Hilangnya Kehormatan Bontak dan Erai

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat)
Lolos moderasi pada: 14 November 2017

Menyadari kebutuhan akan pendidikan anaknya, Lurah Sayid menyekolahkan anak satu-satunya ke Sekolah Belanda di Kompleks Kadipaten Keraton Belengkong bersama anak-anak pegawai Pemerintahan Belanda. Hanya anak-anak dari pegawai pemerintah saja yang diperbolehkan bersekolah di tempat termasyur itu.

Anak dari Lurah Sayid itu bernama Bontak, panggilan akrab dari teman sebayanya. Dia adalah murid yang sangat tekun dan memiliki semangat belajar yang tinggi. Dalam waktu singkat ia telah mengalahkan teman-teman sekelasnya dalam smua bidang pelajaran. Ia adalah murid terbaik di sekolah yang dikenal dengan sebutan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, satu-satunya pendidikan lanjutan di Kompleks Keraton Belengkong Kalimantan Tenggara. Bahkan guru-guru dari Negeri Belanda banyak yang mengacungi jempol kepadanya, karena Bontak mahir dalam berbicara dengan berbagai bahasa, lantang dalam berdiskusi, cerdas dalam sains, dan tangkas dalam olahraga.

Riang gembira dari sekian anak-anak orang-orang terpenting di Keraton Belengkong itu, ada di antara mereka juga terdapat beberapa anak-anak perempuan. Bontak tidak begitu memperhatikan semua teman-teman perempuannya karena sebagian besar anak perempuan adalah anak dari Negeri Belanda. Namun saat itu datang seorang siswa baru, seorang gadis pribumi, dari daerah Paser Balik, Putri seorang Bendara di Balikpapan.

Sebuah nama dari gadis nan cantik jelita itu adalah Erai, ya… Erai, nama yang begitu indah. Erai dalam Bahasa Paser dikenal dengan istilah untuk menyebut angka satu, satu hati, satu tujuan, dan satu-satunya yang paling sempurna. Seorang gadis asli Suku Paser, bapak ibunya orang terhormat, kepala adat sekaligus Bendara kepercayaan Petinggi Belanda. Wajahnya yang begitu cantik semacam tidak ada kekurangan satu apapun, sempurna. Rambutnya yang terurai lembut, setelah bayangan rambutnya yang terurai lembut, ketika ia melepas topi bulat khas Belanda. Wajahnya bersinar bak bulan pernama yang memancarkan keindahan cahaya. Matanya yang hitam, bening, dan bersinar, bagai mata elang, atau seperti juga mata rusa yang begitu waspada. Dan hanya dengan kibasan bulu matanya sekali saja, ia mampu mengubah seluruh dunia menjadi puing-puing. Bibirnya yang tipis, mungil, terbuka hanya untuk mengucapkan hal-hal yang indah. Apabila ada teman-temannya menggodanya, baik dengan kata-kata atau dengan lirikan dan senyuman, pipinya akan merona, layaknya mawar merah merekah, begitu indah, sulit untuk dilupakan.

Orang yang mempunyai hati sekeras apapun akan segera mencair begitu memandang keajaiban kesempurnaan ciptaan Tuhan yang satu ini. Semua anak laki-laki baik pribumi maupun anak-anak Belanda semuanya jatuh hati pada Erai. Bontak, yang semula tidak memikirkan cinta dan wanita, justru malah memiliki hasrat yang paling besar untuk mencintai Erai, melebihi hasrat dan cinta seluruh teman-temannya. Di usianya yang masih sangat dini itu, Bontak telah tenggelam dalam lautan cinta, bahkan sebelum dia mengerti akan makna cinta itu seperti apa. Ia menyerahkan hatinya kepada gadis itu, bahkan sebelum ia menyadari betapa berharga hati yang telah ia serahkan itu, meski ia tahu apakah Erai mencintainya atau tidak.

Namun, di sisi lain, justru Erai tidak jauh berbeda. Dari sekian banyak anak laki-laki di sekolah itu, ia juga sangat terpesona dan jatuh cinta dengan pribadi Bontak. Api telah menyala di dalam hati mereka, dan cahayanya saling memantul di antara mereka. Mereka masih sangat dini untuk semua pemikiran dan kegiatan-kegiatan saling mencintai. Cinta mereka bagaikan Lisung tanpa Alu yang tak lagi berisi bulir padi, namun terisi tuak nira yang sangat memabukkan. Lalu mereka memasukkan kepalanya ke Lisung itu dengan meminum apa pun di dalamnya, sepuas mereka. Hingga mereka menjadi mabuk, sangat mabuk, karena tidak menyadari begitu kuatnya efek memabukkannya tuak itu. Mabuk yang pertama kali adalah mabuk yang paling memusingkan, jatuh pertama kali adalah jatuh yang paling menyakitkan, luka pertama selalu menjadi luka yang terperih.

Organ-organ Bontak dan Erai seperti menyatu, yang dikendalikan oleh hati yang mabuk, bukan lagi otak dan pemikiran nalar cerdasnya, hingga keadaan itu terus berlanjut. Mereka terhanyut begitu jauh hingga susah untuk kembali. Mereka terpesona oleh kekuatan gaib cinta yang sumbernya tak mereka kenali, yang pengarus sihirnya terlalu kuat untuk mereka lawan. Mereka terus meminum lebih banyak tuak dan lebih banyak lagi dari Lisung Cinta, siang dan malam. Semakin banyak mereka minum semakin dalam mereka terbenam ke dalam satu sama lain. Mata mereka menjadi buta, telinga mereka menjadi tuli terhadap dunia di sekeliling mereka. Bontak tak lagi cerdas, tak lagi tangkas, tak lagi rajin. Hanya Erai seorang yang ia fikirkan. Erai juga terlalu pasrah, bukan hanya hatinya, namun semua jiwa dan raganya ia pasrahkan untuk pontak. Hingga sebuah janin tumbuh berkembang menjelma mengisi perut Erai. Kebingungan, kepanikan, mendera mereka berdua, mereka mengorbankan segalanya, mengorbankan masa depannya, mengorbankan kehormatan orangtuanya, mengorbankan harga dirinya dan harga diri bangsa pribumi di mata Belanda…

Cerpen Karangan: Marsono
Facebook: Marsono Aja

Cerpen Hilangnya Kehormatan Bontak dan Erai merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Benayuk Dan Menjelutung

Oleh:
Di desa Pelita Kanaan terdapat sebuah permukiman warga suku Dayak Abai yang terletak di tepi sungai Kabiran, Kabupaten Malinau. Itulah desa yang akan dikunjungi oleh Gilang dan keempat temannya.

Obeng Naga Sasa

Oleh:
Pada Zaman dahulu di daerah pedalaman Sumatra Selatan tepatnya di daerah Oku. Berdirilah sebuah kerajaan yang sangat megah yang bernama kerajaan Padang Sinampuan, kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja

Putri Sofia

Oleh:
Alkisah, hiduplah seorang putri raja dari Kerajaan Berlian. Dinamakan demikian karena kerajaan tersebut kaya akan tambang berlian. Sebagian besar penduduknya pun mencari nafkah dari menambang berlian dan dijual ke

Cinta Julia dan Gibran

Oleh:
Mereka duduk berdua di antara dinginnya malam “Julia, kamu masih ingat saat aku pertama kali mengatakan cinta kepadamu.” “Ya tentu saja. Yang aku ingat saat itu adalah ketika banyak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *