Lapek Tujuah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat)
Lolos moderasi pada: 5 February 2018

Pada zaman dahulu hiduplah sepasang suami-istri serta tujuh orang anak mereka. Mereka adalah keluarga petani miskin yang tinggal di suatu kampung dekat aliran sungai. Setiap hari sang ayah pergi ke ladang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bagi keluarganya. Pada suatu hari sang ayah menyuruh istrinya untuk memasak ‘lapek’ untuk dimakan ketika pulang dari ladang.

Pagi-pagi sekali sang istri telah menyediakan bahan-bahan untuk membuat ‘lapek’ setelah suaminya berangkat ke ladang. Setelah bahan-bahan yang dibutuhkan telah tersedia, sang istri tidak lupa mengambil daun pisang untuk pembungkus ‘lapek’ di belakang rumah.

Saat sibuk membuat adonan ‘lapek’, membungkus, dan mengukusnya, tiba-tiba si sulung terbangun. Lalu bertanya pada ibunya, “Ibu sedang membuat apa?”
Sang ibu menjawab, “Ibu sedang memasak ‘lapek’ untuk ayahmu.”
“Bu, minta ‘lapek’nya,” rengek si sulung.
“Tidak nak! ‘lapek’ ini untuk ayahmu, yang nanti kelelahan pulang dari ladang.”

“Bu, aku hanya minta satu,” rengek si sulung lagi.
“Baiklah, ambillah satu saja, tapi dengan satu syarat!”
Si sulung menganggukkan kepalanya tanda setuju.
“Syaratnya adalah, jangan kau bangunkan adik-adikmu. Jika adik-adikmu bangun, maka semua ‘lapek’ ini akan habis dan tidak tersisa untuk ayahmu, karena ibu hanya membuat tujuh buah ‘lapek’ saja. Mengerti kan?”

“Iya bu, aku mengerti.” Si sulung mengambil satu ‘lapek’ dan menghabiskannya. Rasa ‘lapek’ itu sangat lezat dan jarang sekali mereka dapat makan ‘lapek’. Si sulung berinisiatif untuk membangunkan adik pertama dengan membisikkan sesuatu di telinganya.

Tak lama kemudian, anak kedua bangun, dan pura-pura ingin pipis. “Bu aku mau pipis!”
“Pipislah di lubang itu nak,” jawab sang ibu yang masih sibuk memasak ‘lapek’.
“Ibu sedang memasak apa?” Tanya anak kedua pura-pura tidak tahu.
“Ibu sedang memasak ‘lapek’ untuk ayahmu, nak.”

“Boleh aku minta ‘lapek’nya bu?” Rengek anak kedua.
“Tidak, nak!” Jawab ibunya pelan.
“Ayolah buuu!” Dengan rengekkan yang kencang.
Sambil meletakkan jari telunjuk ke mulutnya sang ibu berkata, “Baiklah, ambillah satu, tapi dengan syarat jangan bangunkan adik-adikmu. Mengerti!”

Anak kedua menganggukkan kepala dan mengambil satu ‘lapek’ dan memakannya. Karena tidak ingin menikmati ‘lapek’ itu berdua saja dengan si sulung, anak kedua berinisiatif membangunkan adik-adiknya satu persatu dengan pesan pura-pura, seperti yang dilakukannya. Begitu seterusnya hingga si bungsu.

“Ibu aku mau pipis!” Teriak si bungsu.
“Pipislah di lubang itu nak!”
“Ibu sedang membuat apa?” Tanya si bungsu.
“Ibu sedang membuat ‘lapek’ untuk ayahmu.”

“Boleh aku minta satu bu,” bujuk si bungsu dengan penuh harap.
“Tidak, nak! ‘lapek’nya hanya tinggal satu untuk ayahmu saja.”
Setengah menangis si bungsu meminta ‘lapek pada ibunya. Akhirnya hati sang ibu luruh dan memberikan satu-satunya ‘lapek’ kepada bungsunya.

Pulanglah sang ayah dari ladang dan menanyakan ‘lapek’ yang dibuat istrinya. Kemudian sang istri menjelaskan bahwa ‘lapek’ yang dibuatnya sudah habis dimakan oleh anak-anak mereka. Sang ayah marah dan berniat membuang dua anaknya. Sang istri tidak setuju, namun karena kepatuhannya pada suaminya, akhirnya ia setuju. Mereka sepakat membuang sulung dan bungsu.

Pada suatu siang yang telah disepakati, mereka mengajak ketujuh anaknya mencari kayu bakar ke hutan. Sesampainya di hutan, mereka berpencar. Si sulung dan bungsu bersama ayah mereka. Namun, si sulung dan si bungsu ditinggalkan di tengah hutan dengan alasan mengambil air di sungai untuk minum mereka.

Setelah sekian lama menunggu orangtua dan saudara-saudara mereka yang tidak kunjung terlihat dari jauh. Mereka sudah kelaparan dan membuka perbekalan yang dibawa dari rumah.

“Kak, ayo kita makan! aku sudah tidak tahan lagi.” Kata si bungsu.
“Baiklah, mari kita makan!”
Namun apalah daya, ketika membuka bungkusan itu, tidak ada nasi maupun lauk di dalamnya, melainkan beberapa genggam abu tungku dan tai kucing.
“Sepertinya orangtua kita sengaja membuang kita dik,” kata si sulung sambil menangis.

Pecahlah suara tangis mereka di hutan itu. Sebentar lagi hari akan gelap, mereka mencari jalan untuk pulang, walau pun mereka tidak tahu arah jalan pulang. Hingga mereka tiba di dekat sebatang pohon kelapa. Si sulung memanjatnya untuk melihat adakah kampung yang akan terlihat di atas sana, dan mengambil buah kelapa untuk mengusir rasa lapar mereka.

Dari puncak pohon kelapa itu, tampaklah rumah gergasi yang indah. Mereka memutuskan untuk menuju rumah itu dan mendengar percakapan gergasi.
“Aku paling takut dengan terung, jarum, dan puyuh.” Kata gergasi dari dalam rumah.

Mereka berdua tidak membuang-buang waktu dan mencari ketiga benda tersebut saat gergasi meninggalkan rumahnya beberapa saat.

Dua kakak beradik itu menjalankan misinya, mereka meletakkan jarum di tempat tidur gergasi, terung di dapur dan puyuh di meja makan, serta membuat lubang besar di dekat tangga.

Saat gergasi kembali ke rumahnya, ia terkejut melihat benda-benda yang ditakutinya ada di rumahnya. Karena ketakutan sang gergasi berguling-guling dan berteriak minta tolong tanpa disadari telah menyakiti tubuhnya sendiri. Tanpa basa-basi kedua kakak beradik itu memukul gergasi itu hingga masuk ke dalam lubang besar yang telah mereka siapkan dan menguburkannya.

Mereka langsung masuk ke rumah, tampaklah oleh keduanya berbagai makanan telah tersedia di atas meja, dengan lahap mereka memakan makanan itu.

Bertahun-tahun lamanya, mereka merawat sawah dan ladang gergasi hingga mereka telah menjadi orang kaya. Suatu hari, saat panen padi, gabahnya hanyut ke sungai dan tampaklah oleh sepasang suami-istri yang sedang mencari kayu bakar di hutan. Mereka mengikuti dari mana datangnya gabah tersebut.

Sampailah mereka di sebuah rumah yang amat indah, mereka disuguhi makanan yang enak-enak dan tuan rumahnya yang begitu ramah. Mereka menyampaikan kedatangannya.

“Sebenarnya, kami ke sini untuk meminta padi, karena kami dari keluarga miskin yang mempunyai tujuh orang anak, dan dua orang anak kami sudah…,” belum selesai sang bapak berbicara dan di potong oleh si sulung.
“Kami berdua adalah dua orang anak yang bapak dan ibu buang beberapa tahun yang lalu di tengah hutan.”

Cerpen Karangan: Monalisa
Facebook: Monalisa

Cerpen Lapek Tujuah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ratu Cinde yang Sombong

Oleh:
Dahulu kala hiduplah seorang gadis yang sangat cantik jelita, wajahnya begitu menawan membuat semua orang selalu melirik kepadanya dan terkagum melihat kecantikan wajah gadis tersebut. Ia sangat baik dan

Harimau Makan Durian

Oleh:
Dahulu kala, di daerah jambi terdapat kerajaan kerajaan kecil. Mereka hidup damai berdampingan. Suatu hari, seekor harimau kelaparan yang sangat buas, mengacau desa tersebut. Harimau memakan ternak dan menyerang

Nenek Sukarni Dan Putri Kerajaan

Oleh:
Pada suatu hari di sebuah desa, terdapat seseorang nenek yang sedang mencuci baju di pinggir sungai. Nenek tersebut bernama Sukarni. Sukarni bekerja sebagai petani ladang jagung dan singkong. Di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *