Putri dan Dua Naga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat), Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 14 September 2019

Alkisah pada zaman dahulu kala saat pulau Andalas dipimpin Sultan Kuta yang sudah tua renta, negeri tersebut sering mendapat gangguan dari makhluk raksasa bernama Kleng.
Setiap kali makhluk itu datang perawakannya semakin besar dan menyeramkan serta membuat kerusakan semakin parah di negeri tersebut, hilangnya harta benda, hilangnya ternak bahkan korban jiwa semakin banyak. Sultan yang tua renta tidak dapat berbuat apa-apa, hanya membantu rakyatnya yang tersisa dengan bantuan seadanya setelah makhluk itu pergi.
Sultan Kuta memiliki putra bernama Muda, seorang pemuda yang cerdas, tampan dan pemberani. Banyak saudagar dan pengelana berteman baik dengan Sultan Kuta dan putranya.

Sampai pada suatu hari datanglah seorang pengelana dari Negeri Barus yang prihatin dengan kondisi negeri tersebut. Beliau adalah sahabat dari putra Sultan Kuta.
Pada jamuan makan malam di istana pengelana menanyakan kondisi Sultan dan negerinya, maka sultan menceritakan semua kejadian yang dialami negeri ini kepada pengelana tersebut.
“Hamba dengar makhluk seperti itu hanya dapat diusir oleh naga!” jelas Sang Pengelana.
Sultan mengerutkan keningnya memikirkan ucapan pengelana itu.
“Tidak ada naga di negeri ini, saya sendiri belum pernah melihatnya,” jelas Sultan Kuta.
“Kalaupun ada hanya cerita para saudagar dari Rum, konon katanya naga hanya ada di negeri hujan yang mana air disana sering membeku menjadi batu,” sambung Sultan sambil mengingat-ingat cerita para saudagar bekulit putih yang sering mampir di negeri Andalas.
“Hamba sedang menuju Negeri Kuning, hamba dengar di puncak gunung tertinggi di Negeri Kuning tersebut, yang merupakan atap dunia, tinggalah kawanan naga, tapi jumlahnya sudah tidak banyak lagi,” lanjut Pengelana.
“Hamba punya seorang sahabat yang berasal dari tempat itu, beliau seorang laksamana di Negeri Kuning. Bila Sultan berkenan saya akan meminta bantuannya untuk mendatangkan naga tersebut,” Pengelana menawarkan solusi kepada Sultan Kuta.

Beberapa hari kemudian setelah mengisi perbekalan untuk kapal lautnya Sang Pengelana meninggalkan negeri tersebut untuk melanjutkan perjalanan ke beberapa negeri lain sebelum akhirnya sampai di Negeri Kuning.

Beberapa bulan kemudian Kleng datang kembali dan memporak porandakan negeri tersebut dan juga menyebabkan wafatnya Sultan Kuta.
Maka setelah makhluk itu pergi diangkatlah putra Sultan Kuta menjadi Sultan Negeri Andalas. Sejak itu Sultan Muda memimpin Negeri Andalas.
Sultan Muda bertekad akan mengalahkan Kleng, makhluk raksasa yang sudah menyengsarakan rakyat Negeri Andalas.

Setahun lebih lamanya Sultan Muda menunggu sahabatnya Sang Pengelana dan sudah sebulan ini Sultan kerap berdiri di dermaga pelabuhan memeriksa kapal-kapal yang bersandar. Hinga di suatu malam seorang prajurit datang menyampaikan berita gembira akan kedatangan dua buah kapal yang terlihat dari kejauhan menuju pelabuhan diikuti sesuatu di belakangnya.
Maka Sultan mengumpulkan seluruh menteri dan pejabat untuk menyampaikan berita gembira akan kedatangan seekor naga yang akan menghalau Kleng si makhluk raksasa.

Pagi harinya rombongan kapal Sang Pengelana berlabuh di dermaga dan seekor naga raksasa mengiringi mereka di belakang.
Pengelana lalu mengenalkan kepada Sultan Muda seorang laksamana dari Negeri Kuning yang akan tinggal beberapa bulan di Negeri Andalas bersama naganya untuk menghalau Kleng bila makhluk raksasa itu datang menyerang.

Sejak kedatangan naga tersebut Negeri Andalas menjadi aman sentosa karena naga tersebut berhasil menghalau Kleng setiap kali menyerang Negeri Andalas. Semakin lama semakin jarang makhluk raksasa itu mengganggu, bahkan makhluk itu sepertinya jeri menghadapi naga hingga akhirnya tidak pernah datang lagi.

Naga yang dibawa laksamana adalah naga betina dan setelah beberapa bulan tinggal di negeri Andalas naga tersebut bertelur sebanyak dua butir.
Belum genap setahun keberadaan laksamana di negeri andalas datanglah utusan dari Negeri Kuning untuk menyampaikan pesan dari Raja Negeri Kuning agar laksamana mereka segera kembali ke Negeri Kuning karena Negeri Kuning sedang menghadapi penyerangan dari negeri tetangganya.
Laksamana tidak bisa membawa serta telur naga tersebut karena akan sangat berbahaya selama dalam perjalanan pulang ke Negeri Kuning. Maka diputuskan telur naga tersebut ditinggalkan di negeri Andalas sampai menetas dan laksamana akan datang lagi menjemput anak naga itu kelak.

Sebelum berangkat laksamana memberi pesan kepada Sultan Muda agar meletakan kedua telur naga di dapur dekat tungku memasak sehingga telur selalu hangat dan nanti setelah telur itu menetas agar bayi naga diberi makan ikan segar yang masih hidup sehingga sampai dewasa nanti naga tersebut akan memakan ikan seperti induknya. Karena makanan pertama yang dimakan bayi naga akan menjadi makanannya sampai dia dewasa, dia tidak akan makan makanan lain. Berulang kali laksamana mewanti-wanti Sultan agar bayi naga tidak diberi daging dari hewan ternak karena kelak dia akan menjadi pencuri ternak atau pemburu hewan liar di hutan dan itu akan merepotkan Sultan Muda.
Setelah semua perbekalan dimasukkan ke kapal maka berangkatlah laksamana dari Negeri Kuning diiringi naganya.

Sejak itu negeri Andalas telah menjadi negeri yang aman sentosa, Kleng si makhluk raksasa tidak pernah datang lagi.
Kemudian Sultan Muda menikahi seorang putri dari Negeri Lingga, mereka hidup bahagia.

Setahun kemudian Sultan Muda bersiap menyambut kelahiran anak pertamanya, perkiraan tabib yang akan lahir adalah seorang putri. Seluruh kerajaan berbahagia menyambut hari kelahiran tersebut.
Tidak lupa setiap malam sebelum berangkat tidur Sultan turun ke dapur memeriksa kondisi dua butir telur naga yang waktu menetasnya juga sudah dekat sesuai perkiraan yang disampaikan laksamana dari Negeri Kuning dahulu.

Hingga suatu malam terjadilah kesibukan di istana karena sang putri akan segera lahir ke dunia. Tiada seorangpun menyadari telur naga yang mulai retak tanda akan menetas karena semua orang di istana sibuk menyiapkan kelahiran putri Sultan Muda.

Tepat saat proses bersalin istri Sultan kedua telur naga juga menetas, dimulai dari telur pertama menetaskan seekor bayi naga yang gagah, bayi naga tersebut merayap ke lantai dapur istana dan didapatinya karung beras yang terbuka dan butiran-butiran beras yang berserakan yang belum sempat dibersihkah juru masak istana kemudian bayi naga memakan beras itu. Tak lama kemudian telur keduapun menetas dan seperti abangnya bayi naga ini juga turun ke lantai dapur namun kearah tungku masak yang terdapat kuali besar untuk menanak nasi dan dia menyenggol kuali tersebut hingga jatuh dan menumpahkan nasi di dalamnya, naga mungil itu segera melahap nasi yang berserakan tersebut.

Menjelang subuh lahirlah sang putri ke dunia, Sultan sangat bahagia dan pengurus istanapun ikut bahagia dan juga lega. Menjelang fajar juru masak turun ke dapur dan kaget menemukan dapur yang berantakan dan hampir pingsan melihat dua ekor makhluk sedang menyantap beras dan nasi.
Sultan segera ke dapur dan mengamankan kedua bayi naga tersebut.

Negeri Andalas sedang bersuka cita dengan kelahiran sang putri dan kedua bayi naga, dikemudian hari putri tersebut lebih dikenal dengan sebutan Putri Naga karena tumbuh besar bersama kedua anak naga. Sedangkan kedua naga diberi nama Beras dan Nasi sesuai dengan makanan yang mereka makan.

Enam bulan kemudian datanglah laksamana dari Negeri Kuning, sesuai janjinya dahulu akan membawa pulang kedua anak naga. Namun Laksamana sedikit kecewa karena ternyata anak naga tersebut diberi makan beras dan nasi.
Lalu Sultan menjelaskan kejadian di malam menetasnya telur naga tersebut, akhirnya Laksamana dapat memahami.

Saat akan dinaikkan ke kapal oleh Laksamana kedua naga menolak pergi mereka berusaha melepaskan diri lalu belari ke hutan. Penduduk juga keberatan laksamana membawa pulang kedua naga tersebut apalagi induk naga sudah lama mati sehingga tidak ada alasan membawa naga tersebut.

“Saya ingin membawa kedua naga ini, pada suatu saat keduanya akan merepotkan Sultan dan rakyat karena semakin besar mereka akan membutuhkan makananan semakin banyak,” alasan laksamana.
“Biarkan saya memulangkan mereka ke puncak gunung tempat asal naga tersebut, biar mereka bisa beradaptasi dengan naga lainnya yang juga tinggal sedikit jumlahnya disana,” jelas laksamana.
Namun penduduk kota keberatan dan menyatakan kesanggupan mereka memberi makan kedua naga.
“Baiklah kalau begitu, saya akan meninggalkan mereka disini dan saya akan kembali setahun lagi, apabila kalian berubah fikiran saya bersedia mengembalikan mereka ke asalnya tetapi setelah umur mereka bertambah, tubuh mereka semakin besar dan kekuatan mereka semakin besar pula maka saat itu sulit bagi saya memulangkan mereka tetapi saya selalu bersedia membatu Sultan dan negeri ini,” terang Laksamana.

Seperti janjinya setahun kemudian Laksamana datang kembali namun penduduk kota tetap mempertahankan kedua naga maka sejak itu Laksamana dari Negeri Kuning tidak pernah lagi datang.

Negeri Andalas adalah negeri yang makmur dianugrahi tanah yang subur sehingga hasil panen melimpah, mereka mampu memberi makan kedua naga apalagi putri sultan sangat sayang kepada kedua naga. Namun semakin besar naga tersebut membutuhkan makanan semakin banyak apalagi salah satu dari mereka hanya mau makan beras dan naga kedua hanya makan nasi.

Hingga pada usia putri Naga tujuh belas tahun terjadilah kemarau yang panjang di Negeri Andalas, hasil panen banyak yang gagal sehingga persediaan padi semakin menipis. Beberapa penduduk mulai mengeluh dengan keberadaan kedua naga yang banyak menghabiskan persediaan beras mereka. Pada puncaknya ramai-ramai penduduk mendatangi istana dan meminta sultan mengembalikan kedua naga ketempat asalnya.
Putri Naga sedih mendengar permintaan rakyatnya, demikian juga Sultan bersedih karena dia sudah menganggap kedua naga tersebut seperti anaknya. Namun Sultan tidak kuasa menolak permintaan rakyatnya.
Maka Sultan mengirim seorang utusan ke Negeri Kuning untuk menemui Laksamana agar mau memulangkan kedua naga tersebut.

Beberapa bulan kemudian Laksamana dari Negeri Kuning sampai di Negeri Andalas dan takjub dengan tubuh kedua naga yang gagah.
“Rakyat Tuan sudah memelihara mereka dengan baik,” kata Laksamana sambil memperhatikan kedua naga yang sedang bermain dengan putri Sultan.
“Beberapa tahun lagi kedua naga ini akan menyamai tubuh induknya,” tambah Laksamana
“Keadaan kami semakin buruk karena kemarau panjang ini, rakyat meminta agar kedua naga dikembalikan ke asalnya,” jelas Sultan.
“Saya akan coba membujuk kedua naga tetapi kalau mereka tidak mau ikut kita tidak bisa memaksa,” sambung Laksamana sambil berfikir keras.

Sudah seminggu Laksamana bersama Sultan dan Putri Naga meminta kedua naga ikut pulang ke Negeri Kuning, awalnya kedua naga menolak namun dengan kasih sayang Putri Naga akhirnya kedua naga bersedia pergi dengan berat hati.

Pagi yang mendung mengiringi keberangkatan laksamana dan kedua naga, dengan meniti air mata kedua naga dengan berat hati berpisah dengan Putri Naga. Putri Naga tak bisa menahan tangisnya melihat kedua saudaranya pergi meninggalkannya.

Beberapa mil kapal belayar meninggalkan Negeri Andalas tiba-tiba penduduk Negeri Andalas dikejutkan dengan gempa bumi dahsyat. Penduduk melihat ke arah laut dan seperti yang ditakutkan air laut surut jauh kelaut, seketika orang-orang berteriak ketakutan akan datangnya Kleng si makhluk raksasa.
Orang-orang berlarian ke arah gunung untuk bersembunyi dari amukan Kleng, terjadi kepanikan dimana-mana.
Semantara itu dari tengah laut Nasi dan Beras melihat makhluk hitam jauh di arah barat mereka, yang sedang menuju Negeri Andalas.
Mereka merasa ada bahaya yang akan menerjang negeri Andalas, maka keduanya berputar haluan kembali ke Negeri Andalas untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

Sesampai di ujung Negeri Andalas mereka melihat sosok makhluk raksasa hendak menyerang Negeri Andalas, mereka langsung teringat akan cerita Kleng si makhluk raksasa yang pernah dikalahkan induk mereka.
Dengan gagah berani kedua naga itu menghadang Kleng persis di laut di ujung Negeri Andalas.

Sesaat Kleng berhenti.
“Kalian putra dari naga besar yang melawanku dahulu?” Tanya Kleng.
“Kami akan mengalahkanmu seperti induk kami mengalahkanmu!” Sahut Naga Beras.
“Kalian selalu menghalangiku!” Bentak Kleng tersebut sambil menyerang ke arah Naga Beras. Dengan cepat Naga Nasi menerjang Kleng. Pertarungan di laut di ujung Negeri Andalas berjalan seimbang.

Putri Naga yang melihat kedua saudaranya itu langsung berlari kencang ke ujung negeri untuk mendekati kedua naga yang bertarung melawan makhluk raksasa. Pengawal tidak mampu mengimbangi putri berlari, mereka berpacu ke ujung negeri Andalas, sesampai di ujung negeri putri langsung melompat ke laut untuk mendekati tempat pertarungan namun gelombang laut yang terjadi karena pertarungan itu membuat putri terhempas ke sebuah karang di tengah laut. Beberapa kali putri mencoba tetapi kembali terhempas ke karang tersebut. Akhirnya putri menyaksikan pertarungan saudaranya dari atas karang tersebut sedangkan prajurit tidak mampu berenang ke karang tersebut karena gelombang laut selalu menghempas mereka ke pantai.

“Tuan Putri! Tuan Putri! Tuan Putri!” Teriak prajurit dari pantai karena khawatir dengan keselamatan Putri Naga.
Tapi Putri Naga tidak peduli dan terus menerus berteriak memanggil nama kedua saudaranya yang sedang bertarung.
Pertarungan itu berjalan lama di laut, tidak ada tanda-tanda akan ada yang menang. Kedua naga sudah terluka parah demikian juga dengan Kleng. Rasa lapar membuat Kleng tidak mundur dari pertarungan ini apalagi kekuatan kedua naga belum sebesar induknya.

Menjelang malam akhirnya makhluk raksasa itu mundur dari pertarungan dan melarikan diri dengan luka parah yang dialaminya. Sedangkan kedua naga terluka parah dan kehabisan tenaga.

“Kemarilah Beras! Kemarilah Nasi!” Teriak Putri Naga memanggil kedua naga.
“Biarkan kami disini Putri Naga! Kami khawatir Kleng akan menyerang kembali! Kami akan tetap disini menjaga Negeri Andalas ini!” Teriak Naga Beras.
Kedua naga tersebut berpelukan lalu mereka terjerebab di laut. Putri Naga terus-menerus berteriak tapi kedua naga sudah tidak bergerak. Luka-luka yang parah membuat mereka tidak bertahan.

Setelah kejadian tersebut kapal Laksamana datang mendekati putri Naga dan membawanya ke tubuh saudaranya yang sudah gugur.
Putri Naga menangis terus menerus melihat tubuh kedua naga tersebut.
Saat tubuh kedua naga tersebut akan dibawa ke darat oleh Sultan Muda, Putri Naga menyampaikan pesan terakhir dari keduanya agar dibiarkan disana untuk menjaga Nageri Andalas.

Maka sejak itu Putri Naga sering mengunjungi tubuh kedua naga yang lama kelamaan ditumbuhi semak belukar dan menjadi dua buah pulau yang indah bernama pulau Nasi dan pulau Beras yang selalu setia menjaga Negeri Andalas dari serbuan gelombang raksasa yang sesekali datang menerjang. Kawasan tempat Putri Naga berlari disebut Ujong Pancu, sedangkan gudukan karang di tengah laut yang menjadi tempat Putri Naga berdiri melihat saudaranya berjuang dinamakan pulau Tuan yang masih berdiri dengan gagahnya hingga kini dan dapat di lihat dari pantai Ujong Pancu.

Ujong Pancu di anugerahi alam yang indah, gunung, pantai dan alam bawah laut yang sangat indah di sekitar pulau Tuan, demikian juga pulau Nasi dan pulau Beras memiliki keindahan alam yang luar biasa, mudah-mudahan tidak ada lagi Kleng-Kleng masa kini yang merusaknya

Cerpen Karangan: Wildan Seni
Blog: Bakauhijau.wordpress.com
Wilda Seni
Dosen Akper Abulyatama Aceh Besar

Cerpen Putri dan Dua Naga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seindah Jalan Cinta-Nya

Oleh:
Senja mulai pergi menjemput malam. Langit di ujung cakrawala kini tak lagi biru, ia telah memancarkan polesan warna jingga senja dalam balutan gradasi warna yang begitu indah. Paduan warna

Antara Cinta dan Persahabatan

Oleh:
Namaku Dellia Salshabilla Putri, aku kerap disapa Shalsa. Aku duduk di bangku kelas 3 SMP. Aku mempunyai sahabat, dia bernama Aldina Larasari yang kerap disapa Laras. Kami sudah bersahabat

Hidupku Adalah Warnanya (Part 1)

Oleh:
Orang bilang aku aneh, ya memang Aku akui pendapat mereka, karena aku memang aneh, Aku memiliki dua bola mata yang berbeda warna, kiri coklat, sedangkan yang kanan hitam, itu

Malin Kundang (Bukan) Anak Durhaka

Oleh:
Di jalan raya. Malin Kundang memacu kencang mobil sport, keluaran terbaru pabrikan asal Italia miliknya. Tak dihiraukannya, kiri kanan kendaraan yang lalu lalang mendekati kendaraannya. Matanya hanya fokus ke

Pengorbanan Yang Tak Dianggap

Oleh:
Namaku Fany Indah Wardianti. Biasa dipanggil Fany. Di Sekolah, aku mempunyai teman yang banyak. Ini adalah kisahku, pengalamanku, kisah nyata hidupku yang tak mungkin bisa kulupakan. Aku punya sahabat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Putri dan Dua Naga”

  1. moderator says:

    Ga nyangka kalo ini dongeng (cerita rakyat) lokal… baru ngeh pas di akhir cerita… ^_^ cerita yang bagus bang Wildan

    ~ Mod N

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *