Qin Xiondi (Blood Brothers)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat)
Lolos moderasi pada: 1 August 2017

Negeri Han tengah berduka. Sang Kaisar yang telah berbulan-bulan terbaring sakit, akhirnya mangkat. Hari ini adalah hari pemakamannya. Begitu banyak orang yang hadir. Terlihat beberapa petinggi dari negeri lain, dan banyak rakyat dari Negeri Han sendiri, yang ingin menghantarkan Sang Kaisar ke tempat peristirahatan terakhirnya. Negeri itu, telah kehilangan sosok pemimpin yang bijaksana.

Pemakaman Kaisar baru saja usai. Seluruh istana masih berduka. Namun para Petinggi terpaksa mengadakan pertemuan segera. Mereka tidak bisa membiarkan kursi kepemimpinan kosong terlalu lama. Karena hal itu bisa dimanfaatkan oleh negeri lain untuk menyerang Negeri Han. Sehingga, mau tidak mau, para Menteri dan pejabat lainnya pun mengadakan pertemuan hari itu juga.

Para Menteri dan pejabat tentunya tidak akan bingung seperti sekarang, jika Kaisar hanya memiliki satu orang putera mahkota. Sayangnya, Kaisar justru memiliki dua orang putera yang sama-sama sudah dewasa. Putera pertama bernama Gengxin. Bukan saja sudah terkenal dan dicintai rakyat karena kemurahan hatinya, tetapi sang Pangeran juga berwajah tampan, cerdas dan bijak. Putera kedua, yang lebih muda tiga tahun, bernama Gongjin. Seperti kakaknya, ia juga dicintai rakyatnya karena kebaikan hatinya. Ia pun tampan dan cerdas. Hanya saja, ia mempunyai watak yang keras.
Sebenarnya, sebelum sang Kaisar mangkat, beliau sudah memberikan pilihan pada para Menteri, siapa yang layak untuk menggantikan posisinya sebagai pemimpin. Namun, jika dilihat dari garis silsilah, hal yang Kaisar tentukan tidak sepenuhnya tepat, dan inilah yang membuat para Menteri bingung. Mungkin, Pangeran pertama memang lebih layak menjadi Kaisar jika dilihat dari sifatnya yang lebih bijak daripada adiknya. Sayangnya, Pangeran pertama terlahir dari seorang selir, tidak seperti Pangeran kedua, yang terlahir dari Permaisuri.
Permaisuri sendiri, telah lebih dulu meninggal dunia karena sakit ketika Pangeran kedua berusia lima tahun, sehingga Pangeran kedua pun diasuh dan dibesarkan oleh ibunda Pangeran pertama, yang tentu saja menyayanginya sebagaimana putera sendiri. Oleh karena itu, Pangeran kedua tidak pernah mempunyai rasa cemburu kepada kakaknya. Mereka berdua hidup rukun dan saling mengisi satu sama lain.

“Kenapa para Menteri itu harus bingung,” kata Gongjin kepeda Pelayan pribadinya. “bukannya ayah sudah memberikan mereka pilihan, yang menurutku juga tepat.”
“Itu karena andalah yang lebih berhak menjadi Kaisar jika dilihat dari silsilah keluarga, Tuanku.” sahut si Pelayan.
“Jangan bodoh! Kak Gengxin itu juga putra ayahku,” kata Gongjin. “tidak berbeda denganku.”
“Tapi Pangeran Gengxin itu putra selir, Tuanku,” jawab si Pelayan. “itu yang menjadi kebingungan para Menteri —atau anda yang merasa tidak layak untuk menggantikan ayah anda.”
“Kau tidak salah,” kata Gongjin terus terang. “aku memang tidak yakin pada diriku sendiri.”
“Jangan merendahkan diri anda sendiri, Yang Mulia,” ujar si Pelayan. “anda sama cerdasnya dengan Pangeran Gengxin. Rakyat juga mencintai anda.”
“Untuk menjadi seorang pemimpin —apalagi di negeri sebesar ini, kukira kau juga tahu, bahwa cerdas dan dicintai rakyat saja tidak cukup, Paman.”
“Kalau soal kebijaksanaan, itu bisa diasah, Tuanku,” kata si Pelayan.
“Ayahku sudah menentukan siapa yang menjadi penggantinya,” ujar Gongjin. “kalian semua saja yang membuatnya pelik.”
Si Pelayan hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika sang Pangeran pergi begitu saja.

Gengxin tengah terdiam di kamarnya. Jendela dibiarkannya terbuka hingga bulan yang sedang purnama terlihat jelas.
“Ge,” sebuah suara membuat Gengxin berbalik.
“Gongjin, kau membuatku kaget saja.”
“Dui buqi, aku sudah masuk kamarmu tanpa permisi,” kata Gongjin. “kulihat tadi, pintunya tidak tertutup rapat.”
Gengxin tersenyum. “Mei you,” sahutnya.
Gongjin lalu duduk di sebelah kakaknya. Pandangannya mengarah ke luar jendela, menatap bulan. “Bulan itu indah ya, Ge?” gumamnya.
Gengxin mendengus geli mendengar ucapan adiknya.
“Apa kata-kataku begitu lucu, Ge?”
“Bukan begitu,” sahut Gengxin. “hanya saja —kau tiba-tiba menjadi begitu puitis, dan itu tidak biasa.”
Gongjin menarik napas dalam-dalam. “Aku bosan dan lelah.”
“Wei shenme?”
“Wo bu mingbai,” jawab Gongjin. “kenapa para menteri itu harus kebingungan sendiri, padahal ayah kita —Kaisar sendiri, yang sudah memilih siapa yang menjadi penggantinya setelah beliau mangkat.”
Gengxin tersenyum. “Setiap orang punya pemikirannya masing-masing, Gongjin,” ujarnya. “kita tidak bisa memaksakan apa yang menjadi keinginan kita kepada orang lain.”
“Keshi, ayah kita itu Kaisar, Ge,” bantah Gongjin. “bagaimana bisa semua bawahannya tidak mengikuti titahnya.”
“Ayah memang Kaisar, tapi beliau sudah meninggal.”
“Keshi, titah Kaisar tetaplah titah Kaisar.”
Gengxin kembali tersenyum. “Apakah begitu sulit bagimu, untuk menerima takdirmu sebagai pengganti Kaisar, Gongjin?” tanyanya.
“Itu jelas bukan takdirku,” bantah Gongjin. “tapi itu takdirmu, Ge. Ayah sudah memilihmu untuk menjadi penggantinya.”
“Dari segi silsilah, kau yang lebih berhak menggantikan ayah daripada aku.”
“Apa bedanya?” kata Gongjin. “Aku dirawat dan dibesarkan oleh ibu yang sama denganmu. Apa masalahnya?”
“Masalahnya adalah —separuh darah yang mengalir di tubuhku ini tidak sama denganmu,” jawab Gengxin tetap bersabar.
Gongjin mendengus.
“Kau harus memahami sekitar kita,” ujar Gengxin. “mau atau tidak mau, suka atau tidak suka… beginilah tempat kita hidup.”
“Aku tidak peduli!” Gongjin memperlihatkan sifat keras kepalanya. “aku tetap ingin Gege yang menjadi Kaisar berikutnya. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka.”
“Keshi, Gongjin—”
“Wan an, Ge,” potong Gongjin cepat, dan pergi begitu saja.
Gengxin tetap duduk di tempatnya, dan tidak berusaha mencegah saudaranya itu.

Sore itu, Gengxin tengah berada di taman belakang istana, ketika seorang wanita setengah baya berjalan mendekatinya.
“Gengxin!” panggil wanita tersebut.
Gengxin tersenyum. “Niang,” balas Gengxin yang terkejut namun senang melihat ibunya datang. “biasanya ‘kan aku yang mengunjungi Ibu, wei shenme—”
“Gongjin mengunjungi Ibu tadi pagi,” sahut sang Ibu segera.
“Shenme?”
“Shi,” jawab sang Ibu. “dan dia juga sudah menceritakan semuanya.”
Gengxin tersenyum. “Gongjin hanya terlalu cemas,” ujarnya. “tidak perlu diambil hati kata-katanya itu, Niang.”
“Apakah benar kau tidak mau menjadi Kaisar, Nak?”
“Niang, semua orang tahu, siapa yang lebih berhak menjadi Kaisar.”
“Keshi, ayahmu sendiri yang sudah menjatuhkan pilihan padamu—”
“Bu yao, Niang,” potong Gengxin. “untuk apa aku menjadi Kaisar, jika yang keberatan lebih banyak daripada yang mendukung.”
“Rakyat akan mendukungmu,” ujar sang Ibu. “Ibu yakin akan hal itu.”
“Dan rakyat juga akan mengerti dengan keputusan istana,” kata Gengxin. “jika akhirnya, Gongjin yang akan menggantikan posisi Kaisar.”
Sang Ibu terdiam, tidak berkata apa-apa lagi. Ia tidak pernah melihat putranya sedemikian keras kepala.

Akhirnya hari penobatan tiba. Ribuan rakyat sudah hadir memenuhi halaman istana untuk melnyaksikan penobatan pemimpin mereka yang baru. Di dalam istana sendiri, Para Menteri akhirnya tenang dan menerima apa yang dititahkan oleh Kaisar. Mereka tidak lagi saling berdebat mengenai siapa yang seharusnya menjadi Kaisar yang baru.
“Ge, ni kan?” kata Gongjin. “Akhirnya, semua berjalan sebagaimana yang dikehendaki oleh ayah kita.”
Gengxin hanya tersenyum.
Tapi tidak seorangpun tahu, ada rencana lain di balik senyuman sang Pangeran. Ia yang tanpa sengaja telah melihat dunia di luar istana, menjadi begitu jatuh hati akan aroma kebebasan yang didambakannya. Seketika itu juga —lima belas tahun yang lalu— Gengxin telah menetapkan hatinya untuk lebih memilih kebebasan daripada kekuasaan.

Gengxin melangkah ke atas panggung penobatan, dengan Gongjin berjalan di sebelah kirinya. Perdana Menteri menunggu di samping kursi tahta sambil membawa bantalan dengan mahkota di atasnya. Suara gemuruh teriakan dari para rakyat menggelora, mengelu-elukan nama Gengxin dan Gongjin. Sesaat kemudian, Perdana Menteri mengangkat tangan kanannya, dan suasana pun menjadi tenang. Hening.
“Majulah, Pangeran Gengxin,” pinta Perdana Menteri. “upacara penobatanmu dimulai setelah kau duduk di singgasana di tengah panggung.”
Gengxin melangkah dan berhenti di depan singgasana. Seruan dukungan dari rakyat kembali bergemuruh.
Gengxin mengangkat kedua tangannya, dan setelah suasana kembali hening, ia berkata, “Hari ini aku merasakan kebahagiaan yang tidak terkira,” dengan isyarat anggukan kepala, ia meminta Gongjin untuk berdiri lebih dekat dengannya. Gongjin menuruti permintaan kakaknya.
“Tetapi, aku juga meminta maaf pada hadirin semuanya, karena aku tidak dapat memenuhi titah Kaisar untuk menjadi penggantinya,” Gengxin menjelaskan.
Seketika semua yang hadir terkejut mendengar ucapan sang Pangeran.
Gengxin lalu melanjutkan. “dan aku memberikan jabatan Kaisar yang baru kepada yang lebih berhak, yaitu adikku, Pangeran Gongjin. Aku yakin, ia lebih mampu memimpin negeri ini dibandingkan aku.”
Hening.

“Berikan selamat kepada Kaisar yang baru!” seru Gengxin tidak mengindahkan keterkejutan semua orang.
Seketika suara tepukan dan ucapan selamat bergemuruh memenuhi istana. Para Menteri terlihat kaget, tetapi juga gembira. Perdana Menteri pun ikut bertepuk tangan. Hanya sang Selir, ibunda Pangeran Gengxin yang masih tidak mempercayai kejadian yang baru saja terjadi.
“Ge!” bisik Gongjin. “Kau sudah gila ya?”
“Senyumlah, Gongjin,” balas Gengxin tidak mengindahkan. “beri sambutan untuk rakyat yang siap memberikan dukungan padamu.”
“Keshi, Ge—”
“Sudahlah, cepat sana beri sambutan!”
Gongjin tidak punya pilihan lain ketika sang kakak mendorongnya maju. Ia pun mulai memberikan ucapan terima kasih yang dilanjutkan dengan sambutan.

Semua perhatian tertuju pada Kaisar yang baru. Muda, cerdas dan tentunya akan menjadi Kaisar yang adil dan bijak sebagaimana ayahnya dulu. Tidak diragukan, beberapa tahun ke depan, Negeri Han menjadi negeri yang lebih besar dari sebelumnya.
Sementara semua perhatian tertuju pada Kaisar yang baru, Gengxin melangkah turun dari panggung, dan berbalik pergi meninggalkan hingar-bingar upacara penobatan.

Setelah upacara penobatan dan pesta besar usai, Gongjin baru menyadari bahwa ia tidak melihat keberadaan saudaranya sejak upacara penobatan, dan mulai mencari ke seluruh istana, namun tanpa hasil. Bahkan ketika ia masuk ke dalam kamar kakaknya yang tidak terkunci, ia hanya menemukan sebuah ruangan kosong. Sepucuk surat ditinggalkan di atas meja di tengah kamar.

BRAK. Pintu kamar terbuka. Sang Selir berlari masuk.
“Yang Mulia, di mana saudaramu?”
“Aku juga punya pertanyaan yang sama, Niang,” sahut Gongjin.
“Kertas apa itu yang kau pegang?” tanya sang Selir.
“Sepertinya, Gengxin Ge yang meninggalkan surat ini.”
“Buka dan bacalah, Yang Mulia.”
“Aku tidak akan membuka dan membacanya, kecuali Niang memanggilku sebagaimana biasanya. Karena meskipun aku yang sekarang ini adalah Kaisar, tetapi aku tetaplah putramu.”
“Keshi, Yang Mulia—”
Gongjin tak bergeming.
“Hao,” kata Selir akhirnya. “aku akan menurutimu, Nak.”
Gongjin tersenyum. “Demikian lebih baik,” ujarnya seraya membuka lipatan kertas di tangannya.

Benar adanya. Surat itu memang ditulis Gengxin untuk Gongjin dan Ibunya. Dalam surat tersebut, Gengxin menceritakan semuanya, juga keinginannya untuk bebas mengembara, menjauh dari tembok tinggi istana. Dalam surat itu juga, Gengxin meminta Gongjin untuk selalu menjaga sang Ibu, dan melarang saudaranya itu untuk mencarinya.
Gongjin melipat kembali surat tersebut. Ia berusaha menenangkan Ibunya yang kini dirundung kesedihan. Ia membenci keegoisan sang Kakak, yang justru dengan kepergiannya meninggalkan duka di hati sang Ibu. Namun ia juga bisa mengerti, semua tindakan yang diambil oleh sang Kakak semata-mata demi menghentikan perselisihan di dalam istana.
Kini dengan tanggung jawab sebagai Kaisar, Gongjin tidak lagi mempunyai waktu luang sebanyak dulu. Tapi di dalam hati ia berjanji. Suatu saat ia akan pergi untuk mencari keberadaan kakaknya, meski harus menempuh perjalanan sampai ke ujung dunia.

SELESAI

Cerpen Karangan: Dee Anne
Facebook: facebook.com/dee.anne.5

Cerpen Qin Xiondi (Blood Brothers) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Julia dan Gibran

Oleh:
Mereka duduk berdua di antara dinginnya malam “Julia, kamu masih ingat saat aku pertama kali mengatakan cinta kepadamu.” “Ya tentu saja. Yang aku ingat saat itu adalah ketika banyak

The Crown of Avalor

Oleh:
“Bagaimana rasanya jika kau hidup di dalam kesendirian, kelam, tanpa adanya secercah cahaya apapapun. Ketika ketakutan datang menghampiri dan mengambil alih seluruh jiwamu, apakah para penakluk hati akan bangkit

Tusuk Rambut Ye Lin

Oleh:
“Ayahmu pergi berdagang ke Kota Raja. Sejak itu, ia tak kembali.” Itu kata ibunya ketika Ye Lin bertanya dimana ayahnya. Ketika akhirnya ibunya meninggal karena sakit, Ye Lin benar-benar

Putri Sarah dan Putri Zula

Oleh:
Putri Sarah dan Putri Zula adalah dua putri yang bersahabat dari kerajaan yang berbeda. Putri Sarah dari Kerajaan Mawar dan Putri Zula dari Kerajaan Melati. Mereka sering bermain bersama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *