Pria Di Tepi Angke

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat)
Lolos moderasi pada: 9 September 2017

Lembayung menjuntai, menyapa bumi Batavia. Di tepi sungai itu dua anak manusia memadu janji. Kata indah yang terucap dari lubuk hati insan yang tulus.

“Wisena, aku ingin engkau tetap menjadi milikku. Berpisah denganmu berarti petaka bagiku,” ucap Tien Lim Ming.
“Percayalah, Tien! Aku akan menjadi bagian dari dirimu yang tak terpisahkan. Hanya maut yang akan memisahkan kita,” kata Wisena, seraya menggenggam jemari kekasihnya.
“Kamu janji?”
“Ya, aku janji.” ucapnya. “Tapi izinkanlah aku untuk menjadi seorang prajurit kedaleman di Ukur! Jika aku berhasil menjadi prajurit, kau akan kubawa ke Ukur.”
“Bawalah aku, Sena!”
Wisena mengangguk. Keinginannya untuk mempersunting Tien dan menggapai cita-citanya menjadi seorang prajurit adalah impian yang telah lama tersimpan dalam hatinya.

Pagi itu Wisena berangkat dari Batavia. Dengan menggunakan perahu, akhirnya setelah tiga hari perjalanan, dia pun sampai di Ukur. Di sana Wisena menjalani berbagai ujian. Hingga akhirnya dia lulus sebagai prajurit Kedaleman Ukur.

“Kau telah lulus menjadi prajurit di kedaleman, Sena!” kata Kanjeng Dalem.
“Terima kasih, Kanjeng,” ucap Wisena.
“Ini semua karena kegigihanmu. Maka jadilah prajurit yang penuh tanggung jawab dalam mengabdikan diri!”
“Baiklah, Kanjeng.” kata Wisena dengan penuh rasa hormat. “Namun apakah boleh saya pulang ke Batavia?” tanyanya.
“Untuk apa?”
“Saya ingin membawa calon istri saya ke sini, Kanjeng.”
“Baik, Segeralah menikah! Dan bawa istrimu ke Ukur!”

Wisena pergi menuju Batavia. Hatinya penuh asa. Segala impian yang selama ini menjadi idaman di dalam hidupnya, akan menjadi kenyataan. Begitu pikir Wisena.

Setelah tiga hari dia tiba di Batavia. Namun betapa dia terkejut, tatkala melihat rumah pemukiman yang dihuni keturunan Tionghoa tinggal reruntuhan. Bau amis menyeruak. Begitu juga dengan rumah Tien. Rumah gadis Tionghoa yang tinggal bersama adik laki-lakinya pun luluh lantak.
“Tien…!” Wisena berlari.
Dia terpaku melihat kenyataan itu.

“Kang… Kang Wisena…!” terdegar suara dari balik reruntuhan.
“Lau!” Wisena mendekati sosok yang tertidih tiang.
“VOC…” ucap anak berusia sepuluh taun itu.
“Apa yang terjadi, Lou?” tanya Wisena.
“Seluruh keturunan Tionghoa menjadi korban VOC, Kang. Termasuk Cici Tien. Semua dibunuh, mayatnya dibuang ke kali itu,” Lou menunjuk ke arah sungai.
Dan akhirnya Lou pun menghembuskan nyawa.
“Lou…Lou…!”
Wisena memeluk tubuh Lou yang terbujur kaku.

Setelah mengubur jasad Lou, dia pergi ke tepi sungai. Air sungai terlihat merah.
Sejak saat itu, sungai yang dulunya bernama Cikeumeuh, berubah nama menjadi Angke. Angke berarti merah.

Lama Wisena tinggal di tepi Kali Angke. Dia mengubur cita-citanya menjadi prajurit, bersama dengan hilangnya cinta sejatinya, Tien.

Beberapa tahun kemudian, Wisena bergabung bersama para pejuang dalam menghadapi kompeni. Sampai akhirnya dia harus gugur. Wisena ditangkap dan dihukum gantung.

Cerpen Karangan: Imam Mutaqin
Facebook: Imam Ramana Arya Adhirajasa
Nama: Imam Mutaqin
Ttgl: Bandung, 5 Oktober 1985
Alamat: Pasirjati rt 04/11. Lebakwangi. Arjasari. Kab. Bandung.
Telepon: 083822017538

Cerpen Pria Di Tepi Angke merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Membusuk Dalam Bayangan Masa Lalu

Oleh:
Lapuk jiwa ini tersiram lara yang sulit tuk ku keringkan, dimana langkah ini harus ku hentikan begitu lelah ia mencari kepingan–kepingan cinta yang mungkin masih tersisa. Ku raba mungkin

Problema Cinta dan Persahabatan

Oleh:
Jangankan menyapanya, melihatnya saja rasanya aku sudah enggan. Entah kenapa perasaan yang dulunya berbunga-bunga ini, tiba-tiba berubah menjadi batu yang sulit untuk dipecahkan. “hei, yang lagi ngelamun. Hayo, ngelamunin

Pertemuan Terakhir

Oleh:
Lili memandang bunga itu, sudah layu. Berwarna coklat kehitaman, sudah tidak berbau lagi seperti dulu. Warnanya yang merah kini sudah berubah. batangnya yang berduri kini sudah tak tajam seperti

Dia Telah Pergi

Oleh:
Jam weker ku berbunyi sangat nyaring, membangunkan aku dari tidurku yang nyenyak. Aku tersadar hari sudah pagi, dan aku pun segara ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan

Penantian Tak Berharga

Oleh:
Cinta telah mengubah semua menjadi lebih berwarna. Dengan semangat yang selalu tertanam dalam hatiku dan perasaan yang selalu indah saat ku menatapnya. Itulah perasaanku yang telah kupendam sendiri tanpa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *