Kegagalan Sumpah Palapa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat)
Lolos moderasi pada: 7 July 2017

Hayam Wuruk
“sungguh indah lukisan ini” desahku dalam hati. Siapakah wanita yang berada pada lukisan ini? Kecantikannya benar-benar luar biasa. Apakah wanita dalam lukisan ini benar-benar nyata? Ataukah hanya imajinasi seorang seniman yang ingin melukiskan kesempurnaan kecantikan seorang wanita? Hatiku terus bertanya-tanya tentang lukisan yang sedari tadi telah aku perhatikan.

”siapakah wanita yang berada pada lukisan ini?” aku pun bertanya kepada pengawal. “wanita ini bernama Dyah Pitaloka Citraresmi, Ia adalah anak perempuan dari Prabu Maharaja Lingga Buana dari Kerajaan Sunda” ujar pengawal yang sudah melihat ketertarikanku akan wanita yang berada pada sebuah lukisan yang beredar di kerajaanku. Setelah mendengar penjelasan dari pengawal, aku pun kembali ke istana.

Setelah pulang ke istana aku pun memanggil Patih Madhu. “aku ingin memperistri Dyah Pitaloka, putri Prabu Maharaja Lingga Buana dari Kerajaan Sunda.” Ucapku pada patih madhu tentang hasratku untuk memperistri Dyah Pitaloka. Alasan umum yang menjadi dasar keinginanku adalah selain ingin memperistri wanita dengan kecantikan yang luar biasa adalah juga didorong alasan politik, yaitu untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda. “kirimkan sebuah surat kehormatan kepada Maharaja Lingga Buana untuk melamar Dyah Pitaloka” perintahku pada Patih Madhu yang merupakan makcomblang antara aku dan Dyah Pitaloka.

Maharaja Lingga Buana
“utusan dari majapahit ingin menemui tuanku” ujar seorang pengawal padaku. “baiklah bawa mereka menghadapku” perintahku pada para pengawal. Dari singgasana aku melihat seorang patih yang sedang berjalan dari kejauhan. “ kamiutusan dari Raja Hayam Wuruk ingin memberikan surat kehormatan kepada yang mulia Raja Lingga Buana” ujarnya. Aku pun mengambil dan membaca surat tersebut. Isi dari surat tersebut ternyata adalah surat lamaran kepada puteriku Dyah Pitaloka.

Aku pun bertanya pada utusan yang merupakan seorang patih juga di Kerajaan Majapahit “apakah Raja Hayam Wuruk bermaksud untuk memperistri putriku Dyah Pitaloka?” “benar yang mulia”. Aku pun bertanya kepada putriku ”apakah kau berkenan untuk dijadikan permainsuri oleh Raja Hayam Wuruk putriku?” tanyaku. ”aku mau ayahanda” jawabnya. Akan tetapi, hal yag tidak lazim yakni pihak pengantin perempuan dari kerajaanku yang harus mendatangi pihak pengantin laki-laki yakni ke Majapahit. Hal ini tentu bukan adat asli. Tentu saja aku dan dewan kerajaanku keberatan. Aku pun menduga hal-hal yang lain. “bagaimana jika pernyataan pihak pengantin yang harus mendatangi pihak laki-laki ini hanya jebakan politik dari kerajaan majapahit untuk menaklukan kerajaan kita?” tanyaku kepada dewan kerajaan dan prajurit.

Akhirnya aku pun memerintah kepada dewan kerajaan agar berhenti dan menunggu jemputan dari kerajaan majapahit. “aku perintahkan pada para pengawal untuk mendirikan pesanggrahan”. Rombongan kerajaanku kemudian mendirikan pesanggrahan di Lapangan Bubat di bagian utara Trowulan, Ibu Kota Majapahit.

Gajah Mada
Mengetahui rombongan Kerajaan Sunda yang ada di Majapahit aku pun menjemputnya. Aku akan memenuhi sumpah palapa yang dulu pernah aku buat saat Raja Hayam Wuruk belum naik tahta. Dengan cara membuat alasan untuk menganggap bahwa kedatangan rombongan kerajaan sunda di pesanggrahan bubat adalah bentuk penyerahan diri kerajaan Sunda terhadap kedaulatan kerajaan Majapahit. Aku pun menghadap tuanku yang mulia Raja Hayam Wuruk “wahai tuanku, bagaimana jika engkau menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, akan tetapi sebagi tanda takluk negeri Sunda terhadap kerajaan kita?” tanyaku.

Hayam Wuruk
Mendengar ucapan dari mahapatih Gajah Mada aku pun bimbang. Di satu sisi aku mencintai putri Dyah Pitaloka akan tetapi sebagai seorang raja aku harus memikirkan tentang kerajaan yang telah hampir sempurna jika Kerajaan Sunda bisa ditaklukan. Dengan demikian mahapatih yang telah membantuku selama ini dapat memenuhi sumpahnya.

Dyah Pitaloka
Dari kejauhan Mahapatih Majapahit yakni Gajah Mada terlihat berjalan bersama rombongannya yang cukup besar mendatangi karajaan kami. “kami sudah datang” Gajah Mada memulai membuka kata. “terima kasih telah menjemput kami sebagai calon permaisuri dari raja kalian” sambut ayahku. “akan tetapi tuan putri bukan dijadikan sebagai permainsuri, tetapi menjadi selir sebagai persembahan untuk raja kami yang mulia Raja Hayam Wuruk” tutur Gajah Mada, yang tentu saja membuat aku dan ayah terkejut. “apa-apaan ini?” teriak ayah yang tentu saja sangat murka atas ungkapaan dari mahapatih Gajah Mada. Aku pun sangat sedih karena aku merasa ternyata di mata tuan Raja Hayam Wuruk aku hanya selir dan bukan permainsuri.

Peperanggan terjadi di depan mataku dan ayah meninggal di pangkuanku. “ayaaaaaah” aku beteriak menitikan air mata dengan kesedihan yang sangat mengerikan aku rasakan. Ayah meninggal demi harkat dan martabat kerajaan. Karena dari pada aku dijadikan selir Raja Hayam Wuruk lebih baik aku mengakhiri hidupku. Aku mengambil tombak yang menancap di dada ayah dan aku pun menancapkannya di perutku. Demi kerajaan ayah rela berperang walaupun tahu ini akan menghancurkannya, dan aku pun rela mati demi martabat ayah.

Dengan terjadinya perang bubat menyebabkan Sumpah Palapa yang diserukan oleh Gajah Mada gagal terlaksana karena kerajaan terakhir belum berhasil ditaklukan dan wilayah nusantara belum bersatu sepenuhnya. Hingga Gajah Mada wafat sumpah itu tidak terlaksana.

Cerpen Karangan: Asviani
Facebook: Asviani

Cerpen Kegagalan Sumpah Palapa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Legend of Bumiati

Oleh:
“Ning.. nong ning… gung..” Suara alunan gamelan terdengar syahdu mengiringi pementasan Tari Ronggeng Dukuh Klayang. Sumiati terus meliuk-liukkan badannya, mengikuti alunan suara gamelan. Sekilas dia mengkibaskan selendangnya, membuat tariannya

RyA

Oleh:
Mungkin kalian sudah sering mendengar kisah ini. Namun tak sekali pun kisah ini terealisasikan dalam kehidupan nyata. Ku ingatkan, kisah ini bukan kisah fiksi. Kisah ini didasarkan pada sejarah.

Kerajaan Singhasari

Oleh:
Pada zaman dahulu ada sebuah kerajaan yang bernama ‘Kerajaan Singhasari’. Kerajaan ini dirajai oleh Ken Arok. Ia memperoleh gelar “Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi.” Istrinya merupakan seorang janda

Putri Kaca Mayang

Oleh:
Pada zaman dahulu kala, di tepi Sungai Siak, berdirilah sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Gasib. Di kerajaan ini, seluruh penduduk hidup damai dan sejahtera karena Kerajaan Gasib dipimpin oleh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *