When Love is Spoken

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 4 May 2013

Cinta adalah naluri alami yang tumbuh dari setiap diri mahkluk. Cinta adalah perasaan murni dan suci dari hati. Getaran cinta terkadang menjelma menjadi senyum simpul yang sedap di pandang mata. Namun tak jarang, cinta berubah menjadi kobaran api yang membakar jiwa raga. Mencintai dan dicintai adalah fitrah setiap manusia, tidak ada seorangpun yang mampu menolak jika cinta telah merasuk ke dalam hati. Setiap manusia pasti pernah mencintai dan dicintai. Tetapi, apakah cinta yang ada dalam diri kita dapat mendekatkan kita kepadaNya, atau sebaliknya.

Suasana ruang makan yang rukun dan cukup berada itu, sore itu terlihat tegang dan kaku tidak seperti biasanya. Anggota keluarganya pun tidak lengkap. Hanya ada sepasang suami istri dan seorang anak gadis mereka yang duduk di sana. Putra sulung mereka rupanya lebih memilih untuk berdiam diri di kamar.
“Pokoknya mama ga’ suka lihat kamu bergaul lagi dengan anak itu. Seharusnya dari awal kamu sadar bahwa perbuatan yang kamu lakukan itu sudah sangat kelewat batas. Apa kata orang di luar sana jika melihat putri seorang haji, haja ternyata pacaran sama orang agama lain. Tidakkah kamu berfikir bahwa perbuatan yang kamu lakukan itu sangat hina dan memalukan! Pokoknya kalo kamu ga’ mau denger kata-kata mama, akan mama pindahkan sekolahmu.”

Pertemuan keluarga itu segera berakhir ketika nyonya rumah telah mengeluarkan keputusannya kemudian memukul keras pada meja dan beranjak pergi. Momen itu terlihat seperti suasana pengadilan sesungguhnya di mata Kaisa. Sementara sang Ayah hanya bisa memberi semangat dengan membelai rambut putri kesayangannya itu. Tak berapa lama kemudian, Kaisa pun meninggalkan ruang makan itu dan segera menuju privat roomnya. Sejak pembicaraan tadi, tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Kini ia hanya bisa termenung di meja belajarnya. Memikirkan tentang semua kesalahan yang telah ia perbuat dan mencari cara bagaimana menyelesaikan semuanya.

Kaisa memang seorang anak yang baik dan patuh. Ia selalu membanggakan kedua orang tuanya dengan prestasi dan kepatuhannya. Tidak berlebihan jika ia sangat dimanjakan. Terlebih lagi ia hanya 2 bersaudara. Kakak tertuanya 3 tahun lebih tua darinya. Ia seorang cowok yang kurang patuh dan prestasinya pun kurang baik. Maka dari itulah kedua orang tua Kaisa menaruh harapan lebih padanya. Jadi tidak heran kalau kedua orang tuanya tidak mengizinkan Kaisa berhubungan terlalu jauh dulu dengan seorang cowok. Terlebih cowok itu pemeluk agama lain.

Kaisa sendiri sangat memahami maksud dan tujuan oarang tuanya tersebut. Ia sendiri juga tidak dapat menjelaskan bagaimana awal hubungannya dengan Dewa, seorang cowok yang di sebut mamanya sebagai pacarnya itu. Padahal, Dewa sendiri belum pernah menyatakan perasaan apa-apa padanya. Sejauh ini, hubungan mereka mengalir alami tanpa suatu hambatan apapun. Ia selalu merasa nyaman jika berada di samping cowok itu. Masih teringat jelas oleh Kaisa ketika pertama kali mereka bertemu, yaitu saat MOS masuk SMP. Dewa lah saat itu yang berperan sebagai kakak pemandunya. Dari situlah hubungan mereka berjalan terus selayaknya seorang teman dan sahabat. Tidak ada sedikitpun kekhawatiran di hati kedunya tentang status hubungan mereka, karena mereka menganggap itu suatu hubungan yang wajar. di mana seseorang akan dapat berinteraksi baik dengan orang lain jika mereka menemukan kecocokan dengan orang tersebut. Itulah yang dirasakan Kaisa saat itu. Yang mana pada akhirnya, hal itu menjadi boomerang bagi dirinya.

Hingga pada suatu hari Kaisa mendengar dengan mata kepalanya sendiri kalau Dewa menyukainya lebih dari sekedar sahabat. Saat itulah Kaisa mulai bingung, menyesal, tapi ia merasakan ada sisi lain di hatinya yang tersenyum, gembira, bertepuk tangan bahagia. Saat itu pulalah ia tidak bisa mamungkiri bahwa perasaan yang sama menimpanya. Dewa yang baik hati, Dewa yang ganteng, ketua OSIS, anggota Paskibra, cowok idola… ternyata menyukainya!
Saat itulah setan-setan brengsek itu bekerja. Mereka berhasil melancarkan serangan-serangan yang membuat Kaisa klepek-klepek, terbang tinggi ke angkasa. Terus membayangkan bagaimana sempurnanya hidup ini kalau Dewa menjadi kekasihnya. Bagaimana tatapan syirik cewek-cewek satu sekolahan melihatnya bergandengan bersama Dewa. Dewa.. Oh Dewa…
“Tidak…” Kaisa berusaha mematahkan sayap-sayap iblis yang tengah mengajaknya terbang tinggi bersama angan mimpi yang mustahil terjadi. “Ini tidak boleh terjadi. Ini mustahil. Aku dan Kak Dewa itu beda. Beda agama, beda keyakinan..” Kaisa tertunduk lemas, “Kita tak kan mungkin bersatu.”

Begitulah moment saat pertama kali Kaisa mengetahui perasaan Dewa yang sesungguhnya pada dirinya. Sejak saat itu sebenarnya ia sudah mulai melancarkan aksi-aksi penghindaran diri dengan cowok idola itu. Tetapi ia juga tidak bisa mneghindari ketidak-setujuan satu sisi lain di hatinya atas tindakannya itu. Akhirnya sampai saat ini ia hanya bisa bersikap biasa-biasa saja. Toh yang bersangkutan juga tidak akan pernah tahu perasaannya yang sesungguhnya.
“Sedikit demi sedikit aku akan melupakannya, bahkan kalo bisa mencari pacar lain. Tetapi tidak melakukannya sekaligus. Harus pelan-pelan. Ya, harus pelan-pelan.” Itulah keputusan akhir Kaisa saat itu.

Hingga terjailah accident tadi sore yang membuat Kaisa diadili oleh orang tuanya. Lebih tepatnya oleh ibunya. Accident itu terjadi diawali ketika Kaisa selesai olahraga, mendung terlihat begitu dahsyatnya. Bahkan bisa dipastikan daerah di sebelah utara sudah dibanjiri hujan. Kaisa yang tengah menunggu jemputan kakaknya, hanya bisa meringis dan ingin menangis saja ketika dapat sms dari kakak satu-satunya itu bahwa ia tidak bisa menjemputnya karena ban motornya tiba-tiba bocor. Kaisa kelimpungan. Mana temen-temen lain udah pada pulang. Di saat itulah Dewa yang saat itu habis rapat osis dengan gayanya yang cool dan wajah innocentnya, menawarkan diri untuk mengantarnya. Kaisa tentu saja sebisa mungkin menolak. tapi, keadaan saat itu benar-benar menyudutkannya. Ia sama sekali tidak punya pilihan lain. Akhirnya setan-setan dapat tertawa bahagia sore itu karena Kaisa dianter pulang sama kak Dewa. Hanya berdua. Benar-benar moment Indah yang romantis. Sore-sore hujan rintik-rintik, jatuh di perahu, eh salah ding, di boncengin sang idola. Kira-kira begitulah nyanyian-nyanyian setan yang sedang menghujam di pikiran Kaisa.
Adegan itu akhirnya terlihat oleh mamanya Kaisa. Sang mama yang sudah sering mendapat kabar kalau putri satu-satunya itu dekat dengan cowok agama lain saat itu segera naik pitan. Puncaknya berlangsung saat makan malam tadi.

Di kamar Kaisa
Terngiang kembali kata-kata terakhir yang diucapkan mamanya tadi “Pokoknya kalau kamu ga’ denger kata-kata mama, akan mama pindahkan sekolahmu.” Kaisa berfikir sejenak, “emang gimana caranya mindahin sekolahku, bukannya akan berat banget ya?” Ia berfikir lagi menyusun ulang kata yang diucapkan mamanya tadi sehingga menjadi lebih masuk akal. “akan mama pindahkan sekolahmu, eh bukan, akan mama pindahkan kamu dari sekolah itu, Ya.. itu dia jawabannya.” Kaisa tersenyum puas bukan hanya karena ia berhasil menyusun kata-kata mamanya dengan benar, tetapi lebih dari itu.
“Itu akan lebih baik.” Gumamnya

Keesokan harinya di sekolah
Ketika jam istirahat pertama tiba, Kaisa hendak ke kantin tapi tiba-tiba Dewa muncul dan menghampirinya.
“Tolong buka halaman tengahnya,” Dewa berkata dengan nada sedang tetapi sangat jelas di telinga Kaisa. Sepeninggal cowok jakung itu, Kaisa segera membuka halaman tengah buku yang tadi diberikan Dewa dan… Betapa terkejutnya ia melihat pahatan tangannya tentang kekaguman, dan kecintaannya pada Dewa ketika pertama kali ia tahu kalau Dewa menyukainya.

Tadi aku denger sendiri saat kak Dewa cerita pada Kak andre kalau dia suka sama aku melebihi seorang sahabat. Rasanya kayak mimpi deh kak Dewa yang bergitu sempurna suka sama aku. Tp, emang sih… ga bisa kupungkiri kalo aku juga suka sama dia. Tapi… Dia tu beda agama sama aku, jadi ga mungkin, kita bersatu.. padahal aku… sudahlah semoga aku dapat melupakannya Hiks!
Serasa ada paku yang saling tusuk menusuk di otak Kaisa. Tapi kemudian di kertas yang sama halaman berikutnya terlihat pahatan tangan Dewa.
Cinta adalah naluri alami yang tumbuh dari setiap diri mahkluk. Cinta adalah perasaan murni dan suci dari hati. Getaran cinta terkadang menjelma menjadi senyum simpul yang sedap di pandang mata. Namun tak jarang, cinta berubah menjadi kobaran api yang membakar jiwa raga. Mencintai dan dicintai adalah fitrah setiap manusia, tidak ada seorangpun yang mampu menolak jika cinta telah merasuk ke dalam hati. Setiap manusia pasti pernah mencintai dan dicintai.

Setelah membaca semua itu Kaisa ijin pulang dengan alasan sakit. Ia tak tahan lagi berlama-lama di bangkunya. Bisa-bisa ia pingsan karena syok. Perasaan yang selama ini ia simpan dan ditutupinya rapat-rapat telah terbongkar, bahkan langsung ke sasarannya. Ia terus menyesali kecerobohannya. Ia juga tak henti-hentinya memikirkan kata-kata yang dituliskan Dewa tadi.

Setelah kejadian itu, Kaisa tak pernah lagi bertemu dengan Dewa. Mereka terlihat saling menjaga jarak guna memberikan ruang bagi hati mereka masing-masing untuk memikirkan semua kejadian dan masalah yang sedang melanda.
Hingga pada suatu hari, kabar itu sampai juga ke telinga Dewa. Sepulang sekolah Dewa menghampiri Kaisa.
“Hai Sa…”
Kaisa sedikit terkejut melihat siapa yang menyapanya, tapi ia tetap berusaha mengendalikan dirinya.
“hai juga kak..”
Setelah posisi mereka sejajar, mereka melanjutkan obrolan.
“Aku dengar kamu mau pindah sekolah ya? Apa itu benar?” dewa membrondongi Kaisa pertanyaan
“Yapz,” Kaisa menjawab dengan pasti.
“Dalam rangka apa?” tanya Dewa lagi
“Bukan dalam rangka apa-apa ko, biar ntar enak aja untuk masuk kuliahnya”. Kaisa memberi jawaban yang cukup masuk akal.
“Kuliah?, baru juga kelas sepuluh.” Dewa sedikit meledek.
“Ye.. bentar lagi juga kelas sebelas kan? Lagian kalo baru kelas sepuluh kenapa emang? Ada larangan?” Kaisa menyambut ledekan dewa
Suasana sudah mulai mencair antara dua sejoli ini. Mereka kemudian mencari tempat teduh di lapangan voli untuk melanjutkan obrolan.
“Terus kapan rencana berangkatnya?” lagi-lagi Dewa memulai pembicaraan
Kali ini Kaisa ga langsung menjawab. Setelah sejenak menikmati angin semilir dan orang-oarng yang berlalu lalang ia menjawab pertanyaan dewa tadi yang sempat tergantung.
“Sabtu besok.”
Dewa terkejut dengan pasti
“bukannya sekarang hari jumat ya, maksudmu Sabtu depan kali?” ia bertanya lagi untuk memastikan kata-kata Kaisa.
Kaisa membalikkan tubuhnya ke arah Dewa dan mengulang pernyataannya yang tadi
“Kak Dewa ini gimana si, aku bilang sabtu ini, malah kakak ngomongnya sabtu depan. Kakak aja sana yang pindah sabtu depan”
Dewa akhirnya baru mempercayai kalau tadi ia tidak salah dengar.
“emang kamu nyuruh aku pindah ke mana?” tanyanya menyambut ledekan Kaisa
“Ke mana kek, ke planet Mars juga gpp kok”, jawab Kaisa asal.
Keduanya tersenyum suasana kembali hening. Seperti biasa Dewa kembali memulai percakapan
“Ko mendadak bgt sih Neng?”
“Ga mendadak kok, orang udah direncanain dari jauh-jauh hari”. Kaisa mencoba mencari alasan
Dewa tersenyum kecut, seperti dipaksakan
“Aku pasti akan merindukannmu Sa.”
Deg.. setan-setan itu kembali akan melancarkan serangannya. Tapi Kaisa telah mengatisipasi hal itu. Ia berusaha untuk tidak hanyut dan terbawa. Akhirnya untuk mempermudah semua itu, ia memutuskan untuk mengakhiri saja pertemuan itu, hari itu, saat-saat kebersamaan itu.

Kaisa akhirnya bangkit dari duduknya dan segera pamit pulang. Tapi, sebelumnya ia tidak mau membiarkan cowok yang selalu mengisi hari dan mimpinya itu kecewa 100% atas tidakannya yang tidak berprikemanusiaan itu.
“Aku juga pasti akan merindukan kakak ko”.
Itulah kata-kata terakhir yang dengan susah payah ia keluarkan. Lebih kurang cukup untuk mewakili isi hatinya. Sementara Dewa cukup puas mendengar pernyataan itu. Selang beberapa detik…
“Kak, aku pulang dulu ya, aku harus siap-siap nih.” Kaisa mengakhiri pertemuan itu.
“Aku antar ya?” Dewa menawarkan diri, tapi sudah pasti Kaisa menolaknya “Ga usah aku ntar di jemput papa di toko seberang sana sekalian mau beli camilan”.
“O.. ya udah deh lo gitu, kamu hati-hati di sana ya, jogja itu kota pelajar yang rame kan? Kamu pasti punya banyak teman baru di sana. Jangan lupain aku ya! Aku ga bakal ganti nomer lho.” Dewa menyampaikan pesan dan aspirasi terakhirnya pada Kaisa.
“Oke deh beres.” Jawab Kaisa sambil berlalu pergi.
Begitulah akhirnya Kaisa melangkah meninggalkan sekolah itu. Bahkan lebih dari itu ia meninggalkan semua kesalahan yang pernah dilakukannya. Memulai semuanya dari awal. Memang setelah menyadari semuanya, Kaisa menganggap kisah cinta yang pernah ia alami adalah suatu kesalahan besar yang tidak boleh terulang lagi.

3 tahun kemudian
Kaisa terlihat sibuk membereskan alat-alat praktikumnya di laboratorium sebuah universitas negeri terkenal di Yogyakarta. Ia terlihat sangat telaten dan hati-hati membersihkan dan memasukkan alat-alat tersebut ke ruang persiapan. Terlihat juga beberapa orang rekannya melakukan hal yang sama. Setelah pindah ke Yogyakarta Kaisa menyelesaikan pendidikan SMU, dan melanjutkan kuliah di Farmasi UGM. Tak heran kalau setiap hari ia harus menghabiskan waktu minimal 2 jam di laboratorium.
“Sa, hari ini kamu jadi ke start Net ga?” sejenak Kaisa menoleh dan memperhatikan lawan bicaranya. “Tentu saja Ka, ada masalah?”
“Eng, aku kayaknya ga’ bisa anterin kamu deh kalo hari ini, coz aku harus ke sekolahnya Dina buat ambil rapornya. Ibuku telpon Dina ga’ bias ambil coz harus ngelayat ada tetanggaku yang meninggal, gi mana donk?” Kaisa hanya tersenyum “Yaudah, biar aku sendiri aja, kamu ke skulnya Dina aja sana! Ntar telat lagi”. Ika masih merasa tidak enak tapi Kaisa buru-buru mendorong tubuhnya ke luar lab.

Setelah kepergian Ika, teman kelompok belajarnya itu, Kaisa segera melanjutkan tugasnya membereskan alat-alat praktikum. Tak beberapa lama kemudian ia pun segera beranjak untuk mengerjakan tugas lainnya yaitu mengambil tugas kelompok yang di print di rental belakang kampus. Kaisa mempercepat langkahnya karena cuaca terlihat semakin mendung. Baru ia akan menghampiri Vario nya di lapangan parkir, hujan akhirnya turun dengan cukup deras. Kaisa mengurungkan niatnya untuk sementara. Ia berteduh di halaman aula yang tak jauh dari parkiran itu. Ia membuka tas kemudin sedikit bersyukur karena tidak lupa membawa payung. Ia kemudian duduk sejenak berfikir bagaimana untuk segera sampai start Net. Apalagi hari sudah semakin sore. Ia takut rental itu keburu tutup, padahal tugasnya harus dikumpulkan besok pagi. Seandainya ia tidak ngerental di rental kampus, ia bisa mengambil tugasnya malam hari. Tapi, sama aja, selama ini ia sebisa mungkin menghindari keluar kos di malam hari. “Ugh…” erangnnya pilu.

Di tengah kepiluannya itu, Kaisa melihat Mila, anak arsitek teman SMA nya dulu yang kelihatannya akan pulang. Ada sedikit harapan baginya. “Mil, kamu mau pulang ya?” gadis berjilbab yang di sapa Kaisa segera menghampirinya tetapi Kaisa malah buru-buru menghampirinya duluan. “Iya, aku mau pulang, kamu sendiri?” Kaisa menyampaikan niatnya “Sebenarnya aku mau ambil tugas di Start Net, tapi kayaknya ga mungkin pake motor deh, aku jalan bareng kamu aja ya.” “Oke deh.” Jawab Mila pasti.

Mereka menyusuri jalan sambil ngobrol. Tepat di persimpangan mereka berpisah. Tinggallah kini Kaisa berjalan sendiri. Tak beberapa kemudian, ia sudah dekat dengan rental itu. Ia berharap rental itu ga terlalu rame. Saat ia melihat ada beberapa motor dan sebuah mobil di halamannya, ia sempat mengeluh, “semoga ga lama nih.” Akhirnya ia berniat untuk masuk saja agar semuanya cepat beres. Tepat di depan pintu masuk ketika ia tengah melipat payungnnya, terlihat sepasang mata yang sejak beberapa menit yang lalu tengan memperhatikannya, dan ketika ia berbalik…
“Kaisa…
Serasa bagaikan flash back pemutaran film dengan alur mundur. Moment-moment di mana Kaisa baru mengenal dunia. Ketika ia siap melangkah sendiri. Ia bertemu seorang pangeran yang tampan dan baik hati. Pangeran yang selalu menemaninya. Mengisi hari hari indahnya dengan canda, tawa, dan setia. Ia menemukan kasih dan sayang dalam jalinan tulus, murni, dan suci. Jalinan yang pada akhirnya membuat dua anak manusia itu harus mengakhiri segalanya. Jalinan terlarang yang tak boleh berlanjut. Bahkan sampai detik itupun, benih-benih kasih yang pernah tumbuh dan hampir berkembang itu belum sepenuhnya bisa di babat habis oleh gadis itu. Butuh usaha dan kerja keras dalam melakukannya. Ya, bukanlah segampang membalikkan telapak tangan. Ikhtiar dan keimanan selalu dikuatkannya. Tetapi, ingatlah setan-setan terkutuk itu juga tak kan pernah berhenti melancarkan serangannya.
“Kak Dewa,” Kaisa mengelurkan suaranya setelah beberapa saat terdiam.
Dalam hati ia sempat menyesali pertemuan itu. “Kenapa Ya Allah?, secepat ini Engkau mempertemukan kami?, aku belum siap Tuhan.. aku belum siap. Tapi, bantu aku untuk menghadapinya.” Setelah lama dua insan itu saling menatap, kini mereka berusaha mengendalikan diri masing-masing. Sama seperti dulu, Dewa selalu menjadi pihak yang mengawali pembicaraan.
“Kamu terlihat banyak perubahan Sa”. Untuk pertama kalinya Dewa mengomentari penampilan Kaisa yang baru. Memang setelah pindah sekolah dan berpisah dengan Dewa dalam kurun waktu 4 tahun itu, sudah cukup banyak perubahan-perubahan dalam diri Kaisa. Baik itu perubahan luar yang kini tengah di lihat Dewa, maupun perubahan dari dalam diri gadis cantik itu. Kini ia telah berjilbab, menggunakan baju-baju yang tidak membentuk tubuh. Terlihat lebih menjaga izzah dan sikap. Ia kini telah menjadi muslimah atau tepatnya berusaha senantiasa menjadi seorang muslimah sejati seutuhnya. Sejak berakhirnya kisah cinta terlarangnnya dengan cowok dihadapannya itu, ia lebih berhati-hati dalam urusan yang satu ini. Ia lebih memperdalam akidah agamanya. Ia ingin menebus semuanya. Ia pasrahkan semua hidup dan cintanya hanya kepada Allah semata. Ya, hanya kepadaNya. Karena dialah maha pemilik cinta sejati yang sesungguhnya.
“Kakak juga terlihat berbeda Kak, bagaimana kabarnya?” untuk pertama kalinya Kaisa memulai pembicaraan sejak keduanya berada lama dalam keheningan.
“Ya, seperti yang kamu lihat sekarang, aku baik, sehat walafiat. Kamu sendiri?”.
“Aku baik-baik aja Kak. Oia, aku kuliah di sini lho ambil farmasi.” Kaisa berusaha mencairkan suasana.
“Oya, akhirnya cita-citamu kesampean juga. Aku senang mendengarnya.” Dewa berusaha bersikap sewajar mungkin. Padahal hatinya sama tak karuannya dengan Kaisa sekarang. Bahkan mungkin lebih tak karuannya.
“Kakak sendiri ada urusan apa di sini?” Kaisa bertanya lagi.
“Aku Cuma liburan di rumah sepupuku. Kebetulan sekarang dia lagi kuliah. Sementara nunggu dia, aku iseng ngenet aja tadi.”
“Oh,” sesaat keduanya terdiam. Di saat-saat seperti inilah setan-setan terkutuk itu berusaha merasuki fikiran Kaisa. Tapi Kaisa yang sekarang berbeda dengan kaisa yang dulu. Kaisa yang sekarang sudah lebih tegar dan dewasa. Lebih dapat mengendalikan hawa nafsu. Jadi, walaupun setan-setan itu sampai jungkir balikpun menggodanya, Insya Allah ia akan tetap bertahan.
“Kamu terlihat cantik dan dewasa dengan penampilanmu yang sekarang Sa,” Dewa kembali mengeluarkan suara.
“Kakak bisa aja, terima kasih. Kakak juga terlihat tampan dan dewasa. Bukankah sekarang kita memang sudah dewasa?”
Keduanya tersenyum.

Tidak beberapa kemudian, pertemuan singkat 2 anak manusia itupun berakhir. Mereka kembali ke kehidupan masing-masing. Kaisa berjalan meniti jalan kehidupannya. Dalam hati ia tersenyum bangga bahagia. Ia mulai dapat menerima kenyataan dan membuka hati bahwa inilah jalannya sekarang. Tujuan dan cita-cita hidup semakin terpampang jelas di hadapannya.
“Inilah aku, aku adalah hambaMu. Aku adalah khalifah di muka bumi ini. Aku adalah penerus cita-cita bunda Aisyah. Aku adalah penerus perjuangan Siti Hadijah. Aku adalah milikMu. Hidup dan matiku hanya untukMu. Segala sesuatu ada dalam genggamanMu. So I Alwasys love U Rab.. my Truly Love..

Cerpen Karangan: Ita Puspita
Facebook: ita puspita

Cerpen When Love is Spoken merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bolehkah Aku (tidak) Merindukanmu?

Oleh:
Sama seperti malam-malam kemarin. Aku termenung di malam yang membeku dengan sejuta harapan dan sejuta luka ditemani oleh sinar rembulan yang menambah keindahan langit malam. Begitu banyak kenangan yang

Kartini Selanjutnya

Oleh:
Aku tahu, jika sikapku ini akan mendapatkan pertentangan yang sengit, ketidaksetujuan yang lebih mendominasi. Tapi aku akan tetap melakukannya, meski seluruh dunia menentangku aku hanya perlu sebuah keyakinan besar

Love In A Coffee Cup

Oleh:
Kopi… siapa sih yang gak kenal sama kopi, setiap orang pasti tau apa itu kopi kecuali orang pedalaman hehehe… Kenalin gua cewek yang paling suka sama yang namanya kopi

Isi Hati

Oleh:
Aku menatap gerbang sekolah baruku. Hari ini hari pertamaku di SMA ini sebagai murid pindahan kelas 2. Sekolah yang besar, luas, dan fasilitas yang lengkap. Aku tidak menyangka ayah

Why Do We Break Up?

Oleh:
Hari begitu gelap. Sang surya telah kembali ke peraduannya. Tak ada satu pun sinar bintang terpancar dari langit malam. Hanya terdengar suara petir yang menyambar, disusul suara guntur yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *