Wisuda Membawa Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 16 August 2015

“Zas, kamu kok masih belum mandi sih? Hari ini kan hari yang penting, kok malah belum apa-apa.” Gerutu Ayahku yang sedari tadi nggak bisa diem memantau kegiatanku.
“Iya Ayah, ini Elzas mau mandi kok,” Jawabku dengan malas.

Kalau boleh jujur sih, aku lebih memilih untuk tidak datang pada acara yang bersejarah ini -kata Ayahku sih- Ya.. hari ini aku akan mengikuti acara wisuda atas kelulusanku di SMA. Malas deh rasanya, masih nggak rela kalau harus melepas teman-teman yang baik di sini. Segala duka dan lara, canda serta bahagia tertulis rapi dalam sebuah album yang sebentar lagi akan menjadi sebuah kenangan.

Sepenggal cerita cinta pun tak luput menghiasi masa perjalananku di masa SMA ini. Perpisahan ini tak akan dapat dihindari. Perpisahan yang akan membawa semuanya pada gerbang yang baru. Dengan langkah gontai, aku pun menuju kamar mandi. Aku memang benar-benar tidak mempunyai niatan untuk mengikuti acara ini. Karena aku takut akan perpisahan. Bagiku perpisahan adalah hal yang begitu menyakitkan.

Setelah selesai mandi, aku pun bersiap-siap dengan pakaian seadanya.

“Elzas, baju apa yang kamu pakai itu? Ayo iku Mama ke salon, buat pinjem kebaya serta dandan di sana. Mama udah ngomong salonnya kemarin.”

“WHAT!! SALON?! AKU HARUS KE SALON?!” Jeritku dalam hati.

Aku adalah sosok yang cuek dan sedikit tomboy, nggak pernah ada di benakku sedikitpun untuk datang ke sebuah ruangan aneh yang dipenuhi oleh alat-alat kecantikan yang menurutku amat sangat nggak penting.

“Nggak mau, aku mau pake ini aja.” jawabku dengan menujuk ke arah badanku yang sedang mengenakan setelan kemeja putih dengan celana panjang hitam dibalut dengan sebuah blazer coklat.
“Elzas, di mana-mana yang namanya acara wisuda itu harus pake kebaya.” Kata Mamaku yang sedari tadi udah gemes gara-gara tingkahku yang sulit diatur.
“Pokoknya Elzas nggak mau ke salon Ma, Elzas pake baju ini aja.” Rengekku pada Mama.
“Enggak Elzas, pokoknya Mama minta kamu sekarang ikut Mama ke salon. Karena Mama udah bilang sama pihak salonnya.”

Acara debat semakin menegangkan antara Mama dan aku. Karena pada dasarnya aku ini juga keras kepala dan nggak mau kalah, akhirnya Mama menyerah.

“Oke, kalau kamu nggak mau ikut Mama ke salon nggak apa-apa. Tapi Mama nggak mau kalau sampai kamu datang ke acara wisuda kamu dengan pakaian kayak gitu. Kamu pake kebaya milik kakak yang ada di lemari. Masalah dandan, nanti biar Mama yang dandanin kamu.” Kata Mamaku tentunya dengan ekspresi dingin dan nggak mau dibantah lagi.

Kalau kayak gini mah sama aja, tapi nggak apalah daripada aku dandan di salon dan pastinya mukaku akan di permak abis-abisan kayak ondel-ondel nyasar. “Iya deh ma,” Kataku dengan suara yang berat dan amat sangat terpaksa.

Dan alhasil sekarang, aku pun juga mirip ondel-ondel nyasar. Pake kebaya warna hijau dengan bawahan hijau tua. Eye shadow dan blash on pun turut menghiasi rona wajahku. Tak lupa juga sepatu high heels tiga senti menancap di kakiku. Membuatku semakin susah melangkah.

“Naah, Sudah selesai, kini saatnya anak Mama berangkat ke acara bersejarahnya.” Kata Mamaku yang kelihatan amat sangat puas dengan mendandaniku menjadi seperti wayang.

Dengan langkah berat, kupaksakan untuk pergi ke acara wisudaku. Hari ini merupakan hari terakhir di mana aku bisa berkumpul dengan seluruh teman-teman seangkatanku. Selama tiga tahun kita menjalin sebuah persahabatan yang dipenuhi oleh canda tawa dan duka lara. Tak mudah memang melupakan itu semua. Tapi, kita harus berpisah, ya, berpisah untuk meraih masa depan yang telah menjadi pilihan kita. Semua cerita yang telah tertulis indah akan menjadi sebuah kenangan yang tak mudah dilupakan.

Dengan langkah gontai, aku memasuki sebuah gedung megah yang sudah ramai oleh kerumunan remaja yang memakai kebaya bagi yang cewek dan jas bagi yang cowok. Aku tak mengira, benarkah ini teman-temanku yang selama tiga tahun ini menemaniku merajut sebuah kisah indah? Kenapa mereka berubah? Atau aku kah yang merasa asing dengan keadaan ini? Mereka tampak lebih dewasa dan gagah. Aku semakin ingin lebih lama lagi bersama mereka.

“Elzas, ngapain ngelamun di situ? Ayo masuk,” Teriak salah seorang sahabatku Rosa.

Aku hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepala menyambut sapaannya. Perlahan, aku memasuki gedung itu. Oh Tuhan, benarkah ini adalah hari terakhirku berkumpul bersama mereka?

Serangkaian acara telah dimulai sejak beberapa menit bahkan jam yang lalu. Tapi aku tak jua dapat menangkap acara apa yang sedang ada di hadapanku. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku. Ragaku mungkin berdiam diri di dalam gedung megah itu. Tapi tidak dengan jiwaku, entah berada di mana jiwaku, entah apa yang sedang ada dalam benakku hingga saat ini. Semua kosong.

Selang beberapa lama kemudian, serangkaian acara pun telah kita lalui dengan suksesnya, yaaa benar, begitu sukses. Sukses menghancurkan seluruh hatiku, bagiku. Karena aku tahu setelah ini, kecil kemungkinannya untukku bertemu kembali dan dapat berkumpul kembali bersama sahabatku.

Setelah hari ini selesai, hal itu akan berarti sebuah perpisahan telah menanti di ujung gerbang kehidupanku. Kehidupan yang baru akan segera dimulai. Babak kehidupan dalam lingkungan perguruan tinggi. Bersama pelaku sandiwara kehidupan yang baru.

“Hei teman-teman ayo kita bikin foto kenang-kenangan kelas kita.” Suara Fito –Sang ketua kelas– cukup sukses menggelegar dalam telingaku dan membuyarkan segala bentuk imajinasiku yang telah tersusun rapi sedari tadi dalam benakku. Yang juga cukup sukses mmembuat pikiranku melayang jauh, tak menempati ragaku.

Finally, seluruh anggota kelasku segera berkumpul untuk berfoto bersama. Yap, mungkin ini foto yang terakhir yang pernah kita buat bersama, sebagai kenangan yang mungkin terlalu indah untuk ditutup pada tiap helaian lembarannya.

Rasa tak sanggup berpisah, semakin menghantuiku ketika aku melihat begitu banyak rona senyum kebahagiaan yang begitu damai dan tulus yang tersungging di ujung bibir sahabat-sahabatku. Yang mungkin setelah hari ini tak akan pernah kulihat lagi senyum itu.

Setelah puas berfoto ria, aku pun kembali ke tempat dudukku semula dengan langkah gontai dan pandangan yang kosong, ya. Begitu kosong. Menyedihkan.

“Hey, Mau foto bersamaku?” Seorang cewek mengagetkanku dari belakang.

Aku pun membalikkan badanku untuk melihat siapa pemilik suara itu. Speechless, setelah tahu siapa pemilik suara itu. Yap, di belakangku telah berdiri sosok cewek manis berkerudung coklat –Revi– Aku sempet speechless juga kenapa tiba-tiba dia mengajakku berfoto, padahal kita tak pernah akrab bahkan nggak pernah sekalipun berada pada kelas yang sama.

Tanpa mau menunggu jawaban dariku, dia langsung menarik lenganku. Menuju tempat duduk para wali murid. Dia menyeretku ke sana, menemui sesosok cowok berkemeja merah marun lengkap dengan jas warna biru gelap yang menempel pada tubuhnya yang gagah. Wajahnya terlihat manis, rapi dan lumayan keren menurutku. Ah mungkin itu cowoknya Revi pikirku.

“Ayo, aku udah bawa anaknya fotoin cepet.” Revi berkata pada cowok itu, kental sekali bahwa mereka terlihat begitu dekat. Cowok itu bangkit dari tempat duduknya tanpa ucapan sepatah kata pun.

Saat memotret aku dan Revi, aku melihat tatapan aneh yang ia tujukan padaku. Hal itu yang masih terekam jelas. Bahkan terlalu jelas. Membuatku salah tingkah dan ada getaran aneh yang sedang berpacu dalam tiap detak jantungku.

Setelah selesai, ia terus dalam kebisuan. Tanpa ada sepatah kata yang terucap. Sangat misterius, tapi hal itulah yang kini membuatku begitu penasaran.

“Itu tadi Kakakku Zas, namanya Ryan. Sebenarnya sih dia yang minta foto sama kamu tapi minta aku jadi alibinya. Sebenarnya dia udah memperhatikanmu sejak dulu Zas, tapi dia terlalu pemalu untuk mendekatimu. Sepertinya dia menyukaimu.” Revi mengakhiri penjelasannya dengan kedipan sebelah matanya yang membuatku sangat tidak nyaman.

“Jadi, cowok itu cuman Kakaknya Revi? Dan bukan pacarnya? Jadi anggapanku tadi salah?” Pikirku sambil tersenyum, entah apa yang membuatku begitu senang atas sebuah kenyataan bahwa cowok itu bukan pacar Revi. Mungkinkah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama.

Cerpen Karangan: Laila
Facebook: Laila Istighfaroh

Cerpen Wisuda Membawa Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Kita Berbeda Sayang

Oleh:
Aku menatap langit-langit di sudut kamar tidurku. Aku memikirkan betapa aku sangat menyayangimu. Ya, aku tahu kalau hubungan kita ini tidak mungkin sampai lama. Tapi bagaimana caranya, aku tetap

Perpusatakaan Sekolah

Oleh:
Saat itu ketika aku sedang bermain bersama kawanku, aku melihat perempuan yang begitu menawan, entah kenapa aku ingin menyapa perempuan itu, dan aku menyapanya “heyy kamu” kemudian perempuan itu

Post it

Oleh:
‘Pratiwi, I miss you! I hope, you come back to me!’ “Billy! Lo yang naruh beginian kan di jok depan motor gue?!,” tuduh Felly saat mereka tengah bergurau dengan

Empat Belas Hari

Oleh:
“Rin, kenalkan kakak sepupuku!” seru Mita mengenalkan cowok yang muncul tiba-tiba, saat kami sedang belajar bersama. “Rina,” ucapku menyodorkan tangan. “Sandy,” sahutnya menjabat tanganku. “Ohh… jadi ini yang namanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *