XOXO

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 9 December 2014

Di sebuah pagi yang sempurna di bulan Agustus, ketika jari-jemari mentari melewati serat-serat daun kelapa dan menggapai garis putus-putus di jalanan. Hari sudah pukul tujuh namun matahari masih begitu muda untuk menjadi terik, masih berwarna kuning keemasan seperti buah jeruk yang menunggu untuk menjadi masak. Aku yang baru saja melangkah keluar dari rumah menapakkan kaki di tepian jalan raya dengan seragam putih abu-abu dan tas punggung seperti bag packer.

Aku sangat menikmati hari itu. Tidak seperti biasanya dengan mengendarai sepeda motor, aku memilih untuk berjalan kaki. Ah, jarak rumah dan sekolah juga tidak begitu jauh. Mungkin jalan kaki masih bisa aku nikmati. Itulah aku memilih semua yang bisa aku nikmati, sekecil apapun atau sesingkat apapun aku tidak mau lewatkan. Lagipula ini hari pertamaku di sekolah baru, bukan? Ya, itulah sebabnya mengapa aku memilih tidak mengendarai motor. Sebelumnya saya bersekolah di Kota, tapi cukup jauh jadi harus berkendara sepeda motor, tapi untuk jarak 300 meter? Ah, jalan kaki adalah pilihan terbaik.

Sembari berjalan, aku berusaha mengatur kedua bibirku untuk menciptakan kesan senyum manis cowok jantan yang sangat kasual untuk sekedar menjadi menawan di antara orang-orang yang berlalu lalang. You know, seperti senyum Tom Cruise di Mission Impossible 3 atau seperti senyum menggoda Hayden di film Jumper. Rumah-rumah berjejeran di sepanjang jalan, kadang diselingi oleh beberapa simpang dan sebuah gedung SD di kota kecil ini. Hampir sepanjang jalan orang-orang menyapaku; “Hey, pindahan ya Jim. Waow, anak baru ya…” seorang pria kuliahan yang berbicara dan melintas pergi dengan motornya. Aku hanya bisa tersenyum dan melambaikan tangan dan berharap kata-kata itu bukanlah ejekan karena aku mulai merasakannya.
“Ow, jadi kamu ya Jim yang di bilang anak baru pindahan itu? Kenapa, bikin onar atau kurang IQ makannya keluar dari sekolah sana?” sambil cekikikan seorang anak sekolahan selentingan dan juga tetanggaku itu mulai dengan jelas berbicara di telingaku. Aku hanya menjawabnya dengan sebuah kalimat yang sederhana “Tuhan bekerja dengan cara yang misterius, bung”, sedikit sunggingan senyum tanda sedikit menang meskipun aku tidak benar-benar tahu apa itu maksud nya.

Sebelum sampai di pintu gerbang sekolah baru ku itu, aku mulai merasakan hal yang aneh. Ya merasa rendah diri, merasa kalah dan hal semacamnya. Aku termakan oleh kata-kata mereka yang berbicara barusan terhadapku. Tapi, ah… masa bodo… mereka tidak tau apa-apa tentang diriku, bahkan alasanku pindah kesini mereka tidak tau.. jadi kenapa harus kupikirkan? Begitulah aku menyelesaikan konflik pikiranku yang mengganggu pagi itu. Dan apel pagi pun dimulai.

Kebetulan guru yang menyampaikan arahan dan bimbingan adalah seorang guru Bahasa Inggris berkumis tebal seperti datuk menyampaikan pidato kepada murid-murid yang sudah mulai hancur moralnya oleh kisah percintaan dan drama sinetron. Begitu sang guru memulai pidatonya. Ah, sang guru ini tidak mengerti anak muda, seperti tidak pernah muda saja. Dia sangat menjatuhkan motivasi kami dengan perkataan seperti itu. Bagaimana bisa kami menerima nasihatnya sedangkan dia tidak menghargai perasaan kami? Begitulah aku berguman dalam hati.

Sepuluh menit berlalu dan tibalah saatnya perkenalan murid baru, Pak Kumis memanggil saya ke depan dan memperkenalkan ku kepada semua siswa. Momen itu sudah sangat kutunggu-tunggu. Well, paling tidak wajahku bisa dikenal bukan, apalagi sedetik aku memperhatikan gadis-gadis sepanjang barisan, banyak dari mereka tersenyum dan sekedar curi pandang padaku lalu tersipu malu. Ah, kuanggap itu sebagai godaan. Saya ini memang orang berkepribadian narsis. Terlalu PeDe sebagai pusat perhatian.

Saya mulai memperkenalkan diri dengan mike yang diberikan pak kumis padaku. “Ehmmm… halo, selamat pagi…” begitu aku memulai. “Perkenalkan nama saya James Atulo”. (Atulo adalah nama daerah yang berarti kebenaran). “Saya dari SMA 1 Kota Gunungsitoli. Senang bisa bergabung dengan kalian di sekolah ini dan semoga kita bisa menjadi teman baik” titik dan aku mengakhirinya dengan senyuman. Pak kumis mengambil alih mike dan berterimakasih padaku atas perkenalan singkatnya. Setelah itu kami disuruh kembali ke ruangan masing masing.

Berbeda dengan siswa yang lain, aku menuju ke kantor guru menemui PKS bidang kurikulum untuk menanyakan kelas yang akan saya tempati. Ibu Rita begitu panggilannya, seorang wanita sekitar umur 40an bertubuh gemuk sedang dan memakai jilbab mengantar saya ke ruangan kelas 3. Disana ada 4 ruangan, kelas pertama saya lewati tapi tidak disitu. Kelas kedua pun saya lewati ketika melihat ada beberapa wanita yang menarik hati dan berharap cemas agar aku masuk kesana. Tepat di depan pintu, bu Rita berhenti dan aku sempat bahagia ketika dia memasuki kelas dan memanggil seorang siswi. “Riska, kesini sebentar”. Gadis yang memiliki rambut sebahu dan berkulit putih dengan tinggi sekitar 160 ini tampak manis. Cantik kalo ditimbang-timbang. Dan proporsi tubuhnya juga lumayan. Dia ke depan dengan wajah cemas sambil menyahut, “Iya, bu”. “Siapa saja teman-teman kamu petugas kebersihan hari ini supaya secepatnya keluar, bawa sapu, bersihkan koridor di depan kelas kalian ini!”. Alamak! aku baru sesaat disini sudah merinding dengan perintah ibu ini. Tanpa menunggu Riska dan beberapa temannya mengambil sapu dan menuju koridor. Riska lewat tepat didepanku dengan sedikit membungkuk, tapi itu tidak bisa menyembunyikan aroma tubuhnya yang membuatku melamun. Aku terus memperhatikan dia setelah melewatiku. Andaikan saja lantai yang dia sapu itu tepat di depanku sehingga aku bisa lebih lama mencium aroma tubuh dan menikmati paras manisnya itu. Kenapa kau begitu manis, Riska?
Lamunanku terhadap Riska buyar saat suara bu Rita menyahutku. “Bu, apakah saya akan masuk ke kelas ini?” aku bertanya dengan cemas. “Tidak, James. Kamu masuk ke kelas sana”. Hancur sudah harapanku untuk bisa melihat Riska setiap waktu. Ibu Rita melanjutkan, “Kami melihat surat rekomendasi dari sekoah asal kamu. Kamu sepertinya bukan anak baik-baik. Mungkin termasuk nakal. Jadi untuk jaga-jaga. Kamu masuk dulu di kelas Bandit ya…”. “Hah, Kelas Bandit!?”. “Yeah, Kelas XII IPS 2, calon teman-temanmu”. Impianku semakin hancur mendengar kelas bandit dan penilaian ibu Rita terhadapku. Aku hanya berharap semua akan lebih baik saat aku memasuki sekolah ini.

Aku ini sebenarnya bukan anak nakal, tidak seburuk yang ada dalam surat keterangan. Saya rajin ke sekolah, sering mengerjakan tugas dan nilai raporku bahkan bagus. Cuma aku punya dua masalah. Aku terlahir sebagai perayu ulung dan aku banyak menciptakan masalah gara-gara wanita. aku bahkan berhasil memperbaiki nilai fisika, kimia, dan matematika ku hanya dengan merayu dan mengeluh kepada 3 orang guru mata pelajaran seminggu sebelum pembagian rapor. Aku tidak pernah tertarik mempelajari 3 hal tersebut, aku tidak begitu baik mengenai masalah angka-angka. Aku hanya lebih sering membaca buku fisika yang membahas tentang tata surya, luar-ruang angkasa, teori planet atau semacamnya. Selebihnya tidak penting. Di antara semua mata pelajaran, hanya Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris lah yang aku sukai, dan nilai raporku sejak dulu tidak pernah turun dari nilai 9. Aku sangat menyukai sastra, mungkin karena terlahir sebagai perayu ulung membuatku mahir bermain dengan kata-kata. Well, aku anggap itu sebagai anugrah kenapa harus disia-siakan.

Sedangkan masalah dengan wanita, well aku sering punya masalah gara-gara wanita terutama ketika saya masih di SMA 1 Gunungsitoli. Aku sangat menikmati hari-hariku, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Aku selalu punya waktu untuk dihabiskan dengan wanita. dan perpustakaan adalah tempat yang paling sering saya kunjungi. Di sekolah sebelumnya itu aku menikmati banyak bibir wanita. Ya, aku mencium hampir setengah siswi SMA 1 gunungsitoli dan tidak pernah ketahuan. Hingga akhirnya aku mengencani pacar ketua OSIS, dan kami ketahuan di salah satu sudut perpus sedang bermesraan. Sang ketua OSIS begitu dibakar cemburu sehingga tidak mau mendengar penjelasanku. Akhirnya yang tidak aku harapkan terjadi. Dia menarikku keluar dikerumuni oleh teman-temannya. Perkelahian gaya anak muda tidak bisa dihindari. Beruntung masih ada dua orang teman yang setia mendampingiku pada saat perkelahian itu. Bagaimanapun kami tidak sebanding, 3 banding 10 itu tidak fair. Well, paling tidak aku puas dengan mengalahkan 2 orang. Salah satunya ketua OSIS.

Hanya sejenak kami berantam. Guru sudah ada di sekeliling dan menggotong kami ke kantor guru. Dan disitu aku baru menyadari semua kebodohanku. Aku sudah menyeret 2 orang teman baikku ke dalam masalah konyol pribadiku. Aku merasa bersalah. Dan bagaimanapun aku mencoba menyelamatkan kami bertiga, aku tidak bisa. Aku baru sadar bahwa orangtua dari ketua OSIS ini adalah seorang pejabat daerah yang sangat disegani oleh kepala sekolah. Sudah pasti ketua OSIS bebas dari hukuman sedangkan di pihak kami dan beberapa orang lagi dari pihak ketua OSIS yang tidak bisa dia selamatkan terancam dipecat.

Aku memutuskan untuk menjalani konsekuensinya sendiri. Kedua teman ku ini sudah begitu baik padaku, mungkin disinilah aku membalas kebaikan mereka. Dan siswa yang sebelumnya bagian dari ketua OSIS pun menangis seperti anak kecil sebab mereka pun siswa dari keluarga yang sederhana. Apa jadinya jika orangtua mereka menerima surat pemecatan dari sekolah sedangkan mereka terus bekerja keras dan berdoa agar anak-anak mereka bisa menyelesaikan studi. Aku tidak tega. Ini semua karena ulahku. Aku yang harus bertanggung jawab. Aku masih bisa menanggungnya dan berharap ayahku akan menerimanya. Sehingga akhirnya aku pergi menemui kepala sekolah dan memohon untuk memberi kesempatan kepada teman-temanku sekali lagi. Saya bertanggung jawab sepenuhnya.

Setelah menunggu setengah jam berdiskusi dengan beberapa orang wakil kepala sekolah. Akhirya permintaanku disetujui. Begitulah sejarah singkat aku harus keluar dari sekolah yang begitu banyak kenangan ciuman dari gadis-gadis cantik dan genit itu. Selebihnya aku tidak tahu dan aku tidak peduli lagi apa yang terjadi pada teman-temanku. Aku memutuskan untuk mengganti nomor handphone dan memulai lembaran baru di tempat yang baru dan meninggalkan semuanya sebagai kenangan indah.

Begitulah kisahnya sampai aku berakhir disini dan diletakkan ke dalam kelas bandit. Ah, Gusti… kenapa harus seperti ini? aku memberanikan diri memasuki ruangan bandit. Ketika tepat di depan pintu, aku masih melirik ke arah Riska yang sepertinya melihat ke arahku lalu membuang pandangannya ke arah lain. Semoga saja dia menyadari kehadiranku. Aku tersenyum sambil memasuki ruangan.

Bel istirahat sudah berbunyi ketika les pelajaran Fisika baru saja diselesaikan dan Ibu Nainggolan meninggalkan kelas. Buru-buru aku membereskan buku yang tidak terisi sama sekali oleh rumus Fisika lalu berjalan cepat keluar ruangan menuju kantin. Aku menuju kantin dan langsung menemui beberapa komplotan siswa yang sudah selesai memesan dan duduk di meja tengah kantin. Aku memesan minuman dingin dan mulai mendekati mereka untuk sekedar akrab. Terimakasih Gusti atas anugrahmu ini sebab kemampuanku berbicara membuat mereka menyenangiku dan dengan cepat akrab dengan mereka. Mungkin takdir atau bukan, aku lagi-lagi melihat Riska dengan dua orang temannya memasuki kantin sambil tertawa. Waow, senyumnya lumayan. Aku suka. Tiba-tiba salah seorang teman baru di meja kami duduk memanggilnya. “Riska! Sini sebentar…” Riska menoleh dan menjawab “Aku pesan makan dulu…”, tapi cowok bernama Joni ini seperti bersikeras “Sebentar saja Ris, ayolah…” akhirnya dengan langkah berat Riska berjalan menghampiri meja kami. Dia memang pemalu, selalu menoleh ke bawah ketika melewati kerumunan orang-orang. “Ada apa bang?”… Hah! abang?! Memangnya abangmu apa? Sok akrab segala. Begitu aku berfikir. “Nah, James… Aku mau memperkenalkan Riska padamu… Riska ini James, James, ini Riska” kami akhirnya berjabat tangan dan aku tertegun menatapnya sehingga jabatan tangan kami berlangsung beberapa detik sehingga Riska memutuskan menarik tangan. Saat dia menarik tangan melepaskan genggamanku, aku merasakan sutra yang sedang kubelai, tangannya begitu sempurna, begitu anggun dan begitu halus. Joni berpaling lagi ke arahku dan berkata “Riska sekelas denganku, kebetulan dia juga sepupuku” dia sangat menyukai Fisika dan Bahasa Inggris. Banggalah aku punya sepupu seperti dia. Maklum bro, otakku gak kesampaian ma pintarnya… hahah…” belum selesai dengan keterkejutanku ternyata mereka masih punya ikatan darah ditambah Riska ini tidak hanya cantik tapi pintar, aku tertawa tanggung; “Haha… ah, hmm… sepupu… waow, pastinya kamu bangga punya sepupu seperti dia. Aku juga punya sepupu wanita, dan dia pintar berkebun…” Riska yang tadinya malu-malu, seperti sedang menahan tawa yang nampak hanya senyum yang begitu indah di mataku.

Hari berganti hari, dan sebulan pun berlalu… aku semakin menikmati hari-hariku di sekolah ini, tapi sampai sekarang aku bahkan masih belum bisa mendekati Riska selangkah lebih dekat. Aku terus memperhatikannya di setiap kesempatan dan menulis begitu banyak puisi angan cinta untuknya. Dia telah membangun tembok yang begitu sulit aku lewati, dia gadis pendiam yang tidak termakan oleh gombal. Pembawaannya begitu tenang seperti samudera teduh yang tidak bisa aku guncangkan. Pertama kali bagiku aku merasa gugup menghadapi seorang wanita sedangkan aku telah menaklukkan banyak wanita untuk bermesraan tapi tidak dengan dia. Aku seperti takut, takut melukainya, takut dia akan takut kepadaku. Aku tidak tahu harus bagaimana. Oh Tuhan, tolong aku.. aku tidak tahu harus bagaimana, tunjukkan aku jalan.

Suatu pagi ketika lonceng istirahat pertama berbunyi, aku menuju perpustakaan. Disana aku melihatnya sedang membaca beberapa buku dan menulis di selembar kertas. Akhirnya aku memberanikan diri untuk mendekati dan berbicara kepadanya. “Hai… Riska kan?” Riska menoleh padaku yang sedang berdiri di samping meja dia duduk. Dia hanya tersenyum lalu kembali menoleh bukunya. “Ehmm, boleh duduk disini gak? Aku pengen nanya sesuatu, lebih tepatnya minta tolong… itu pun kalau kamu mau membantu.” Tanpa izin dan tanpa kata aku duduk tepat di sampingnya. Akhirnya dia angkat bicara “Ada apa?” Uh, suaranya begitu merdu, bagaimana kalau bernyanyi ya? Begitu aku berguman dalam benakku. “Ehmm, tentang rumus Fisika, aku ingat waktu Joni cerita kalo kamu bisa Fisika makanya aku temui kamu sekarang”. Dan begitu kami menghabiskan waktu membahas tentang rumus Fisika selama 10 menit. Semakin lama dia berbicara, semakin betah aku di sampingnya. Dia memang pintar, seperti yang dijelaskan Joni. Tapi, apa peduliku? Aku hanya ingin dekat dengannya. Akhirnya lonceng berbunyi mengakhiri pembicaraan kami pagi itu. Aku berterima kasih padanya dan meminta apakah dia keberatan jika aku bisa bareng sampai ke kelas. Tapi dengan lembut dia menolak “Sorry, teman-temanku menunggu tuh disana”. “Oh, fine… it’s okay” aku menjawab cepat. Dan dia pun berlalu, tiba-tiba sebuah tepukan dipunggung menyadarkanku seperti kaget. “Lagi lamunin apa, Jimmi?” suara ketua kelas Bandit kami seperti mengejek. “Ah, ketua, tidak apa-apa kok”. Dia tersenyum dan berkata, “Bung, kalau mau terima nasehat… aku bakal bilang begini ‘Cinta yang terungkap adalah sebuah kelegaan yang memberikan kebahagiaan, tapi cinta yang tertahan adalah sebuah angan yang menyesakkan, hanya akan membuatmu semakin menderita’. Pikirkan itu” lalu pergi berlalu.

Kata-kata ketua kelas bandit kami ini membuatku menjadi sadar akan satu hal. Ya, aku telah begitu banyak memikirkan tentang dirinya, begitu merindukannya setiap waktu, selalu berharap bisa menghabiskan waktu dengannya tidak hanya sesaat hanya berkata ‘hi’ atau mencari alasan untuk bersamanya sampai sepuluh menit. Aku ingin lebih, aku ingin dia hidup di dua duniaku, dunia anganku yang terus memujanya, dan dunia kecilku yang selalu bersamanya. Sudah begitu banyak puisi kutulis atas namanya dan tak satu pun dia pernah tahu. Aku menjadi takut bila terus menulis atas namanya dan akan dipenjara karena tanpa seizin nya. Aku ingin dia tahu, sungguh rindu ini begitu mengikatku, membuatku terus melayang dan aku ingin dia menarikku kembali menapak bumi berpijak bersama dengannya, di sampingnya.

Keesokan harinya, aku menuju sekolah. Suasana begitu ribut ketika tepat jam delapan bapak kepala sekolah yang sudah beruban namun tetap rapi menyisir rambutnya yang sudah mulai jarang memanggil seluruh siswa untuk berkumpul di pekarangan sekolah. Semua siswa akhirnya berkumpul di pekarangan sekolah setelah sebelumnya berebutan keluar kelas. Sedangkan aku dan ketua kelas memilih untuk berjalan santai sampai ke barisan kelas kami.

“Selamat pagi anak-anak?!” begitu pak kepala sekolah memulai.
“Selamat pagi pak…” kami menyahutnya dengan antusias, bahkan ada beberapa orang yang menyahut lebih lama.
“Sudah cukup itu” kepala sekolah menegur. Kami pun hening.
“Pengumuman kepada seluruh siswa-siswi kami bahwa pada hari ini anak-anak kami pulang cepat dan belajar di rumah karena ada rapat komite”. Baru saja kepala sekolah selesai seluruh siswa bersorak kegirangan. “Dengarkan! Bapak masih belum selesai”. Kami pun kembali diam. Seraya kepala sekolah akan mau melanjutkan pidatonya, aku menoleh ke sebelah kanan di barisan kelas 12 IPA II untuk menemukan wajah Riska, cukup sulit menemukannya di antar beberapa rintangan tubuh-tubuh siswa-siswi yang sedang ribut seperti cacing kepanasan. Ternyata dia disana sedang menoleh ke bawah sepatunya yang sedang ingin bermain. Dia memainkan kakinya seperti sedang ingin menari. Andaikan saja dia mau jika ku ajak berdansa, akan kuajari dia berdansa tango dan salsa. Pikiranku melayang lagi tapi kembali dihentikan dengan suara pak kepala sekolah yang ubanan.

“Berhubung dengan perayaan Idul Fitri, maka mulai hari Senin sampai Sabtu minggu depan ini anak-anak kami belajar di rumah. Bapak ingin mengucapkan Minal aidin walfa Izin, Mohon maaf lahir dan batin”. Sekian dan silahkan pulang.
Ketika semuanya mulai ribut dan siswa-siswi yang lain lalu-lalang di hadapanku, aku mulai resah. Aku mencari Riska, aku harus menemuinya dan aku mesti menemukannya.

Aku meninggalkan ketua kelas yang kebingungan melihatku seperti orang gila, melihat kesana kemari dan tidak mendengar sedikit pun pertanyaannya. “Jimmi, ada apa, bro?”. Aku tidak mendengar apa-apa, fikiranku sudah terisi penuh dengan wajah dan nama Riska, sehingga tidak bisa lagi memproses kata lain. Aku menoleh ke arah ketua kelas, “Ketua, aku duluan ya, selamat liburan dan salam sama keluarga”. Aku tidak menunggu responnya, memang tidak berharap dia merespon. aku pergi mengejar Riska yang sudah hampir mencapai tempat parkir bersama seorang teman nya dan sedang mencari dimana letak motor Honda Beat biru kesayangannya.
“Riska! Riska!” Riska pun menoleh, “Hey, RIska”, Riska Nampak heran dan tersenyum “Ada apa James?”. Aku berhenti sejenak mengambil napas setelah cukup berlari mengejarnya. “Aku cuma mau bilang selamat liburan, semoga liburanmu menyenangkan”. Senyum riska kemudian menghilang. “Oh, gitu… iya, kamu juga ya”. Aku melanjutkan… “Dan, ehmmm… satu lagi” buru-buru aku menarik sebuah amplop dari dalam tasku lalu menyerahkan padanya, “Ini untuk kamu, aku tidak punya banyak waktu kemarin itu untuk bisa ngomong banyak ma kamu, aku juga tidak punya nomor handphone mu, dan sebentar lagi kita libur seminggu, jadi aku berfikir mungkin lebih baik sekarang aja aku kasih ke kamu”. Riska kaget dan melihat surat itu lalu melihatku, lalu kembali melihat surat itu lagi… “Ini apa, james?”. “Open it and you will see”. Aku tersenyum, “Hati-hati di jalan, kendaraan pada rame. Aku duluan ya, bye”. Dan aku pun berlalu. Tidak jauh aku berjalan aku menoleh ke belakang dan disanalah kulihat Riska membuka amplop yang kuberikan padanya dan mulai membaca.

Aku Melihatmu
Disaat kulihat wajahmu, Gemerlapan
Ribuan bintang-bintang kecil yang membentuk wajahmu
Jika aku mencoba melukis gambar wajahmu di atas kanvas
Dan akan kupilih bintang-bintang bercahaya mempesona
Untuk memulai membuat titik-titik utama sketsa wajah lukisanku ini
Lalu akan kuhubungkan masing-masing mereka
Dengan benang-benang sutra dari biasan-biasan cahaya merah di senja hari

Karna telah kau cerahkan hatiku yang kelam
Yang sudah sejak lama aku cari penawar dari sakit ini
Namun tak pernah kutemukan
Saat aku sudah lama merindukan wajahmu
Dan tak pernah menyadari sampai aku bertemu kau lagi saat ini

Aku dapat tersenyum kembali
Dan benar benar merasakan efek dari hangatnya sinar mentari hari itu
Yang menerpa meresap ke bawah permukaan kulit
Melewati darah dan berjalan dari berbagai arah menuju satu tujuan, ke hatiku
Kamu membantuku menemukan diriku

Siang itu begitu terik dan aku sedang berjalan kaki dengan cepat, sudah lapar juga kepanasan dan aku hampir sampai ke rumah. Tanpa sadar, suara wanita di belakang sedang meneriakiku dari atas motor. Aku menoleh dengan kening berkerut saking matahari begitu terik. Silaunya aku melihat motor Honda Beat biru dan wanita yang memanggilku sedang menungganginya, semakin dekat hingga dia berhenti di sampingku, ternyata bukan Riska, itu Giovani, teman dekat riska.
“Hey, Jimmi… maaf mengganggu perjalananmu, aku cuma mau kasih titipan Riska untuk mu, bye” lalu memutar sepeda motor dan berlalu pergi. Buru-buru aku membuka kertas yang terlipat titipan Riska itu padaku. Catatannya begitu singkat tertulis:

081366796896
Call me
XOXO
Riska

Aku tersenyum, membuka kedua lenganku lebar-lebar dan berteriak,
“Ouw, Yeeessss…!!!”
Aku berteriak di tepi jalan yang sedang ramai dan tidak peduli semua orang memperhatikan semua kegiranganku.

Cerpen Karangan: Rahmat Viktorius
Facebook: orlando vick

Cerpen XOXO merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dari Kenalan Menjadi

Oleh:
Aku turun dari mobil, suasananya tampak lain dari biasanya. Ya, saat ini aku berada di majenang tepatnya kota kecil di cilacap barat, suasana di kota ini tampak lain dari

My Name Is Angel Part 8

Oleh:
Angel membuka matanya, matanya terasa sangat berat. Lalu diambil nya Blackberry nya. Seketika Angel terperanjat, karena jam di Blackberry nya telah menunjukkan pukul 09.38 Wib. “Yaahhh.. Telat dong !!

Lika Liku Impian Khayal

Oleh:
Semerbak wangi bunga di taman yang menghiasi lika-liku kehidupan. Di bawah sinar rembulan saat heningnya malam. Aku hidup bagaikan daun yang tak mengenal ranting. Impian yang ku khayalkan semuanya

Ciuman Pertama

Oleh:
Ku lempar handukku ke kasur begitu saja, aku segera bersiap-siap untuk pergi ku raih ponselku di meja yang sudah berdering beberapa kali, sebuah pesan singkat dari Rey pacarku yang

Waktu Di Balik Senja (Part 2)

Oleh:
Saat sampai ke gedung belakang sekolah, aku ditolak sampai tubuhku terhempas ke tembok. “Aauu..” teriakku kesakitan. “Kenapa? Sakit? Hah!” Bentak kakak ketua geng tadi. Aku hanya merunduk ketakutan. “Heh!

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *