You Are My Korean Love (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 9 June 2015

Paginya aku memutuskan untuk jogging. Gak sengaja aku nabrak orang yang juga jogging di depanku. Saking menghayatinya dengarkan musik, dan gak lihat depan. Karena tabrakannya cukup keras, kami berdua jatuh. Beruntung kepalaku gak kena kursi besi di jalan. Aku coba berdiri tapi ternyata kakiku kram. Otomatis badanku langsung jatuh lagi.
“Iam so sorry. I don’t know. I just in Korean and… lho kamu?” ucapku langsung kaget. Ya, ternyata orang yang aku tabrak itu, orang yang kemarin duduk di sebelahku.
“Hey, we meet again. Are you okay?” tanyanya dengan sikap yang masih dingin.
“Ya, nggak begitu baik. Sepertinya kakiku kram. Jadi, susah buat jalan.”
“Ayo aku bantu.” cowok itu bantu aku berdiri dan duduk di kursi besi tadi.
“Terima kasih. Kenalkan aku Olivia Naomi. Just call me Naomi.”
“Hmm… Sang Hwon Min. Just call me Hwon.”
“Sang Hwon Min?” aku gak nyangka!
“Kenapa begitu kaget? Pasti kamu tahu kalau aku itu pengusaha berlian yang dikenal masyarakat Korea? Tapi, tenang saja, aku tidak begitu menyukai pekerjaanku. Itu membuatku terlalu sibuk.”
“Kenapa sekarang bisa jogging? Katanya sibuk.”
“Kebetulan asistenku mau menggantikanku untuk sementara. Mengurus arsip, menandatangani kontrak, mengecek ulang administrasi, dan masih banyak lagi.”
“Sibuk sekali, Hwon.”
Akhirnya kami mulai bercakap-cakap. Ternyata walaupun dingin dia anak yang baik. Selain mau bantu aku tadi, dia suka beramal ke panti sosial. Aku jadi kagum sama dia. Ternyata beda banget sama yang aku pikir. Cara bicara dia juga sopan. Dan kalu sudah kenal, orangnya gak sedingin waktu awal ketemu. Dia bisa jadi orang yang ramah dan suka memotivasi. Kalau gini, aku bisa lebih leluasa ngerjakan tugas. Walau kadang aku kasihan, gak tega juga, tapi Pak Direktur suruh aku kerjakan ini. Aku gak bisa bayangkan gimana dia kalau tahu aku mau manfaatkan dia. Hmm, kalau gitu, misi pertamaku harus bisa dekat sama dia. Dan aku gak boleh suka sama dia.
“Naomi? Apa yang lagi dipikiranmu?” tanya Hwon tiba-tiba.
“Nggak apa, cuma kakiku masih sakit.”
“Mau aku antar pulang?”
“Ah, nggak perlu. Aku bisa jalan sendiri.” ucapku sambil coba berdiri. Tapi, ternyata malah lebih sakit dari yang aku kira.
“Aku sudah bilang kan. Ayo, mansionmu dekat kan?”
“Iya. Cuma beberapa meter dari sini. Jadi aku bisa sendiri. Terima kasih.”
“Jangan bertingkah begitu. Ayo.” dengan gerak cepat dia langsung menggendong aku di punggungnya.
“Hwon? Ke.. kenapa?” mukaku merah. Jantungku berdegup cepat.
“Biasa saja. Aku yang kan berjalan ke mansionmu.”
“Aku rasa ini malah merepotkanmu. Aku nggak kenapa.”
“Sudahlah. Pegang yang erat ya? Aku akan bawa kamu ke mansionmu.”

Dengan berlari dan beban di punggungnya, Hwon cepet sampai ke mansionku. Dari tadi jantungku dag dig dug gak karuan. Masa iya aku suka di pandangan pertama? Selama di jalan aku gak ngomong apa-apa sama Hwon. Aku terlalu malu untuk ngomong. Sampai akhirnya di depan mansion aku baru ngomong.
“Gomawo, Hwon.”
“Cheonmaneyo, Naomi. Besok aku harap kita bisa bertemu lagi ya? Kita bertemu lagi di kursi besi tadi. Aku menunggumu.” Ucapnya dan langsung pergi, sebelum aku jawab.
Aku terpaku di depan gerbang masuk mansion. Hwon sudah agak jauh. Tapi, dia berbalik sebentar dan melempar senyum ke arahku. Aku bales senyuman itu, dan masuk sambil pincag-pincang.

Mansion lagi sepi, mungkin Imo lagi pergi. Aku langsung menuju ke kamarku. Ternyata ada Reno di kursi depan kamarku. Mungkin udah lama nunggu.
“Reno? Kok ke sini? Ada apa?” tanyaku.
“Kamu kan belum tahu daerah Korea. Yose juga bilang suruh ajak kamu puter-puter. Aku bawa pacarku.”
“Oh gak apa-apa. Tapi, kakiku kram jadi agak sakit.”
“Ya nanti dikompres es aja.”
“Oke deh, aku ganti baju dulu.”
Setelah itu kami berdua mampir ke rumah Min-Ah dulu. Min-Ah itu pacarnya Reno. Nah, baru deh keliling Korea.

Udah hampir dua tahun aku di Korea. Dan sekarang aku udah sedikit-sedikit bisa bahasa Korea. Dan belum ada perkembangan yang pasti tentang hubunganku sama Hwon. Cuma dari kenal pertama sampai sekarang, kita selalu dekat. Juga selama ini aku punya perasaan lebih ke dia. Perasaan suka, sayang, tapi juga persahabatan. Waktu seminggu kenal Hwon, dia bilang kalo mau jadi sahabatku. Aku sih seneng aja bisa mempelancar misiku, tapi semakin lama aku makin merasa salah. Kalau Hwon tahu gimana?

Lagu Super Junior mengalun dari handphoneku. Telpon dari Hwon. Tumben jam segini nelpon biasanya jam segini dia ngurus perusahaan.
“Yeoboseyo, Hwon? Kenapa? Kamu gak sibuk jam segini?”
“Em, aku hanya ingin bertemu kamu. Ada waktu malam ini?”
“Hmm, boleh. Mau ketemu dimana?”
“Di taman waktu kita pertama kita bertemu.”
“Oke, Hwon. Bye.”
Kenapa ya nanti malem? Apa ada sesuatu yang bagus?

“Naomi, saranghae.”
“Hwon? Kenapa?”
“Aku tahu kamu kaget Naomi. Tapi, ini yang aku rasakan. So?”
“Hwon, sebenarnya tujuanku ke sini untuk…”
Belum selesai aku bicara ternyata ada Reno yang langsung mengahampiri aku sama Hwon.
“Naomi! Jadi misi kamu udah hampir selesai ya?” teriaknya spontan. Aku kaget.
“Misi apa ya, Ren?” tanyaku sambil mengedipkan mata berharap dia ngerti. Tapi kayaknya dia nggak ngerti deh.
“Misi kamu deket sama Sang Hwon Min karena kamu mau buat novel tentang mood nya dia?”
“Misi? Jadi kamu dekat denganku karena misi?” volume suara Hwon langsung tinggi.
“Awalnya begitu Hwon. Tapi, semakin lama aku kenal kamu, misi itu gak pernah ingin aku inget lagi. Kamu tahu, aku juga sayang kamu. Dari pertama ketemu aku udah kagum sama semua tentang dirimu. Aku juga gak tega kalo aku lagi deket sama kamu, aku malah kepikir sama misi ini. Tapi, aku memang ditugaskan ke sini karena pekerjaanku.”
“Naomi, I love you, but iam so disappointed. Sorry, bye.” Hwon pergi setelah bilang suka ke aku.
“Renooooo! Kenapa kamu bilang gitu pas ada orangnya sih? Nyebelin banget.”
“Sorry, Naomi. Aku kan udah lama tinggal di Korea, jadi udah lupa kode yang kamu kasih gitu.”
“Baru juga kuliah di Korea, belum jadi warga negaranya kan? Terus gimana misiku? Ini jadi tambah susah kan?”
“Iya maaf.”

Tiba-tiba beberapa meter dari sini kedengaran suara teriakan orang. Karena aku gak mudeng jadi aku diem aja. Tapi, Reno bilang itu suara orang minta tolong. Aku baru ngeh dan menuju ke lokasi kejadian. Aku kaget. Ternyata Hwon yang udah dalam keadaan pingsan, mungkin habis dibius. Aku yang marah langsung tendang perut salah satu dari mereka. Mereka juga marah dan balas aku untungnya bisa aku tangkis.
“Naomi, kamu yang dua itu aku buru yang bawa Hwon ya?” kata Reno. Aku mengangguk.
“Ren? Sekalian terjemahkan kata-kata mereka ya? Aku juga mau ngomong Korea juga.”
“Hmm, iya.”
Mereka mengeluarkan makian dalam bahasa Korea. Aku gak ngerti, jadi aku tinggal serang mereka aja. Kebetulan di Indonesia aku sudah sabuk hitam beladiri Taekwondo. Sedangkan Reno ikut Judo di sini.
“Dangsin eul ganda! Igeos eum dangsin I hamkke hal su eobsda! (Pergi kalian! Ini tidak ada hubungannya dengan kalian!)” ucap salah satu penjahat.
“Artinya itu kita disuruh pergi gara-gara gak ada hubungannya sama kita.”
“Biar aku jawab. Geuneun nae chigu! Geuneun ttohan nae sa eob ibnida! Geuleul pul eo! (Dia temanku! Jadi dia juga urusanku!”
“Danji geugeos eul sido. (Coba saja)”
Aku dan Reno langsung menghajar para penjahat itu. Tiga diantaranya udah babak belur semua, tinggal dua orang yang bawa Hwon ke mobilnya. Aku kejar mereka dan berhasil tangkap mereka. Setelah bisa diringkus, mereka dibawa ke kantor polisi. Reno ke kantor polisi, sedangkan aku bawa Hwon ke rumah sakit bawa mobil penjahat tadi.

“Hoebog gigan eissneun hwanja. Geos god kkaeeo. (Pasien dalam masa pemulihan. Sebentar lagi akan siuman.)” kata dokter.
“Uisaleul jusyoseo kamsahamnida. (Terima kasih dokter)” ucapku sembari tersenyum, dokter tersenyum dan keluar dari ruangan.
Aku lihat jam. Sebentar lagi udah malem. Aku gak mungkin tunggu dia sampai malem. Hmm, mungkin aku minta tolong dulu sama Reno.

To Reno:
Ren, aku mau ke mansion. Besok ke rumah sakit lagi. Kamu tolong jaga Hwon dulu ya? Aku juga ada titipan surat buat dia.
Send.

From Reno:
Iya, Naomi. Nanti aku ke sana.

Aku tersenyum dan menulis surat untuk Hwon.

Dear Hwon,
Aku minta maaf untuk semua Hwon. Awalnya memang aku ke Korea karena misi. Tapi, kekagumanku tentang kamu berlanjut. Aku suka sama kamu. Mungkin rasa sukamu udah berkurang ke aku, tapi aku harap kamu percaya kalo ini berasal dari hati kecilku. Get well soon, my heart.
With love,
Olivia Naomi

Pagi ini aku sudah ada di depan kamar Hwon. Reno sms Hwon udah siuman dari tadi malem dan katanya mau ngomong sama aku. Reno sendiri ada kencan sama Min-Ah. Aku masuk ke kamarnya dan lihat dia masih tiduran di kasur. Lihat aku dating dia langsung senyum. Aku balas senyumnya dan naruh apel yang aku beli tadi.
“Eotteohge jinaeseyo? (Bagaimana keadaanmu?)” tanyaku
“deo na-eun dasi. (Sudah baikan.)” jawabnya
Beberapa detik berikutnya kami saling diam. Aku diam karena gak tahu mau ngomong apa sedangkan dia diam ara-gara gak tahu mau ngapain. Sampai akhirnya aku bicara mencairkan suasana.
“Hwon, maybe I am here for meet you and be your love.” ucapku disusul pandangan Hwon.
“Be my love? Are you serious?” tanyanya kaget.
“Iam so serious.”
Hwon tersenyum dan langsung berdiri untuk memelukku. Aku kaget tapi seneng baget. Tapi, beberapa detik kemudian badannya langsung lemes lagi, tiba-tiba dia melemah kaya mau pingsan lagi.
“Hwon? Are you okay?” aku panik. Tapi, Hwon malah senyum lebar.
“Iam just kidding baby.”
“I don’t like that.”
“You are so cute. I love you very much.” Katanya sambil memelukku lagi.
“Hwon, menurutmu apa kita sudah punya hubungan?”
“Kurasa kita akan menjadi pasangan paling romantis sejagad raya.”
“Kamu kan belum bilang suruh jadi kekasihmu.”
“Hmm, oke. Olivia Naomi will you be my last girl?” kata Hwon sambil menunduk.
“Yes, I do.” ucapku sambil tersenyum.
Hwon tersenyum dan tanpa aku sadar, Hwon menempelkan bibirnya ke bibirku. Walaupun aku kaget tapi aku seneng. Cukup lama kita melakukannya. Hwon gandeng tanganku dan pergi dari kamar.
“Mau kemana Hwon?” tanyaku.
“Ke masa depan, sayang.” jawabnya. Aku cuma tersenyum dan ikut dia.
Eh, terus misiku harus gimana?

Selesai

Cerpen Karangan: Nida Karimah
Blog / Facebook: thebigtulisan/ Nida Karimah

Cerpen You Are My Korean Love (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis Bunga Lotus

Oleh:
Lembayung sore yang indah membuat bumi seakan bewarna jingga, suara burung seakan menambah keindahannya. Saat itu aku berumur tujuh tahun di sebuah danau dekat rumahku. aku berdiri tepat di

Aku dan Organisasiku

Oleh:
Childist, konyol, gila dll, mungkin itu sebagian kecil sebutan buat aku yang tengah menginjak status mahasiswa di sebuah Universitas Negeri di Semarang. Meski sebutan itu kurang enak didengar atau

Mempersatukan Cinta Yang Sama

Oleh:
Hari ini aku tidak masuk sekolah karena sakit. Aku duduk di kasur, bersedekap ke jendela seraya memegang handphone tanpa memainkannya. Aku melihat gerimis tipis hujan di balik jendela. Karena

Di Ujung Sms

Oleh:
“Happy Sunday!!!” teriak gue, Talita, gadis berusia 17 tahun yang sering di sapa Alit. Dengan penuh semangat gue menuruni tangga yang menghubungkan kamar gue di lantai dua dengan ruang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “You Are My Korean Love (Part 3)”

  1. Kyolaire says:

    I ??? your stories…… I’d love to read your stories again…..

  2. lulu says:

    Arrggghhhh akhirnya part3nya keluar, dilanjutinnya lama2 Banget nih cerita, aku kan penasaran, heuuhhhh untungnya happy ending, BTW sumpah ni cerita bagus banget, dan aku suka banget, bikin cerita.kategori korea lagi dong, yang lebih seru pastinya, cerpenmu selanjutnya aku tunggu ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *