You Are My Korean Love (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 6 October 2014

Aku kembali mengecek ulang surat tugasku. Beberapa kali ini aku udah mendesah. Masa iya aku harus tugas ke Korea? Itu kan jauh. Dan aku harus bertugas selama tiga tahun. Padahal baru dua tahun aku berkecimpung di perusahaan penerbit buku ini. Kata direktur, aku yang paling bisa melihat pribadi orang secara spesifik. Maksudnya, kalau ada orang yang sedih atau sedang dalam mood apa, aku bisa tahu apa sebabnya dan bisa jadi cerita yang hebat. Masih teringat kata-kata Direktur waktu kasih surat ini.
“Naomi. Saya percayakan ini sama kamu ya?” kata direktur sambil memberikan surat tugas itu.
“Pak, saya gak yakin bisa. Kenapa bukan May, Yose, atau Abby aja, Pak. Bukannya mereka lebih senior dari saya?”
“Saya pernah bilang, penulis yang saya suka yang seperti kamu.”
“Tapi, memang bener harus di Korea, Pak?”
“Lagian kamu bisa ketemu PSY, atau Super Junior, atau pemain drama korea gitu. Nanti kamu bisa nge-dance seperti saya lho, mau lihat?”
Pak Direktur berdiri dari kursinya dan melakukan gerakan aneh. Katanya dance, tapi kenapa mirip tari poco-poco? Dan dengan tanpa berdosa aku langsung ketawa.
“Naomi! Sudah gak ada protes, dua hari lagi kamu berangkat!”
“Pak Direktur? Tapi, Pak…?”
“Prepare mulai sekarang Naomi. Nah, keluar dari ruangan saya.”

Argh, kurebahkan diriku ke kasur. Memang sih, sekarang pada demam Korea. Sebenernya aku juga suka. Bahkan kamarku isinya semua tentang Korea, ya, all about Korean. Kenapa aku bilang gitu, karena dari dulu aku maniak Korea. Bisa juga dibilang fanatic. Bahkan di kamarku dindingnya banyak poster artis-artis Korea. Cat tembok aja warna bendera Korea. Isi kartu memori pun cuma lagu, gambar dan video Korea. Ada Kim Nam Gil, Super Junior, Joo Won, Song Jae Rim, dan masih banyak lagi. Fashion Korea? Jangan tanya kalau ternyata satu lemari penuh isinya baju, make up, dan apapun itu ala Korea. Aku juga punya kamus Korea, terus juga ada kliping kosa kata Korea. Ya, aku memang maniak Korea, tapi untuk pergi ke sana harus bisa bahasa Korea. Sedangkan aku baru sapaan sama perkenalan dulu yang bisa. Mungkin aku harus bisa mengandalkan bahasa inggris.

Jadwal ke Korea tinggal satu hari lagi. Rasanya makin deg-degan aja. Pagi tadi aku dihubungi Pak Direktur. Besok aku berangkat jam sepuluh pagi. Hari ini temen-temenku ngajak aku ke restoran. Mereka mendekor restoran itu mirip pesta. Tentunya pesta perpisahan. Aku sedikit terharu. Yah, mengingat temen-temenku orang yang pelit dan sungguh pelit. Gak tahunya mereka mau juga habiskan uang untuk acara gini. Ehm, temen-temen yang baik. Dan acara ini berlangsung sampai malam. Bahkan aku lupa berapa kode rumahku. Berapa ya?

Karena kelupaan kode rumah, terpaksa aku harus nunggu otakku berinteraksi dengan sangat lama. Sekitar jam setengah sebelas, aku baru inget kode rumahku. Dan dengan terpaksa aku harus mengecek ulang semua barang yang harus aku bawa besok. Karena tugasnya tiga tahun, barangku banyaknya bukan main. Kata Pak Direktur tugasku di sana harus memantau satu orang yang namanya Sang Hwon Min. Tulis apapun tentang dia yang memperlihatkan mood. Maka dari itu aku juga harus cari dia, dekat sama dia, dan karena tugasku yang berat ini Pak direktur kasih aku waktu tiga tahun.

Sang Hwon Min, orang yang susah ditebak, misterius, tapi untung dia bisa bahasa Indonesia. Pak Direktur bilang dia sempet sekolah di Indonesia beberapa tahun. Sang Hwon Min juga salah satu orang yang terkenal di Korea. Dia pengusaha berlian. Namanya pengusaha dicari setahun dua tahun pasti juga susah. Tapi, Pak Direktur bersikeras suruh aku untuk tetap cari dia. Bahkan ciri-ciri yang disebut minim banget.

“Naomi, saya kasih tahu ciri-cirinya ya? Tingginya seratus delapan puluh satu centimeter. Berat badan sekitar enam puluhan. Pokoknya dia kurus dan tinggi. Nanti saya kirim juga fotonya.”
“Memang saya petugas kesehatan, Pak? Harus ngukur berapa berat badannya?” kataku sewot.
“Kalo diperlukan, Naomi. Nah, saya kirim fotonya ya? Pokoknya cari aja yang ada di foto itu.”

Aku masih perhatikan foto yang ada di handphoneku. Cowok yang ganteng, bersih, juga manis. Punya lesung pipi di pipi kanannya. Kalau aku bilang hampir mirip gabungannya Song Jae Rim sama Joo Won-lah. Tapi, pengusaha besar kaya dia gini emangnya gak sibuk? Kemungkinan kecil aja aku bisa ketemu dia. Padahal dia tempat aku cari uang. Harus memata-matai dia selama tiga tahun bukan hal yang mudah. Apalagi juga harus dibuat cerita. Apa iya jadi penulis harus seribet ini? Menurutku aku malah mirip agen SPY, dan sialnya lagi aku gak punya orang yang bisa aku bawa untuk menterjemahkan bahasa Korea. Kemarin aku udah protes sama Pak Direktur. Katanya penerjemah gak perlu. Yang penting deadline selesai. Jahat amat.

“Udahlah Naomi. Saya kan udah kasih uang jaminan kamu hidup. Masa pakai peneejemah segala? Bawa kamus aja. Lagian yang pentiing itu deadlinenya, bukan penerjemah.”

Ah, sudah lupakan. Sekarang aku harus bersiap ke bandara. Teman-teman bilang juga mau datang ke bandara. Yose juga bilang katanya punya temen yang kuliah di sana Mungkin nanti aku bisa kenalan dan sekalian dibantu cari Sang Hwon Min. Jam menunjukkan pukul sembilan. Setelah mengecek ulang barang dan paspor, aku berangkat ke bandara. Rumah aku percayakan ke Abby.

“Na, ini nomernya. Aku juga udah bilang sama dia dan bilang dimana mansion tempat tinggal kamu.”
“Cowok, Yose? Yah, emang gak ada yang cewek?”
“Aku tahunya cuma dia yang kuliah di Korea.”
“Ya udah deh. By the way, kalian gak kasih aku barang buat aku kenang gitu di sana?”
“Yee, maunya. Mau aku kasih chip? Biar aku tahu kamu berbuat apa aja, atau lagi kemana?”
“Ntar ngintip lagi waktu lagi di kamar mandi.”
“Haha, enggak kok nih”
“Wah, kamera! Gila banget kamu kasih aku ini? Makasih Yose.”

Dan berbondong-bondong anak-anak yang lain juga kasih aku barang. Enak juga sih. Soalnya barang yang mereka kasih berguna banget untuk aku ke Korea. Ada kamera dari Yose, deodorant dari Abby, sweeter bulu dari May, dan gak kalah aku senengnya, Pak Direktur mau datang dan kasih aku uang jajan untuk di Korea selama tiga tahun. Ya, tapi mau dikirim tiap bulan. Jam menunjukkan pukul sepuluh kurang seperempat. Aku mulai masuk ke dalem tempat pengecekan barang dan tiket. Sebelumnya kami semua dari penebit buku ini berpelukan layaknya telletubbies. Sedih, seneng, haru juga ada. Gak nyangka juga aku bakal ke Korea dalam waktu yang lama. Aku cuma bisa bilang terima kasih dan minta doa moga lancar dan selamat.

(To be continued)

Cerpen Karangan: Nida Karimah
Facebook: Logkunidaa/Nida Karimah

Hay, ini cerpenku yang kedua. Tapi, yang pertama gak tahu diteritkan apa nggak. Yang cerpen kedua ini ada tiap episode. Jadi, nanti akan terus ada lanjutannya… Makasih ya yang udah mau baca 😀

Salam,
Nida Karimah

Cerpen You Are My Korean Love (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Bertanya dan Sedikti Menjawab

Oleh:
Ketika satu detik waktu terpakai, lalu satu pikiran teruarai. Titik dimana satu harapan itu dipertanyaan, apakah itu akan bertahan yang artinya tetap menjadi sebuat harapan. Ataukah itu akan tercapai

Tak Secerah Bulan

Oleh:
Malam ini bulan bersinar dengan sangat cerah, tapi itu tak secerah hatiku saat ini. Rembulan, itulah namaku. Aku tengah menantikan sang bintang yang bisa menerangi hari-hariku. Sayangnya takdir berkata

Love

Oleh:
Sebuah mobil sport baru saja memasuki pelataran parkir sekolah sawasta favorit di Jakarta. Seorang laki-laki berusia sekitar 16 tahun keluar dari kursi kemudi, lalu berjalan memasuki sekolah megah itu.

Oh Ternyata

Oleh:
Aku bersahabat dengan Dinar semenjak kami duduk di bangku SMP. Aku sudah sangat mengenalnya, hapal dengan tingkah lakunya yang kadang-kadang sedikit berlebihan dan kurang peka terhadap perasaan orang lain.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “You Are My Korean Love (Part 1)”

  1. Alkisa says:

    Keren! NEXT
    aku tunggu lanjutan nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *