When I’m Gone (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 27 December 2016

Pagi ini aku terbangun dengan perasaan yang bahagia. Karena apa? Karena kemarin, sewaktu penerimaan Laporan Hasil Belajar semester 1, aku berhasil mendapatkan peringkat 1 pararel. Sesuatu yang aku idam-idamkan sejak dulu, tapi baru sekarang aku bisa merealisasikannya. Dan semua ini berkat Shinta!.

Ya, Shinta adalah penyemangat yang selalu menyemangatiku agar selalu belajar, dan juga selalu memarahiku ketika aku tertidur saat dirinya mengajariku. Seseorang yang kepribadiannya sangat hangat, yang membuatku selalu nyaman dan membuatku ingin selalu bersamanya. Dan juga orang yang sabar, karena dengan gigihnya mengarahkanku, jika aku merasa bingung pada salah satu mata pelajaran.

Shinta sendiri adalah gadis yang sangat pandai, karena dia selalu mendapat peringkat 1 pararel di sekolahnya, bahkan dia pernah menjuarai beberapa Olimpiade Nasional dalam bidang Fisika dan Kimia. Ya, dia tidak satu sekolah denganku. Tapi, kami dekat dan selalu bersama karena suatu peristiwa.

Aku mengenalnya ketika aku sedang berada di dalam bus yang selalu membawaku ke sekolah. Dan hari ini dengan tergesa-gesa karena bangun kesiangan, aku menaiki bus, dan kulihat semua tempat duduk kosong. Tapi, tunggu dulu. Setelah melihat lagi, ternyata aku salah! Masih ada satu tempat duduk kosong di sebelah seorang gadis yang sedang membaca buku yang cukup tebal. Aneh! tapi, kuputuskan untuk duduk di sebelahnya, dan mencoba menyapanya.

“Hai, apa kamu nggak bosan baca buku setebal itu?,” aku berusaha berbicara padanya. Namun dia hanya mendongak dan menatapku dengan perasaan yang aneh. Lalu, dia membetulkan letak kacamatanya yang sepertinya kurang nyaman. Lantas, dia pun menjawab pertanyaanku.
“Uhm, nggak tuh. Aku udah biasa baca buku kayak gini. Bahkan, biasanya bisa dua kali dari ini,” dia berkata kalau buku yang dibacanya itu adalah buku yang sangat tipis. membayangkannya saja sudah membuat perutku mual.

Lalu, kami pun terdiam sesaat, masing-masing dengan kesibukannya, walaupun aku sendiri tidak tahu sedang melakukan apa! Tapi, sudah dua menit berlalu aku merasa bosan, dan karena gadis itu tidak pernah lepas dari bukunya, kucoba ambil buku itu darinya. Dan mencoba melihat sesuatu yang menarik dari buku tersebut. Tapi, yang ada malah membuatku semakin takjub. Karena, buku yang sedang dibacanya bukan Novel, melainkan: Buku Kiat-Kiat Olimpiade Nasional. yang isinya, memuat berbagai rumus-rumus yang membuatku pusing.
“Sini, jangan seenaknya ambil barang milik orang lain ya! Atau kau ingin kuhajar?” dengan kesal dia mengambil bukunya dariku dengan tinju diacungkan tepat ke arahku.
Tapi, buku yang diambilnya dariku bukannya langsung dibaca kembali, melainkan langsung ditaruh ke dalam tas. Aneh! Kupikir dia akan membacanya lagi dan mengacuhkanku lagi. Tapi, tanpa kusadari dia menatapku dan mulai berbicara padaku.
“Aku beritahu padamu, walaupun kelihatan seperti orang kutu buku, aku juga pernah ikut pelatihan karate. Dan, setiap saat bisa memukulmu, jika kau berbuat seperti itu lagi,” dia berkata dengan nada datar, dan kedua tangannya dilipat, dan ketika berbicara dia memandang lurus ke depan.
Aku sekali lagi merasa takjub, bagaimana mungkin seseorang seperti dia mengikuti pelatihan karate? Apa aku salah dengar? Tapi sepertinya tidak. Lalu, kuputuskan berbicara padanya. Dan mencoba meminta maaf atas kelancanganku mengambil bukunya tabpa persetujuannya.
“Maaf, aku sebenarnya nggak bermaksud gitu. Aku hanya mencoba untuk tidak kaku dengan orang lain. Sekali lagi maafkan aku,” aku berbicara sambil mengulurukan tangan, untuk meminta maaf atas kesalahanku.
“Ya, aku maafkan. Tapi, jangan harap bisa mengambil bukuku lagi. Karena jika hal itu terjadi, yang ada tanganmu bisa patah,” dia menerima permintaan maafku dan menjabat tanganku, walaupun saat dia berbicara, aku mendengar ada nada tawa di tengah kata-katanya.

“Oh, ya aku Bara, kelas 10 SMA Candika Karya.” Sambil berjabat tangan, aku mencoba berkenalan dengannya.
“Hmm, kukira anak sepertimu tidak ingin berkenalan denganku yang kutu buku ini. Oke, aku Shinta, dari SMA Bhayangkara dan kelas 10.” Dia pun menjawab dengan agak acuh dan sedikit nada mencibir. Lalu, melepas jabatan tangannya dengan agak jengkel. Dan, tunggu dulu! SMA Bhayangkara? Itu bukannya sekolah untuk orang-orang yang memiliki otak diatas rata-rata. Bertambah takjub diriku. Tapi…
“SMA Candika, SMA Candika…” kata-kata sang kenet langsung membuyarkan pikiranku yang melayang-layang entah kemana. Dan akhirnya aku turun dari bus tersebut, dan langsung berlari menuju sekolahku, yang syukurnya gerbang sekolah belum ditutup sepenuhnya.

Setelah pertemuan itu bukan berarti aku dan Shinta akhirnya tidak bertemu lagi. Malah, sejak peristiwa itu kami jadi semakin dekat. Dan bahkan aku sering mengajaknya ke rumahku untuk kuperkenalkan kepada orangtuaku. Tapi, suatu hari aku meminta agar dia mau mengajariku, dan dia setuju. Dengan begitu aku bisa dekat dengannya. Dan hari-hari indah itu berlalu. Dan saat di bulan ketiga, kuberanikan diri untuk menembaknya.

“Shin, aku nggak tau apakah aku pantas untukmu. Tapi, aku merasa nyaman jika berada di dekatmu. Dan selama ini kita juga sudah dekat, dan orangtuaku juga orangtuamu tidak keberatan kalau kita selalu bersama setiap kali kita pergi. Jadi, maukah kamu terima perasaanku yang selama ini sangat takjub denganmu?” aku menyusun kata-kataku dengan sedemikian rupa, dan berharap rangkain kata itu tidak ada yang salah.
“Uhm, aku nggak tau harus berkata apa Bar. Aku, mungkin bukan tipemu. Aku nggak cantik, penyendiri dan selalu membaca buku, dan orang-orang sering mengejekku karena hal itu. Aku nggak tau Bar.” Shinta berkata seolah dia adalah manusia terjelek sedunia, tapi kuberitahu kalau aku tidak menginginkan kecantikannya, melainkan menginginkan kehadirannya.
“Nggak Shin! Menurutku kamu sempurna. Dan, aku nggak peduli apa kata orang terhadapmu. karena yang terpenting adalah aku selalu dekat denganmu, aku berjanji. Jadi maukah kau?” aku berkata dengan mantap, kalau aku sangat menginginkannya berada di dekatku.
“I-i-ya…” dia tergagap saat mengatakan kata “Iya”, dan sebaliknya aku, sangat senang. Dan di hari itu pun kami jadian.

Setelah beberapa lama aku melamun dan mengingat kejadian itu, aku langsung teringat kalau aku belum mengabari Shinta soal keberhasilanku, atau tepatnya keberhasilan “kami”. Maka, dengan cepat kuambil handphone di meja di samping tempat tiduruku, dan mulai mencari nama “Shinta” di kontak teleponku, dan langsung kutekan tombol “Call”.
“Halo, Bara? Ada apa meneleponku pagi-pagi? Ada masalah?” dia mengangkat telepon dan langsung menjawab teleponku dengan masih setengah sadar, karena masih mengantuk, pikirku.
“Kamu pasti akan senang mendengar kabar ini, karena… Aku peringkat 1 pararel semester ini!” dengan perasaan senang yang membuncah, kuberitahu dia dengan semangat ’45, dengan tujuan dia bisa mendengarkan kabar baik ini tanpa rasa kantuk sedikitpun.
“Apa? Kamu peringkat 1? pararel? Hmm, rasanya nggak mungkin…. Hah, apa kamu peringkat 1 pararel? Ya Tuhan selamat ya, akhirnya kamu bisa mencerna perkataanku selama ini.” Dengan rasa kantuk dia mencoba menjawab, tapi sedetik kemudian dia berubah menjadi sumringah, dan menjawab dengan perasaan yang antara takjub dan senang.

Tapi, sepertinya waktu tidak mengijinkanku untuk berlama-lama mengobrol dengan Shinta. Karena, ketika kulihat jam. Disana tercetak dengan jelas pukul 06:30. Apa? Sudah sesiang ini? Padahal sepertinya aku hanya menelepon Shinta untuk meberikannya kabar tentang peringkat 1 pararelku. Tapi sekarang sudah sesiang ini.
Sambil, mengumpat kuputuskan untuk mengakhiri telepon, dan bergegas dari tempat tidur, dan dengan cepat menuju ke kamar mandi. Tapi, tanpa kusadari ada seutas benang yang melintang di antara dua pintu. Dan, aku pun terjatuh dengan lutut kananku langsung terantuk lantai yang dingin. Sambil mengumpat, aku berdiri dan langsung masuk ke kamar mandi. Pasti ulah Hari.

Setelah selesai mandi, aku keluar dari kamar mandi dan hendak cepat-cepat berganti pakaian. Namun, sesuatu terjadi pada lutut kiriku. Ada benjolan pada lutu kiriku. Dan rasanya sangat sakit. Tanpa sadar aku terantuk sisi pintu dan jatuh dengan kedua tanganku memegangi lutuku yang rasanya sangat sakit dan seperti terbakar. Air mata mulai mengalir dengan hangatnya di kedua pipiku. Dan, dengan sekuat tenaga kucoba berteriak meminta pertolongan. Tapi yang keluar hanya pekikan.
“To..lo..ng.. Sa..kit.” Aku mencoba dan mencoba, tapi yang ada hanya kesunyian. Dalam hatiku merutuki nasibku dan bertanya-tanya kemana semua orang di rumah ini? Tidak adakah yang mendengarkanku?

Dengan perasaan pasrah, aku mencoba berdiri. Tapi, yang ada hanya menambah rasa sakit yang amat sangat hingga sampai ke ubun-ubun.
Tapi, ditengah kesedihan dan isakan tertahan yang keluar dari mulutku. Datanglah Hari, dengan perasaan yang teramat bahagia, dengan handuk disampirkan di kedua tengkuknya dan berjalan dengan riangnya sambil bersiul-siul. Seperti berbahagia di atas penderitaanku.
Setelah melihatku sedang terisak dengan memegangi kedua lutuku, Hari langsung berlari ke arah dimana dia datang, dan berteriak.
“Bu, pak. Itu Mas Bara jatuh dan nangis sesenggukan,” aku mendengar teriakan itu dengan rasa antara sakit dan malu. Tapi, aku tidak bisa keluar dari kondisiku saat ini. Kakiku terasa sangat sakit. Sekejap, di depan kamar mandi menjadi ramai dengan suara-suara cemas dan panik. Terutama Ibu yang langsung menjerit dan terisak.
“Nduk, kamu kenapa? Kamu bisa berdiri kan? Coba sini Ibu lihat lututmu,” dengan enggan kulepas kedua tanganku dari lutuku yang terasa sakit agar Ibuku bisa melihat. Tapi, ketika melihat benjolan ini dengan panik Ibu berteriak dan berkata kepada Bapakku untuk membawaku ke Rumah Sakit.
“Paaak, cepat bawa Bara ke Rumah Sakit sekarang!” Dengan paniknya Bapakku yang dari tadi sepertinya memarahi Hari karena melihat ada seutas tali yang melintang di kedua pintu, yang mungkin dikiranya sebagai penyebab akan kesakitanku, langsung berlari ke arahku dan langsung menggendongku.

Bapakku menggendongku seperti bayi yang sakit parah. Sebenarnya gagasan diriku akan dibawa ke Rumah Sakit adalah suatu gagasan yang buruk! Karena, jika aku ke Rumah Sakit berarti ada sesuatu yang salah dan “parah” dengan tubuhku. Dan aku tidak ingin Mati.

Setelah beberapa saat digendong Bapakku menuju keluar rumah dan membawaku ke Rumah Sakit, kesadaranku hilang sepenuhnya.

Cerpen Karangan: Barathayudha Hari Prasetyo
Blog: ceritabarathayudha.blogspot.com
Hey, Saya Barathayudha Prast. Saya penulis amatir, yang memiliki keinginan menjadi penulis yang baik suatu hari nanti.
Jangan lupa Add facebook saya di: Barathayudha Hari Prasetyo.
Salam Hangat!

Cerpen When I’m Gone (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hadiah Dari Sang Mantan

Oleh:
Ketika sedang belanja di sebuah mall, saat Sindy mau pulang, tiba-tiba hujan deras, waktu itu pertengahan bulan Desember, jadi musim dingin pun menyelimuti kota Semarang, tak dapat berbuat apa,

Surat Cinta 45

Oleh:
Malam itu bulan seakan begitu bahagia dengan memancarkan cahayanya, terang benderang. Bahkan aku bisa melihat wajahnya dengan jelas tanpa sorotan lentera teras rumah yang menyala redup. Malam itu kami

Cinta Dibalik Matematika

Oleh:
Suasana di kelas XI ipa 2 begitu ramai, para siswa disibukkan dengan PR matematika. Dari meja depan hingga belakang mereka saling menghampiri satu sama lain untuk menanyakan jawaban. Tiba

Kehilanganya

Oleh:
Aku memcoba membukakan mata ku, yang terbangun dari mimpi indah ku, sorotan sinar mentari memantul ke arah jendela kamar “ya ampun sudah siang” gumam ku dalam hati segera ku

Cinta Segitiga

Oleh:
Pada suatu hari ada anak yang manis, cantik, dan imut namanya Deril. Dia duduk dibangku SMA, kelas 3. “Ma.. Deril berangkat sekolah dulu, ya?. Assalamualaikum…” “Wa’alaikumssalam, hati-hati!” “Iya, ma..

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *