Motang, Dongki dan Pak Tani

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat), Cerpen Fabel (Hewan)
Lolos moderasi pada: 2 July 2019

Konon di sebuah kebun bernama Mentar, tepatnya di pedalaman Flores, hiduplah seorang pak tani bernama Lopo. Setiap hari, Lopo bekerja banting tulang demi menghidupi rumah tangganya. Didirikannya di sana sebuah pondok panggung di tengah kebunnya. Kemudian ditanaminya berbagai tanaman pangan, buah-buahan dan umbi-umbian. Namun, berbagai jenis tanaman itu tak pernah luput dari gerogotan babi hutan yang dikenal dengan nama Motang dan si kera pencuri kelas atas dikenal dengan nama Dongki.

Pada malam hari, Motang dan teman-temannya sering masuk keluar kebun pak tani. Mereka seakan mempermainkan pak tani yang bekerja sejak matahari menunjukan kilauannya di ufuk timur sampai terbenamnya di ufuk barat. Belum lagi ia capek mengusir Dongki yang hanya tahu memanen dan tak tahu menanam.

Satu musim berlalu, Lopo mengalami gagal panen. Ia beserta keluarganya sangat lapar. Meskipun demikian hebatnya kelaparan, namun Lopo tidak kehabisan cara untuk bertahan hidup. Ia rela makan sedikit dari biasanya, kemudian ia mencari cara untuk menjebak kedua “penjahat” yang terbilang tamak itu.

Suatu hari, ia menggali lubang besar di mana Motang dan kawan-kawannya biasa lalui. Di dalam lubang itu ditanaminya beberapa kayu yang telah diruncing. Di atas permukaan lubang itu, ia menaruh ranting kering lalu meletakkan daun pisang dan jerami kering. Kemudian diatur sedemikian rapinya. Barulah kemudian ia menyimpan ubi-ubian persis di tengah-tengah rangkaian itu.

Pada malam hari, seperti biasa Motang dan kawan-kawannya kembali pada kebun pak tani. Tapi kali ini, mereka masuk melalui jalur lain. Sementara itu, pak tani tertidur lemah karena kurang makan. Mereka memanfaatkan dengan baik kesempatan emas malam itu untuk menguras isi kebun Lopo sebelum matahari terbit. Namun, keseringan mereka mengambil makanan di tempat itu, bagaimanapun tanaman pak tani pasti habis. Motang dan gerombolannya terus mencari, hingga tibalah mereka pada jalan yang biasa mereka lalui. Nampaknya di sana telah tersedia makanan. Karena sekian lama mereka mencari dan hanya sedikit yang mereka dapati, merekapun semakin lapar. Kali ini, Motang melarang kawan-kawannya untuk mengambil “rejeki” di atas lubang itu. Ia membiarkan teman-temannya mencari.

Tiba-tiba: Creek …
Motang masuk ke dalam Lubang bersama ubi yang ingin disantapnya, lalu tubuhnya tertusuk kayu runcing nan tajam yang telah dipasang oleh pak tani. Melihat itu, kawan-kawannya berlari pontang panting ingin menyelamatkan diri. Mereka menyangka pak tani sedang berburu. Tamatlah riwayat Motang malam itu. Ia mati bersimbah darah.

Keesokan harinya, Lopo bangun kesiangan dan bergegas ke tempat perangkap yang ia pasang. Ia senang bukan main, ketika dedaunan pisang yang dipasangnya telah runtuh. Kemudian ia menengok perlahan ke dalam lubang. Saat itu, ia melihat langsung tubuh Motang yang sangat gemuk namun kini tak berdaya tertusuk perangkap.

Dongki, yang saat itu bermalas-malasan di atas pohon juga menyaksikan peristiwa naas yang menimpa Motang. Ia merasa ngeri ketika menyaksikan bagaimana pak tani mencabut kayu runcing yang tertancap dalam tubuh Motang, sampai-sampai ia hampir jatuh dari pohon melihat kejadian yang terbilang langka itu.

Mulai saat itu baik Dongki maupun kawan-kawan Motang, mereka pergi jauh-jauh ke pedalaman hutan dan tidak lagi berani kembalai mengganggu pak tani serta isi kebunnya. Pak tani pun demikian. Ia bekerja lagi dan lagi. Dan berharap musim berikutnya ia memetik hasil panen yang memuaskan. Sehingga ia beserta keluarganya tidak mengalami kelaparan lagi.

Cerpen Karangan: Afri

Cerpen Motang, Dongki dan Pak Tani merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ayam dan Musang

Oleh:
Di pinggir hutan, hiduplah induk Ayam dan anak-anaknya, yang berjumlah dua belas ekor. Pada suatu hari, induk Ayam membawa anak-anaknya jalan-jalan memasuki hutan. Hari pun mulai gelap, anak-anak Ayam

Buah Kesabaran

Oleh:
Hari menjelang siang. Di tepi perkampungan hewan, kancil dan jerapah duduk di bawah pohon beringin. Kedua tangan mereka terlihat mengelus-elus perut yang mengerut. “Kancil, aku lapar sekali. Sedari pagi

Mid Auntumn Festival

Oleh:
Tidak lama lagi adalah hari festival pertengahan musim gugur. Seluruh keluarga besarku mulai membicarakan soal kue bulan. Di keluargaku, kami menyebutnya tiong chiu pia atau yang lebih dikenal dengan

Nana Si Burung Baik Hati

Oleh:
Suatu hari hiduplah seorang burung nuri baik hati di hutan amazon, yakni nana. Dia sudah banyak sekali dikenal oleh hewan-hewan lain karena dia suka sekali tolong menolong, memberi dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *