You Are My First Potion

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 13 September 2016

“Panggil General Manager dari departement pernikahan!,” ucap Arka kepada skretarisnya Rio.
“Baik, Pak!,” kata Rio dengan meninggalkan ruangan kerja Arka.
Kemudian, laki-laki itu duduk di kursi putarnya. Mengarakan kursinya ke arah kaca dengan pemandanagan perkotaaan yang begitu indah. Langit yang biru, jalanan yang ramai serta bangunan yang tinggi landas biasa menghibur Arka dikala pikiran Arka yang setrees karena pekerjaannya sebagai pemimpin hotel.

“Masuk!,” pita Arka saat terdengar suara ketukan pintu.
“Permisi, ini arsip yang Bapak inginkan.”
Arka mengerutkan dahinya. Ia tidak pernah mengenali sara itu. Begitu lembut. Arka rmerasakan kekhawatiran saat ia hendak membalikkan tubuhnya untuk melihat orang yang tengah menghadapnya. Mengingat, Arka selalu memberikan jabatan pimpinan untuk seorang laki-laki dari setiap departement.
Sekalipun ia rapat, ia tidak pernah mengijinkan seorang perempuan masuk ke dalam. Begitu juga saat ia menjalin hubungan kerja sama dengan para investor luar negeri. Jika memang investor yang akan ia hadapi salah satu dari mereka ada yang perempuan, maka ia menyerahkan pengumpulan data kepada Bram. Orang kepercayaan Arka.

Kemudian, Arka akan meminta dokumen mengenai hasil penawaran dengan janji untuk menunggu keputusan final dari Arka. Sehingga, Bram cukup mengmpulkan data yang sesuai dengan hasil rapat saat arka melarikan diri dari perempuan.
Penyakit itu! Penyakit itu selalu menghambat Arka dalam setiap moment. Meskipun Arka adalah pengusaha muda yang sukses dan terkenal, ia tidak pernah menapakkan dirinya di depan paa perempuan. Bahkan, banyak artikel yang memuat gosip mengenai Arka. Gay, ataupun h*mo. Yah.. itulah yang sering Arka baca di setiap majalah yang pernah ia jumpai.

“Permisi,” ucap orang itu lagi.
Arka memejamkan matanya untuk memberanikan diri menghadapi orang yang ada di depannya. Keringat dinginnya mulai ke luar saat ia terngiang dengan suara wanita itu. Hingga akhirnya ia merasa bergerak dalam dorongan.
“Apakah Bapak tidak apa-apa?,” tanya perempuan itu saat melihat mata arka tertutup.
Untuk pertama kalinya, Arka merasakan sentuhan jemari seorang perempuan setelah tujuh tahun yang lalu. Peristiwa yang telah merenggut sebagian dari dirinya.
“Pak!,” panggil orang itu denga menepuk lembut kedua sisi pipi Arka.
Arka semakin memejamkan matanya dengan rapat, tapi sentuhan itu semakin erat saat telapak tangan yang hangat dan lembut itu menggenggam kedua tangan Arka dengan begitu erat. Bahkan, suaranya terdengar begitu ketakutan saat melihat atasannya ketakutan dengan terduduk di kursi kehormatan dalam kondisi yang aneh.

“Kamu bisa pergi dari hadapan saya!,” perintah Arka tegas untuk menjgada imagenya di depan bawahannya.
“Tidak! Saya akan membawa Anda ke rumah sakit!,” ucap perempuan itu tegas dengan memapah Arka.
Seketika Arka menghindar. Tapi, secara otomatis, matanya terbuka karena gerakan refleksnya. Saat Arka melihat perempuan yang ada di depannya, pandangannya menjadi kabur. Jantungnya terasa terhantam oleh sebalok kayu. Dan, gelap.
“Pak! Bapak! Bapak nggak papa?,” tanya perempuan yang ada di depannya dengan menyangga badan Arka yang tengah pingsan dan bersandar di pelukannya.

Dengan langkah terbata, perempuan itu membawa Arka ke sofa yang ada di ruangannya. Kemudian, menidurkan Arka dengan melonggarkan dasi dan melepas benih kemejanya paling atas.
“Ini orang kenapa, sih?! Aneh banget!,” gumam gadis itu saat mengelap keringan dingin Arka dengan ssapu tangan yang ada di kantong roknya.
Gadis itu tidak tinggal diam saat melihat Bosnya terbaring dengan badan gemetaran dan banyaknya keringat dingin. Ia mengambil gelas yang ada di ruangan dapur Bosnya dan mengisinya dengan air hangat yang ada di dispenser ruangan itu. Kemudian, mencari remote AC untuk mematikannya.
Dengan lembut, gadis itu memeras sapu tangannya setelah ia mencelupkannya ke gelas dan menempelkannya di kening Arka. Sentuhannya begitu lembuat. Sangat lembut, hingga Arka terbangun dengan sentuhan itu.

Arka terjingkat seketika dan lari dari sofa untuk meninggalkan ruangan setelah melihat gadis itu. Tapi sayangnya, pintunya telah terkunci karena sidik jarinya sendiri yang menyentuh kunci itu. Saat ia hendak ke luar, ia tidak dapat melakukan hal itu karena kegugupan dan ketakutan yang sepenuhnya melandanya.
“Siapa kamu?,” tanya Arka di tengah ketakutannya.
“Perkanalkan, nama saya Felly Anggi Wiraataja. Saya asisten GM Billy. Beliau tidak dapat menemui anda karena sakit. Jadi, saya yang menghandle pekerjaannya untuk hari ini,” ucap Felly dengan menundukkan kepalanya.
Lama Felly menungg sahutan. Dan, benar saja ia berlar ke arah Bosnya dan kembali menepuk kedua pipi bosnya. Tapi, tidak ada reaksi. Lagi-lagi, Arka pingsan karena melihat dan mendengar suara Felly.
“Oh Tuhan, ini cowok kenapa, sih? Heran gue!,” ucap Felly dengan mendekatkan dirinya ke cermin untuk melihat riasan wajahnya. Ia menyangka, Arka beerulang kali pisangsan karena takut kepada wajahnya yang terias layanya dakocan. Tapi ternyata tidak. Riasannya masih utuh seperti semula. Natural
.
Lama, Felly menunggu Bosnya sadar hingga ia lelah mengompres dahi Bosnya yang terus mengalir di sekitar keningnya dengan telapak tangan yang dingin. Bahkan, Felly terus memijat telapak tangan Arka dengan menggenggam sekalius membelainya lembut. Seolah, ia juga merasakan sakit yang dirasakan oleh Bosnya.

“Aku dimana?,” tanya Arka saat ia terbangun dari pingsannya.
“Bapak, ada di ruangan Bapak,” kata Felly ragu.
Seketika Arka mengalihkan pandangannya ke arah kanan. Dan, ia mendapati Felly yang tengah duduk dengan menatapnya tanpa dosa dan sedikit rasa takut terpancar di mata gadis itu dengan begitu jelas.
“Eiiit!!! Bapak, Bapak! Udah! Jangan pingsan lagi! Saya repot ngurusnya!,” kata Felly dengan memegang kedua sisi pipi Arka.
Arka membelalakkan matanya. Ia menyingkirkan tangan Felly dengan kasar Kemudian, meninggalkan ruangannya dengan dentuman keras saat pintunya tertutup tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
“Tch! Oh Tuhan, kenapa di kantor ini orangnya aneh-aneh, sih? Kenapa juga, gue bisa masuk ke hotel ini! Gue kira, Billy udah cukup bawel dan aneh saat ngasih tugas! Tahu-tahunya, ini Bos malah lebih aneh! Hadeeeehhh! Bisa-bisa, gue mati berdiri kalau begini ceritanya!,” gumam Felly dengan keluar dari ruangan Bosnya.

“Felly!,” panggil Riska saat melihat Felly berjalan lemas melewati lantai yang sama dengan Riska.
“Lo darimana, Ris?”
“Baru dari kantor, Pak Bram. Kalau lu?”
“Pak Arka,” jawab Felly sewot.
“Lo kenapa jadi begini?,” tanya Riska.
“Lo tahu nggak, dia itu aneh banget! Masa dia pingsan gara-gara liat gue! Artis aja bisa kepincut sama gue, ini orang malah pingan! Emang dia pikir gue mak lampir apa?”
“Hahahaha. Masa sih? Eh tapi, katanya orang-oarang sih, Pak Arka itu ganteng loh orangnya.”
“Ganteng apanya? Nyebelin yang iya!”
“Hahahaha, lo nggak pulang?”
“Tahu ah! Sumpek gue mikirin kerjaan yang punya atasan kayak begitu semua!”
“Ok-ok. Jangan cemberut gitu, dong! Gimana kalau kita minum wine buat ngeplongin pikiran?,” tanya Riska dengan menaik-turunkan sebelah alisnya.
Felly tersenyum saat melihat tingkat sahabatnya yang lucu. Mereka pun kembali ke meja maasing-masing dan keluar dari kantor beberapa menit kemudian saat jam pulang telah tiba.

“Orang itu!,” gumam Felly saat ia melihat Arka tengah mabuk di kursi bar sendirian.
“Lo kenal sama dia?,” tanya Riska.
“Ya itu yang namanya Pak Arka, Ris!”
“Hah? Seriuss lo?!!!,” tanya Riska kegirangan.
“Iya!,” kata Felly dengan menganggukkan kepalanya.

Tanpa berkata, Riska berlari kecil untuk menghampiri Arka yang tengah mabuk karena sudah banyak memimun v*dkanya. Bahkan, ia sudah tidak kuat lagi untuk menyangga kepalanya.
“Hai, Pak!,” sapa Riska dengan menuangkan minuman ke botol kecil yang masih dipegang oleh Arka.
“Hello!,” balas Arka dengan suara maboknya.
“Pak, boleh kenalan nggak? Saya, bawahannya pak Bram loh!,” ucap Riska dengan mengulurkan tangannya.
Arka menyambutnya dengan lambaian tangan care. Kemudian, ia beranjak dari tempat duduknya yang berjalan ke arah ke luar bar. Felly yang tengah berdiri di pintu, hanya melihat Arka dengan nyengir dan tatapan aneh.

“Lo, loh, loh, Pak! Aduuuhhh! Kenapa nasib gue kayak begini, sih?!,” hardik Felly saat ia harus menyangga tubuh Felly untuk yang ketiga kalinya.
“Oh may god! Gimana nih, Fel?,” tanya Riska bingung.
“Kita anter lah! Lu mau kena hukuman dari Billy sama Bram kalau mereka tahu kita nelantarin ini orang aneh?!,” tanya Felly mengancam.
Felly merogoh saku jas dan celana Arka untuk mencari dompetnya yang berisi KTP. Sehingga, mereka dapat mengantarnya Bosnya ke rumahnya.

“Ini rumah, apa istana kerajaan?,” gumam Riska saat mereka sampai di depan rumah Arka yang memiliki banyak penjaga.
“Lo nggak ikut masuk?!,” tanya Felly.
“Bentar-bentar gue ada telepon!”
Felly membawa Arka keluar dari mobilnya. Memapahnya untuk masuk ke dalam rumahnya sambil menunggu Riska selesai mengangkat teleponnya.
“Felly! Sorry, gue harus pulang! Nyokap gue udah pulang dari Paris. Nggak enak kalau gue nggak ada di rumah!”
“Oh.. gitu… ok deh!,” ucap Felly ringan.

Saat Felly sampai di kamar Arka, ia hendak cepat-cepat ke luar setelah menidurkan Arka di kasur empuknya. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat seseorang sengaja menghentikannya.
“Terimakasih karena Anda mau menyentuh Tuan kami. Jika tidak begitu, mungkin phobianya akan semakin parah.”
“Phobia? Jadi, dia bukan g*y?,” tanya Felly memastikan.
“Sebelumnya, perkenalkan nama saya Relond. Saa kepala pelayan di sini. Tuan Arka seseorang yang normal. Ia hanya saja phobia itu muncul saat Ibunya meninggalkannya dan ayahnya. Di sisi lain, kekasihnya yang benar-benar ia cintai juga meninggalkannya dengan cara yang sama seperti Ibunya. Pergi untuk cinta yang lain. Sekali lagi, terimakasih banyak. Jika memang anda tidak keberatan, bisakah Anda berada di sisi Tuan Arka untuk menjaganya serta menembuhkannya?,” tanya Relond.
Felly hanya terdiam, ia tidak menjawab apapun. Hingga akhirnya, pelayan itu pergi dan Felly kembali ke kamar Arka untuk melihat kondisi laki-laki itu.

“Kau begitu tapan saat tenang seperti ini,” gumam Felly.
“Aku tidak menyangka kalau kau punya phobia. Aku juga baru tahu kenapa alasanmu belum menikah sanpai saat ini. Aku tidak yakin, kalau aku bisa membuatmu jatuh cinta. Tapi setidaknya, aku ingin mencoba menolongmu.”

“Kenapa kau ada di sini?!!!”
“Arka tenang! Gue ada di sini karena lo yang membawa gue ke sini!,” jawab Felly saat Arka membentaknya tiba-tiba.
Aka terdiam, ia mencoba mengingat kejadian sebelum ia sampai di kamarnya yang megah.
“Terimakasih,” gumamnya tanpa menatap mata Felly.

Felly pun mendekatkan dirinya dengan duduk di depannya. Kemudian, menatap laki-laki itu dengan lekat. Secara otomatis, Arka memundurkan dirinya ketakutan melihat Felly. Bahkan, sesekali Felly dilempari bantal atapun guling.
“Gynaephobia, perasaan takut kepada wanita. Sampai kapan kau akan seperti ini, Arka! Sampai kapan?!!!! Apakah kau tidak pernah menyadari kenapa aku meninggalkanmu?,” tanya Felly.
“Apa..”
“Felly!,” panggil Arka terkejut saat Felly melepas kacamatanya dengan anggun.
“Yah! Aku Felly Anggi Wiraatmaja! Tak bisakah kau mengingatmu meski aku menyamar sekalipun? Kenapa kau semakin menyedihkan setelah kepergianku? Tak bisakah kau menjadi laki-laki yang hebat?! Kenapa kau seperti ini?!!!,” bentak Felly dengan sauara yang gemetaran.
“Felly…,” panggil Arka lirih.
Felly memajukan langkahnya dan terus mendesak Arka yang ketakutan hingga langkah Arka terhenti saat terhalang oleh tembok.
“Pergi! Pergi! Pergi, Felly!!!,” bentak Arka dengan ketakutan.
Felly terus memajukan langkahnya, dengan mata yang nanar. Hingga akhirnya, langkahnya sampai tepat di depan Arka yang tengah berdiri gemetaran. Felly memaksa kedua tangannya untuk menyentuh kedua sisi pipi Arka. Dan benar saja, seperti sebelumnya Arka menepis tangan Felly dengan kasar. Bahkan, Arka juga mendorong Felly hingga Felly terjatuh dan kepalanya terbentuk sofa yang ada di daalam kamar Felly.
“Felly!,” panggil Arka kawatir dengan mendekat ke arah Felly yang tengah kesakitan karena benturan itu.
Tapi, Arka tak mampu menyentuhnya. Bahkan, langkahnya terhenti saat Arka merasa bahwa dirinya telah dekat dengan Felly. Arka memanggl pelayannya.Tapi, Relond melarang bawahannya untuk menghampiri. Mengingat, Felly tengah berusaha menolongnya.

“Arka, tolong aku!,” gumam Felly lirih dengan memegang kepalanya yang tengah penuh dengan darah saat tangannya menyentuh kepalanya.
“Felly!,” panggil Arka kawatir.
Arka terus mendekat ke arah Felly untuk berusaha menolong gadis itu. Langkahnya sesesekali mundur karena terkalahkan dengan phobianya. Bahkan, saat Arka hendak ke luar untuk menarik pelayannya agar mau membantu Arka untuk menolong mantan kekasihnya itu. Relond mengunci pintu kamar Arka dari luar.

Felly mencoba untuk berdiri dan berjalan ke arah Arka untuk meraih tangan Arka yang menggapai-gapai Felly layaknya menolong seseorang yang hendak masuk ke dalam jurang. Namun, tidak sampai ke posisi Arka Felly lebih dulu pingsan karena tidak kuat dengan pening di kepalanya karena benturan tadi.

Dengan posisi Arka yang terduduk yang tertindih kepala Felly di tubuhnya, Arka menyingkirkan tubuh Felly dan hendak berlari pergi. Tapi, hatinya terus mendongkrak untuk menolong Felly. Sehingga, Arka terus memberanikan diri untuk menyentuk gadis itu meski hanya di ujung jari.
“Berhentilah di sini! Kumohon, Arka! Aku bukanlah Ibumu! Aku Felly! Waktu yang sselalu ada untukmu dalam semua alasan!,” ucap Felly lirih dengan memeluk Arka yang terus kesakitan karena tekanan dirinya.
Begitu juga dengan Felly yang terus mempertahankan pelukan itu meski berulang kali ia terjatuh karena dorongan Arka yang kuat. Namun, seiring dengan waktu yang lama, berontakan Arka semakin berkurang. Karena, ia mulai terbiasa dengan sentuhan wanita.
Ditambah lagi, dorongan hati Arka yang ingin menolong Felly agar tidak tersakiti karena terus mendorongnya hingga Felly berulang kali terbentur. Separah apapun penyaakit, apabila hati berkata pergi meskipun sulit, tidak ada yang mustahil jika jiwa terus berusaha.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Cerpen You Are My First Potion merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalan

Oleh:
Saat itu matahari sudah mulai memuncak, aku masih setia berada di dalam ruang kecil tempat tidurku, menatap sayu langit biru yang berbatas kaca cendela. Aku masih enggan melangkahkan kakiku

Turtle

Oleh:
Jam pelajaran musik akan segera dimulai dalam 5 menit lagi. Semua orang di kelasku sudah bersiap-siap untuk pindah kelas. Namun dia butuh waktu 10 menit untuk mempersiapkan semua barang-barangnya.

Memori Nami

Oleh:
Seorang gadis tampak sibuk membereskan sebuah gudang yang berantakan. Debu-debu menempel di setiap benda yang dipegangnya. “Aduh, mama, kenapa sih kita mau beresin gudang, kan kita uda mau pindah,

Si Pengganggu

Oleh:
“Halo chubby,” panggil Rio kepada Lia, chubby adalah panggilan Rio untuk Lia, ya memang pipi Lia chubby. “Riooo!!” Teriak Lia sambil mengejar Rio yang sudah lari. Akhirnya Lia berhasil

Kisahku

Oleh:
Akhir tahun 2009 tepatnya bulan desember tanggal 15, aku menjalin cinta dengan seorang wanita yang bernama “Nuvi”. wanita yang aku sayangi ini wanita yang ku kenal baik, perhatian dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *