When love Can’t For Together

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 17 December 2015

Pagi itu aku melihat orang yang aku cintai dulu, mungkin rasaku dulu telah ku hapus dari benakku karena dia telah memiliki apa yang dia inginkan aku bahagia jika ia bahagia walau harus menyimpan rasa sakit di dada. Di sudut taman sekolah aku melihatnya sendirian, aku ingin menemuinya tapi aku ragu. Keringat mulai mengalir di wajahku hingga seluruh tubuhku, inilah rasa gugupku yang begitu hebat ketika melihatnya. Menit demi menit ku habiskan waktuku berdiri ingin melangkah menemuinya tapi aku semakin ragu karena aku punya tekad yang kuat mau tak mau aku harus menemuinya.

“Aigo, apa yang harus aku lakukan?” Batin Angel.
Langkah demi langkah aku hentakkan kakiku untuk mendekatinya, sebelum langkah kakiku keempat ku pijakkan ke tanah yang hijau itu aku terhenti sejenak, aishh hatiku sakit saat Cinta pacarnya datang membawa makanan untuknya. Aku balikkan langkahku untuk tak melihat kemesraan mereka di depanku.

Di tepi danau ini biasanya aku menenangkan hati dan pikiranku, tempat ini adalah tempat paling bersejarah saat aku menemukan dan mengakhiri cinta pertamaku. Itu adalah kenangan yang menurutku mengerikan. Di bangku tua ini, aku duduk melihat indahnya danau itu sekaligus menghilangkan rasa sakitku karena melihat seseorang yang aku cintai dulu bermesraan dengan pacarnya.

Rizal, itulah panggilan dia di sekolah tapi aku sering memanggilnya dengan panggilan kesayangan yaitu Ndut yang artinya gendut karena menurutku dia lumayan gendut di antara pemain Club Bola Voli lainnya. Saat aku memikirkan Rizal tiba-tiba di belakangku ada suara orang berjalan, suara itu membuyarkan lamunanku, aku takut hingga aku hanya terdiam menunduk dan berdoa.

“Dorrr!!”
“Ahhh.. you stoker!” Teriakku kaget.
“Kamu ngapain di sini Ngel? sendirian lagi. Hati-hati banyak setan loh!” Ejek Doni teman sekelasku yang selalu menakutiku ketika aku sendiri.
“Terserah aku mau ngapain, bukan urusan kamu. Kamu sendiri ngapain juga di sini?” Jawabku ngotot.
“Aku tuh tiap habis pulang sekolah selalu ke sini lagi Ngel.”
“Oh gitu..”

“Cuek amat sih, oh ya Rizal sekarang punya pacar tuh, kamu gak cemburu?”
“STOP! Sekali lagi bahas Rizal aku cook hidung kamu pake pensil. Udahlah aku mau pulang aja malas sama kamu di sini.”
“Halah aku tahu kok dalam hati kamu masih ada rasa cemburu dan sayang sama si Rizal, jujur aja kali Ngel.”
“Ih, diam!”
Plak! plak! plak! karena sangat kesalnya aku tampar muka Doni dan aku langsung lari terbirit-birit.
“Wah, gila lo Ngel, sakit muka gue. Udah nabok gak mau tanggung jawab malah lari.” Ucap Doni dengan nada yang meninggi.

Sesampainya di rumah aku langsung menuju ke kamar tidurku dan tergeletak di tempat tidur karena saking capenya, tiba-tiba aku teringat akan perkataan yang diucapkan Doni. “Apa mungkin aku masih sayang sama Rizal. Gak! gak! gak! gak mungkin banget. Tapi kalau gak mungkin kenapa tadi aku cemburu sama dia, ah aku bingung.” Pikirku sambil menepuk-nepuk jidatku. Daripada aku memikirkan Rizal lebih baik aku buat planning diklat OSIS.

Minggu pagi aku segera bergegas bersiap-siap untuk menjadi panitia diklat OSIS, hari ini aku bangun kesiangan sehingga aku jadi terbur-buru, tapi menurutku bangun awal sama bangun terlambat gak ada bedanya, sama-sama selalu gak on time kalau berangkat ke sekolah sampai satpam aja cape nulis namaku di catatan pelanggaran siswa tapi sekian banyaknya aku melanggar aku juga gak pernah di-DO dari sekolah hehehe.

Dengan santainya aku mengenakan sepatu dan seragam biru putih dengan bet merah di lengan kiri seragamku yang menandakan bahwa sebentar lagi aku harus siap berperang menempuh Ujian Nasional serta berpisah dengan Rizal. Ku kenakan juga kerudung putih cerah dengan aksesoris merah mencolok ku kancingkan di kerudungku. Aku pun bercermin melihat penampilanku hari ini yang begitu mempesona, tak lupa ku kenakan kacamata sebagai pembantu penglihatanku agar tidak buram ketika membaca ataupun menulis.
“Perfect.” Ucapku pada bayanganku yang ada di depan cermin. Ku ambil tasku dan segera berangkat ke sekolah.

Tak pedulikan penampilanku yang rusak parah akibat naik motor yang terlalu kencang saat berangkat tadi aku pun langsung berlari menuju ruangan di mana para pengurus OSIS berkumpul. Ternyata aku terlambat 15 menit, tanpa sepengetahuan pembina OSIS aku cepat-cepat mencari tempat duduk yang kosong.
“Ya Tuhan, jam segini baru datang. Ngapain aja si di rumah? padahalkan kamu Wakil Ketua OSIS.” Tanya Jojo sahabatku sekaligus pengurus OSIS.
“Ya sorry banget aku kan gak bisa kalau disuruh on time kayak gini.” Jawabku dengan bibir manyun.
“Terserah deh yang penting kamu udah datang.”
“Ya Jo.”

Di sela Kepala Sekolah membuka acara diklat OSIS, aku tak sengaja mendengar sosok suara seseorang yang ada di balik pintu keluar itu. Aku rasa suara itu adalah suara Rizal dan ketika aku amati dengan cermat ternyata benar dia adalah pangeranku yang sedang ngobrol dengan teman-teman pramuka lainnya. Tapi, aku tidak bisa terlalu fokus melihatnya karena aku harus mendengarkan Kepala Sekolah bebicara. Pukul 10. 00 WIB acara diklat OSIS resmi dibuka dan saatnya aku bersama seluruh pengurus OSIS lainnya ganti pakaian untuk kegiatan selanjutnya. Untuk kegiatan pertama adalah motivasi. Kala motivator mengarahkan kami semua menunduk, memejamkan mata, dan mulai merenung.

Detik demi detik air mata mulai mengucur deras di pipiku. Tetesan air mata ini seperti rasanya aku sakit hati karena Rizal lebih memilih Cinta dibandingkanku. Acara motivasi pun selesai karena ada jeda waktu setengah jam istirahat aku pergi ke lobi, menyendiri dan melamun. Mungkin karena melihatku sendiri Rizal datang menghampiriku, hatiku dag-dig-dug dan jantungku berdetak lebih kencang seperti balon yang ingin meledak tertusuk jarum.

“Kok kayak habis nangis, kenapa?” Tanya Rizal dengan senyuman manisnya yang membuatku terpanah asmara.
“A-a-ku gak apa-apa kok.” Jawabku terbata-bata karena gugup.
“Oh ya udah kalau gitu aku pergi dulu ya.”
“Iya Zal.”
Tak hampir setengah jam pun, Rizal kembali lagi dan memberikan aku sekotak makanan.
“Ini buat kamu.”
“Terima kasih Rizal. Hmm, aku ke belakang dulu ya mau out bond.”
“Sama-sama Ngel, oh iya.”

Waktu menjelang maghrib aku segera pulang ke rumah. Di ruang tamu aku tiduran dan membatin. Oh Tuhan baru mimpi apa aku kemarin malam sampai tadi waktu diklat OSIS dia beri aku makanan ke aku, mungkin karena perhatiannya rasa ini tumbuh lagi dan kenapa saat dekat dengannya aku terasa nyaman, ku rasa ku harus menunggu sampai dia benar cinta padaku meski itu lama. Zzz, Zzz, Zzz … hp-ku bergetar menunjukkan ada sms masuk. Dan yang sms itu adalah Rizal. Oh My God, ini mimpi atau lagi di dunia khayal.

“Malam Ngel!” ini adalah pesan masuk darinya.
“Malam juga, Zal. Ada apa ya?” jawabku yang sok penting.
“Gak apa-apa kok, cuma ingin sms kamu aja.”

Aku bingung mau jawab apa, seharusnya kalau dia gak ada tujuan sms aku karena apa mending gak usah sms aja bikin nyesek aja di hati, ngomong kek aku sayang sama kamu Ngel dan pasti aku akan jawab iya aku sayang kamu juga. Tapi, itu hanya di dunia khayalan saja. Setelah 5 menit gak aku balas Rizal sms lagi.
“Ngel, kok gak dibalas udah tidur ya?” Aku harus jawab apa coba, dia aja gak nanya sesuatu cuma bilang gak apa-apa cuma pengen sms kok. Aku pun balas sms dia dengan jawaban singkat.
“Belum.”

Tiba-tiba aku berpikir apa aku harus mengungkapkan apa yang aku rasakan saat ini padanya? aku kan cewek masa bilang duluan, hmm tapi ini adalah kesempatanku. Dan aku memutuskan aku harus mengatakan ini semua. Aku pun mulai mengungkapkan perasaanku dengan pendahuluan terlebih dulu. “Zal, aku mau ngomong sesuatu.”
“Ngel, aku mau ngomong sesuatu.” Ternyata sms kami bersamaan terkirimnya. Aku pun menunggu balasannya terlebih dahulu.

“Aku mau bilang kalau aku nyaman di samping kamu, mungkin aku sayang sama kamu atau entah ini rasa apa, dulu aku sempat menyukaimu tapi kamu gak pernah peka sama perasaanku lalu aku melupakanmu dan belajar mencintai orang lain yang ada di dekatku dia adalah Cinta saat aku dan dia pacaran ternyata kamu suka sama aku cinta kamu datang terlambat Ngel. Aku ingin sama kamu tapi aku gak bisa karena aku sudah ada yang punya. Jadi kita jalani hidup kita masing-masing dan lupakan tentang kita. Maaf.”

Tes, tes, tes, air mataku mulai menetes di pipiku karena membaca smsnya yang mungkin bagiku ada kesan buat aku senang ada kesan yang begitu menusuk hatiku, tapi inilah takdirku dengannya saat cinta tak bisa bersama, dan saat ini juga aku harus mengakhiri perasaanku.

“Aku juga mau bilang aku juga nyaman di samping kamu. Tapi, karena inilah akhirnya aku harus terima..”
“Aku minta maaf, Ngel. Maaf banget.” Untuk sms terakhirnya aku tak menjawab apapun kecuali aku hanya menangis.
Dan akhirnya aku dan dia saat ini jarang bertemu di sekolah, tapi aku dengannya tetap menjalani hubungan sebagai sepasang teman biasa. Inilah kisahku saat saling mencintai tapi tak bisa bersama karena ada suatu hal.

Cerpen Karangan: Ayu Kholimah
Facebook: Ayu Kholimah
Nama: Ayu Kholimah
Kelas: X-K
Sekolah: SMAN 1 Srengat
TTL: Blitar, 16 Oktober 2000
Twitter: @Ayukholimah

Cerpen When love Can’t For Together merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kado Istimewa

Oleh:
Pagi ini sangat cerah seperti biasa aku bangun dan bergegas berangkat sekolah. Kenalkan aku Fandy sekarang aku duduk di kelas IX MIPA. Pagi ini aku berangkat sekolah dengan teman

Dari Balik Jendela Kelas

Oleh:
“Teng… teng… teng…” Jam istirahat sudah berbunyi, pelajaran matematika kali ini ditutup dengan pr yang diberikan oleh guru. Kami menarik nafas lega. Akhirnya bisa santai setelah tegang pelajaran tadi.

My Love (Part 2)

Oleh:
Setelah sampai di rumah sakit aku langsung ditempatkan di kursi duduk, rasanya aku tak kuat lagi duduk, aku hanya ingin berbaring. tapi aku hanya bisa menunggu. Setelah Aku berbaring,

Waktu Singkat

Oleh:
Pada suatu pagi aku berangkat ke sekolah, sesampainya di kelas aku duduk di bangku temanku di jajaran paling belakang saat itu aku sedang berbincang dengan temanku, tak lama kemudian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *