You Are Not My Ex Boyfriend

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 7 June 2016

“I knew i love you before i met you..”
“I think i dreamedyou before into life..”
“I knew I love you before I met you
“I have been waiting all my life”
Dawai gitar yang mengiringi melodi lagu itu sungguh membuatku larut dalam suasana. Aku tak asing lagi dengan lagu ini, ya lagu ini kerap kuputar saat aku tengah sedih ataupun merindukan seseorang. Entah mengapa aku seketika berkhayal akan seorang pangeran yang menghampiriku dan mengatakan cinta padaku. Aku memejamkan mata seolah merasakan khayalanku itu benar-benar terjadi.

“Woww.. Miko memang keren. Suaranya bikin aku merinding,” ucap Nina sahabatku sejak SMP hingga saat ini dan menjadi teman curhatku yang setia. Nina membangunkanku dari khayalanku lalu beralihmenatap Miko, lelaki yang berdiri di depan kelas kami sambil memainkan gitarnya. Aku tak bisa berbohong untuk penampilan Miko. Dia memang sangat memukau kali ini,bahkan untuk lagu yan dia bawakan sangat indah. Kudengar tepuk tangan teman-temanku setelah lagu yang dibawakan Miko berakhir. Aku pun tanpa sadar menyumbangkan tepuk tanganku untuk dia.

Miko adalah murid baru di kelasku. Dia pindah dari Jakarta dua minggu yang lalu. Setiap murid di kelas kami begitu memujinya. Mereka tergila-gila dengan tampang Miko yang memang boleh dikatakan sangat memukau siapapun yang melihatnya. Miko juga termasuk murid yang cerdas di kelasku. Walaupun masih terhitung hari ia duduk di kelas kami, tapi beberapa guru puas dengan hasil belajarnya. Ia termasuk salah satu murid cowok dengan otak cerdasnya. Kehadiran Miko mungkin untuk murid-murid lainnya serasa menjadi berwarna tiap harinya di sekolahku. Tapi tidak untukku. Entah mengapa walaupun dia menjadi bintang sekolah dan populer di kelasku, aku sama sekali tidak tertarik dengannya. Sampai saat ini, aku tak pernah ngobrol atau saling menyapa dengannya.

Tak ada percakapan antara aku dan dirinya. Dan teman-teman di kelasku seolah paham aku dari awal tak suka dengannya. Dan kelasku tiap harinya ramai tentangnya. Ada saja hal yang menjadi pembicaraan baru tentang Miko. Bahkan Mitha, cewek cantik yang terkenal dengan pemampilan modisnya hampir tiap hari datang ke kelasku apalagi saat bel istirahat tiba.

“Eh, kamu aneh Ra, kenapa sih kamu gak pernah mau ngobrol sama si Miko?”, tanya Nina padaku saat kami menikmati waktu istirahat di kantin Mbak Jeni.
“Memangnya kenapa? Gak ada hal menarik yang mau aku bicarakan dengannya.” Ucapku datar.
“Kemarin kan kita satu kelompok seni budaya. Selama kerja kelompok, kalian gak pernah ngomong. Kamu kayak cuek gitu sama Miko. Aku jadi penasaran.” Sambung Nina menyerbuku dengan rasa ingin tahunya.
“Mungkin karena ada sesuatu hal yang membuatku bersikap seperti itu sama Miko.”
“Apa, Mira? Kamu cerita aja sama aku.” Kulihat mata Nina seolah memelas memintaku untuk memberitahu alasanku menghindar dari Miko.
“Yaa, dia sepertinya tipe orang sombong. Aku gak suka.” Ujarku masih menyembunyikan alasan sebenarnya.
“Dia memang orangnya cuek tapi gak sombong kok. Dia itu baik banget.” Nina kembali memuji Miko dengan gayanya yang berlebihan.

Bel pun berbunyi. Semua murid memasuki ruang kelas masing-masing termasuk aku dan Nina. Jam pelajaran matematika ternyata kosong. Guru matematikaku berhalangan hadir hari ini. Seperti biasanya, suasana kelas kosong tanpa guru menjadi sesuatu hal yang menyenangkan bagi teman-temanku. Semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Jarang sekali di antara kami yang dengan ikhlas membuka buku untuk belajar. Sudah pasti aku yang tak suka dengan kebisingan memilih perpustakaan untuk menghabiskan jam pelajaran yang kosong.
“Boleh aku duduk di sini?”
Aku menoleh ke arah suara itu. Dan… itu adalah Miko. Aku tak menjawab hanya memasang wajah cemberutku padanya.
“Kamu suka baca juga ya?” tanya Miko lagi seolah tak perduli dengan sikapku yang cuek kepadanya.
“Kamu suka buku apa?” lanjut Miko.
“Kamu bisa diam gak sih? Kamu udah mengganggu konsentrasi aku” timpalku sambil menunjukkan buku yangs sedang kubaca.
“Ku kira kamu gak bisa ngomong sama aku. Ternyata kamu bisa ngomong juga.”
“Maksud kamu aku bisu?” ujarku dengan gaya sedikit kasar.
“Mira.. Kamu kenapa gak pernah mau ngobrol sama aku. Kalau aku senyum sama kamu, tatapanmu sinis selalu sama aku.” Ini adalah pertama kalinya Miko memanggil namaku. Perasaanku seolah aneh seketika dia menyebut namaku.
“Aku gak suka liat kamu.” Aku langsung beranjak dari tempat dudukku dan bergegas meninggalkannya.
Tapi aku masih berada di sekitar rak buku perpus. Sambil mencari-cari buku aku tertarik untuk mengambil satu buku yang letaknya di rak atas. Tanpa sadar, Brukkk….
Sebaian buku yang paling atas terjatuh ke arahku. Namun aku tak merasakan buku-buku itu menimpa tubuhku.
“Are you okay?” ujar Miko dan saat itu posisi Miko tengah merangkulku untuk menghindari buku-buku yang jatuh tadi.
“Makasih ya.” Ujarku segera menjauh dari posisi kami yang begitu dekat.
“Oiya, aku mau ngasih kamu ini.” Hari ini kan hari valentine. Sebagai teman aku mau memberikan coklat juga buat kamu. Dan ini ada surat juga dari aku, tolong dibaca ya.
Aku terdiam. Dan kulihat dia meninggalkan perpus. Aku hanya bisa memandangi pemberian Miko. Sedikit penasaran kubuka suratnya. Dan aku tak tahu mungkin ini juga alasan aku untuk berubah pikiran terhadapnya.

“Aku tak tahu kalau sekolah ini mempertemukanku dengan cewek sepertimu. Kamu adalah satu-satunya cewek yang begitu membenciku di sekolah ini dan di kelasku sendiri. Tapi, itu sama sekali tak membencimu. Kita hampir tak pernah saling bertegur sapa, Tatapan sinismu kadang membuatku heran sendiri “Kesalahan apa yang sudah kulakukan kepadamu?. Kamu bahkan selalu menjauh dariku tiap kali aku ingin bicara padamu. Tapi meskipun begitu, aku berharap pintu hatimu kan terbuka untukku saat membaca surat ini.Oiya, Happy Valentine’s Day. Aku harap kamu suka coklat ini. Ini sebagai tanda kalau kamu adalah salah satu orang spesial untukku dan sebagi tanda maaf kalau aku pernah membuatmu kesal. Tapi asal kamu tahu, mungkin ini sedikit aneh tapi
Aku Suka Kamu Mira. Aku suka kamu tanpa alasan apapun. Aku mencintaimu apa adanya. Love you. I love you Mira. Apa kamu mau menjadi pacarku?”

Aku terdiam membaca suratnya. Aku tahu sikapku sedikit keterlaluan. Sejujurnya Miko anak yang baik. Dia juga sering membantuku. Saat aku kehilangan buku catatan biologiku di kelas dan membantu menemukannya. Ketika aku pingsan karena bola basket yang melayang di kepalaku, Miko yang pertama kali menolongku. Saat ban sepedaku bocor, dia bermurah hati mengantarku pulang dengan mobilnya saat hujan deras. MEskipun selama di perjalanan aku tak sedikitpun berbicara padanya. Wajahku hanya bisa ketus. Dan saat aku lupa mengerjakan pr, dia meminta guru untuk menunda mengumpulkannya. Saat itu, aku berpikir aku harus minta maaf pada Miko dan mengatakan yang sebenarnya. Hinga saat bel sekolah tiba…

“Miko… Makasih ya untuk coklatnya.” ujarku keesokan harinya. Kali ini aku benar-benar melemparkan senyumku padanya.
“Sama-sama Mir..”
“Sebenarnya, alasan aku menjauh dari kamu, karena kamu…” ujarku terputus-putus
“Karena kamu mirip dengan mantan pacarku dulu. Kamu benar-benar mirip dengannya. Kamu pintar basket, pintar musik, kesayangan guru, pokoknya kamu mirip dengannya. Wajah kamu juga mirip dengannya. Kebiasaanmu hampir semua miirp dengannya. Aku mencintai dia. Sangat mencintainya. Kebaikannya yang kukira tulus ternyata tidak sama sekali. Aku tertipu oleh kebaikannya, oleh pesonanya.”, ujarku panjang lebar menceritakan isi hatiku tentnag mantanku dulu.

“Memangnya kenapa dengan mantan kamu? Kenapa kalau aku mirip dengannya? Aku tetap Miko. Bukan mantan pacar kamu.”

“Aku benci sama dia. Dia sudah mengkhianati aku. Kami putus empat bulan yang lalu. Dia berjanji akan selalu bersamaku. Tapi dia akhirnya memilih sekolah di luar negeri dan dia sudah punya cewek baru lagi. Keluarganya juga sudah membuat keluarga aku bangkrut dan sudah membuat papaku hampir frustasi. Dan kamu tahu, alasan dia mendekatiku adalah karena aku adalah atasan ayahnya. Meskipun akudan keluargaku sudah melupakan dia dan keluarganya, tapisaat aku melihat kamu, aku seolah kembali membayangkannya.”
“I am not your Ex boyfriend, Mira… Aku adalah Miko. Kamu harus melihat aku sebagai Miko. Penampilanku mungkin sama dengan dia, tapi akugak akan tega berbuat seperti itu sama kamu. Coz, I am Miko. Dan hanya kaan satu gadis di hati aku yaitu kamu, Mira.” Ujar Miko sambil menatap mataku. Dan kuliat sinar kehangatan terpancar dari tatapannya.

“Iya, maaf Miko.. Aku minta maaf karena selalu cuek sama kamu dan bertingkah kasar. Aku mau berterima kasih karena kamu selalu membantuku.” sambungku.
“Sudahlah lupakan saja. Ahh.. sekarang aku lega. Mulai sekarang kamu gak boleh menghindar dari aku lagi. Hmm…. kamu sudah membaca suratku itu?” ujar Miko smbil tertunduk malu.

Aku mengangguk malu “Iya aku sudah membaca suratmu. Tapi, aku masih belum bisa menjawab itu sekarang. Sekarang aku sadar kalau kamu bukan mantanku. You are not My Ex, Miko. Aku dan Miko tertawa. Hari itu mungkin sangat berarti untukku. Aku belajar untuk tidak larut dalam masa laluku yang buruk bersama mantan pacarku. Sesuatu yang indah menanti ku di depan.
Kami yang dulunya serasa seperti saling bermusuhan, kini menjadi lebih akrab. Tanpa sadar aku mulai menyukainya. Seperti apa yang ditulis Miko dalam suratnya, akupun mulai bisa membalas kata-kata itu. Dan setiap harinya di sekolah menjadi lebih berwarna…
“Yaps… I love you too Miko.”

Kenangan akan sosok seseorang di masa lalu bukan menjadi penghalang untuk membuka hati pada orang baru yang mungkin lebih tulus mencintai kita. Penampilan yang sama ataupun rupa yang sama tidak menjamin hati seseorang akan sama pada sosok di masa lalu. Cintailah dia apa adanya dengan apa yang ada pada dirinya dan jangan membandingkannya dnegan orang dulu yang pernah membuatmu menangis.

Cerpen Karangan: Atria Utami
Blog / Facebook: coratcoretria.blogspot.com / Atria UtaMi

Cerpen You Are Not My Ex Boyfriend merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


MImpi dan Pilihan

Oleh:
Ada temanku yang bertanya, “jika kamu mengalami kejadian di mana kamu memegang tangan dua orang lelaki yang akan tenggelan ke danau. Yang satu orang yang kamu cintai tapi dia

Belahan

Oleh:
“Fel!,” panggil Billy. Felly tidak menggubrisnya. Ia tetap berada di pikirannya. Matanya tetap terfokus pada partitur muisk yang ada di depannya. Waktu yang begitu panjang untuknya. Sebuah hasil dimana

Love In The Side Camera

Oleh:
“Dengan semudah itu kau bicara barusan?!,” tanya Felly dengan menyipitkan matanya yang sinis. “Bagimana lagi, Felly. Aku mencintaimu. Apakah salah jika aku melamar gadis yang aku cintai?” “Tapi Arka,

Genggam Tanganku

Oleh:
“Jika suatu saat nanti aku terjatuh, aku berharap kamu bisa mengangkatku lebih tinggi.” Petang yang indah, warna langit yang jingga bersama awan-awan yang seakan turun melengkuk memutari bumi. Di

Cinta

Oleh:
Banyak hal yang telah ku lewati… dan sekarang ku tiba di saat ini. Tapi ku sadari aku masih belum banyak mengerti tentang hidup ini. Banyak tanda tanya di hatiku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *