Silk Road (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat)
Lolos moderasi pada: 28 April 2015

Hutan di gunung mahameru 2013,
SEMERU, gunung tertinggi di pulau jawa dengan keindahan alamnya, bunga beraneka warna semerbak bermekaran, hutan pinus dengan baunya yang khas, danau indah nan jernih yang sekarang dikenal dengan nama danau ranu kumbolo seakan menjadi pelepas lelah, tebing-tebing yang menjulang tinggi ibarat dinding pelindung, di seberangnya hamparan bukit pasir yang luas membentang serta udara pegunungan yang bersih dan segar kian menambah kesempurnaan gunung ini. Namun kisah ini tidak terjadi di zaman sekarang melainkan sekitar 700 tahun kebelakang disaat Indonesia belum ada, yang ada hanyalah kerajaan-kerajaan kecil yang muncul silih berganti, peperangan antar kerajaan tak pernah usai, perebutan kekuasaan dikalangan keluarga kerajaan menambah polemik yang tengah terjadi. Pada zaman ini kerajaan singasari dengan raja terakhirnya kertanegara telah musnah menyusul pemberontakan yang dilakukan keturunan raja kediri yaitu jayakatwang, namun tak lama kemudian kediri mengalami nasib yang sama setelah dikalahkan oleh raden wijaya dengan bantuan pasukan kerajaan mongol. Raden wijaya kemudian mendirikan kerajaan majapahit setelah mengusir pasukan mongol dari jawadwipa.

Hutan di gunung Semeru, 1298 Masehi.
Matahari sudah mulai turun menuju peraduannya di ufuk barat, angin sepoi-sepoi berhembus menggoyang dedaunan, namun hutan di sebelah utara danau ranu kumbolo tetap tak bergeming, seperti ada sebuah kekuatan Maha dahsyat yang membuat hutan ini tetap tenang, suara raungan beberapa hewan buas terdengar dari kejauhan, pohon-pohon pinus menjulang tinggi seakan menambah kesan angker hutan ini, memang semenjak dahulu kala gunung semeru dianggap sebagai tempat paling mistis di jawadwipa (pulau jawa), tempat bersemayam para dewa.

Tiba-tiba entah darimana asalnya sebuah panah muncul membelah udara dan memecah kesunyian hutan ini dengan bunyi desingannya, panah itu berhenti setelah mengenai sasaran dan kini di ujung panah tersebut telah tertancap seekor kelinci. dari arah datangnya panah tersebut muncul seorang pemuda gagah berusia sekitar 25 tahun sambil menenteng busur panah, di punggungnya masih terdapat 4 buah anak panah lainnya yang siap ditembakkan kapan saja, dari pakaian yang dipakainya jelaslah kalau ia bukan orang sembarangan, mungkin dari keluarga bangsawan atau ksatria, sulit membedakannya namun setiap orang yang menatap matanya pasti akan setuju kalau pemuda ini pastilah sudah melewati hidup yang berat.

Pemuda itu kemudian berjalan menuju buruannya yang sudah terkapar di tanah sambil menyeruak di antara semak-semak yang rimbun menutupi hutan ini. dicabutnya anak panah pada kelinci tersebut dan setelah dibersihkannya ia gabungkan kembali bersama 4 anak panah lainnya.
“maafkan aku sobat, tapi aku juga harus makan agar bisa bertahan hidup” ujarnya. Suaranya berat namun menyiratkan ketegasan.
“suuuiiittt… suuiiitt” pemuda itu bersiul, dari kejauhan terdengar suara derap kaki kuda yang lama kelamaan makin dekat. Kini di hadapan pemuda itu telah berdiri dengan gagah seekor kuda jantan bewarna putih. Pemuda itu yang ternyata bernama jayanegara kemudian melompat ke punggung kuda tersebut dan memacunya meninggalkan hutan menuju danau ranu kumbolo. Ia hanya sendiri, tak terlihat pengawal atau orang lain yang bersamanya dan jika dilihat dari caranya yang lihai dalam mengendarai kuda melewati hutan, sepertinya ia sudah tinggal cukup lama di gunung Mahameru sehingga tau mana jalur yang cukup aman untuk dilewati.

Di tepi danau tersebut di dekat sebuah tanjakan, terlihat sebuah rumah atau lebih tepat disebut sebagai pondok. Disana ia berhenti dan menambatkan kudanya. Pondok itu jika tidak bisa dibilang jelek maka cukuplah sederhana kata yang tepat untuk menggambarkannya, pondoknya sangat kecil, dengan atap dari dedaunan dan ijuk kelapa, dinding dari kayu seadanya yang bisa ditemukan di sekitar danau, sangat jauh dari kata layak. Di sebelah pondok terdapat ladang jagung yang siap dipanen. Jayanegara masuk dan menggantungkan panahnya di dinding di dekat pedang dengan ukiran relif naga yang menghiasi sarung pedangnya.

Sinar matahari senja benar-benar indah sore ini. cahaya orangennya memantul di permukaan danau ranu kumbolo, memancarkan keindahan tersendiri yang sulit diungkapkan. kini jayanegara telah duduk di depan api unggun yang ia gunakan untuk memanggang kelinci hasil buruannya, kelinci tersebut telah berpindah dari atas api ke genggaman tangannya. suhu dingin wilayah sekitar ranu kumbolo membuat daging kelinci itu tak perlu menunggu waktu lama untuk dimakan, alam telah mendinginkannya secara alami. Hal itu wajar saja karena ranu kumbolo terletak sekitar 2400 m dari permukaan laut yang suhunya pada malam hari bisa mencapai 9 derajat celcius, belum lagi suhu di puncaknya.
“terima kasih atas makanannya” ucap jayanegara.
“pawana, habiskan rumputmu. Kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi” sambungnya sambil melihat ke arah kuda putihnya. Pawana, demikian nama kuda itu, meringkik pelan lalu kembali memakan makanannya.

Matahari kini telah benar-benar hilang digantikan bulan purnama. Langit sangat cerah malam ini, bintang-bintang terlihat jelas, angin sepoi-sepoi berhembus dan di kejauhan terdengar beberapa suara hewan malam. Kini jayanegara telah duduk di sebuah gundukan kecil yang agak tinggi dari tanah sekitarnya menyerupai bukit kecil dan bersandar pada sebuah pohon besar. Di tangannya tergenggam seruling kecil dari bambu, ia meniupnya dan memainkan alunan melodi indah yang menentramkan hati, iramanya sangat menyayat hati bagi siapapun yang mendengar, seperti menggambarkan perasaan pemainnya, seolah-olah menggambarkan perjalanan panjang penuh rintangan namun di ujung perjalanan bertemu dengan oase nan subur. Jayanegara memainkannya dengan kesungguhan hati, walaupun sorot matanya tetap sama, sayu. Namun alisnya yang tajam seakan mengisyaratkan kalau ia punya tekad yang kuat hingga mampu bertahan selama ini.

Angin yang tadi berhembus sepoi-sepoi perlahan lenyap, dedaunan berhenti bergoyang, riak danau mulai hilang dan suara hewan malam pun mendadak senyap seperti larut dalam irama sendu yang keluar dari seruling jayanegara, ikut memahami kesedihan sang pemain hidup sendirian di alam liar selama ini, Jayanegara, serigala penyendiri. Bahkan pawana kini ikut meringkuk di samping tuannya.

Matahari pagi bersinar terang membangunkan jayanegara dari tidurnya, setelah mandi dan berpakaian ia mengambil pedangnya yang tergantung di dinding pondok dan membawanya keluar. awalnya jayanegara hanya melakukan latihan pernafasan berulang kali, menyesuaikan irama pernafasannya dengan angin, menyatukan dirinya dengan alam. Lalu ia mengambil ancang-ancang, kedua kakinya sedikit ditekuk membentuk kuda-kuda dan dalam satu tarikan nafas ia mengeluarkan pedangnya dari sarung dengan kecepatan yang sulit diikuti mata dan menyabetkannya di udara, pedangnya seolah memotong udara, gerakan tersebut dilakukannya berulang kali dengan kecepatan yang luar biasa, entah berapa kali sudah ia lakukan, 800? 900? atau 1000 kali? jayanegara terus melakukannya hingga tangannya benar-benar pegal dan tidak sanggup lagi untuk diangkat.

Setelah dirasa cukup ia pun berhenti dan menuju pohon di bukit kecil dekat pondokannya. Jayanegara berbaring dengan kedua tangannya direntangkan, memandang langit nan biru, merasakan semilir angin melewatinya. Kemudian ia memejamkan mata, merasakan bumi dengan kulitnya, mendengar suara-suara alam, melihat dengan mata yang lain, mata batinnya. Lama jayanegara hanya berdiam seperti itu. Lalu setelah tangannya agak bertenaga lagi ia duduk dan mengeluarkan serulingnya. Kembali ia lantunkan instrumen yang biasa ia mainkan, tenang dan mengalir lembut merasuki jiwa, membuat kekuatannya kembali.

Matahari mulai tergelincir ketika jayanegara bangun dari tidur siangnya, ia segera menuju pondok dan mengambil peralatan memancing, lalu duduk di tepi danau berharap agar ada yang memakan umpannya supaya ia tak kelaparan hari ini.

Hari telah benar-benar sore ketika jayanegara sedang memanjat tebing untuk mengumpulkan rempah-rempah guna dijadikan bumbu dan obat-obatan. Ketika ia melihat ke arah selatan, ke hamparan gurun pasir, jayanegara melihat badai pasir sangat besar sedang melanda wilayah tersebut. Setidaknya ini badai pasir paling besar yang pernah ia lihat selama tinggal di pegunungan ini.

Setelah selesai mengumpulkan tanaman yang ia butuhkan jayanegara turun menuju pondok. Hari telah malam ketika ia sampai. Malam begitu gelap dan angin sangat kencang. Berdasarkan pengalamannya selama ini, hujan badai akan datang sebentar lagi. Benar saja, ketika ia telah memasukkan pawana ke kandangnya hujan lebat segera turun, disusul kilat dan petir tak henti-hentinya. Langit seakan mau runtuh dan mengeluarkan semua isinya. Jayanegara hanya bisa meringkuk di pondoknya sambil berharap pondoknya tak hancur diterjang badai.

Matahari pagi menembus masuk ke pondok membangunkan jayanegara. Setelah badai semalam ia merasa beruntung karena pondoknya tak terbawa angin seperti yang dialaminya beberapa bulan lalu. Setidaknya ia tak perlu bersusah payah membangunnya kembali.

Jayanegara baru bersiap latihan pedang ketika dia mendengar suara dari arah berlawanan. Hidup lama di alam liar membuat telinganya terlatih mendengar suara sekecil apapun walaupun dalam jarak yang lumayan jauh. Ia segera merubah arah badannya searah dengan datangnya suara lalu mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Suaranya makin dekat walaupun bergerak perlahan. 125 meter… 100 meter… 75 meter… 50 meter… 25 meter… dan dia tepat di hadapan jayanegara. Semak-semak di hadapan jayanegara bergerak, tangan jayanegara mengeras bersiap menghunus pedangnya, pedangnya telah keluar sebagian namun disaat terakhir ia menghentikannya dan memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung (sarung pedang) ketika ia menyadari bahwa yang muncul bukan musuh. Di hadapannya kini berdiri seorang gadis, mungkin umurnya sekitar 21 tahun yang berjalan dengan gontai ke arahnya. Wajahnya kusam dan penuh debu, namun mata dan garis wajahnya tidak dapat menyembunyikan kalau ia adalah wanita yang sangat cantik. Pakaiannya menyiratkan bahwa ia dari golongan bangsawan, dengan kain sutra halus yang sepertinya diimpor dari Cina, gelang emas dan kalung khas keluarga kerajaan menghiasi lehernya. gadis itu berjalan tertatih menuju jayanegara namun tak sampai bebeapa lagkah dia pingsan tapi jayanegara telah siap menyambutnya.

Jayanegara segera membawanya ke pondok dan membaringkannya di tempat yang ia sebut dipan. Ia menaruh tangannya di kening gadis tersebut. Panas. Sangat panas. gadis ini terserang demam hebat. Jayanegara mengompresnya dengan kain basah. Lalu ia mengambil rempah-rempah dan segera meramunya untuk dijadikan obat.

Selama beberapa hari gadis itu tetap belum sadar dan selama itu pula jayanegara selalu merawatnya, setiap hari ia memasukkan ramuan obatnya ke mulut gadis tersebut, melap wajahnya dan menunda kegiatan berburunya dengan hanya memakan jagung yang telah dipanen.

Akhirnya pada suatu pagi gadis itu sadar dan kata yang pertama kali terlontar dari mulutnya adalah,
“dimana aku?”. Dia kemudian duduk, di sampingnya tak ada seorang pun. Dia mendapati dirinya di sebuah pondok kumuh. Dia mencoba mengingat apa yang telah terjadi, namun kepalanya terasa sangat sakit. Lalu dia mencoba berdiri walaupun dengan susah payah dan berjalan keluar. Di luar dia terkejut melihat seorang pemuda yang sedang menenteng karung berisi rumput menuju ke arahnya. Ketka jayanegara melihat si gadis berdiri di hadapannya dia berhenti dan menurunkan karungnya.
“syukurlah kamu sudah sadar” ucap jayanegara datar.
“siapa kamu? Dan kenapa aku bisa ada disini?” Jawab si gadis.
“justru aku yang harus bertanya, apa yang membuatmu cukup berani hingga sampai di gunung mahameru?”
“mahameru?” mendengar kata mahameru ini kepala gadis itu terasa sakit, lalu bayangan-bayangan melintas di kepala gadis tersebut, ingatannya kembali! Dia terduduk.
“sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?” sambung sang gadis.
“4 hari, dan selama itu kamu terus menggigau”
“apa ada orang yang datang ke sini setelah aku?”
“tidak ada. Apa sekarang kamu bisa menceritakan alasan kenapa kamu bisa berada disini?”
“tidak. Aku tidak bisa menceritakannya kepada orang yang belum kupercaya.” Jawab gadis itu ketus.
“hoho, jawaban yang cukup kejam apalagi diucapkan kepada orang yang telah menyelamatkanmu. Sejujurnya aku tidak begitu peduli dengan masa lalumu, aku hanya ingin tau kamu ini ancaman atau bukan. Kalau kamu sudah merasa sehat silahkan pergi.” jawab jayanegara santai.
“tunggu, biarkan aku tinggal disini. Akan aku ceritakan alasan aku berada disini. Aku benar-benar membutuhkan pertolonganmu.” Sergah si gadis.
“mulailah bercerita” kata jayanegara sambil duduk di samping gadis itu menghadap ke danau.
“namaku dewi kumala, aku berasal dari majapahit. Karena melakukan suatu kesalahan besar aku harus melarikan diri meninggalkan majapahit. Namun upaya ku untuk melarikan diri tidak semulus itu. Aku dikejar oleh prajurit kerajaan. Mereka ada banyak. Aku beruntung karena kuda yang kutunggangi sangat cepat. Aku terus memacu kudaku menjauhi majapahit hingga akhirnya aku sampai di kaki gunung Mahameru ini. aku mendengar kabar bahwa gunung ini sangat keramat, tidak seorang pun yang berani mendaki ke puncaknya. Tapi aku tak punya pilihan lain. Lalu aku turun dari kuda dan memukul kudaku agar terus berlari ke arah yang berlawanan dari mahameru. Aku harap itu bisa mengecoh mereka beberapa hari. Namun belum cukup sampai disitu, seakan para dewa marah akibat aku masuk tempat keramat, tiba-tiba badai pasir mucul. Aku berjuang sekuat tenaga melewatinya karena untuk kembali lagi sudah tidak mungkin. Walaupun aku sudah menutup wajahku dengan selempang tapi debu tetap masuk ke mata, mulut, telinga dan hidungku. Aku kesulitan bernafas. Rasa letih dan lelah akibat perjalanan membuatku linglung. Kuputuskan untuk tidak menyerah. Aku harus tetap hidup. Hingga akhirnya aku selamat dan ditolong olehmu. Jadi kumohon izinkan aku tinggal bersamamu. Aku tidak punya sanak saudara lagi di luar sana.” Ucapnya mengakhiri cerita.
“dia melewati badai pasir sendirian” batin jayanegara.
Lama jayanegara terdiam, lalu dia berkata,
“baikah. Tapi jangan harap kamu akan hidup nyaman. Kamu harus bekerja”
“terima kasih… hmmm, kalau boleh tau siapa namamu?”
“apa pentingnya namaku buatmu?”
“aku hanya malas memanggilmu dengan sebutan “pemuda” setiap saat.”
“namaku jayanegara”
“rasanya aku pernah mendengarnya di suatu tempat” batin dewi kumala.
“kalau begitu kau bisa mulai pekerjaan pertamamu dengan memanen jagung-jagung itu. Aku belum sempat memanen semuanya karena merawatmu”
“apa? Langsung disuruh kerja?” dewi kumala tak terima.
“lalu apa? Kau pikir aku akan membiarkanmu berbaring seharian?”
“issshhh… apa sifatmu memang selalu dingin seperti ini? pantas saja kamu hidup sendirian” ucap kumala sambl berlalu pergi menuju ladang jagung.
“kamu tidak tau apa-apa tentangku” kata jayanegara ketika dewi kumala telah berlalu. Ia lalu mengambil karung rumput dan membawanya menuju kandang pawana.
Mereka berdua pun sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Hampir tengah hari ketika dewi kumala datang menemui jayanegara.
“aku ingin mandi, badanku sudah gerah dan dekil” kata dewi kumala.
“Lalu apa? Apa kau ingin aku menemanimu?” jawab jayanegara sinis.
“bukan begitu, mesum. Setidaknya kau bisa menunjukkanku tempat yang tertutup dan aman dari binatang buas.”
“kau bisa pergi sedikit ke ujung sana. Disana lumayan rimbun dan pemandangannya indah. Jika kau beruntung kau hanya akan bertemu dengan beberapa ekor tupai dan katak yang akan mengintipmu” jayanegara menunjuk ke tempat yang dimaksud.
“ku harap kataknya tidak beracun” kata dewi kumala sambil beranjak pergi.

Dewi kumala sampai ke tempat yang dikatakan jayanegara. Jayanegara benar, tempat itu sangat indah dengan tebing-tebing tinggi yang melindunginya, ladang bunga di sebelah timur, pepohonan pinus dan puncak gunung yang terlihat menawan dari sini. Dewi kumala segera melepaskan pakaiannya dan turun ke air. Dingin dan menyegarkan. sudah lama sekali rasanya ia tidak menyentuh air. Dewi kumala membersihkan kotoran di sekujur tubuhnya. Danau yang jernih membuat Ia bisa melihat dasar danau. Di pepohonan terlihat burung berwarna biru yang ia tak tahu namanya. Burung itu berkicau atau lebih tepatnya terdengar seperti menyanyi. Tak lama kemudian teman burung itu datang. Mereka saling sahut menyahut membentuk irama. Ditambah suara katak dan riak danau, makin membuat danau ini jadi sempurna.
Tiba-tiba ia mendengar suara gemerisik dari pohon di belakangnya, ketika dewi kumala menoleh ke belakang ia terpekik… “KYAAAAAA…”
Jayanegara yang mendengar suara teriakan dewi kumala segera berkata,
“uppsss… sepertinya aku lupa memberi tahunya kalau disana juga tempat favorit kera untuk minum” kata jayanegara tanpa rasa bersalah.

Tak beberapa lama kemudian, dewi kumala datang. Kini dia telah menjelma dari gadis kumuh menjadi gadis cantik. Jayanegara yang melihatnya terpana.
“apa kamu sengaja tidak memberitahuku mengenai kera-kera itu?” tanya dewi kumala menyadarkan jayanegara.
“aku ingin pergi berburu, jika kamu terlalu lapar makanlah jagung sambil menunggu aku kembali” jayanegara mengalihkan pembicaraan.
“seumur hidup aku belum pernah makan jagung. jagung hanyalah makanan untuk kelas bawah. Aku ingin daging. Lagi pula aku tidak akan tinggal disini sendirian. Pengejar itu bisa datang kapan saja, belum lagi binatang buas yang bisa memangsaku setiap saat. Kumohon bawa aku” pinta kumala.
“Tapi aku tidak mau menyiksa pawana dengan beban 2 orang”
“kalau begitu kamu bisa jalan kaki”
“apa? Kupikir perjalanan panjang bisa merubah sikap manja anak bangsawanmu, ternyata tidak.” Balas jayanegara sambil menggelengkan kepala.

Setelah mengambil busur dan mengisi kendi air mereka berdua berangkat. Jayanegara berjalan kaki sambil memegang tali kekang pawana. Dewi kumala bernyanyi di sepanjang perjalanan.
Sesampainya di hutan jayanegara menambatkan kudanya. Mereka melanjutkan perburuan dengan berjalan kaki.
“hutan yang gelap. Apa disini ada babi hutan?” tanya dewi kumala.
“tidak, tapi disini ada harimau.”
“itu lebih buruk tau…”
“ssttt… suaramu bisa membuat buruan kita lari” cegah jayanegara.
Selang beberapa lama kemudian mereka melihat kelinci. disaat jayanegara sudah bersiap memanah, “kreek”. Kumala menginjak ranting patah dan sukses membuat kelinci itu kabur.
“terima kasih” sindir jayanegara.
“uppsss.. maaf”

Tak lama kemudian buruan yang lain datang. Mereka melihat seekor burung yang terbang lalu hinggap di sebuah pohon. Disaat jayanegara hendak memanahnya dewi kumala mencegahnya. Ternyata burung itu membawa cacing di paruhnya untuk diberikan pada anak-anaknya.
“aku mau makan jagung saja” kata dewi kumala. Mereka pun kembali.

Malamnya mereka duduk di bukit kecil. Jayanegara mengeluarkan serulingnya dan memainkan lagi favoritnya. Dewi kumala mendengarkannya.
“apa kamu yang membuat lagu itu?” tanya kumala begitu lagunya berakhir.
“ya, begitulah.”
“Sangat indah sekaligus menyayat hati. Alam pun terdiam mendengarkannya. Oh ya, mengenai harimau tadi apa kamu pernah melihatnya?”
“pernah satu kali, ketika aku mengambil air di sungai saat berburu”
“benarkah? Apa dia menyerangmu?”
“tidak, sepertinya dia tidak melihatku sebagai ancaman. Aku rasa harimau itu bukan harimau sembarangan, mungkin dia yang menjaga gunung ini. selama kita tidak membuat onar di gunung ini maka kita akan aman.”
Mereka berdua lalu diam dan memandang ke langit. Bulan terlihat lebih besar. Mungkin karena mereka berada di tempat yang tinggi maka bulan terlihat seperti itu. Hampir tak ada satu ruang kosong di langit yang tanpa bintang.

“aku ingin selamanya begini, hidup denganmu di gunung ini hingga kita tua dan aku akan merasa aman karena kamu selalu melindungiku” Dewi kumala merebahkan kepalanya di pundak jayanegara. Begitulah percakapan malam itu berakhir.

Cerpen Karangan: Reyhan R.
Padang. seorang siswa SMA Kelas 3 yg mencoba menyalurkan imajinasinya lewat tulisan. kritik dan saran sangat diharapkan.

Cerpen Silk Road (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Silly Boyfriend (Part 2)

Oleh:
Gessan dan Yoan baru saja pulang dari sekolah. Dugaan Gessan benar, Yoan adalah penolak balanya sebab sejak pagi tadi ia dijemput Yoan dan dia baik-baik saja. Tidak ada luka,

My Beloved Hana (Part 2)

Oleh:
Indonesia, di waktu dan tempat yang berbeda… Di sebuah kota yang terletak di tengah-tengah Pulau Java, terdapat sebuah Mansion yang besar dan hanya di kelilingi hutan dan lautan yang

Kesempurnaan Cinta

Oleh:
Awan yang menggantung di langit tampak berwarna kehitam-hitaman. Matahari bersembunyi di antara awan-awan itu. Bumi ini sedikit gelap karenanya. Tapi, aku menyukainya. Aku yang berdiri di halte bus memeluk

Iris (Part 3)

Oleh:
“And I don’t want the world to see me.” Kubanting setir mobilku menuju ke arah yang berlawanan. Menuju rumah sakit. Kenapa aku baru mengingatnya? Kenapa aku baru ingat segalanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *