You’re My Little Secret

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Misteri, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 November 2016

Pagi senin yang cerah. SMA Merah Putih tampak lebih hidup hari ini dengan suara riuh rendah para siswa mulai dari tingkat sepuluh sampai tingkat dua belas yang sedang berkumpul di lapangan untuk mengikuti upacara bendera. Hari ini hari pertama Kegiatan Belajar Mengajar alias KBM dimulai. Semuanya tampak bersemangat memulai hari baru, semester baru, dan otak yang baru direfresh ulang yang siap menampung materi baru setelah libur semester yang cukup lama.

Naira memejamkan mata begitu sampai di tepi lapangan upacara, mencoba menikmati sinar matahari yang memancar hangat mengenai kulitnya yang putih merona. Rambutnya yang hampir melewati bahu sedikit bergerak terkena hembusan angin pagi, seolah menyapanya sebelum memulai hari pertamanya sebagai seorang anak SMA.
Yup!! Semangat, Naira!!

Bersama beberapa teman sekelasnya yang baru dikenalnya pagi ini, Naira melangkah menuju ke petak-petak lapangan yang sudah disiapkan berdasarkan kelas dan tingkatannya. Sesekali ia bercengkerama dan tertawa bersama teman-teman sebarisannya. Beberapa anak cowok dari kelas Naira yang barisannya dekat mereka ikutan nimbrung karena barisan anak cowok ada di sebelah kanan barisan anak cewek. Sesekali Naira tertawa menanggapi candaan teman-teman sekelasnya yang ternyata pada gila-gila semua terutama yang cowoknya.

Perhatian Naira dan teman-temannya teralih saat beberapa siswa dan siswi yang sedang mengatur barisan berhenti dan menatap ke satu arah. Bukan Cuma mereka saja ternyata, tapi para murid yang sedang lalu lalang di lapangan juga berhenti dan memfokuskan pandangan ke selasar meja piket yang berada tepat di belakang tiang bendera.

“Apaan sih? ada apa?” Tanya Naira penasaran sambil melangsek maju ke depan. Karena badannya kecil dan mungil—menurut teman-temannya, dan tidak memungkinkan untuk melihat langsung dari tempatnya berdiri yang berada di barisan paling belakang —soalnya yang berdiri di depannya itu tinggi-tinggi semua, Naira memutuskan untuk menerobos barisan dan berdiri paling depan.
Namun Naira langsung menghembuskan nafas kecewa saat melihatnya. Ternyata itu Cuma pemandangan salah satu siswa yang sedang dimarahi kak Yunus —ketua OSIS paling galak dan paling nyeremin yang pernah Naira temui.

“Tu anak kenapa sih? baru hari pertama juga udah cari gara-gara?” Tanya Naira tanpa melepas pandangan dari cowok yang masih dimarahi itu.
“Lo nggak tau, Ra?” tany Fika dengan kening berkerut, memandang sohibnya sejak SMP itu.
“Tau apa?” Tanya Naira bingung, yang kini langsung mengalihkan pandang pada Fika yang berdiri di sampingnya.
“Cowok itu Namanya Raka. Dia itu waktu di SMP rajanya berandalan, tukang buat onar.. dan suka berantem sama anak sekolah lain,” jelas Fika sabar, karena tahu Naira memang suka ketinggalan berita kalau bukan dia yang memberitahunya.
“Masa sih? tapi tampangnya innocent banget deh.. nggak ada liar-liarnya sama sekali,” ujar Naira tidak percaya.
“Yaela.. tampang nggak menjamin kali, Ra.. Lagian elo tinggal dimana sih? kok sama dia aja lo nggak tau?” timpal teman sekelasnya yang lain.
“Di Ujung Kulon, puas?!” sungut Naira sebal.

Anak-anak cowok yang berada tak jauh darinya hanya mengulum senyum, begitu juga Fika dan teman sekelas mereka yang lain. bagi mereka, wajah Naira saat marah nggak serem sama sekali. Tapi lucu. Naira nggak cocok marah, karena kalau dia marah dia malah kelihatan kayak anak kecil umur lima tahun yang lagi ngambek.

“Apaan sih? kok pada senyam senyum gitu..” ujar Naira gusar.
“Nggaak.. lucu aja, lagi..” ucap Dwi, salah satu teman sekelas Naira, yang kebetulan juga berasal dari SMP yang sama.
“Udah ah, balik yuk Ra.. tuh, kak Yunus udah keluar tanduknya nyuruh kita baris..” Fika menggandeng lengan Naira dan membawanya kembali ke barisan mereka di belakang.

Naira berbalik mengikuti Fika, tapi rasa penasarannya membuatnya kembali berhenti dan berbalik. Matanya kembali mencari-cari di antara siswa-siswi yang berlalu lalang, sampai akhirnya kedua matanya bertubrukan dengan mata cowok itu —cowok yang tadi dimarahi Kak Yunus. keduanya saling pandang, dan sebelum Naira sadar, cowok itu tersenyum ke arahnya.
Ke arahnya? Tunggu dulu, jadi benar tadi itu cowok itu juga sedang menatapnya? Naira menoleh ke kiri dan ke kanan, namun semuanya sibuk sendiri. Berarti hanya dia. Sekali lagi Naira menatap lurus ke depan, dan mendapati cowok itu, masih memandang ke arahnya.
Cukup lama mereka berpandangan, tidak ada satu pun dari mereka yang mengalihkan pandang, seolah ingin menilai satu sama lain. Seperti déjà vu, Naira merasa familier dengan tatapan itu, meski tidak tahu kapan dan dimana ia melihatnya, ia merasa seperti pernah berada disaat-saat seperti ini.
Setahunya ia tidak pernah membuat kontak mata dengan seorang cowok secara langsung dan lama, seperti yang dilakukannya sekarang. Baru kali ini, dan meskipun terentang jarak yang cukup jauh, Naira dapat merasakan debar jantungnya mulai meningkat karena tatapan yang begitu intens dari cowok itu.
Cowok itu tersenyum, benar-benar tersenyum untuknya. Bibirnya terbuka dan bergerak, seperti sedang membentuk sebuah kalimat.
‘Sakurai.. Nai..ra,’
Naira membelalakkan mata saat cowok itu mengatupkan bibirnya dan lagi-lagi tersenyum, senyum penuh misteri. Cowok itu tadi jelas-jelas menyebut namanya. Ia tidak mungkin salah. Dia mungkin tidak bisa mendengar apa yang dikatakan cowok itu karena jarak yang tidak memungkinkan, tapi kemampuannya membaca gerak bibir lumayan baik. Dan jelas-jelas apa yang diucapkan cowok itu ditujukan kepadanya. Ia yakin sekali,
Tapi..

“Ra.. kenapa?” Naira sedikit tersentak saat Fika menyentuh lengannya.
“Apanya yang kenapa?” Tanya Naira bingung dan memutus kontak mata antara dia dan cowok itu.
“Ayo.. bentar lagi upacara mau mulai.. gue kira dari tadi lo ada di belakang gue, eh rupanya masih nangkring disini.. bikin orang panik mulu nih anak. Udah tau badan mungil gini, suka nyempil lagi. Kalo mau kemana-mana bilang dulu, nyari elo itu susah tau. Kalo elo ilang gue harus bilang apa sama nyokap lo?” oceh Fika sepanjang jalan sambil terus menggenggam lengan Naira supaya nggak keteteran.
“Iya.. iya, ya ampun..” gerutu Naira sebal sambil mengikuti langkah Fika.

Untuk terakhir kalinya Naira berbalik, namun cowok itu sudah menghilang. Keningnya berkerut samar sebelum akhirnya otaknya menyimpulkan jika kejadian itu hanya sebuah kebetulan. Ya, hanya kebetulan. Cowok itu bukan menyebut namanya, karena dia bahkan tidak pernah bertemu cowok itu sebelumnya. Yakin Naira sebelum akhirnya kembali mengikuti langkah Fika yang berjalan di depannya.

Tapi, tanpa Naira sadari, tidak jauh dari tempatnya berdiri, di salah satu barisan-barisan yang berjejer rapi mengelilingi pinggiran lapangan yang berbentuk persegi panjang itu, ada seseorang yang terus mengawasinya dengan senyum penuh arti. Seseorang yang terus dan akan terus memaksa masuk ke dalam hidupnya nanti, suka ataupun tidak suka.

TBC

Cerpen Karangan: Ana
Facebook: agustinatina

Cerpen You’re My Little Secret merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seucap Kata Terakhir Untukmu

Oleh:
Ardiah agnalia putri, yang sering dipanggil dengan sebutan “Rara”. Cewek satu ini sanggat di kagumi oleh teman-temanya karena dia pintar dan juga pandai bergaul. Walaupun dia agak tomboy, namun

Kita dan Hujan

Oleh:
Ku kumpulkan segala rasa pada ujung jemari Tak memberikan celah sedikitpun untuk membuang rasa yang tak pernah ku mengerti Walau dirimu hanya bayang semu dalam setiap mimpiku Hujan yang

Dia Yang Ku Sayang

Oleh:
Waktu pertama kali aku kenal dia waktu aku baru menjejakan kaki di smp 5.. Waktu itu aku tak tau mengapa aku sebenci itu pada seorang lelaki yang bernama avan

Bella

Oleh:
Namaku adalah Bella yang lebih tepatnya Bella Clare Amazy. Aku dari keluarga Amazy. Aku anak ke-2 dari ayah dan ibuku. Saudara pertamaku, laki laki yaitu Ben Severus Amazy dan

Ketika Cinta Berdusta

Oleh:
Pertama kali ku melangkahkan kakiku ke sekolah baru ku, tak banyak yang aku kenal disana. Ketika mos di mulai, semua orang terlihat berlari-lari menuju barisan masing-masing. Aku mendapatkan kelompok

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “You’re My Little Secret”

  1. selly junia says:

    bkin part 2 ny donk.. cerita nya asik. tpi lbih asik lgi di kasih part2 berikutnya..

  2. Sigma says:

    Lanjutkan ke part 2 .

  3. Arimbi says:

    Pendek bener

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *