Why Do We Break Up?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Nasihat, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 4 November 2013

Hari begitu gelap. Sang surya telah kembali ke peraduannya. Tak ada satu pun sinar bintang terpancar dari langit malam. Hanya terdengar suara petir yang menyambar, disusul suara guntur yang menggelegar di telinga. Sepertinya akan turun hujan. Rina masih saja duduk terdiam di ruang keluarga. Kedua tangannya menggapai lutut. Ia terlihat begitu murung. Tak berdaya sama sekali.

“Kamu di mana? Aku kangen banget sama kamu! Kamu hilang bagai ditelan bumi. Nggak ada kabar sama sekali!”
Kejadian itu pun teringat kembali di benak Rina. Rina memanggil Lee, saaat ia sedang lari sore bersama Dina, temannya. Tapi panggilannya sama sekali tidak dihiraukan oleh Lee. Rina jadi sedih sekali. Dia dicuekin begitu saja. Sebagai perempuan, ia merasa tidak diperhatikan oleh pujaan hatinya sendiri. Tapi Rina tak mengetahui bahwa di saat itu Lee sedang memakai headset di telinganya. Mendengar lagu dengan volume tertinggi. Lee mencoba tuk menjelaskan, tapi Rina bersikeras untuk mendengarkan. Dengan berat hati Lee meninggalkan Rina.

Lee berusaha untuk tidak menghubungi Rina untuk sementara waktu. Mungkin dengan begitu, Rina bisa menenangkan pikirannya yang penuh dengan emosi. Dan sampai sekarang Rina masih belum bisa mengontrol emosinya.
Rina beranjak dari tempat duduknya, kemudian masuk ke dalam kamar.
“Makan dulu nak!” teriak ibunya dari sebelah kamar.
“Aku udah kenyang ma.” Balas Rina lalu menutup rapat pintu kamarnya. Sebenarnya Rina sama sekali belum makan. Selera makannnya menjadi hilang karena terlalu memikirkan Lee, orang yang sangat ia cintai.
Alunan melodi mulai merambat ke telinga Rina. Melodi yang begitu pelan tapi sangat menghanyutkan. Liriknya sangat menyentuh hati Rina. Persis seperti yang ia rasakan sekarang. Air matanya pun mengalir keluar membasahi wajah cantiknya. Seakan langit mengetahui apa yang ia rasakan sehingga ia juga meneteskan air mata.

“Heyy..!!” suara itu tiba-tiba mengejutkan Rina.
“Kamu ngapain di sini?” sambungnya lagi. Ia kemudian duduk di samping Rina.
“Indra!!” sebut Rina dengan terkejut.
Pemuda itu hanya tersenyum manis kepadanya.
“Kapan kamu datang?” tanya Rina.
“Tadi pagi. Kebetulan libur jadi ku sempatkan diri untuk melihatmu. Ku pikir kamu ada di rumah, jadi aku langsung menuju ke sana. Tapi ternyata tak ada. Jadi aku lihat di sini aja. Ternyata dugaaanku tak pernah lari dari kenyataan yang ada.”
Rina hanya terseyum kecil. Itu senyuman pertama yang terpampang di wajahnya semenjak pertengkaran dengan Lee. Indra, adalah teman dekat Rina sewaktu SMP. Sayang, ia harus berpisah dengan Rina karena tugas ayahnya di luar kota. Tapi itu tak membuat tali persahabatan mereka putus.
“Kamu lagi sedih ya?’
“Nggak kok!” kata Rina, mencoba mengelak dari kenyatan yang sementara ini ia hadapi.
“Udah, kamu nggak bisa bohong sama aku. Itu terlihat jelas sekali di raut wajahmu. Setiap kali kamu sedih, pasti kamu datang ke pantai kan? Ya seperti sekarang ini? Aku udah kenal lama sama kamu. Jadi meskipun kamu berusaha tersenyum kepadaku, ngerasa bahwa kamu baik-baik saja, itu ta kan berguna tahu? Dibalik senyum manismu tersirat sebuah kesedihan yang berusaha kau sembunyikan. Kau berusaha tegar di mata orang, tapi sebenarnya tidak! Kau berusaha mengatakan bahwa kau tak punya masalah. Tapi tidak di mataku. Jadi cerita saja. Aku ini temanmu kan? Apa salahnya jika kamu berbagi, mungkin dengan begitu kita bisa mencari jalan keluar bersama”
Rina hanya terdiam. Suasana menjadi hening untuk sementara. Kata-kata Indra memang benar tak pernah meleset dalam menebak apa yang sedang Rina rasakan.
“Aku lagi marahan sama Lee.” kata Rina mulai perlahan. Rina mulai menjelaskan masalah yang kini ia hadapi. Wajahnya mulai tampak sedih saat harus mengutarakannya.
“Pacar kamu?”
Rina hanya menganggukan kepalanya saja.
“Jujur, aku belum tahu Lee orangnya seperti apa dan bagaimana sikapnya. Aku juga belum bertemu dengan dia secara langsung. Akan tetapi sebagai cowok, sudah tentu aku tahu apa yang kini ia rasakan. Dan aku jamin ini tak kan berlangsung lama kok. Jika dia mencintaimu, pasti ia akan datang menghampirimu dan mengucapkan maaf. Oh ya, aku harap kamu jangan terlalu lama bersedih ya, Banyak hal yang masih bisa kamu lakukan. Percayalah, hari esok pasti akan lebih baik dari hari ini. Kita tinggal menjalaninya saja bukan? Kalau dalam pacaran, harus ada yang mau mengalah. Jangan kita mempertahankan ego kita masing-masing. Malah itu akan membuat jembatan cinta yang telah kita bangun bersama dengan orang yang kita cintai runtuh. Aku yakin kamu tak mau hal itu terjadi kan?” jelas Indra panjang lebar. Rina menganggukan kepalanya sekali lagi.
“Kalau aku lagi kesal, aku sering kemari sambil melakukan ini.” kata indra sambil berdiri mengambil sebuah batu yang permukaanya datar dan melemparkannya ke atas permukaan air. Batu tersebut memantul beberapa kali di atas permukaan air, sebelum akhirnya tenggelam ke dasar laut.
“Kamu harus coba. Dijamin bisa sedikit hilangin rasa marah dan sedih kamu.” sambungya lagi.

Rina pun mencoba saran yang diberikan. Ia sedikit merasa lega saat melakukannya. Seeakan perasaanya ikut pergi bersama batu yang dilemparnya, kemudian tenggelam dan tak terlihat lagi. Indra datang di waktu yang tepat. Memang semuia telah direncanakanNya. Rencananya selalu indah tepat pada waktunya. Rina menjadi terhibur dengan kedatangan teman lamanya itu.
“Kita pulang yuk! Bentar lagi udah malam.” ajak Indra.
“Aku tak mau melewatkan bagian favoritku!” balas Rina sambil duduk di atas pasir. Indra duduk di sampingnya. Rina merasakan angin yang berhembus sambil menikmati pemandangan sore itu. Tak sadar Rina lalu menyandarkan tubuhnya di pundak indra. Indra merasa aneh. Tapi kemudiaan dia mengerti kalau Rina kini sedang mencari sandaran atas kesedihannya, atas kekesalan yang masih terbalut dalam dirinya. Rasa kesal pada sosok yang sangat ia sayangi. Mereka berdua kemudian menatap matahari yang perlahan mulai tenggelam di ufuk timur. Cahanya kuning bercampur orange bertebaran di atas permukaan laut yang sedikt berombak. Mengucapakan tanda selamat jalan bagi dua insan yang sedang memandangya.

Malam kini telah menyelimuti bumi. Sinar-sinar kecil mulai tampak di langit. Rina dan Indra memutuskan untuk kembali ke rumah. Sesampai di rumah ternyata Lee telah menunggu di depan pintu masuk. Kepulangan Rina dan Indra membuat Lee terkejut. Lee bangkit berdiri kemudian menemui Rina.
“Bagus! Jadi kamu selama ini enak-enakkan berduaanya ya? Kamu tau nggak udah berapa lama aku nungguin kamu di sini, berharap kamu muncul, menyapaku, bertanya padakau, dan mengajakku masuk ke rumah. Tapi tiba-tiba kau datang dengan pria lain. Kau anggap aku ini apa Rina? Ku coba tuk biarkan kamu sendiri. Berharap kamu bisa tenang dan kita menyatu lagi. Tapi apa?”
“Lee aku..” belum sempat Rina melanjutkan, Lee langsung memotongnya.
“Udah, nggak perlu dijelasin semuanya sudah jelas Rin. Kedatangan aku ke sini sebenarnya untuk meminta maaf tapi nggak jadi!” Lee melemparkan bunga mawar yang ada di tangannya di hadapan Rina. Bunga yang akan ia berikan kepada Rina sebagai ucapan maaf. Daun-daunnya berserakan di jalan. Indra tak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya bediri mematung, mendengar Lee mengeluarkan kata-kata yang begitu kasar kepada Rina dengan nada meninggi.
“Lee, aku kan belum ngomong kalau dia itu temanku” Rina menggigit bibirnya. Menahan kepedihan yang mendalam. Rina menangis sambil memanggil Lee, tapi itu tak membuat langkah kaki Lee berhenti. Ia tak sedikitpun menoleh ke belakang.
“Rin, yang sabar ya? Ini Cuma salah paham.” Indra coba menenangkannya.
“Aku masuk duluan ya Indra.” pamit Rina lalu berlari ke dalam rumahnya.
“Ya Tuhan. Apa ini semua adalah balasan yang harus aku terima atas apa yang telah aku perbuat selama ini? Aku mohon kuatkanlah aku dalam menghadapi gejolak hidup ini.”
Tiba-tiba handphone milik Rina berbunyi. My love muncul di layar. Ternyata panggilan dari Lee. Ia segera mengangkat panggilan tersebut. Ia berusaha untuk suara tangisannya tak terdengar..
“Aku rasa hubungan kita sampai di sini saja.” kata Lee dari seberang telepon
Tuutt.. percakapan terputuskan. Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengarkan. Kata-kata itu seakan mampu menusuk hatinya sampai bagian yang terdalam. Kata-kata itu berubah menjadi pedang yang sangat tajam. Menusuk hatinya sampai menyisakan luka. Memang tak ada darah yang mengalir keluar dari tubuhnya, namun begitu sakit yang Rina rasakan. Sampai membuatnya terbaring lemas di atas tempat tidurnya. Ia masih tak percaya, hubungan yang Ia bina selama ini dengan Lee harus berakhir seperti ini. Ia berharap indah di akhir cerita tapi harapannya menjadi sirna. Semuanya hilang saat mendengar pernyataan tadi. Yang ia rasakan hanyalah sakit yang teramat dalam, sedalam panah cinta yang berhasil Lee tancapkan tepat di hatinya. Sedalam laut di samudra atlantik. Ia lalu menagis.

Kini ia kembali lagi ke dunianya. Di mana ia harus menjalani hari-hari yang sunyi. Seperti sebelum ia mengenal Lee. Sulit sekali rasanya harus berpisah dari orang yang sangat ia cintai. Orang yang membuat hidupnya sedikit berarti. Tapi ia coba tuk jalani semuanya itu. Tak jarang Indra mampir ke rumah Rina, mencoba untuk menenagkan dan menguatkan sahabatnya itu. Indra tahu, di saat seperti ini yang Rina butuhkan adalah dukungan moril. Rina harus bisa melewati ini semua. Indra tak mau Rina terus bersedih sepanjang waktu.
“Semua pasti akan baik-baik saja!”
“Iya” jawab Rina dengan lirih.

Beberapa hari telah berlalu tapi Rina belum mampu untuk melupakan Lee. Wajahnya masih begitu melekat di benaknya. Seperti seekor kupu-kupu cantik yang senantiasa mencari serbuk sari. Bayangannya pun masih saja menghantui tidurnya. Seakan tak mau pergi darinya. Perasaanya juga tak berubah sedikitpun. Ia masih tetap mencintai Lee, meskipun hatinya telah terluka dengan perlakuannya. Ia berpikir awalnya cinta begitu indah pada jumpa pertama. Tapi yang dirasakan malah sebaliknya. Cinta itu seakan berubah menjadi sebuah silet yang begitu tajam, mampu melukai hatinya. Meskipun begitu, Lee tetap menjadi yang terindah di matanya. Seindah pelangi yang tampak setelah hujan berlalu. Seindah bunga yang sementara bermekaran di taman yang aroma wanginya menyebar di setiap sudut halaman.

“Kau terlihat senang di sana.
Apa kau tak mengkhawatirkanku yang ada di sini?
Semoga saja!
Kau tau apa yang ku rasakan sekarang?
Yang jelas ku masih menanti dirimu
Tapi apa yang ku dapat?
Nothing!
Seandainya ku punya sayap,
Pasti sudah ku gunakan tuk menghampirimu.
Akan ku telusuri setiap jalan tuk menemukan dirimu.
Seandainya aku jadi langit,
Pasti aku tahu di mana engkau berada.
Tapi,
Beginilah aku.
Diciptakan dengan apa adanya sekarang.
Ku harap kamu cepat kembali.
Kembali dalam jalan cinta yang telah kita rajut.
Kembali dalam kebahagiaan yang telah kita ukir bersama.
Di manakah dirimu yang dulu?
Ku di sini menunggu dalam kesepiaan.
Tak jarang air mata ini mengucur keluar membasahi pipi.
Ku hanya bisa berharap.
Dan terus berharap.
Berharap dalam kesunyian malam.
Memanggil namamu dalam ramainya lika liku kekhidupan.
Kehidupan yang mungkin telah mengubahmu.
Mengubah alam pikirmu.
Ku masih di sini.
Berharap kau datang menghampiri”

Hari itu begitu panas. Rina berjalan menuju sebuah kios kecil yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya. Membeli sebotol air untuk menghilangkan dahaganya. Ternyata Lee sedari tadi telah menunggu Rina. Ia mengikutinya dari belakang. Langkah kakinya diatur sedemikian rupa sehingga suaranya tak sampai terdengar di telinga Rina. Kini ia tepat berada di belakang Rina. Bersembunyi di balik tubuh mungilnya.
“Boleh ngomong sebentar?” tanya Lee.
Rina berdiri mematung. Air yang diminumnya seakan tak mau mengalir masuk ke dalam tubuhnya. Seakan oksigen berusaha masuk dari selah selah hidung yang berusaha ia tutup. Rina menganggukan kepalanya, pertanda setuju. Ia begitu bingung dengan kedatangan Lee yang tiba-tiba.
“Di rumah mu aja, boleh ya?” pinta Lee.
“Baiklah.” jawab Rina singkat.

Mereka berdua langsung menuju tempat yang telah mereka setujui. Mereka duduk di halaman belakang. Lee menundukkan kepala. Ia berusaha mengatur pernapasannya.
“Apa yang mau kamu ngomongin?” tanya Rna, sembari tersenyum pada Lee. Senyum yang menyembunyikan luka yang telah digoreskan di hati. Senyum yang begitu memilukan.
Lee masih tampak diam. Seakan ia menjadi bisu untuk saat itu. Sekian lama berdiam diri, akhirnya mulutnya mulai terbuka perlahan.
“Ak… Aku…” kata-katanya terputus.
“Ngomong aja Lee. Nggak ada yang perlu ditakuti. Aku bukan hantu kok?’ canda Rina. Ia berusaha terlihat senang, tapi tidak.
“Aku nyesel banget atas perlakuanku ke kamu. Itu semua karena aku emosi. Emosiku jadi tak terkontrol, sehingga aku harus mengeluarkan kata-kata yang tak pantas untukmu. Tak pantas untuk kau dengar. Aku juga sudah tau, ternyata Indra itu adalah temanmu. Aku sungguh menyesal! Tolong maafin aku ya Rin?” ucap Lee sambil menundukan kepalanya. Ia tak mampu menatap mata Rina. Mata yang tersirat kesedihan. Mata yang terpaksa harus mengerluarkan butiran beningnya atas perlakuaanya sendiri.
“Kamu kok bisa tau? Kan aku belum cerita sama kamu?’ tanya Rina.
“Dia sendiri yang datang ke aku. Terus jelasin semuanya” jawab Lee
“Tolong maafin aku ya?’’ lanjutnya
“Uda aku maafin kok!” jawab Rina sambil tersenyum padanya. Ini senyum yang tulus dari hatinya.
“Aku mau kita balikan seperti dulu. Ya itu karena ku tak mampu jalani hari-hari tanpa dirimu di sisiku. Sepi sekali semenjak hubungan kita berakhir. Semua terlihat menghilang di saat aku butuh hiburan. Ku rindu akan hadir mu. Ku coba sampaikan mimpi pada bintang yang jatuh di kala malam. Memohon pada mentari agar menyampaikan rasa rinduku lewat cahayanya di kala ku bangun di pagi hari. Ku bertanya pada langit di mana engkau berada. Ku titip salam padamu lewat angin yang berhembus. Berharap kita bisa jadiaan lagi. Ku rindu akan semua hal manis yang telah kita lalui bersama. Ku rindu akan tawamu yang selalu terpampang jelas di wajahmu. Ku rindu semua hal tentang dirimu. Saat ku ingin berpaling dan mencari bahwa siapa yang pantas untukku, di saat itu juga ku tahu bahwa kaulah jawaban yang tepat.”
Pengungkapan Lee membuat rina jadi makin mencintainya. Ia senang sekali mendengar penjelasan Lee. Ternyata dia juga merasakan hal yang sama. Hal yang selama ini menjadi pertanyaan dalam hari-harinya. Dan kini terjawab sudah. Meski Rina harus melewati bagian yang tersulit. Ya begitulah hidup. Tak mudah di tebak, tak mudah diterka. Penuh dengan misteri dan tantangan.

Rina tak menjawab. Ia hanya mengangkat jari kelingkingnya saja. Lee mengerti dengan yang dilakukan Rina. Ia juga mengakat jari kelingkingnya. Mereka berdua kemudian mengaitkannya, pertanda bahwa mereka telah berdamai dan kembali dalam cinta yang sempat putus untuk sementara.
“Why do we break up Lee? Aku tahu waktu itu kamu sedang marah dan kamu meninggalkanku. Tapi ku yakin itu hanya sementara saja. Ku yakin juga bahwa kamu pasti akan datang, datang dengan kata maaf lalu tersenyum padaku. Seperti sekarang ini.” bahtin Rina.
Mereka berdua lalu berpelukan. Melepaskan rindu yang terpendam rindu yang membelenggu kedua insan. Bak, menanti hujan di padang gurun yagng begitu menyengat.
“Cieee cieee.. Ada yang baru balikan ni eee?” ucap Indra yang telah berada di samping mereka berdua. Serentak keduanya lalu melepaskan pelukan tersebut.
“Eh, sorry aku udah ganggu. Di lanjutin aja. Pasti belum puas kan melepas rindu karena sekian lama tak jumpa?” sindir Indra
Rina hanya tersenyum.
“Itu, ada yang tersenyum. Senyum sendiri kayak orang gila. Berarti betul dong?” tambahnya lagi.
Suasana menjadi ramai, berkat kehadiran indra dengan leluconya itu. Mereka semua tertawa bersama. Kini hubungannya bisa dimulai kembali. Hubungan yang sempat renggang karena hanya salah paham antara Rina dan Lee. Namun semuanya itu dapat dihandle. Seperti kata pepatah kuno “Setiap masalah, pasti ada jalan keluarnya.”

THE END

Cerpen Karangan: Charlly Sermatan
Facebook: https://www.facebook.com/charlly.sermatan
blog: csermatan.blogspot.com
twitter: charlly_07

Cerpen Why Do We Break Up? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Game Mengantarkan Cinta

Oleh:
Saat siang hari aku ingin pergi ke toko game untuk membeli game yang baru rilis, sesampainya di toko game tersebut aku mencari cari game yang seru, aku menemukan satu

Kisah 2 Sahabat

Oleh:
Part 1, Siapa bidadari itu “Whoamhh” sambil menguap Bambang melihat jam di hpnya. Seketika itu juga dia ingat ada janji tanding futsal dengan Asep di lebak bulus, dia temen

Janji 14 Februari

Oleh:
BRAKK… BRUKK… GUBRAK…!!! Suara meja dan kursi yang saling berbenturan terdengar memekakan telinga. Ditambah lagi adu mulut para penghuninya. Mereka berperang memperebutkan tempat duduk. Suasana kelas XI IPA 1

Secret Admire

Oleh:
Aku sedang nonton TV ketika aku mendengar ada yang mengetuk pintu, dengan malas dan dengan keterpaksaan aku berjalan ke depan untuk membuka pintu. Anehnya saat aku membuka pintu, tiada

Pelita Hidupku

Oleh:
Pikiranku melayang ke masa silam. Hari-hariku terselip dengan berbagai sensasi. Ocehan ibu dan ayah tak pernah terhiraukan dalam nuraniku. Yang hanya terpikir dalam benakku hiruk pikuk canda tawa di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *