You Are The Best Friend

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 22 July 2013

Aku tidak tau apa yang terjadi dengan Chika akhir-akhir ini. Dia seperti menjauhiku. Sepertinya aku telah melakukan suatu kesalahan padanya. Tapi kenapa?
Padahal dulu aku dan Chika adalah sahabat dekat. Tapi kenapa sekarang Chika tiba-tiba memusuhiku? Itu aneh sekali. Selama ini hubungan pertemanan kami baik-baik saja. Kenapa sekarang hubungan itu putus?
Itulah kata-kata hatiku yang selama ini menjadi pikiran di otakku. Pertanyaan-pertanyaan itu membuatku bingung dan penasaran. Sampai-sampai ketika aku sarapan pagi tadi, aku hanya melamun. Makanan itu hanya ku aduk-aduk saja. Dari kemarin aku terus memikirkan dia. Maklum saja, kami berteman sudah lebih dari 10 tahun. Aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri. Chika pun begitu. Bahkan kami tidak pernah marah pada satu sama lain. Baru kali ini saja. Aku juga merasa ada suatu perubahan di diri Chika. Aku tidak tau kenapa, hanya saja sikapnya sedikit berubah.

Di sekolah aku bagaikan seekor siput yang sedang sedih. Jalanku pelan dan loyo sekali seperti kehilangan auranya. Baginilah aku jikalau sedang memikirkan sesuatu. Aku lihat di dalam kelas, Chika sedang mengobrol dengan geng barunya. Dia melihatku dengan tatapan sinis sedangkan aku hanya diam dan berjalan dengan santai seolah-olah tidak ada yang melihatku. Hah… ternyata begini ya rasanya dicampakkan oleh teman sendiri. Aku baru tau. Rasanya sakit sekali. Bahkan lebih sakit daripada diputusin seorang cowok.
Tiba-tiba Ilham masuk ke kelas dan menghampiriku yang sendirian.
“Woi, sendirian aja lo! Mana si Chika? Tumben, biasanya dimana ada dia pasti ada lo!” kata Ilham yang duduk tepat di sampingku.
“Itu dia, sama geng barunya!” jawabku sambil menunjuk ke arah Chika yang sedang bersama gengnya.
“Hah, Chika bikin geng baru? Enggak salah tuh!” kata Ilham yang tidak percaya.
“Jangankan lo ham, gue sendiri pun juga enggak percaya!” jawabku dengan pasrah.
Di kejauhan aku melihat Chika yang sedang memandangiku bersama Ilham. Tatapan matanya sangat tajam.
“Memangnya ada masalah apa sih, antara lo sama Chika. Biasanya kan enggak pernah kayak gitu?” tanya Ilham lagi.
“Iya mungkin dia lagi marah kali sama gue!” jawabku.
“Marah kenapa?” tanya Ilham.
“Enggak tau. Gue sendiri juga bingung!” kataku.
Tiba-tiba Chika beserta gengnya lewat didepanku dan Ilham. Lagi-lagi Chika melihatku dengan sinis. Kemudian dengan kesal, Chika pun pergi keluar bersama gengnya.
“Huh… lo liat kan tadi waktu Chika lewat di depan gue. Dia aja ngeliatin gue kayak gitu!” kataku dengan lesu.
“Iya gue liat. Yang sabar ya, Nin. Gue yakin Chika begitu pasti ada sebabnya!” kata Ilham sambil berusaha menyemangatiku.
“Iya gue juga tau itu. Tapi kenapa dia bisa marah sama gue. Padahal gue udah berusaha sabar, tapi tetap aja enggak bisa!” bentakku dengan marah.
Aku benar-benar tidak sadar kalau barusan aku telah membentak Ilham. Sepertinya emosiku mulai naik. Rasanya pelampiasan kekesalanku aku tumpahkan pada Ilham. Kulihat Ilham sampai kaget melihatku marah.
“Jangan marah sama gue. Tanyanya tuh ke Chika. Lagipula kan lo yang berantem sama dia!” jawab Ilham dengan kesal.
“Eh… maaf, ham. Gue lagi kesel. Jadi enggak ngeliat sekekeliling gue. Tapi, menurut lo Chika itu kenapa? Kok bisa sebegitu kesalnya sama gue?” tanyaku lagi dengan penasaran.
“Mungkin ada salah satu tingkah lo kali yang dia enggak suka!” jawab Ilham.
Apa benar yang dikatakan Ilham? Selama ini Chika tidak pernah kesal padaku. Apa mungkin dia enggak suka dengan tingkahku yang selalu mendekati Ilham? Tapi kalau benar Chika menyukainya, kenapa dia tidak bilang kepadaku? Padahal aku kan sahabatnya!
“Terus sekarang gue harus gimana?” tanyaku lagi.
Ingin sekali aku menyelesaikan persoalan ini. Tidak enak rasanya jika kita sedang bertengkar dengan teman. Apalagi kalau dia adalah teman baik kita. Rasanya seperti kehilangan seribu teman.
“Gue punya saran buat lo. Lebih baik lo tanya baik-baik ke Chika, kenapa dia bisa marah sama lo, apa sebabnya. Kalau lo udah tanya begitu sama Chika, gue yakin rasa penasaran lo pasti hilang!” jawab Ilham.
“Tapi, kalau Chika enggak mau dengerin gue gimana?” tanyaku lagi.
“Gue yakin dia pasti mau dengerin lo. Sekesal-kesalnya dia sama lo, tapi dia enggak bisa lama-lama ngejauhin lo. Karena lo itu sahabat deketnya. Percaya deh!” jawab Ilham.
Yang dikatakan Ilham itu benar. Aku kan sahabatnya. Seorang sahabat itu pasti tau kebaikan dan keburukan dari temannya. Lagipula Chika seperti itu karena sedang marah padaku. Bagaimana pun juga Chika itu adalah temanku dan aku tidak mau sampai kehilangan salah satu sahabat baikku!
“Oke, gue coba saran dari lo. Thanks ya, ham!” kataku.
“Yoi, you’re welcome. Eh… tunggu dulu, lo nanti mau ketemu sama Chika kan?” tanya Ilham.
“Ya pastilah. Memang kenapa?” tanyaku.
Tiba-tiba Ilham menyarahkan sepucuk surat kecil padaku. Surat itu bewarna Pink disertai nama Chika dan juga ada tanda love di belakangnya. Sepertinya itu surat cinta yang ditunjukkan untuk Chika.
“Tolong ya nanti kasih surat ini ke Chika. Bilang dari gue!” kata Ilham sambi meyerahkan surat itu kepadaku.
“Hei… ini surat cinta kan?” tanyaku dengan keras.
Karena suaraku yang terlalu keras, seluruh anak-anak di kelas langsung memandangiku bersama Ilham. Tiba-tiba wajah Ilham terlihat panik dan langsung menutup mulutku dengan cepat.
“Ssshh….!!! Jangan keras-keras bicaranya. Ini rahasia, jangan bilang siapa-siapa. Oke!” bisik Ilham padaku.
“Iya gue enggak bakalan bilang siapa-siapa. Ih… enggak gentel man banget lo! Hari gini mau nembak masih pake surat. Ya ampun, cape deh!” ejekku pada Ilham.
“Biarin. Emang kenapa? Di kamus gue, kalau mau nembak cewek harus pake surat dulu. Baru nanti gue tembak langsung ke Chika!” kata Ilham dengan sombong.
“Yang ada kalau mau nembak cewek, ya harus diutarain langsung ke ceweknya. Dasar orang aneh!” ejekku lagi sambil tertawa.
“He…he…he, tapi bener ya kasih langsung ke Chika. Jangan lupa!” kata Ilham lagi.
“Iya nanti, kalo gue inget!” kataku bercanda.
“Eh, serius!” ucap Ilham lagi yang kesal.
“Iya-iya. Nanti gue kasih ke Chika. Sekali lagi thanks ya, ham. Selain Chika, cuma lo satu-satu temen curhat gue!” kataku sambil tersenyum.
“Iya sama-sama. Gue doain deh lo sama Chika bisa baikkan lagi!” kata Chika yang juga tersenyum.
“Amin.”
Tiba-tiba bel masuk pun berbunyi. Seluruh anak-anak masuk ke kelasnya masing-masing, termasuk aku. Di dalam hati aku merasa gelisah. Aku terus memikirkan kata-kata yang dikatakan Ilham tadi. Apa nanti Chika mau dengar semua perkataanku?

Di kelas aku melihat Chika sedang mengobrol dan bercanda dengan gengnya. Dari dalam hati, aku merasa iri. Coba saja saat ini aku tidak bertengkar dengannya, pasti aku juga bisa mengbrol dan bercanda dengannya saat ini.
Akhirnya setelah 2 mata pelajaran usai, bel pulang berbunyi. Dengan cepat aku berjalan ke rumah Chika. Aku putuskan untuk bertemu dia di rumahnya. Setelah sampai, aku langsung dipersilahkan duduk oleh Ibu Chika.
“Eh… nak Nindy. Tumben main kesini, memangnya ada perlu apa?” tanya Ibu Chika.
“Enggak bu, saya cuma ingin bertemu Chika. Chikanya sudah pulang belum, bu?” tanyaku.
“Oh… kebetulan belum pulang. Tadi pagi Chika bilang setelah pulang, dia ingin mengerjakan tugas kelompok sama temennya. Kalau nak Nindy tidak keberatan, nak Nindy mau tunggu disini sampai Chika pulang?” tanya Ibu Chika lagi.
“Iya bu. Saya tunggu di kamarnya ya bu!” kataku.
“Baiklah. Tapi ibu tidak bisa menemani nak Nindy, Ibu ada urusan yang belum selesai di dapur. Maaf ya Nindy!” kata Ibu Chika sembari melangkah meninggalkanku.
“Iya enggak apa-apa kok, bu!” jawabku.

Aku pun menungggu Chika di kamarnya. Sudah hampir 1 minggu aku tidak main ke rumahnya. Setelah kami bertengkar, aku tidak main ke kamarnya lagi. Biasanya setelah kami berdua pulang sekolah, Chika langsung mengajakku untuk main ke kamarnya. Kulihat kamarnya masih belum berubah, masih seperti dulu. Tapi bingkai foto aku dan Chika yang kuberi pada Chika waktu ulang tahunnya kemarin tidak dipajang lagi olehnya. Biasanya ada di maja belajarnya. Sekarang sudah tidak ada lagi. Apa mungkin sudah dibuang olehnya? Berarti dia benar-benar marah padaku.

1 jam pun berlalu. Tapi, Chika belum juga pulang. Kutunggu lagi 30 menit, Chika pun akhirnya pulang. Ketika dia melihatku ada di kamarnya, wajahnya langsung kesal.
“Mau ngapain lo ada di kamar gue, dy?” tanyanya dengan marah.
“Gue kesini mau tanya sama lo, ka!” jawabku.
“Tanya apaan? Kalau enggak penting, pulang aja deh! Gue lagi cape baru pulang sekolah!” kata Chika dengan ketus.
“Ka, lo kenapa sih akhir-akhir ini selalu ngejauhin gue? Sebenernya, gue salah apa sih sama lo?” tanyaku.
“Enggak tau. Pikir aja sendiri!” jawabnya dengan cuek.
“Gue tau lo marah sama gue. Tapi kenapa? Apa sebabnya? Kalau ada masalah cerita ke gue. Gue ini kan masih sahabat lo!” kataku.
Kulihat Chika terdiam. Dia tidak menjawab semua perkataanku.
“Chika, ayo dong jawab. Apa mungkin lo marah sama gue karena lo cemburu gue deket sama Ilham begitu? Ayolah ka, gue sama Ilham hanya temen biasa. Enggak lebih dari itu!” kataku sambil berusaha meyakinkan Chika.
Chika pun kembali terdiam. Ekspresi wajahnya kini mulai berubah.
“Ya udah kalo lo enggak mau jawab. Gue enggak maksa kok. Lagipula sekarang udah sore, gue harus pulang sekarang. Dan ini, surat dari Ilham buat lo! Tenang aja gue enggak baca kok!” ucapku sambil menyerahkan surat itu ke Chika. Chika pun meraihnya dan mulai membacanya. Perlahan aku pun keluar dari kamarnya. Ternyata Chika masih marah padaku. Apakah ini tandanya aku harus kehilangan teman?
Tiba-tiba dari dalam kamar, Chika berteriak dan memanggilku.
“Nindy… tunggu!” teriaknya.
Tanpa kusadari Chika pun memelukku dan menangis.
“Nindy, maafin gue ya. Gue udah baca surat dari Ilham dan ternyata bener. Lo sama Ilham cuma temen biasa. Gue udah salah paham sama lo, Nin. Maafin gue ya!” ucap Chika sambil menangis.
“Lo enggak perlu minta maaf. Gue udah maafin lo dari dulu. Gue juga minta maaf sama lo, soalnya gue enggak sadar kalo selama ini lo suka sama Ilham. Gue malah deketin dia, sampai enggak tau perasaan lo yang suka sama dia. Udah jangan nangis, kalo lo nangis terus, gue juga ikutan sedih tau!” kataku sambil manghapus air matanya.
“Iya. Sebenarnya gue cemburu lo selalu deket sama Ilham. Gue juga mau minta maaf sama lo soal gue suka sama Ilham. Gue enggak bilang sama lo. Karena gue udah berfikir lo juga suka sama Ilham dan enggak ngertiin perasaan orang lain!” kata Chika yang matanya sembab.
“Enggak, gue enggak mungkin kayak begitu. Lagipula Ilham sering tanya semua tentang lo ke gue. Malahan katanya dia mau nembak lo lagi!” kataku.
“Hah… beneran?” tanya Chika yang kaget.
“Beneran. Ngapain sih gue bohong. Cie… yang dapet surat cinta dari Ilham!” kataku sambil tersenyum.
“Ih… apaan sih lo, nin!” kata Chika yang sebal.
“Memang apa sih isi suratnya? Maaf nih, kepo. He…he!” tanyaku sambil bercanda.
“Emang mau tau banget ya? Ada deh, ini rahasia. Oya Nin, gue mau tanya sama lo. Kok lo masih mau temenan sama gue? Padahal kan gue udah ngejauhin lo, salah paham sama lo, tapi kenapa lo masih mau temenan sama gue?” tanya Chika.
“Because you are the best friend!” ucapku sambil tersenyum kembali.
“Ah… Nindy, gue jadi ngerasa bersalah sama lo. Sekali lagi gue minta maaf ya!” ucap Chika yang kembali menangis.
“Sudahlah, yang lalu biarin aja berlalu. Dan sekarang ini jadi pelajaran buat kita kalau sesama sahabat enggak boleh saling bertengkar cuma karena salah paham doang. Karena itu bisa merusak persahabatan yang udah kita jalin. Bener gak, ka?” tanyaku pada Chika.
“Bener banget tuh dan kayaknya bingkai foto ini bisa dipajang lagi deh!” ucap Chika sambil mengambil bingkai foto itu dari dalam laci lemari dan menaruh kembali ke maja belajarnya.
“Kayaknya sih begitu!” jawabku sambil tersenyum.

* Selasai *

Cerpen Karangan: Hernita Sari Pratiwi
Facebook: http://www.facebook.com/hernitasarip

Nama : Hernita Sari Pratiwi
Facebook : Hernita Sari Pratiwi
Twitter : @hernitanita
Semoga bermanfaat dan enak di baca ya 🙂
maaf kalo kurang gereget, soalnya masih tahap belajar.
Tolong kritik dan sarannya ya,
makasih ^_^

Cerpen You Are The Best Friend merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Stay In Here

Oleh:
Kedua matanya telah terbuka. Bola matanya yang bulat sempurna dengan warna cokelat yang pekat, menunjukkan betapa ia bukanlah turunan warga Indonesia. Tapi namanya, karakternya, dan pendiriannya, berhasil membawa namanya

Birunya Cinta (Part 1)

Oleh:
Les bahasa inggris yang kuikuti baru saja usai, dengan malas kulangkahkan kakiku ke luar ruangan, sekilas aku melirik jam di tanganku sudah pukul tujuh lewat, masih banyak waktu untuk

Ujian Itu Telah

Oleh:
Di suatu SMAN 56 Medan, terdapat dua orang sahabat yang gokil dan kompak. Vina, orangnya supel, kalem tapi perhatian. sedangkan vira, orang yang jail, gokil tapi agak tomboy. Mereka

Jantung Imitasi

Oleh:
Violeta Aurora, adalah gadis yang sangat baik dan pintar. Dia adalah temanku, Viola yang dianugerahi kecantikan dan sebuah bakat kecil sebagai pemain biola. Pribadinya sangat halus serta begitu pemalu.

Begitulah Cinta

Oleh:
“Hey, penulis! Cinta itu apa?” Deny tiba-tiba datang dan menodong Priska dengan pertanyaan itu. Sesaat Priska terlihat kaget, kemudian wajahnya kembali tenang dan mulai menjawab. “Cinta itu kebahagiaan alami

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *