X-Ray Jatuh Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 7 December 2015

Sang purnama tertutup awan kelam, hitam bergelombang di antara ribuan cahaya bintang, menyisir setiap detak hati yang sedan meratap pilu, aku termenung dalam detak malam mengenang setiap langkah hari yang telah ku lewati. Sehebat dan sekuat apapun aku mencoba, dia tetap tak mau hilang dari pelupuk mataku. Aku selalu membatu di hadapannya, menjadi kelu di dekatnya dan waktu seakan berhenti saat aku berada di sisinya. Aku terlahir memiliki wajah tampan rupawan, anak dari orang kaya terpandang, aku bisa dikatakan memiliki segalanya apa yang diinginkan anak muda zaman sekarang, aku punya mobil mercy, CBR, kartu kredit card bernilai ratusan juta rupiah, semua itu mampu membuat orang lain merasa bahagia termasuk aku. Mungkin karena itu aku menjadi lupa diri dan tidak memiliki rasa kasihan terhadap orang lain.

Aku melanjutkan studiku di sebuah universitas ternama di Banda Aceh, Unsyiah, mungkin otakku yang agak macet ini masih mampu digunakan untuk bersaing dengan mahasiswa lain di kelasku. Tapi apa peduliku, aku sempurna dan hidupku indah. Namaku X-Ray, itu nama ciptaanku sendiri karena Ayah dan Ibu memberiku nama Raihan Al-Furqan, untuk cowok dengan sejuta gaya sepertiku, X-Ray jauh lebih pantas dan tentunya keren. Kuliah di jurusan MIPA Matematika, membuat aku mau tidak mau harus bergelut dengan buku, walaupun sebenarnya aku hanya tertidur di balik buku untuk menutupi tingkahku yang di luar batas, bagaimana tidak, aku liar, brutal, tidak punya tata krama. Mungkin Ayah dan Ibu sudah kehabisan cara untuk mengajariku, bagiku, semua ocehan mereka ibarat masuk kuping kanan, ke luar kuping kiri.

Aku kuliah di jurusan yang membuat semua orang kocar-kacir karena tidak sanggup menghadapi rumus-rumus matematika yang segudang, apalagi mata kuliah matematika kuno dan statistika, namun aku santai-santai saja, karena semua bisa aku lakukan dengan uang. Dengan wajah tampan dan uang yang cukup, aku bisa menarik perhatian wanita manapun, seperti Raisa, madonna di kampusku. Tipe wanita cantik yang luluh dengan sejuta Rayuan maut. Aku bukan tipe orang yang mau berdiam diri di rumah walaupun orangtuaku tidak mengizinkan aku pulang ke rumah kalau aku masih ke luar malam. Seperti biasa, semua hanya masuk kuping kiri ke luar kuping kanan.

Sepeti yang terjadi malam ini, “Raihan, kamu jangan ke luar lagi sayang, di rumah aja sama Mama,” seru Mamaku saat melihat aku sudah rapi dan siap berangkat.
“aduh Mamaku sayang, bukannya Ray gak mau, Mama di rumah sama Bi Sum aja ya, dah ma, Ray sayang Mama,”
Aku langsung jalan tanpa menghiraukan panggilan Mama dan telepon yang berdering terus dan tentunya tak lupa Raisa ku jemput terlebih dahulu. Aku tidak mungkin hang-out sendirian, karena teman-temanku yang lain sudah pasti membawa pacarnya. Walaupun Raisa bukan pacarku. Setidaknya ia mau aku bawa ke mana-mana.

Aku berusaha bangun cepat hari ini dan masuk kuliah lebih cepat setelah semalaman jalan-jalan sampai larut malam, alasannya karena aku hanya ingin melihat dosen baru di ruanganku, yang katanya masih seumuran dengan kami. Akhirnya, dengan segala daya dan upaya, aku sampai di kampus lebih cepat, dan membuat teman-teman seruangan denganku jadi heran melihatku datang, “X-Ray, gak salah tuh kamu udah datang? biasanya juga kamu masih tidur jam segini,” sambut Ardy yang melihatku datang lebih cepat.
“gak sob, aku mau lihat dosen baru yang katanya seumuran dengan kita itu.
“hahaha, memangnya sejak kapan kamu udah peduli dengan dosen di kampus?” aku terdiam sejenak dan melihat seisi kelas.

Bener juga kata Ardy, entah apa yang membuat aku begitu penasaran dengan dosen baru itu, bahkan banyak dosen mata kuliahku yang aku tidak kenal sama sekali, dan hari ini aku datang begitu cepat hanya untuk melihat calon dosen yang mungkin akan jadi korbanku juga seperti dosen cantik dan seksi dulu. Yang dengan mudahnya bisa aku taklukan. Akhirnya, waktu yang aku tunggu-tunggu datang, pastinya setelah melewati 2 mata kuliah yang membosankan, Pak Burhan datang dengan didampingi seorang wanita cantik berjilbab di belakangnya, wanita cantik itu begitu anggun dan ayu, ia hanya tersenyum tipis kepada kami dan secara sadar atau tidak aku membalas senyumnya. Senyumnya itu hampir membuatku gila. Aku hampir tergoda dibuatnya. Namun aku langsung sadar bahwa bagiku semua cewek itu sekelas dengan Raisa.

“Anak-anak ini Riani, dia dosen baru yang akan menggantikan bu Nurhayati, dia masih berusia 22 tahun, seperti kalian, bu Riani tamatan tahun lalu, dia adalah salah satu siswa berprestasi yang langsung kami angkat menjadi dosen, tolong kalian menghormati bu Riani, dan khusus untuk anda mister X-Ray, jangan diganggu bu Rianinya,” kata-kata Pak Burhan langsung mengagetkanku dari lamunanku. Dan aku tidak kehabisan akal, “yah pak, gak salah tuh, bukannya seharusnya Bapak bilangnya, Bu Riani, tolong X-Ray jangan digangguin,” sahutku sekena hatiku, seketika tawa pecah di ruang kelasku, terlihat jelas guratan kekesalan di wajah Pak Burhan. Dan kali ini aku menang lagi, Pak Burhan hanya diam seribu bahasa.

Hari-hariku berlalu begitu saja, tidak ada yang istimewa, karena semua hal yang aku lakukan dalam sehari adalah hal yang selalu aku lakukan sejak 7 tahun yang lalu. Namun aku mulai rajin kuliah karena Riani, bukan karena aku jatuh hati padanya, namun aku sangat senang bisa melihatnya kesal dan marah. Seperti hari ini, Riani hanya memintaku mengumpulkan tugas namun aku membuatnya kesal lagi.

“X-Ray, kenapa gak dikumpulin tugasnya? alasannya apalagi hari ini?”
“Eum, maaf deh rin, kan Ray lupa sama pr-nya,”
“kamu ikut saya ke kantor,”
“mau ngapain rin? Ibu bilang aja kalu mau godain Ray, udah biasa tuh bu Ray digodain sama cewek,”
“Ray, tolong hormati saya, saya ini dosen kamu,”
“maaf deh bu, tapi bagi Ray semua sama saja, bisa dibeli dengan uang,”

Riani langsung terdiam, wajahnya sedikit memerah, marah atau kesal padaku, ia terlihat begitu kesal, namun ia tidak memarahiku sama sekali. Yang aku lihat ia berjalan ke luar ruangan, padahal jam mengajarnya masih 2 jam lagi. Dan pada akhirnya aku tahu, Riani menangis, aku melihat ia menyeka air matanya. Aku merasa bersalah padanya, mungkin kata-kataku selama ini membuatnya begitu terluka, “thanks ya sob, akhirnya kita bisa pesta lagi, bu Riani bisa jadi gak masuk lagi di kelas kita,” seru Ardy padaku, aku melihat reaksi teman-temanku yang begitu bahagia dan gembira, namun tidak denganku, aku merasa begitu bersalah.

“Ardy, kita harus minta maaf sama bu Riani, kamu lihat gak tadi dia nangis?”
“udah dong Ray, biasa aja, lagian kan kamu sendiri yang pengen bu Riani gak ngajar lagi di ruangan kita?” sahut Raisa sambil mendekatiku dan bersikap manja yang semakin membuatku muak.
“Raisa minggir, aku mau minta maaf sama Riani,” aku langsung pergi, aku sempat melihat mereka tercengang melihat sikapku yang tiba-tiba berubah aneh.

Aku berlari menuju kantor, aku berharap bertemu dengan Riani dan minta maaf padanya. Namun Pak Burhan sendiri yang mengatakan bahwa Riani telah pulang. Aku meminta alamat rumah Riani pada pak Burhan, “untuk apa kamu alamat rumahnya?”
“perlu banget pak, Bapak kasih aja?” setelah Pak Burhan memberiku alamatnya, aku langsung menuju alamat yang tertulis di kertas itu.
Aku kembali teringat kata-kataku tadi padanya, aku semakin merasa bersalah padanya.

Aku berusaha mencari alamat yang dimaksud Pak Burhan, namun tidak ku temukan, setelah lelah mencari akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kampus. Dan di ruang kantor ku dapati Riani sedang duduk sendirian aku benar-benar kesal padanya, tanpa ragu aku menghampirinya, “Riani, kamu sebenarnya mau apa sih? kamu tahu gak, aku cape nyariin alamat kamu sampe berjam-jam tapi gak ketemu,” Riani makin heran melihatku yang langsung marah-marah padanya.
“kamu ngomong apa sih? Ibu dari tadi di kantor, gak ke mana-mana,” jawabnya lembut sambil tersenyum tipis, aku hanya diam dan langsung ke luar dari ruang kantor dengan wajah marah.

Aku semakin aneh setelah hari itu, aku jadi semakin sering memikirkan Riani, aku jadi sangat rajin kuliah dan menyelesaikan tugasku, aku berubah 180 derajat, bahkan aku paling manis di kelas saat ia mengajar. Banyak pertanyaan menghujamku dari teman-temanku tentang perubahanku ini, namun semua hanya aku anggap angit lewat, aku mulai berusaha berhubungan baik dengannya, bersikap semanis mungkin, dan bahkan surat panggilan orangtua yang bisa ku terima hampir 1 minggu sekali, sekarang bahkan tak pernah lagi ku terima.

“X-Ray, kamu kenapa si sayang?” tanya Raisa sambil menggelayut di bahuku, “kamu jadi berubah, kamu udah gak pernah hang-out lagi,” Raisa semakin manja dan membuatku kesal.
“aku gak kenapa-kenapa, lagi males aja gabung, aku duluan ya rais,” aku langsung bangkit dan pergi, namun Raisa menarikku, membuatku hilang keseimbangan dan jatuh ke pangkuannya.
“ehem, maaf, ini kampus, bukan tempat bermaksiat,” mendengar penuturan itu akun langsung bangun dan melepaskan diri dari pelukan Raisa.
“Riani, gak tadi aku jatuh dan Raisa yang menarikku,” ujarku membela diri.
“Ray, kamu kenapa si? bukan rin, Ray yang mau nyium aku,”

Mendengar itu Riani langsung pergi, aku berusaha mengejarnya, aku berusaha menjelaskan semuanya, Riani hanya merespon dengan senyum manisnya. Aku hampir lupa diri melihat senyumnya, tanpa aku sadari Riani telah berlalu dari hadapanku. Aku jadi semakin aneh mulai saat itu, aku mulai mencari tahu nomor hp-nya, alamat rumahnya dan apapun yang berkaitan dengannya selalu menarik perhatianku. Apakah ini yang namanya cinta? apa pantas seorang mahasiswa jatuh cinta pada dosennya?
“ma, Ray berangkat dulu ya?”
“kenapa pagi sekali?” aku tidak merespon pertanyaan Mama, aku lagsung berlalu dari hadapannya.

“Ray anterin Ibu bentar ya? Ibu lagi buru-buru ni, kelamaan kalau pulang pake bus ”
“ok rin, mau di anterin kemana? tapi, Ray bawa kereta bu bukan mobil.”

Riani tidak mengubris perkataanku, ia berjalan menuju parkiran sambil tersenyum manis. Kami sempat jadi pusat perhatiaan karena aku pulang bersama seorang dosen, cantik pula. Namun itu yang aku inginkan jadi pusat perhatiaan. Aku terpaku di depan rumahnya, ternyata rumahnya hanya rumah sederhana biasa di pedesaan. Seorang laki-laki tua ke luar dari dalam rumah sesaat setelah Riani masuk. Wajahnya sedikit menyeramkan, dengan alis tebal dan janggut yang mulai memutih. Aku mendekat dan bermaksud menyalaminya, kedua alisnya bertemu saat aku mendekatinya. Ia langsung bersikap seperti hajji umar dalam film, “eumpang breuh,”

“pak,” sapaku seramah mungkin.
“eh, ngapain kamu ke sini? Nungguin anak per*wan gue lo,” aku terkejut mendengarnya.
“tapi pak..”
“ah tidak ada tapi-tapian, pergi-pergi gue libas nanti,” Aku tidak menunggu ia mengayunkan kerisnya dan langsung mengambil seribu langkah untuk pergi.
“ah Riani masa sih wanita semanis dia anak dari orangtua garang tadi? Gimana mau didekatin, Bapaknya aja nakutin,”

Nafsu makanku langsung jadi hilang, mendengar berita bahwa Riani akan menikah, aku menyadari hal itu ia pasti akan memilih laki-laki yang lebih baik sedangkan aku hanyalah mahasiswa bodoh dan brutal yang tidak jelas masa depannya, selama ini pun hubungan kami pun hanya sebatas mahasiswa dan dosen. Namun, aku tidak memungkiri bahwa aku mulai jatuh cinta pada Riani dosenku. Dan mulai sejak itu aku Ray yang brutal, liar, dan tak terkendali berubah menjadi pendiam dan lebih banyak melamun, apalagi setelah tersiar kabar ia akan menikah, Riani tidak pernah muncul lagi menguatkan gosip yang tersebar.

“Ray, kita akan pindah lusa kamu harus tetap ikut dan pindah kuliah ke jakarta, Mama tidak mau kamu menjadi brandalan seperti dulu,”
“iya ma Ray ikut ke jakarta tolong hal ini jangan dibahas lagi Ray muak dengarnya,” aku langsung pergi dari hadapan Mama, mungkin dengan kepindahanku ke jakarta aku tidak akan pernah memikirkan Riani lagi.

“Kring, Kring,”

Dengan malas ku raih handphone s4-ku dan ku lihat nama penelepon yang tertera di layar telpon. Ternyata itu Riani, mungkin ia ingin mengundangku pada acara pernikahannya nanti. Aku langsung merejectnya tak lama kemudian Ardi menelepon,” halo, Ray kamu kenapa sih? Kok makin aneh saja gak pernah sekali pun ikut gabung dengan kami lagi, semenjak kamu dekat dengan Riani, dulu kamu yang pertama kali mengerjainya,”
“entahlah Ardi, aku cape,”
“Ray… hallo Ray,” tut.. tut.. tut.. tut..

Kami mengadakan perpisahan atas kepergianku ke Jakarta di kantin kampus mereka terlihat sangat gembira, aku hanya sesekali tertawa mataku selalu tertuju ke kampus berharap Riani datang. Tak lama berselang aku melihat Riani datang diantar seorang pria dengan mobil sedan, tanpa menunggu lama aku langsung berlari menghampirinya tanpa mempedulikan teman-temanku yang bingung melihatku.

“Riani,”
“Ray, kamu dari mana?”
“Riani, kenapa kamu sejahat ini padaku? Kenapa kamu lebih memilih dia daripada ku? kamu tahu nggak aku cinta banget sama kamu, kenapa kamu memilih dia? Aku juga punya segalanya rin, aku bisa memberikanmu segalanya yang kamu inginkan aku bahkan punya mobil yang lebih mewah dari dia,”
“Ray kamu bodoh nggak akan pernah berubah aku tidak butuh apapun aku bahagia dengan hidupku sendiri,” aku terdiam mendengarnya mungkin Riani kecewa pada perkataanku tadi.
“Rin aku besok mau ke Jakarta mungkin sampai 4 tahun ke depan,” Riani tidak bergeming dia berlalu begitu saja di hadapanku dengan pria itu.

Aku semakin sadar dan paham sekarang alasan kenapa Riani tidak memilihku perjalananku menuju Jakarta terasa sangat sepi aku harus beradaptasi lagi dengan lingkungan baru, kampus baru dan teman baru. Semua terasa asing bagiku, aku bahkan tidak memiliki semangat saat menginjakkan kaki di altar suci Universitas Indonesia walaupun banyak wanita cantik yang melirikku, aku acuh tak acuh aku tetap masih mencintai Riani. Hidup di Jakarta memang membuat orang lupa diri tapi aku tidak, karena aku sudah lebih dulu lupa diri sebelum aku berada di kota ini, Rianilah yang melakukannya dan sekarang dia tidak peduli sedikit pun padaku, ini karma untukku.

Kehidupanku di Jakarta sudah berjalan 3 tahun, kota metropilitan tidak bisa membuatku lupa diri, walaupun aku yakin Riani pasti sudah menikah bahkan sudah memiliki anak. Setelah aku menamatkan kuliahku di Jakarta, aku langsung meminta izin kepada Ibu dan Ayah untuk kembali ke Banda Aceh. Aku berharap aku bisa bertemu dengan Riani ataupun wanita yang mirip dengannya. Aku menginjakkan kakiku di rumah lamaku aku begitu merindukan rumah ini, masa remajaku dan teman-temanku. Aku merasa hilang dan kosong saat tinggal di Jakarta namun, saat aku tiba di sini seakan hadir kembali. “den, biar bibi yang bawa tasnya, aden selamat datang kembali di rumah ini,” Bi Sum menyambutku ramah, ia terlihat sedikit lebih tua sekarang.
“iya bi, biar Ray yang bawa sendiri saja.”

Hari pertama aku habiskan dengan berkeliling kota Banda Aceh tidak banyak yang berubah. Aku kembali merindukan Riani dengan segenap keberanian, aku memutar mobilku menuju jalan Darrusslam aku ingin menemuinya. Setelah sampai di hadapan rumahnya keinginanku untuk menemuinya aku urungkan. Dari balik jendela mobil, aku melihat pria bersama dia 3 tahun yang lalu ia tidak sendirian, bersama seorang anak kecil cantik seperti Riani. Mungkin ini anak mereka dengan perasaan kecewa aku berbalik arah melajukan mobilku secepat mungkin meninggalkan rumah Riani wanita pujaanku. Namun rasa penasaranku terhadap Riani begitu kuat, hati kecilku berkata Riani itu belum menikah, aku memutar arah dan kembali ke rumah Riani dengan segenap keberanian aku menyapa laki-laki itu. Laki-laki itu hanya tersenyum dan balik menyapaku.

“mas gimana kabarnya?”
“baik, ini adek yang di kampus itu kan?”
“iya mas,” laki-laki itu memanggil seseorang mungkin istrinya.
“sayang, ke luar sebentar ada tamu nih,” dari dalam rumah terdengar sahutan seorang wanita. Aku menanti dengan hati yang berdetak kencang, menanti harap siapa wanita itu. Seorang wanita ke luar ia tersenyum ramah padaku, namun ia bukan Riani.

“loh mas, bukannya mas ini suaminya Riani?”
“bukan dong dek, Riani itu Adik ipar saya dan ini Kakaknya tunggu sebentar ya saya panggilkan Riani,”
Tak lama kemudian, Riani ke luar diirangi lelaki itu, ia tersenyum melihatku ia terlihat lebih cantik sekarang.

“jadi, kamu tidak pernah menikah?”
“memangnya siapa yang menikah sih? Kan kamu nggak pernah nanya, kabar yang tersiar di kampus itu berita bohong, yang menikah itu Kakakku,”
“kalau begitu izinkan aku untuk melamarmu?”
“eh memangnya gitu cara melamar anak orang?” aku terkejut mendengar suara kasar itu.

“eh maaf pak, tapi tujuan saya baik kok,”
“kalau memang tujuannya baik besok kamu datang dengan orangtua kamu, sekarang kamu pulang, bikin orang emosi aja,”
Aku langsung pulang, mungkin besok aku bisa membawa Bi Sum untuk melamar Riani, jika aku harus menunggu Ayah dan Ibu dari Jakarta Riani bisa di mobil orang lagi.
Esoknya aku datang bersama Bi Sum ke rumah Riani dan melamarnya.

Cerpen Karangan: Riska Yanti
Facebook: Riska Yanti

Cerpen X-Ray Jatuh Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gamophobia

Oleh:
Tercium bau aroma terapy menyengat masuk ke dalam lubang hidungnya, namun ia terus berjalan mengikuti arahan kekasihnya, kemudian mereka berhenti dan membuka penutup mata yang kekasihnya kenakan pada Silvia,

Cukup Sampai Di Sini

Oleh:
Entah kapan aku akan bebas, ketika dulu kau tak mau bersaksi di pengadilan untuk kesalahan yang kau buat sendiri aku tak menyalahkan kau jikalau kau datang ke pengadilan waktu

Aku Tahu Aku Bukan Bayangan Masa Lalunya

Oleh:
Rasa rindu padanya memang kadang-kadang mengganggu hatiku, tapi rasa sayang kepadamu, lebih memenuhi hatiku. -Evin- Aku mengenalnya sebagai ketua di pos KKN (Kuliah Kerja Nyata) kami. Awalnya aku biasa

Sepenggal Memori Saat Holokaus

Oleh:
“Kau dan aku, jangan jadikan pertempuran ini sebagai bongkahan batu besar yang menghalangi kita untuk melihat masa depan. Aku yakin, Aris, kamu pasti bisa bertahan di Holokaus ini. Suatu

I Love Him (Part 2)

Oleh:
Setelah celingukkan mencari kendaraan umum melintas sebuah angkot yang segera Aku hentikan. Di angkot tidak juga kurasakan ketenangan yang lama, karena tepat kurang tiga ratus meter jaraknya dari sekolah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *