We Are Player

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 16 March 2016

Kita adalah player. Sesama pemain yang tak punya hati dalam memainkan perasaan orang lain. Berawal dari pertemuan kecil yang membuat kita menjalankan game ini. Game konyol dengan hati sebagai taruhannya. Dengan syarat, siapa yang jatuh cinta duluan dialah yang kalah. Kita adalah player. Tidak mungkin dengan mudahnya kalah dengan pemain lain. Itulah yang ada di pikiranku saat itu. Aku tidak akan kalah darimu. Meskipun hati wanita mudah untuk ditaklukan, tetapi tidak untuk hatiku.

Aku adalah player berpengalaman yang sudah menjalani profesi ini lima tahun lamanya. Karena itu, aku berkeyakinan, dengan hadirnya orang sepertimu yang kurang lebih sama buruknya denganku, tidak mungkin aku jatuh hati padamu. Meskipun kita berdua sama-sama berjuang dalam game ini, entah siapa yang akan menang, yang pasti aku tidak akan kalah darimu. Jelas, kita berdua sama-sama tak mau tersakiti dan tak mau jatuh cinta karena ini hanyalah sebuah permainan.

Kita adalah player. Sama-sama memberi harapan palsu. Sama-sama menyisipkan kebohongan di setiap ucapan kita. Berpura-pura baik dan mengumbar senyum palsu untuk memperoleh kemenangan. Menghambur-hamburkan janji semu yang kita buat. Bermesraan dalam sebuah kepalsuan. Tahukah mereka semua, ini palsu. Ini semu. Ini fana. Semua ini hanyalah fatamorgana belaka, ilusi yang kita ciptakan untuk membohongi semua orang. Ya, inilah kita. Pasangan yang saling memberikan harapan palsu untuk memperoleh kemenangan.

Game ini telah berlangsung selama lima bulan. Membuatku sedikit tahu tentangmu. Sedikit tahu? Miris bukan? Lima bulan bukanlah waktu yang singkat tetapi aku hanya tahu sedikit tentangmu? Begitu banyak hal yang kau sembunyikan dan yang lebih parah, aku sadar bahwa kau adalah adalah player yang hebat. Kau membuatku tidak jauh berbeda dengan wanita-wanita lain yang telah kau taklukan. Aku sadar, aku telah kalah. Aku kalah sejak awal. Sejak kau memberikanku harapan. Sejak kau memperlihatkan senyum yang menyejukkan hatiku.

Sejak kau bersedia menjadi tempat bersandarku. Sejak kau memberikan kejutan yang tidak pernah berhasil ku tebak. Sejak kau tiba-tiba menceritakan kehidupanmu yang membuatku semakin ingin mengenalmu. Kau juga sering menjungkirbalikkan perasaanku. Namun, aku tak mau mengakuinya. Aku tak mau menyadarinya. Aku menolak kenyataan bahwa aku telah jatuh hati padamu. Aku bahkan tak mau mengaku bahwa aku telah kalah, aku telah bertekuk lutut padamu.

Karena jika sampai aku mengakui hal itu, hal yang ku terima adalah kepahitan. Aku tahu selama ini harapan-harapan yang kau berikan padaku adalah palsu semata. Tetapi bodohnya diriku mau menerimanya. Aku tahu konsekuensinya tetapi aku tetap melanjutkan game ini dan terus tersakiti. Semakin ku ingat kita tidak dapat bersama dan perlakuan yang kau berikan padaku hanyalah kebohongan semata, aku malah ingin kau jadi pembohong.

Berbohonglah di hadapanku. Bohongilah aku sepuas hatimu. Berjanjilah dengan harapan-harapan semu itu. Buatlah aku sakit. Asal kau tahu, aku tak ingin kehilanganmu. Aku ingin terus bersamamu meskipun ini hanyalah kebohongan, kepalsuan, kefanaan belaka. Aku tahu kau adalah player tetapi apa salah jika player sepertiku jatuh hati kepadamu? Jatuh cinta bukan sesuatu yang salah bukan?

Anggap ini karma? Karma? Hal terlucu yang tidak ingin ku dapat. Karma karena aku sering memberikan cinta semu pada orang lain? Membuat mereka sakit oleh kepalsuan janjiku dan sekarang akulah yang harus menanggung beban ini sendirian. Seperti yang tertulis dalam quotes yang pernah ku baca: “Karma berlaku bagi mereka yang tersakiti”. Ternyata hal seperti itu benar adanya. Seorang player sepertiku jatuh cinta pada player busuk sepertimu? Karma? Ya mungkin. Biar sajalah aku menerimanya. Toh ada untungnya juga. Aku bisa jatuh cinta. Cinta yang benar-benar cinta dari seorang player sepertiku. Meskipun aku tahu kau tidak benar-benar mencintaiku.

Kadang aku berpikir, mengapa aku rela di-PHP olehmu? Mengapa dengan sukarela hatiku tersakiti olehmu? Cinta macam apa ini? Kenapa aku bahagia dengan harapan-harapan palsumu? Kenapa aku ingin mendapatkan janji-janji palsu dari mulut manismu? Padahal ini hanyalah sebuah game. Game konyol yang kita berdua ciptakan. Sadarlah, Erin! Sadar! Ini game yang kalian ciptakan! Mengapa sekarang kau malah terjebak dalam game ini dan tak mau mengakui kekalahanmu? Aku merutuki diri sendiri.

Betapa konyolnya diriku. Awalnya aku percaya diri dan berkeyakinan tidak akan kalah namun kenyataannya adalah kau telah merebut hatiku. Mengisi ruang yang selama ini kosong. Menyusup masuk ke dalam hatiku dan bodohnya aku menguncimu di dalam sana, membiarkanmu mendekam di sana tanpa memberi kunci agar kau bisa ke luar. Sudah jelas, satu-satunya cara kau ke luar dari hatiku adalah membobolnya, melubanginya, membuatku merasakan perih yang sebelumnya tak pernah ku rasakan.

Tanpa sadar air mata menetes membasahi pelupuk mataku. Ku biarkan aliran kristal itu mengalir. Mengalir jatuh ke kedua tanganku yang mengepal kuat di atas paha. Aku harus mengakuinya. Tak ku biarkan kebohongan ini merajalela. Tak ku biarkan perih ini menggerogoti setiap hembus napasku, dengan konsekuensi aku harus melepasmu. Tetapi itu lebih baik kan daripada harus hidup dalam kebohongan?

“Hehe… Erin, maaf membuatmu menunggu. Eh? Kau kenapa?” tanyamu begitu mendapatiku yang menangis dalam diam. Aku tak sanggup melihatmu. Aku memejamkan mataku terlalu erat agar tak dapat melihat kenyataan ini. Kenyataan bahwa kau terus melakukan sandiwara ini. Sandiwara menyakitkan ini. Bahkan sekarang aku bisa merasakan ada tanganmu yang perlahan menghapus air mataku, merengkuhku dalam pelukanmu, mengusap lembut permata hitamku. Begitu hangat dan juga… sakit.

“Hentikan..” seruku dalam dada bidangmu, “Hentikan sandiwara ini…” kataku dengan nada bergetar. Aku dapat merasa kalau kau kaget mendengar ucapakanku. Karena itu aku melanjutkan, “Aku mengaku aku telah kalah. Hentikan sandiwara ini. Aku tak mau hidup dalam kebohongan. Hentikan memberiku harapan-harapan kosong…” aku masih terisak. Ku biarkan tangisanku lenyap di dadamu. Ku biarkan diriku yang lemah ini bersandar kepadamu.

“Erin,” perlahan kau melepas pelukanmu. Memegang kedua pundakku. Menungguku hingga berhenti menangis. Aku merasa bodoh, menunjukkan sisi terlemahku padamu. Perlahan ku buka mataku, menatap mata hitammu yang sekelam malam ini. Membiarkanmu mengejekku karena pengakuanku tadi. “Heh, aku menang. Hebat, kan?” kau menepuk pundakku beberapa kali. “Tapi aku benci melihat wanita menangis,” kau berdiri, membuat mataku mengikuti gerakanmu.

“Menyenangkan bisa mengenalmu. Sudah tahu kan seperti apa player yang hebat?” serumu sambil menatap bulan. Bibirmu melengkung penuh kepuasan. Membuat ketampananmu bertambah dalam sekejap mata. Lalu kau menatapku, menatapku penuh kekhawatiran. Menusuk ke mata cokelatku. Tatapan macam apa itu? Jangan seolah-olah kau mengkhawatirkanku! “Jangan bermain lagi,” katamu akhirnya.

“Wanita tidak boleh memainkan permainan seperti ini. Dan juga… jangan berharap banyak padaku. Terima kasih telah mau bermain denganku. Maaf juga membuatmu menangis seperti ini. Kalau kau ingin aku menghilang, aku akan menghilang sekarang juga. Hapus air matamu, girl. Air matamu tak pantas untuk player sepertiku. Kehidupan yang indah ada di depan mata. Aku yakin suatu saat nanti, akan ada karma untuk player sepertiku.”

“Aku banyak memberikan harapan palsu dan aku yakin aku akan menerima yang lebih sakit darimu. Aku hanya perlu menunggu orang yang tepat untuk memberikannya. Bangun, girl! Semua akan indah pada waktunya. Sakit akan dibalas sakit. Bahagia akan dibalas bahagia. Banyak lelaki di sana yang lebih baik dari aku. Bangkitlah. Aku hanyalah segelintir debu yang menyakitimu.”

Kita adalah player. Sama-sama saling menyakiti, memberi harapan palsu. Kenyataannya, yang kita butuhkan adalah orang yang tepat untuk mengubah kita. Bahkan kita juga butuh karma untuk membalikkan semuanya. Teringat akan karma, mungkin aku harus minta maaf pada semua mantanku. Untukmu, terima kasih telah mengajarkan banyak hal padaku. Terima kasih untuk harapan-harapan semu itu. Terima kasih untuk cinta palsu yang telah kau berikan. Aku tidak akan menyesal pernah jatuh cinta padamu. Meskipun sakit, meskipun aku harus menyusun hatiku yang terpecah, aku pasti akan bangkit lagi. Sama seperti katamu, aku tidak akan menangisi player sepertimu karena aku juga seorang player. Player adalah orang yang kuat, bukan? Dan aku akan mencabut julukanku sebagi player. Kau bisa berubah, Erin.

SELESAI

Cerpen Karangan: Hikari Inka
Facebook: facebook.com/atika.nurs

Cerpen We Are Player merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gula Kapas Biru Muda (Part 1)

Oleh:
Aku berjalan menyusuri sebuah jalan setapak selebar kurang lebih 60 cm. Menikmati hembusan angin lembut yang melewatiku, dengan pohon-pohon yang kompak tumbuh menuju arah timur. Cahaya matahari pagi merangkak

Mr. B

Oleh:
11 November 2013, Tepat dimana aku bermain badminton bersama teman-temanku di depan gang yang lumayan lebar Namaku Gustia Rani Tanjung, panggil saja aku Rani. Saat sedang asyik bermain badminton

Benciku Atas Dasar Cinta

Oleh:
Sudah tiga tahun persahabatan sebelas remaja itu terjalin. Mereka menjalin persahabatan saat mereka sama-sama duduk di bangku SMP di sekolah yang sama, di SMP Kedamaian. Kesebelas remaja tersebut terdiri

Pejuang Perbedaan

Oleh:
“Terus apa salahnya kalau sekarang aku pacaran dengan Bintang, Mbak?” tanyaku dengan emosi yang jelas-jelas menunjukan kekecewaan. “Ya Mbak bukannya ngelarang, tapi kamu tahu sendiri resiko nya, la.” bantah

Menggenggam Cinta

Oleh:
Kata sederhana, tetapi mampu menghadirkan berjuta luka. Cinta. Tik tok tik tok tik tok Alya masih setia dengan posisinya, tidur terlentang sambil menatap detik jarum jam yang selalu berputar.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *