You Are My Star (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 22 May 2015

Selesai sarapan, aku naik kembali ke kamarku. Sampai di sana, aku segera membuka kiriman itu. Begitu terkejutnya aku ketika melihat benda di dalamnya. Sebuah benda berbentuk bintang berwarna kuning yang di tengahnya tertulis namaku. Shasa Adel Priskyla. Ditulis dengan tinta merah. Benda itu mempunyai kunci di setiap sisinya. Begitu aku buka, alunan musik segera terdengar dari benda itu. Lagu Fur Elise. Karya musisi terkenal, Beethoven. Ternyata itu adalah kotak musik! Indah sekali. Aku bingung, siapa yang mengirimkan benda sebagus ini? Aku segera mengambil handphoneku di atas meja. Entah kenapa aku mengetikkan 1 nama di layar. Bintang. Nomor handphone Bintang segera muncul di layar. Nomor yang aku hafal mati-matian. Nomor yang aku bahkan tidak tahu apakah masih berlaku. Tiba-tiba aku menekan tombol call. Entah apa yang membuatku melakukannya. Seakan tubuhku bekerja sendiri. Terdengar nada sambung dari seberang sana. 1 kali. 2 kali. 3 kali. Aku segera menekan tombol reject. Aku takut dengan apa yang akan aku dengar nanti. Apakah Bintang yang akan mengangkatnya? Atau orang lain? Siapa itu? Keluarga, teman, sahabat, atau… Pacar? Entahlah. Aku tidak tahu jawabannya. Tidak. Aku takut.

Hari ini adalah hari yang spesial. 1 Desember 2012. Hari ulang tahun Bintang. Hari ini aku dan Santy kembali menuliskan harapan dan perasaan kami.

Dear Bintang…
Bintang, kamu di mana sekarang?
Aku rindu kamu
Aku ingin sekali bisa ketemu kamu biarpun hanya semenit
Bintang, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan
Banyak sekali…
Oh ya, happy birthday ya…
Aku selalu sayang kamu

p.s. I Love U

Setelah selesai, Santy lalu mengajakku ke tempat biasa untuk menerbangkan pesawat kertas ini.
“Santy, khusus untuk hari ini kita nerbanginnya di tempat lain aja ya?” Kataku separuh memohon.
“Tempat lain? Di mana?” Tanya santy padaku.
“Pokoknya tempatnya bagus deh. Nanti malam aku jemput kamu, biar kita ke sana sama-sama.”
“Ok deh.”
“Makasih ya, darling. Aku jemput kamu jam 10 ya…”
“Gila! Itu mau nerbangin pesawat kertas atau mau nuyul sih? Hahaha…”
“Enak aja! Emang perginya harus jam segitu, biar pemandangannya lebih bagus. Pokoknya kamu pasti bengong deh liat tempatnya. Oh ya, aku duluan ya. Bentar lagi kelas aku mulai nih. Bye pesek, sampai ketemu jam 10…” Kataku sambil menuju ruangan kuliahku.

Jam 10 teng aku sudah berada di depan rumah Santy. Memang dasarnya tidak pernah tepat waktu, aku masih harus menunggunya ganti baju.
“Nunggunya kelamaan ya? Sory ya darling…” Kata Santy ketika melihat wajahku yang ditekuk.
“Iya, nggak apa-apa. Udah cepet buruan. Kalau kemaleman biasanya tuh tempat jadi pusat pacaran.” Kataku seraya masuk ke dalam mobil.
“Tempat pacaran? Emangnya kamu mau ngajak aku ke mana sih? Jangan bilang mau ngajak aku ke tempat lokalisasi.”
“Ih, sembarangan banget sih! Nggak mungkin lah! Gila aja ke tempat begituan.”
“Hahaha… Habis perginya malem banget sih. Udah gitu katanya jadi pusat pacaran. Apalagi coba kalau bukan tempat lokalisasi?”
“Udah ah, diem! Itu tempat sakral buat aku, jangan dijelek-jelekin.” Kataku sambil memasang wajah cemberut.
“Hahaha… Iya deeeehhh… Emangnya tuh tempat apaan sih? Jadi penasaran deh.”
“Makanya diem, biar cepet nyampek!”

Sekitar setengah jam kemudian, kami sampai di tempat yang dimaksud. Santy sempat protes karena untuk menuju ke tempat itu, kami masih harus mengikuti jalan setapak yang berbatu.
“Kenapa nggak ngasih tahu sih kalau mau lewat jalan beginian? Tahu gini kan aku bisa ganti sepatu.” Omel Santy yang saat itu memang memakai sepatu bertumit tinggi. Memang tidak terlalu tinggi, tapi dengan sepatu seperti itu, sudah mampu membuatnya terpeleset beberapa kali. Aku hanya bisa tersenyum. Memang tadi aku ingin memberitahukannya untuk mengganti sepatu, tapi muncul ide iseng untuk mengerjainya. Lagian siapa suruh dia memakai sepatu itu? Salah sendiri kan?
“Sory deh. Tadi buru-buru sih, jadi nggak inget lagi kalau ternyata ada jalan kayak gini.”
“Auuuwww…! Aku udah nggak tahan lagi. Sepatu sialan!” kata Santy ketika terpeleset untuk yang ke… entah sudah keberapa kalinya. Ia segera membuka sepatunya dan ditenteng begitu saja.

Setelah beberapa menit berjalan kaki, kami akhirnya sampai. The Hill Of Stars. Begitulah aku dan Bintang menyebut tempat ini. Kami memberi nama sesuai dengan keadaannya. Dari sini, kami dapat melihat ribuan bintang dengan sangat jelas. Seakan kami terasa begitu dekat. Saking dekatnya, aku seperti bisa menyentuh bintang-bintang itu dengan tanganku sendiri.
“Welcome to my world…” Kataku pada Santy yang menatap takjub.
“Shasa, ini keren banget. Sumpah!” Katanya tanpa kedip.
“Aku bilang juga apa. Ini tempat sakral buat aku.”
“Kamu pasti tahu tempat ini dari Bintang kan?” Tanya Santy padaku.
“Iya. Aku tahu tempat ini dari dia. Katanya, ini adalah tempat rahasia buat dia. Cuman dia sendiri yang tahu, bahkan orangtuanya pun nggak tahu. Tapi nggak tahu kenapa dia mau nunjukin tempat ini ke aku.”
“Itu artinya kamu tuh spesial buat dia Sha. Kamu punya tempat di hatinya dia.”
“Nggak mungkin deh. Kalau itu emang bener, kenapa sekarang dia pergi? Udah gitu nggak ngasih tahu ke mana dan sampai sekarang nggak pernah ngasih kabar ke aku.” Kataku sedih.
“Soal itu aku nggak tahu. Tapi aku bisa ngerasa gimana perasaannya dia waktu ngasih lihat kamu tempat ini. Mungkin aja dia tuh pergi karena ada alasannya. Alasan yang cuman dia aja yang tahu. Kamu positive thinking aja.”
“Kamu bener. Semuanya pasti ada alasannya. Walaupun aku nggak tahu apa, tapi aku tetep percaya sama dia. Percaya sama Bintang.” Kataku. Senyuman kembali melumuri bibirku.
“Ya udah kalau gitu. Sekarang, saatnya kita buat nerbangin pesawat kertas kita. Seperti biasa, dalam hitungan ketiga.”
“1…”
“2…”
“3…”
Pesawat kertas kami kembali meluncur. Terbang membelah langit malam yang dipenuhi bintang.

“Bintaaaanggg!!! Aku sayang kamuuuu…!!!” Teriakku memecah kesunyian malam.
“Bintaaaaannggg…!!! Kamu bego kalau nggak sayang sama Shasaaaa…!!!” Santy juga ikut berteriak. Kami lalu saling tertawa. Setelah itu kami kembali berteriak. Mengeluarkan semua yang kami rasakan. Membiarkan semuanya terbawa angin malam.

1 Desember 2013.
Satu tahun sudah sejak aku mengunjungi tempat ini. Sejak ulang tahun Bintang satu tahun yang lalu. Malam ini, entah kenapa aku sangat ingin pergi ke tempat ini. Tapi aku pergi sendiri. Tidak bersama Santy. Aku terkejut ketika melihat ada seseorang yang berdiri menatap bintang. Siapa dia? Bukankah hanya aku, Bintang dan Santy yang tahu tempat ini? Di dekat sini memang sering dijadikan pusat pacaran, tapi jaraknya masih jauh dari sini. Tiba-tiba saja orang itu berbalik. Begitu melihat wajahnya, aku berdiri mematung bagaikan melihat hantu. Dia… Bagaimana mungkin?
“Bin… Bintang?” Kataku tanpa menyembunyikan kekagetanku.
“Hai Shasa. Udah lama ya nggak ketemu…” Katanya sambil tersenyum. Aku tidak akan percaya kalau itu adalah Bintang jika tidak melihat senyumannya. Cara tersenyumnya yang hanya menarik sudut bibirnya ke atas sungguh mirip dengan Bintang yang selama ini kukenal. Belum lagi tahi lalatnya yang berada di bawah matanya. Dia benar-benar Bintang!
“Ka… Kamu kenapa bisa ada di sini?”
“Emangnya nggak boleh? Ini kan tempat rahasia kita. Ingat?”
“Kamu selama ini ke mana aja? Kenapa pergi tiba-tiba? Kenapa nggak pernah ngasih kabar?”
Berbagai macam pertanyaan yang selama ini selalu ada di benakku aku keluarkan. Aku tidak peduli dengan tempat rahasia kami, tentang The Hill Of Stars. Aku hanya ingin jawaban.
“Sha, aku kangen kamu…” Hanya itu yang keluar dri bibirnya. Aku terdiam. Masih ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan, tapi semuanya seakan tertahan. Aku tercekat mendengar apa yang baru saja ia ucapkan.
“Kamu kangen aku? Kamu yang pergi ninggalin aku, punya rasa kangen sama aku? Kamu nggak pernah mikir gimana perasaan aku? Kamu nggak pernah mikir aku kangen sama kamu atau nggak? Terus sekarang kamu dateng tiba-tiba dan bilang kalau kamu kangen sama aku?!”
“Sha, aku minta maaf. Aku sayang sama kamu.”
“Kalau gitu kenapa waktu itu kamu pergi? Kenapa kamu ninggalin aku gitu aja? Kamu tuh nyiksa aku tahu nggak? Aku selama ini selalu mikirin kamu, selalu khawatirin kamu. Tapi yang bikin aku sakit, aku nggak tahu apa alasan sampai aku harus nunggu kamu kayak gini. Kita nggak punya hubungan apa-apa, tapi aku selalu mikirin kamu. Itu bikin aku sakit Bintang…” Setelah mengucapkan itu, air mataku jatuh satu persatu. Bergulir membasahi pipiku.
“Aku ke Australia…”
“Kamu tuh keterlaluan ya. Menghilang segini lamanya dan muncul tiba-tiba terus bilang kamu dari Australia. Kamu ngomong gitu seenaknya kayak kamu baru pulang liburan.”
“Aku sakit…”
Aku kembali terdiam mendengar ucapan Bintang.
“Sakit? Sakit apa?”
“Leukimia. Aku harus dirawat dan ikut kemoterapi. Karena itu orang tua aku sepakat buat bawa aku ke Australia. Aku nggak ngasih tahu kamu karena aku nggak mau kamu khawatir. Tapi sekarang aku udah sembuh. Aku udah nggak sakit lagi.”
“Bintang…” Hanya itu yang keluar dari bibirku. Sisanya hanya air mata yang terus jatuh. Bintang merentangkan tangannya dan memelukku. Tidak ada satu kata pun yang keluar. Hanya kebisuan yang melemparkan jangkarnya dan kami terjebak dalam situasi itu.

“Pagi Shasa…” Sapa suara yang sudah sangat familiar di telingaku.
“Pagi…” aku balas menyapa sambil tersenyum.
Sejak kejadian di The Hill Of Stars malam itu, aku dan Bintang sudah kembali seperti dulu. Bahkan menjadi lebih dekat. Aku sudah tidak pernah melamun seperti dulu. Justru sekarang Santy yang sering melamun sendiri. “Kalau aku tahu bakalan kesingkir gara-gara Bintang, mending kamu nggak usah ketemu sekalian sama dia.” Protes Santy beberapa hari lalu karena aku sudah jarang menghabiskan waktu bersamanya. Aku tahu Santy tidak serius mengucapkan itu. Karena ketika aku menceritakan mengenai pertemuanku kembali bersama Bintang, Santylah orang yang paling senang dan paling antusias mendengarnya.

Malam ini Bintang mengajakku pergi ke The Hill Of Stars. Tapi entah kenapa, dia menutup mataku sejak naik mobil. Dengan dituntun oleh Bintang, aku berjalan dengan hati-hati. Berharap agar tidak terjatuh.
“Nah, sekarang kamu boleh buka mata kamu…” Kata Bintang begitu kami sampai.
Aku membuka mataku dengan perlahan. Hal pertama yang aku lihat adalah ribuan bintang yang bertebaran di langit. Seperti lampu natal yang menghias surga.
“Sha, sekarang kamu lihat ke bawah.” Kata Bintang lagi. Aku bingung, untuk apa melihat ke bawah? Bukannya bintang adanya di langit? Tapi aku tetap mengikuti suruhan bintang. Baru saja aku mau berjalan ke pinggir bukit, lampu lampion berwarna-warni terbang ke udara. Banyak sekali dan sangat indah. Ada 1 lampion paling besar yang di bawahnya digantung kertas bertuliskan You Are My Star.
“I… Ini kamu yang nyiapin?” Tanyaku sambil memandang takjub pada lampion-lampion itu.
“Aku nggak nyiapin sendiri sih. Aku dibantu sama Santy juga kok.”
“Bintang, kamu tuh… Aku nggak tahu mau ngomong apa… Ini indah banget.”
“Kamu nggak perlu ngomong apa-apa. Cukup jadi bintang yang selalu ada buat aku.”
“Tanpa kamu minta pun, aku bersedia jadi bintang untuk kamu.”
“Makasih Shasa… I Love U…” Kata Bintang sambil mengecup lembut keningku.
Tanpa sadar air mataku bergulir. Aku terlalu senang sampai tidak bisa berkata apa-apa. Tapi, aku sudah menemukan bintangku. Bintang yang selama ini tersembunyi di balik awan. Bintangku sendiri yang tidak akan pernah pergi lagi. Bintang, I Love U too. U Are My Star. My Only Star.

TAMAT

Cerpen Karangan: Ria Ratoe Oedjoe
Facebook: Ria Ratoe Oedjoe

Cerpen You Are My Star (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jawaban Takdir

Oleh:
Tch! Aku kembali berdecak melihat lokerku Sebuah surat dan mawar putih! Isi surat yang selalu sama hanya ucapan selamat pagi dan kata-kata penyemangat! Ah! Aku mengacak rambutku frustasi! Bergumam

Cinta di Langit Malam

Oleh:
Sinar matahari yang begitu terik menembus kaca jendela kamar citra, gadis cantik yang cukup populer di SMA 45 pelita jaya bandung. Citra segera bangun dan lekas mandi, usai itu

Not Goodbye (Part 1)

Oleh:
Brukkkkkk… Suara hantaman keras berasal dari atap rumah Dera. Semua orang buru-buru keluar dan melihat apa yang terjadi. “Ma itu suara apa sih? Ganggu tidur Dera ajah!” ucapnya sembari

Paenitet Quella

Oleh:
“Kau tak pernah jujur ! Kenapa kau selalu berbohong ! Aku tahu ini sulit, tapi jujurlah kali ini saja. “-Quella Tentang Quella Beberapa minggu ini Andrian tak memberi kabar.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *