Wasiat Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 13 November 2013

Putra namamu. Untuk pertama kalinya kau titip salam kepadaku lewat sahabatku, Maya namanya. Waktu itu dan sekarang sangat berbeda. Kali ini aku bahagia, aku telah tahu semua kebenarannya. Aku tahu apa yang ku mau. Dan aku juga tahu apa maksudmu.
“Kay, ada yang titip salam tuh.” kata Maya, saat kita makan siang di kantin kampus. Aku diam tak menanggapi. Aku pura-pura melahap semangat mie ayamku dan tak mau ada satu orang pun yang menggangguku.

Maya melanjutkan, walaupun dia tak mendapat respon apapun dariku. “Kay, tadi pagi aku ketemu dia waktu berangkat kuliah. Ketemu di gerbang kampus. Dia banyak nanyain elo mulu. Sreeettt,” dia cerita panjang lebar banget, aku nggak mendengar apa yang dia ceritakan sampai akhir. Pusing aku, kalau Maya sudah ngomong pasti kantin kampus ini semua akan berubah jadi kertas koran segudang full. Huh pusing.
“Udah selesai?” Maya diam. “Yuk ke kelas.”
“Astaga Kayla, dari tadi kamu nggak denger sama sekali aku ngomong apa kayak gitu panjang lebar kali tinggi. Parah banget si lo, nggak punya perr…”
“Aku denger kok, intinya siapa nama cowok itu?”
“Putra. Okee.”

Selanjutnya, Putra minta nomor hapeku ke Maya. Yah, dengan ekspresi datar dan biasa saja aku iya kan. “Cuma nomor telefon kan, nggak masalah kasihin aja.” Oke, semua berjalan sesuai keinginan Putra. Kita semakin dekat, dekat dan dekat. Tapi inilah diriku. Aku memang terlalu naif. Aku mengakui itu. Putra memberiku perhatian yang tulus tidak seperti lelaki-lelaki lain yang kukenal. Kita sering bertemu di kampus. Tapi aku tak suka hanya jalan berdua dengannya. aku selalu mengajak Maya kemanapun kami akan pergi. Putra pun selalu menuruti kemauanku. Dia benar-benar tulus. Sampai suatu saat ia ingin mengajakku ke suatu tempat. Dia bilang dia sudah lama ingin mengajakku kesana. Memang sebelumnya dia juga sering mengajakku jalan hanya berdua saja. Tapi aku selalu memiliki seribu alasan untuk menghindarinya. Dia menyampaikan keinginannya ini sembunyi-sembunyi dari Maya. Tak seperti biasanya. Dia hanya akan patuh jika aku menolakknya. Tapi untuk kali ini, dia bertindak tegas. Aku marah. Namun inilah awal dari semua akar permasalahan yang sebenarnya.
“Kenapa sih harus ngerahasiain ini dari Maya?” kataku ketus.
“Emang kenapa sih Kay, kamu marah?” jawabnya tetap lembut di hadapanku.
“Aku nggak suka aja. Kenapa sih kamu terus-terusan kayak gini..”
“Maksud kamu? Harusnya aku yang nanya kayak gitu ke kamu. Kenapa kamu nggak pernah respek sedikitpun dengan semua perhatian aku. Kenapa sih Kay? Apa kamu kayak gini sama semua cowok atau cuman aku? Emang apa salah aku Kay?”
Aku diam. Aku nggak suka suasana kayak gini. Menyebalkan. “Stop” rutukku dalam hati. Hatiku yang dipenuhi amarah hingga tak sanggup mengeluarkan sepatah katapun.
“Kay, jawab aku. Pliss.” aku diam, diam dan terus diam. Akhirnya dia nggak tahan lalu pergi entah kemana.

Sejak hari itu aku merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupku. Entah apa itu. Tak kudapati ia di kampus. Iseng-iseng ternyata aku setiap hari menunggunya. Kucoba datangi di setiap sudut kampus yang pernah kudatangi bersamanya dulu. Di taman, kantin, kafetaria, perpustakaan, semua nihil. Aku benar-benar kehilangan dia. Tak sadar aku berhenti di taman terakhir kali kita bertemu. Butir-butir hangat mengalir lemah di sudut mataku. Aku tak sanggup lagi menahan semua rasa perih di hati sebab kesalahan yang kubuat sendiri. Aku sadar akulah yang salah. Akulah yang selama ini egois. Bahkan aku tak tahu apa mauku. Oh… “Kay…” suara itu membawaku kembali ke alam nyata. Suara Maya. “Sebenernya Putra nitip ini ke aku supaya ini dikasihin ke kamu. Tapi dia juga bilang, aku harus ngasih surat ini jika kamu sudah benar-benar berubah…”

Buru-buru kuseka air mataku. Mendelik ke arah Maya. Surat itu langsung kuraih dari tangannya. Kubaca kata perkata dari tulisan itu. Ternyata dia benar-benar ingin mengajakku ke tempat yang ingin dia tunjukkan waktu itu. Baiklah aku akan kesana.

Aku telah sampai di tempat itu. Aku sampai di tempat parkiran paling depan. Aku bengong. Tempat apa ini. Luas. Dari luar terlihat seperti museum. Tapi aku yakin ini bukan museum. Tempat ini masih terasa asing buatku. Dan aku baru pertamakali kesini. Di sebelahnya ada halaman yang sedemikian luas. Tetapi di bagian tepi halaman itu ada dua makam yang besar dan dikelilingi dengan beberapa makam yang memiliki ukuran yang sama. Ada satu makam yang sepertinya makam itu masih baru, karena terlihat jelas bekas gundukan tanah disana, sebenarnya apa semua ini. Mana Putra. Bagaimana Putra bisa tahu kalau aku ada disini. Nggak mungkin dia tahu. Kuputuskan untuk menelfonnya. Saat aku mau ngambil hape di kantong celanaku, aku mendapati hapeku berdering ‘1 new message’.
from: Putra
message: terus aja Kay, ak tunggu d halaman belakang, di belakang makam lewat dalem museum ya…

Aku menuruti kata-kata Putra. Wah, anak ini penuh dengan surprise. Aku masuk ke museum itu. Banyak foto-foto yang terpajang. Foto-foto dengan pakaian kebaya ala bangsawan. tapi yang paling aku herankan. Kok, ada foto kakekku bareng dengan seseorang yang seumuran dengan beliau, sepertinya Kakek akrab sekali dengan kakek di sebelahnya itu. Tapi kakek di sebelahnya itu mirip banget sama Putra. Apa nih maksudnya. Dalam pigura yang lain, kutemukan potret Putra bersama dengan seorang lelaki yang lebih tua darinya. Sepertinya ini foto keluarga besar Putra. Juga kutemukan foto-foto yang lain yang tak kuketahui apa maksud dari foto itu.

Aku sampai di penghujung museum ini, ada sebuah pintu yang telah terbuka. Aku harus keluar melalui pintu itu, mungkin Putra ada disana. Ternyata benar, ada sesosok laki-laki yang tinggi tegap menghadap membelakangi aku. Aku hanya bisa melihat punggungnya saja. Kupanggil namanya perlahan, “Putra…”
Perlahan laki-laki itu menoleh. Benar, dia adalah Putra. Tak bisa dipungkiri, ternyata aku masih terus mengingat sosok itu di sepanjang malamku.
“Kay, makasih ya, akhirnya kamu mau datang ke sini.”
“Put, pliss jangan ngomong kayak gitu. Aku tahu, selama ini memang aku yang egois. Aku minta maaf. Maaf banget karena selama ini aku nggak pernah ngertiin kamu.”
“Udahlah Kay, yang lalu biarlah. Aku ingin nunjukin sesuatu sama kamu. Udah lama banget aku pengen nunjukin ini ke kamu. Syukur, akhirnya bisa kesampaian sekarang.”
Aku hanya tersenyum. Dia berjalan ke dalam, aku ikuti dia.
“Kay, kamu pasti udah lihat tadi foto-foto yang terpajang di museum ini. Dan ada seseorang yang nggak asing buat kamu, kan. Sebenanrnya ini yang mau aku tunjukkan ke kamu, selama ini.”
Putra berhenti di depan pigura foto kakekku dan kakeknya yang tadi aku lihat dengan penuh tanda tanya. “Kay, ini foto kakekku sama kakekmu. Dulu, kakek kita bersahabat. Deket, deket banget, udah kayak saudara sendiri. Mereka merintis usaha bersama.” kata Putra dengan mimik serius sambil menunjukkan foto yang lain yang tadinya tak ku mengerti sama sekali. Ternyata ini semua dokumen perjalanan hidup kakek kami.
Putra melanjutkan, “Mereka menjalani usaha bersama. apapun itu akan mereka perjuangkan bersama. Sampai keduanya memiliki keluarga masing-masing mereka seperti kakak adik yang tak pernah terpisahkan. Bahkan hingga mereka memiliki cucu, mereka masih seperti saat muda. Sungguh menakjubkan. Tapi setiap perjumpaan akan ada perpisahan, setiap nyawa pasti akan putus dari raganya. Begitu juga dengan kakek. Kakek kamu Kay, waktu itu sedang bersama kakek di sebuah proyek yang besar. Mereka bersama dengan para kontraktor yang handal. Jika mereka berkeja, mereka akan melupakan semuanya. Saat itu kakekku yang sedang sibuk berbincang dengan kliennya tak sadar bahwa nyawanya sedang terancam. Tetapi tidak kakekmu, beliau melihat tanda-tanda buruk akan menimpa kakekku. Kakek kamu tanpa berpikir panjang langsung lari menyelamtkan kakekku. Tetapi maut tak dapat ditolak, Kay. Kakekmu tertimba bahan bangunan yang berton-ton itu. Jadilah kakekmu berhutang nyawa pada kakekmu. Sejak saat itu kakekku tak bisa tidur di malam hari, dan terus gelisah di siang hari. Melihat kenyataan, bahwa ayah kamu memutuskan segala bentuk kerja sama yang telah disepakati kakek kita, dengan alasan semua kejadian itu.
“Tapi Kay ada hal yang membuat kakekku sama sekali nggak bisa tenang hingga mungkin saat ini, saat beliau sudah dipanggil Sang Pencipta. Beliau tidak hanya bekerja sama dalam hal bisnis saja, bahkan mereka juga ingin menyatukan keluarga mereka, dengan jalan perjodohan.” Glekk. Seketika aku kaget bukan main.
“Kay, karena anak mereka sama, semuanya laki-laki, maka tak mungkin untuk sebuah perjodohan. Mereka terus berdo’a agar cucu mereka kelak dipersatukan. Akhirnya do’a mereka terjawab, namun karena kecelakaan itu mungkin semua bisa berubah. Tapi kakekku orang yang sangat loyal. Beliau tidak akan pernah bisa mengingkari janji beliau sendiri. Beliau akan terus memperjuangkannya hingga akhir hayatnya. Dan yang membuatku terus-menerus untuk dekat sama kamu, adalah karena sulit bagi kamu untuk mengerti hal ini karena orang tuamu telah lama tiada dan belum menceritakan semua ini kepadamu. Dalam perjodohn itu mereka akan menjodohkan sesama cucu pertama mereka, jika hal itu dimungkinkan. Tapi memang hal itulah yang terjadi. Kakak laki-lakiku adalah cucu pertama kakeku, dan kamu adalah cucu pertama kakekmu. Untuk alasan itulah aku mendekatimu selama ini.”
“Putra, jangan pernah kamu berkata seperti itu. Aku tahu arti semua pandangan matamu. Putra, apa ini balasan yang aku dapat karena aku pernah menyakitimu?” aku terisak begitu hebatnya. Aku tak bisa melanjutkan kata-kataku lagi.
Putra mendekatiku. Membiarkanku menangis dalam pelukannya. “Itu memang cerita yang sebenarnya Kay. Tapi ada yang lebih penting dari semua itu. Hati ini. Hati ini hanya terpaut pada hatimu. Karena selama ini… Aku sayang kamu, Kay.”
Semakin erat Putra memelukku. Semakin air mata ini tak dapat kubendung lagi. Tak kusangka aku akan terjerat dalam cinlok nashab semacam ini. Terimakasih Putra, kamu membuat aku jadi tahu apa itu arti cinta. Perhatian, ketulusan, dan kepercayaan. Kami berpelukan tepat di depan makam kakak laki-lakinya.

Cerpen Karangan: Lailatul Sya’diyah
Facebook: Lailatu Sya’dyah

Cerpen Wasiat Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surya Di Ujung Senja

Oleh:
Sepasang matanya memandang sayu bunga di perkarangan. Begitu banyak bunga yang tumbuh dengan subur namun kali ini ia tertuju pada bunga mawar merah yang hendak merekah. Aah, mawar merah

Gara Gara Ban Bocor

Oleh:
Pagi yang cerah aku bangun dan siap berangkat ke sekolah seusai mandi, perjalanan ke sekolah hawa sejuk menyapa, kulihat ia dari jauh melewati perempatan, ia adalah Santi. Yap aku

Antara Kita Dan Cinta

Oleh:
Namaku Fara. Aku punya sahabat yang bernama Fia. Kita memang belum lama bersahabat, tapi, kita sudah sangat dekat. Saat ini kita kelas X SMA. Dan di sekolah kita semua

Kapsul Cita-Cita

Oleh:
Matahari mulai terbit dari ufuk timur dan mulai menyelinap masuk menerobos jendela kamar Nia. Tak lama kemudian terdengar seseorang membuka pintu kamar Nia perlahan dan dengan suara lembutnya membangunkan

Saat Purnama Mulai Hilang

Oleh:
Badan tanpa jiwa Belia senantiasa namun renta belaka Selalu bergerak namun bergeming tiada Nampak nyata namun terlihat semu.. Entahlah sampai kapan kenangan itu mampu terhapus begitu saja. Aku yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *