You And Me (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 17 May 2019

Melody berangkat ke kampus pukul 07.00 wib, dengan Honda jazz berwarna ungu melaju dengan kecepatan tinggi.
Menghabiskan waktu, tiga puluh menit sampai di kampus, ia pun keluar dengan stelan long dress dan high heel, tampak begitu mempesona semua mata tertuju padanya.
“Gile… tuh cewek cakep bener dah,” celetuk salah seorang di antara mereka.
Sementara Melody, hanya tersenyum tipis pada semua orang yang melihatnya.
“Dy… sini,” panggil Raya dari kejauhan.
“Hai Ray… iya tungguin gue ke situ,” teriak Melody sembari menghampiri Raya sahabatnya.
“Hai juga cantik,” ucap para cowok, yang melihatnya tadi Melody dan Raya pun hanya bisa tertawa.
“Lucu juga yah mereka, gue ngomongnya sama loe eh… mereka yang jawab,” ucap Melody.
“Yah wajar aja kali, secara loe paling cantik di kampus Dy,” ucap Raya.
“Ah loe Ray jangan berlebihan deh, ya udah yuk mending kita ke kelas, daripada ngeliatin mereka,” ajak Melody.
“Ayuk… lagian gue juga, udah kangen banget sama kelas kita,” sambut Raya, dan keduanya pun berjalan menuju kelas mereka.

Ketika istirahat, Melody pun keluar bersama Raya.
“Dy… loe mau ke kantin ga?,” tanya Raya.
“Kayaknya gak deh, gue soalnya mau ke perpus minjem buku, buat tugas kelompok gue,” jawab Melody.
“Oh ya udah gue duluan yah, mau ke kantin udah laper soalnya hehehehe,” ucap, dan berlalu pergi meninggalkan Melody sendiri.
“Oke deh, gue langsung cau ke perpus,” ucap Melody pelan, sembari melangkahkan kakinya menuju perpus.

Dan setibanya di perpus Melody bergegas menuju rak buku, untuk mencari buku yang dia cari sambil melangkah mundur, melihat rak buku bagian atas tiba-tiba.
“BRUK!!!,” suara Melody bertabrakan dengan seseorang, ia pun menoleh ke belakang.
”Kak Rangga, lagi ngapain di sini?,” tanya Melody ragu.
“Gue lagi cari buku, buat referensi skripsi gue,” jawab Rangga.
“Oh gitu yah, ya udah aku duluan yah kak,” ucap Melody, yang hendak meninggalkan Rangga.
“Eits… ntar dulu, gue masih pengen ngobrol sama loe,” ucap Rangga sembari menahan bahu Melody.
“Aduh… pake ditahan segala lagi gue,” keluhnya dalam hati.
“Tapi aku buru-buru kak,” ucap Melody.
“ya udah gue tunggu nanti malem, di cafe deket kampus jam tujuh malem gak pake telat,” ucap Rangga, sembari melepas pegangannya dari bahu Melody.
“Insyaallah kalo gak lupa,” ucap Melody, sambil berlari keluar dari perpus.

“Oh my god… sumpah, gue deg-degkan banget pas sama kak Rangga, kayak keabisan oksigen tau ga!!!,” gerutu Melody, sembari berjalan menuju kantin untuk menemui Raya sahabatnya.

Malam menujukkan pukul 19.00 wib, Melody masih mondar mandir karena bingung ia datang atau tidak ke cafe itu, untuk menemui kak Rangga, dia pun mencoba menelepon Raya.
“Halo Ray, gue bingung harus gimana, kak Rangga ngajak gue ketemuan di cafe deket kampus sekarang,” ucap Melody bimbang.
“ya udah, loe dateng aja ke sana gampang kan,” usul Raya.
“Tapi masalahnya, kalo dia nanyain tentang jawaban perasaan dia ke gue gimana dong???,” Melody lagi.
“Yah loe bilang aja, kasih waktu lagi buat ngeyakinin hati loe gitu…,” ucap Raya.
“ya udah deh gue coba, semoga ini berhasil yah,” ucap Melody sembari menutup telponnya.
Lalu ia pun mengenakan stelan kemeja dan jeans, bersolek sedikit dan keluar dari rumah mengendarai mobilnya menuju cafe yang dekat dengan kampusnya.

Setibanya di cafe Melody tampak gugup, sembari mencari dimana kak Rangga duduk.
“Hai Dy… gue di sini,” panggil Rangga, dari meja yang paling tengah.
Kemudian, Melody pun menghampiri meja tersebut.
“Sorry yah kak aku telat,” ucap Melody, sembari duduk berhadapan dengan Rangga.
“Iya gak papa kok, lagian gue juga belum lama duduk di sini,” ucap Rangga sambil tersenyum pada Melody.
“Oh iya, kakak mau ngobrolin apa gitu sama aku?,” tanya Melody perlahan.
“Mesen makan sama minuman dulu aja yah, biar enak ngobronya,” ucap Rangga.
“ya udah, terserah kakak aja aku mah ngikut aja,” ucap Melody.
“Waiters” panggil Rangga, sembari menjentikkan jarinya ke atas seraya pelayan pun datang menghampirinya.
“Mbak saya pesen, orange juice satu sama spegeti satu yah, loe apa Dy?,” tanya Rangga.
“Aku samain aja deh kayak kakak,” jawab Melody.
“Oh ya udah mbak, saya pesen dua orange juice sama dua spagetinya yah,” Rangga pada pelayan tersebut.
“Tunggu sebentar ya mas mbak, saya ambilkan pesenannya dulu ke belakang,” ucap pelayan itu, sembari pergi dari meja Rangga.
“Btw, gue gak ganggu waktu loe belajar kan?,” tanya Rangga perlahan.
“Ga kok kak, aku juga lagi gak ada tugas kuliah sekarang,” jawab Melody.

Tak berselang lama, makanan dan minuman pun datang pelayan itu meletakkannya satu persatu di meja Rangga.
“Silahkan menikmati,” ucap pelayan itu.
“Iya mbak makasih,” ucap keduanya.
Mereka pun, menikmati makanan dan minumannya.

“Gue mau ngobrolin tentang loe Dy,” ucap Rangga.
“Maksudnya?,” tanya Melody bingung.
“Maksudnya gue mau tanya hal apa aja, yang loe suka biar gue tau lebih banyak tentang loe,” jawab Rangga.
“Oh gitu… ya udah tanya aja kak,” ucap Melody, yang merasa lega.
“Gue mulai yah pertanyaannya, pertama hobby loe apa Dy?,” tanya Rangga.
“Nonton film barat,” jawab Melody.
“Oke kapan-kapan, gue ajak loe nonton film bareng di bioskop, yang kedua tempat apa yang belom pernah datengin?,” tanya Rangga lagi.
“Pantai kute,” jawab Melody lagi.
“Oke, pertanyaan yang ketiga, hal apa yang paling loe suka dari pendakian?,” tanya Rangga.
“Suka banget, yang namanya ngeliat bunga edelweiss, dan nikmatin udara yang sejuk di gunung,” jawab Melody.
“Gimana kalo, bulan depan kita ke gunung pangrango?,” tanya Rangga.
“Berdua doang?,” tanya Melody memastikan.
“Yes, just you and me Dy,” jawab Rangga yakin.
“Iya, nanti aku fikirin dulu yah… soalnya harus izin sama ortu,” ucap Melody.
“Oke, gue siap nunggu kok,” Rangga.
“Pulang yuk kak, udah malem nih nanti aku di cariin sama Mamah,” ajak Melody.
“Ayo, tadi loe ke sini naik apa?,” tanya Rangga.
“Aku bawa mobil kak,” jawab Melody.
“Oh ya udah kalo gitu, gue aja yang nyetir bahaya cewek pulang malem sendirian,” ucap Rangga.
“Tapi emang, gak ngerepotin kakak? Nanti kakak pulang pake apa dong?,” tanya Melody.
“Gak ngerepotion kok, gue bisa balik ke rumah pake taksi lagian,” jawab Rangga.
“Ya ampun… segitunya mau ngelindungin gue…,” gumam Melody dalam hati.
“Mana kunci mobilnya Dy?,” tanya Rangga.
“Oh iya kak lupa ini kuncinya,” jawab Melody sedikit gugup.
Kemudian mereka pun, berdua meninggalkan cafe menuju rumah Melody.

Setengah jam berlalu akhirnya, mereka sampai di rumah Melody.
“Makasih yah Dy, udah mau nyempetin dateng ke cafe buat ketemu gue,” ucap Rangga.
“Harusnya aku kali yang makasih sama kakak udah repot-repot anterin aku ke rumah,” ucap Melody.
“Hahahaha ya udah deh, kalo gitu gue balik dulu yah,” pamit Rangga.
“Iya kak, hati-hati di jalan,“ ucap Melody.
“Good night,” ucap Rangga, sambil tersenyum pada Melody.
“Good night juga kak,” ucap Melody, sembari masuk ke dalam rumahnya.

Rama menghampiri Melody, yang sedang berada dalam kelasnya.
“Dy, nanti malem loe ada acara gak?,” tanya Rama perlahan.
“Kayaknya, gak ada tuh gue di rumah aja,” jawab Melody.
“Hang out yuk, nanti malem sama gue,” ajak Rama.
“Boleh tuh, lagian gue juga bosen di rumah terus,” ucap Melody, yang setuju dengan ajakan Rama.
“Oke deh, ntar malem jam tujuh gue jemput deh ke rumah loe,” ucap Rama bersemangat.
“Sip dah… gue tunggu di rumah yah,” ucap Melody sembari tersenyum.
“Ampun dah Dy… aura kecantikan loe, keluar kalo lagi senyum tau!!!,” gumam Rama dalam hati.

“Woy, ngapain loe ke sini?,” teriak Raya, yang mengagetkan Rama.
“Kepo banget sih loe jadi orang, terserah gue kek mau ngapain ke sini, bukan urusan loe juga kelez,” ucap Rama sinis.
“Yeee… ditanya loe malah nyolot!!!,” ucap Raya emosi.
“Udah… bisa gak sih, kalian kalo ketemu gak berantem sehari… aja gue mohon nih,” teriak Melody, yang tak tahan mendengar perdebatan Rama dan Raya.
“Abis, dia duluan yang mulai Dy,” ucap Rama.
“Tapi dia duluan yang nyolot Dy, kan gue jadi esmosi,” sambung Raya.
“Kalo kalian, gak mau baikkan gue tinggal nih,” ancam Melody.
“Iya deh, kita baikkan demi loe,” ucap keduanya bersamaan, sembari berjabat tangan.
“Nah… gitu dong itu baru namanya temen-temen gue,” ucap Melody, yang merasa senang bisa mendamaikan keduanya.
Rama pun menerima, penolakan cintanya dari Melody.
Ia juga sadar bahwa perasaan cinta, tidak bisa dipaksakan.

Dan kini, Rama sudah menjadi kekasih Raya, mungkin benar yang dibilang pepatah dari benci bisa menjadi cinta.
Sementara Melody, sudah mantap dengan jawaban apa, yang paling tepat untuk kak Rangga.
Karena esok hari, ia akan mulai pendakian gunung pangrango bersama kak Rangga.
Dan di situ, momen yang tepat untuk memberi jawaban, dari pernyataan cinta kak Rangga untuknya.
“Semoga, keputusan ini yang terbaik buat gue dan kak Rangga amin” ucapnya dalam hati.
Sedangkan Rangga, sedang packing barang dan peralatan untuk pendakian besok.
“Ga sabar gue, ketemu sama loe dan menghirup udara yang sejuk sekaligus, ngeliat edelweiss bareng Melody,” gumamnya pelan.

Esok hari pendakian pun dimulai, memakan waktu yang cukup lama untuk sampai ke puncak.
“Dy, kalo loe gak kuat bilang yah… nanti kita bisa istirahat, atau kalo keburu gelap kita diriin tenda,” ucap Rangga.
“Tenang kak… aku pasti bilang kok, kalo aku kecapean,” Melody.

Mereka berdua terus mendaki, setiap langkah keduanya selalu bergandengan tangan.
“Kak kok, pegang tangan aku terus sih,” keluh Melody.
“Gue takut loe jatuh, makanya gue pegangin,” ucap Rangga.
“cuma itu doang alesannya?,” tanya Melody penasaran.
“Oh iya satu lagi, biar kita gak ngerasa kedinginan di sini,” jawab Rangga, sembari tersenyum.
“Ih… kak Rangga tuh, gak peka banget sih… itu kan kode dari gue buat dia” gerutu Melody dalam hati.
“Ayo dong, semangat katanya anak mapalam” ucap Rangga.
“Aku masih semangat, gak liat nih aku jalannya cepet,” ucap Melody.
“Percaya deh, jangan ngambek dong kalo lagi ngambek nambah cantik tau,” goda Rangga, sementara kedua pipi Melody merona karena malu.

6 jam berlalu akhirnya, mereka sampai di puncak gunung pangrago.
Dan menikmati nikmatnya udara sejuk, dan melihat ribuan edelweiss tertata rapih.
“Wah… amazing, sumpah indah banget rasanya,” teriak Melody, sembari mendekati bunga edelweiss.
“Gue seneng, loe ceria kayak gini,” ucap Rangga.
“Thanks yah kak, udah wujudin salah satu impian aku,” ucap Melody.
“Iya sama-sama Dy,” ucap Rangga.

“Oh iya kak, soal jawaban aku tentang perasaan kakak, aku udah siap buat kasih jawaban,” ucap Melody perlahan.
“Yang bener… ayo cepetan ngomong sekarang, gue udah gak sabar pengen denger jawabannya,” ucap Rangga sumringah.
“Jawaban aku… juga punya… perasaan yang sama… kayak kakak,” ucap Melody terbata-bata sembari menunduk.
“Gue gak salah denger kan… thank yah Dy, sumpah gue bahagia banget dengernya,” ucap Rangga, sembari mendekap erat Melody.
“I love you,” bisik Melody
“I love you too,” bisik Rangga kembali, dan keduanya pun larut dalam dunia mereka yang penuh cinta.

Cerpen Karangan: Dewi Apriliani
Blog / Facebook: Dewiapriliani1504.blogspot.co.id / Dewi Apriliani

Cerpen You And Me (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Antara Cinta dan Ketulusan

Oleh:
Pagi ini mentari bersinar hangat, ditambah dengan nyanyian burung-burung yang seakan menyuruhku segera terbangun. Hmm.. indahnya pagi ini! Oh ya kenalin namaku Zahra Aulia. Usiaku baru 17 tahun. Aku

Cinta di Malam Tahun Baru

Oleh:
“Tahun baru dimana rin?” Tiba tiba suara terdengar dari belakang “kurang tau juga sya” Jawabku gak bersemangat “Gimana nanti malam kita jalan jalan aja kebetulan temanku nagajakin tahun Barun

Berakhir Kata

Oleh:
Seperti sebuah kata yang bergantung pada kata-kata selanjutnya, seperti itu pula aku bergantungan padamu. Selalu ingin di sampingmu, meski aku tak pernah tahu tentang kejelasan perasaanmu terhadapku. Masih mengambang

Pos Hujan

Oleh:
Kulihat langit senja di tepi jalan ini, tak terasa hari sudah mulai berganti malam. Ku bergegas pergi menuju rumah, Aku baru saja pulang dari rumah sahabatku untuk membuat tugas

My Bestfriend And Boyfriend

Oleh:
“Rea!!!” Teriak seorang gadis di ujung lorong sekolah yang memang sudah sepi karena bel sekolah sudah berdering dari lima menit yang lalu. Gadis yang dipanggil Rea hanya membalikkan badan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *