesuatu yang mereka inginkan, mulut-mulut mereka sudah terlalu malas untuk hanya mengucapkan sepatah terima kasih. Apalagi membalas budi. Mereka juga tidak mau lagi terikat dengan gravitasi. Merekat di titik baru yang mereka buat sendiri; entah itu pekerjaan, sekolah, keluarga dan orang yang mereka cintai lebih dari diri mereka sendiri. Dan ketika mereka kehilangannya, mereka akan mengapung di ruang kosong tanpa udara yang bernama hampa. Berenang tanpa air, bernapas tanpa oksigen, mengembara tanpa arah. Mereka tak bisa kembali ke gravitasi yang sudah mereka tinggalkan pertama kali, kecuali jika gaya itu yang menginginkan mereka.

Pandanganku kini kembali ke aspal basah di bawah kakiku. Entah sudah berapa lama aku berdiri di sini. Entah sudah berapa lama hujan berpetir turun. Tapi aku bisa merasakan tubuhku mulai gemetar kedinginan, menempel dengan baju satu lapis yang kini basah seutuhnya. Bulir-bulir hujan itu besar dan menghujam, membekukan inderaku. Aku sudah tidak bisa merasakan ujung jari-jariku, apalagi tatapan mata-mata orang yang heran karena aku tidak segera mencari tempat berteduh sejak tadi. Hembusan angin dingin memaksaku mengangkat wajah ke arah angin itu berasal.

Dan aku berharap aku menemukanmu di sana. Tanpa alasan mengapa.

Aku yang semula nol, hampa, tanpa udara, pertama kali terisi setahun yang lalu, dengan sapaan ‘halo’ yang sederhana, hangat, dan tanpa basa-basi. Awalnya kau hanya meninggalkan setitik warna merah, yang makin lama menimbun jingga, hijau, biru, hingga menjadi pelangi. Mitos yang dikatakan bahwa ada harta karun di ujung pelangi memang benar; karena aku menemukanmu di muaranya.

Hampir seumur hidup aku menolak untuk bermain dengan hati. Hati bukanlah matematika yang bisa dihitung, atau fisika yang bisa diperkirakan. Hati justru mengacau balaukan peraturan yang sudah ditentukan lebih dari seribu tahun yang lalu. Ketika matematika mengatakan satu tambah satu adalah dua, hanya hati yang menyangkal kalau satu tambah satu justru berakhir kembali menjadi satu. Ketika seseorang akhirnya bersatu dengan orang yang ia cintai, maka mereka akan menjadi satu jiwa yang sama. Tipikal kalimat romantis murahan yang biasa kutemui tiap hari di majalah ataupun serial televisi. Dan hanya hati yang menuturkan kalau terjatuh adalah sesuatu yang indah dan manis, di saat fisika mencecar dengan energi potensial, gaya berat, dan hukum Newton ketiga.

Aku adalah orang yang penuh perhitungan. Aku berusaha berlari dari resiko, tak bertabrakan dengan masalah, apalagi sampai menjatuhkan diri ke dalam kelamnya frustasi. Dan aku tidak tahu harus memberi nama apa pada pertemuanku denganmu; keberuntungan? Kesialan? Hidup itu seperti roda; di saat kau merasa hidup tak bisa lagi menjadi lebih indah, ada satu titik yang membuatmu merasa kau adalah orang yang paling terpuruk di muka bumi. Karenanya, aku tidak mau menjadi orang yang berbahagia. Aku tidak ingin menghadapi titik bawah roda yang berputar itu.

Tapi kau justru mengajarkan bahwa dengan adanya kedua titik kontras tersebut, hidup malah menjadi lebih berharga, lebih menarik. Perasaan senang saat kau berada di atas, juga perasaan lega kala kau telah melewati area bawah. Makin lama, aku semakin melupakan rumus-rumus matematika dan fisika. Kaulah yang menyelipkan logika hati di otakku yang bertahun-tahun membeku; yang kini percaya bahwa di ujung satu tambah satu kau hanya akan menemukan satu.

Kau ingat apa yang kau lakukan sesudahnya?

Aku semakin menggigil dalam derasnya hujan. Instingku sudah memaksaku untuk segera mencari tempat berteduh untuk menghangatkan diri, dan lebih baik lagi jika aku segera pulang dan mengganti baju, mungkin setelah itu menikmati secangkir teh hangat ditemani berita televisi. Tapi kakiku membatu. Atau membeku kedinginan. Entah sejak kapan pipiku dialiri air mata yang kini sudah bercampur dengan air hujan yang tanpa jeda menuruni pipiku. Air hujan sudah menggenangi jalanan hingga mata kaki. Ternyata jari-jari kakiku memang membeku, sudah tidak sanggup bergerak.

Sama sepertimu, yang terlanjur tidak punya waktu menjelaskan padaku bahwa hati juga memiliki titik nol. Tahukah kau, di matematika, satu tambah satu yang berakhir dua, memerlukan dua pula untuk menjadikannya kembali tidak bernilai? Dan alangkah indahnya jika hati memiliki patokan yang sama dengan matematika. Tapi ketika dua tersebut ternyata terlanjur menjadi satu, kau hanya perlu satu untuk menjadikannya kosong. Dan ketika kita sudah melebur menjadi satu, lalu kau tiba-tiba menghilang, ke manakah nilaiku sekarang? Di mana pelangi tujuh warna yang pernah kau tinggalkan? Harus ke mana kucari muaranya?

Aku berjanji ini terakhir kalinya aku memandang langit. Mungkin aku kini melayang, telah kehilangan gravitasiku sendiri, dan mungkin bumi juga tak menginginkanku kembali. Hujan ternyata sudah berhenti, dan orang-orang yang tadi berhenti sejenak untuk berteduh kini telah kembali ke aktivitas mereka masing-masing. Seorang satpam berseragam menghampiriku dan bertanya, hanya saja aku mendengar apa yang ia tanyakan. Aku juga tidak peduli.

Tapi langit yang sekarang kulihat sewarna laut yang kau sukai.

Cerpen Karangan: Alfiana Ri
Kini seorang murid kelas XI IPA di SMA swasta di Bogor.

Cerpen Warna Langit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penantianku Yang Tak Berujung

Oleh:
“cinta itu sabar, seperti pelangi yang menunggu hujan reda” Hari itu kulihat senja di bawah pohon tempat dimana aku meluangkan segala kepedihanku dengan pena dan buku kecilku. “mega yang

Setelah Lulus SMA (Part 3)

Oleh:
“Selamat pagi, selamat pagi, permisi,” seruku dengan sopan, dari pagar depan rumah nenek Dinda. “Selamat pagi, mari masuk Nak,” seru nenek Dinda. “Oh iya Nek,” sahutku. “Dinda lagi mandi,

The Power Of Love

Oleh:
“Krriiinnggg” bel berbunyi keras, membuat para siswa berteriak “yes” dalam hatinya. “Ta.. lu gak pulang?” “Bentar lagi.. lu duluan aja” Tania Dwi Maharani, itu namaku. Biasa dipanggil Tania. Aku

Pacarku Pemain Futsal

Oleh:
Malam ini aku masih tak bisa tidur nyenyak, aku pun masih duduk termenung di teras depan rumahku sambil menatap indahnya suasana malam ditemani dengan suara-suara binatang malam yang mulai

Kebetulan

Oleh:
Hidup penuh teka-teki yang sulit ditebak. Kenyataan yang kadang tak masuk akal. Semuanya sering disebut sebagai “kebetulan”. Waktu yang tak kutahui dan mungkin ia pun tak tahu, kadang menyatukan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Warna Langit”

  1. Amin says:

    Bagus cerpennya, .
    Sepertinya curhatan ni. ?
    Hemm.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *