Mandung Asa (Part 1) Kembali Ke Kerajaan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat), Cerpen Fabel (Hewan)
Lolos moderasi pada: 16 September 2018

Pagi yang sejuk di bawah Gunung Pamungguan membuat Kerajaan Yama tertutup kabut. Kabut yang lumayan tebal hingga aktivitas di sekitar Kerajaan tidak terlihat. Yama adalah kerajaan yang dihuni oleh berbagai Ras Ayam. Yama dipimpin oleh seorang Raja yang bernama Goja. Raja Goja berasal dari Ras Pelung yang memilki ciri berbadan besar dan suaranya yang indah. Raja Goja memiliki Isteri dari Ras Kampung, ia bernama Mayang. Kerajaan Yama sangat tenteram, aman, dan damai karena letaknya yang strategis di bawah Gunung Pamungguan. Di sebelah timur Gunung ada hutan yang bernama Pasir Karok. Hutan yang di huni oleh makhluk yang ditakuti rakyat Yama. Makhluk itu adalah Musang. Masyarakat Yama dilarang masuk ke Hutan itu, karena konon katanya ada Ayam adik Ibuku masuk ke sana mencari obat untuk Ibu yang mengalami kesakitan pada kaki kirinya tapi sampai saat ini Paman belum kembali. Ayah menganggap Pamanku telah tewas oleh Musang sang penghuni Hutan.

Sebelum Aku lahir, telah terjadi pertumpahan darah di tanah Yama. Para musang dari pasir karok menyerang Yama hingga Ayahku Raja Goja meninggal dunia. Peperangan itu terjadi ketika Aku masih dalam telur. Sebelum Ayah meninggal, Ibuku dan Aku diungsikan oleh Ayah agar Aku dapat menetas dan dapat melanjutkan beliau sebagai Raja.

Aku lahir setelah peperangan berakhir, Aku dan Ibuku kembali ke Yama. Rakyat Yama menyambut kedatangan kami dan salah seorang dari kerajaan mengalungkan bunga pada Ibu. “selamat datang kembali Ratu, kami semua mengkhawatirkanmu” ucap Ayam yang yang mengalungkan bunga. “Saya juga senang dapat kembali ke Yama dan saat ini saya tidak sendirian. Ini Anakku Pangeran Mandung Asa”. “Beri hormaaat…” teriak salah satu ayam. “kukuruyuuuk…” semua ayam berkokok, menyambut kedatanganku. Ibu membawaku ke dalam istana. Ketika sampai di kamar, Ibu melihat foto Ayah. Dia menangis lalu memelukku.

“Cepat… Persiapkan dengan rapi dan jangan sampai ada kesalahan” teriak Penasihat Raja pada para pegawai yang sedang mempersiapkan sesuatu. “Paman, ini semua untuk apa?” Aku bertanya pada Penasihat. “oh… ini semua untuk penobatanmu Pangeran. engkau akan diangkat menjadi Raja Yama menggantikan Ayahmu” jawab Penasihat sembari tersenyum. Aku berlari menemui Ibu. “Bu, kenapa harus Aku yang menjadi Raja? Aku ini masih kecil Bu”. “Karena kamu itu anak Raja, sudah kewajiban bagi Pangeran untuk meneruskan tahta Kerajaan”. Aku berlari ke kamarku, lalu menatap foto Ayah “Ayah, andai saat itu Aku sudah lahir, Aku akan melindungimu.” Bisikku dalam hati. “Mandung… di mana kamu nak? Upacara akan segera dimulai” teriak Ibu mencariku. Aku keluar dari kamar dan ikut berjalan dengan Ibu menuju tempat penobatan yang berada di halaman Istana.

“Sambutlah Raja baru kita… Raja Mandung Asa…” semua rakyat yang hadir bersorak bahagia karena Kerajaan Yama telah memiliki pemimpin lagi. Spontan Aku yang baru keluar dari pintu istana merasa kaget melihat Rakyat Yama yang sangat banyak. “Silahkan Pangeran sebelum penobatan dimulai, sapalah rakyatmu” ucap Penasihat Raja. Aku merasa gugup dan takut, karena ini adalah momen pertamaku berbicara di depan orang banyak. “Hai, Aku Mandung Raja baru Yama”. Suasana menjadi hening ketika Aku berbicara. “Aku putra tunggal Raja Goja, Ayahku gugur ketika mempertahankan tanah Yama. Aku tidak akan melupakan jasa Ayah untuk kerajaan ini. Aku ingin meneruskan cita-cita Ayah yaitu menjaga ketenteraman, keamanan, dan kedamaian Kerajaan Yama”. Itulah yang kuucapkan di hadapan rakyat Yama. Rakyatpun bersorak kembali dan terdengar suara “hidup Raja muda” mungkin karena usiaku yang masih muda untuk menjadi seorang Raja. Akan tetapi terdengar “diam… diam…” teriak salah satu Ayam yang memecah kebahagiaan. “Apakah kalian percaya dengan kata-kata Ayam kecil itu? Dia itu masih kecil, mana mungkin bisa memerintah Kerajaan hahaha…” teriak Ayam itu dan pengikutnya ikut tertawa. Aku hanya bisa terdiam. “Hey, apa maksudmu? Seharusnya kau bahagia karena Yama telah memiliki Raja” bentak Ayam tua kepada Ayam yang meremehkanku tadi. “Wahai pengikutku, lihat Ayam tua ini. Dia percaya pada Ayam kecil hahaha…” jawab Ayam sombong pada Ayam tua. Tiba-tiba Ayam tua memukul Ayam sombong yang sedang tertawa. “Plak..”. Lalu Ayam sombong itu bicara lagi “berani sekali kau Ayam tua bau tanah” “seraaang…” seruan Ayam sombong pada pengikutnya. Dan terjadilah perang saudara di halaman Istana Yama. Aku dan Ibuku dikawal ketat masuk kembali ke dalam istana. Aku sangat tidak percaya dengan peristiwa ini, menjadi Raja bukanlah hal yang mudah.

Setelah kejadian itu, Aku kehilangan rasa percaya diri, Aku tidak bersemangat. Aku memutuskan untuk meninggalkan Yama dan pergi ke hutan Pasir Karok dengan harapan ada Musang yang memangsaku. Suasana hutan sangat berbeda dengan Yama. Gelap, banyak pohon yang menjulang ke langit. Ketika setengah perjalanan di hutan, Aku merasa dibuntuti oleh penghuni hutan. Aku terus berjalan, sambari tengok kiri dan kanan.

Tiba-tiba di belakangku terdengar suara seperti ada orang jatuh. Aku langsung memutar badan, dan kulihat makhluk hitam berlari ke semak-semak. Aku ketakutan, tapi Aku memberanikan diri untuk melihat semak itu. Ketika sudah dekat, Aku semakin takut, berkeringat lalu kulihat semak itu dan ooo… ternyata tidak ada apa-apa. Aku memutar badan lagi dan waaa… Aku berhadapan dengan makhluk hitam. Aku memejamkan mata dan terdengar “hey hey sedang apa kau di sini Ayam kecil?”. Aku tidak menjawabnya, lalu Aku bertanya balik “makhluk apa kau?” “ya ampun, Aku ini Ayam sepertimu…” mendengar jawaban itu, Aku langsung membuka mata. Dan memang benar, dia itu Ayam.

Lalu kami duduk di bawah pohon dan saling bertanya. “kenapa Ayam kecil sepetimu ada di tempat ini?” tanya Ayam hitam padaku. “Aku ingin menenangkan fikiranku” jawabku singkat. “Masih kecil masa banyak fikiran hehehe”. “Hey Paman, Aku ini tidak berbohong, Aku ini akan diangkat menjadi Raja tapi, tidak semua rakyat percaya padaku. Sehingga penobatanku gagal karena terjadi perang saudara di Istana”. “oh…” jawab Paman itu. Aku kembali bertanya padanya “Lalu Engkau sedang apa disini,?”. “Ceritanya panjang, Kakakku sakit lalu Aku mencari obat di hutan ini, tapi obat itu tak kutemukan dan Aku pun tak tahu jalan keluar dari hutan ini.” Jawab Paman itu dengan raut muka sedih. “Oh… siapa nama Kakakmu Paman?” “namanya adalah Mayang. Ratu dari Yama.” Aku kaget setelah mendengar jawaban itu. “Paman, itu Ibuku”. “Benarkah? Tapi, kenapa Engkau akan diangkat jadi Raja ada apa dengan Raja Goja?” “kau tidak tahu? Ayahku meninggal ketika Yama diserang para Musang”. “Astaga, Aku tidak tahu tentang itu”. Ternyata Ayam hitam ini adalah pamanku yang hilang di hutan terlarang ini.

Hari semakin sore Aku dan Pamanku bermalam di hutan ini. “Hey Nak, kenapa kamu pesimis menjadi Raja? Kamu jangan takut, harus kuat dan percaya diri seperti Ayahmu”. “Baiklah. Paman, apakah Engkau ingin kembali ke Yama?” “Aku sangat ingin sekali kembali ke Yama” jawab paman dengan nada senang. “Dari tadi kita berbincang, tapi Aku tidak tahu namamu. Siapa namamu Nak?” paman bertanya padaku. “Mandung Asa, nama paman siapa?” Aku menjawabnya lalu bertanya kembali. “Namaku Cemani, eh, hari sudah malam, cepat tidur!”. Paman menyuruhku tidur. Tak terasa obrolanku dengan Paman sangat panjang.

Keesokan harinya Aku dan Paman berjalan kembali menuju kerajaan Yama. Aku heran, di sepanjang perjalanan tak ada satupun penghuni hutan yang kulihat. “Paman, bukanakah hutan ini di huni Musang?” Aku bertanya pada paman. “Memang benar tapi, itu dulu mungkin setelah menyerang Yama para Musang menemukan tempat baru dan meninggalkan hutan ini” jawab Paman dengan santai. Mendengar jawaban itu, Aku langsung merasa lega. Aku dan Paman berhasil keluar dari hutan Pasir Karok, lalu kami terus berjalan menuju Yama. “Nak, apakah kita sudah sampai?” paman bertanya padaku sembari melihat gerbang Yama. “Ya, kita sudah sampai. Ayo Paman kita masuk”.

“Raja muda tiba” teriak satu Ayam dan dia langsung berlari ke Istana entah apa yang akan dilakukannya ternyata dia memanggil Ibuku. Ibu dan para pengawal menghampiriku. Kulihat dari kejauhan Ibu menangis. “Ke mana saja kamu Nak? Ibu mengkhawatirkanmu” tanya Ibu padaku sambil menangis dan memelukku. “Kami telah mencari Anda Pangeran, tapi kami tak menemukanmu” ucap Penasihat. “Aku pergi ke hutan terlarang” jawabku dengan tegas lalu suasana menjadi hening. Semua yang ada disana kaget. “Untuk apa kau ke sana Nak, Kau tidak apa-apa?” Ibu kembali bertanya padaku sambil meraba wajahku. “Dia ingin menenangkan fikiran” Paman Cemani memotong pertanyaan Ibu. “Setelah peristiwa itu terjadi, Aku kehilangan rasa percaya diri dan Aku memutuskan pergi ke hutan terlarang untuk menemukan jati diriku.” Itu yang kuucapkan dengan santai. Ibu menatap Paman “lalu siapa ini?” ibu bertanya lagi padaku. “Dia adalah Paman Cemani adikmu Bu.” Jawabku dengan nada senang. “Bukankah Kau sudah tewas?” Ibu bertanya pada Paman. “Mungkin itulah berita yang beredar di Yama, tapi kenyataannya Aku masih hidup, Aku tersesat di hutan terlarang. Beruntung Aku bertemu dengan keponakanku dialah yang mengajakku kembali ke Yama” jawab Paman sambil menepuk pundakku. Ibu memeluk Paman sambil menangis.

Akhirnya Aku kembali ke Istana ini, dan beberapa hari kemudian Aku dinobatkan menjadi Raja Yama. Semua rakyat senang karena Aku sudah kembali dan Ayam yang lama hilang di hutan terlarang, kini telah kembali lagi ke Yama. Dan ternyata Ayam yang hilang itu adalah Pamanku yang bernama Cemani.

Cerpen Karangan: Aang Hasbi Abdullah
Blog / Facebook: Aang Hasbi

Cerpen Mandung Asa (Part 1) Kembali Ke Kerajaan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kambing Yang Baik Hati

Oleh:
Di sebuah desa di dalam hutan, hiduplah seekor kambing yang bernama Mbek. Dia memiliki tanduk yang lumayan besar di kepalanya, Dia hidup sebatang kara, dia hanya memiliki rumahnya sebagai

Putri Kembar Yang Malang

Oleh:
Alkisah, di sebuah kerajaan yang terkenal makmur dan sejahtera, di bawah naungan raja yang adil dan bijaksana telah didirikan sebuah istana, istana tersebut sangat indah, jalan setapak menuju sana

Mimpi Anak Gajah

Oleh:
Sore itu aku telah menghabiskan seember rumput, hingga akhirnya mataku terasa berat saat malam menjelang. Sebelum aku tidur, mataku masih memandang gelapnya keadaan sekitar. Aku melihat ibuku tengah berbincang

Do’a Seekor Anak Ikan

Oleh:
Senja ini, seperti biasa aku menanti kedatangan dua bocah bersaudara itu. Orang yang mungkin sengaja Tuhan kirimkan untuk menjaga dan merawat tempat kami yang selama ini tentram dan damai.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *