Silk Road (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat)
Lolos moderasi pada: 28 April 2015

Keesokan harinya sebelum matahari terbit jayanegara membangunkan dewi kumala. Dewi kumala segera berdiri dan mengambil sikap siaga,
“ada apa? Apa mereka datang?”
“tidak, aku ingin membawamu ke suatu tempat.”

Jayanegara menggandeng tangan dewi kumala. Mereka berjalan menjauhi danau menuju puncak, hingga tiba di sebuah tanjakan jayanegara berkata sambil tetap berjalan,
“jika kamu bisa sampai di ujung tanjakan ini tanpa melihat ke belakang maka kamu akan bisa bersama orang yang kamu cintai dan cintamu tidak akan bisa dipisahkan.”
“benarkah? Siapa yang mengatakannya?” tanya dewi kumala heran.
“aku. Aku yang mengarangnya dan aku harap akan menjadi kenyataan”
“kalau begitu aku tidak akan melihat ke belakang”

Mereka berhasil melewatinya tanpa melihat ke belakang. Setelah sampai di puncak tanjakan mereka jalan beberapa ratus meter lagi hingga tiba di tepi jurang. Jayanegara berhenti dan berkata,
“lihatlah keagungan tuhan. Telu… loro… siji…”
Matahari pelan-pelan muncul dari balik gunung dan awan terasa di bawah mata kita. Bagaikan mengawang di atas gunung.
“aku ingin waktu berhenti sekarang juga. Aku takut kita tidak bisa seperti ini lagi” kata dewi kumala lirih.

Paginya mereka beraktifitas seperti biasa, dewi kumala sudah tidak terlalu manja lagi. Jayanegara berlatih pedang, dewi kumala membersihkan pondok. Setelah itu mereka pergi memancing, dewi kumala mendorong jayanegara hingga tercebur ke danau, lalu mereka memberi makan pawana dilanjutkan dengan memetik bunga untuk ditanam di dekat pondok, setelah itu mereka duduk di bukit sambil mendengarkan alunan musik dari seruling jayanegara.

Menjelang sore jayanegara berkata,
“kau mau ikut mengambil rempah-rempah ke tebing sana?” ajak jayanegara.
“baiklah.”

Mereka mendaki tebing yang terjal. Akhirnya mereka sampai ke tempat yang dituju. Ketika jayanegara mengumpulkan rempah-rempah, dia melihat ke arah gurun pasir lalu dia berkata kepada dewi kumala,
“sepertinya kita harus turun.”
“kenapa?” tanya kumala.
“itu… mereka datang!” jawab jayanegara datar sambil menunjuk ke arah gurun pasir.
Di gurun pasir telah berdiri beberapa tenda.
“kenapa mereka berkemah disana?” tanya kumala.
“kurasa mereka terlalu lelah untuk mendaki ke atas. Tapi menurut perkiraanku, mereka akan tiba paling lambat besok pagi di pondok kita.”

Malamnya mereka berdua duduk di bukit dalam diam. Tidak ada yang mau berbicara. Hingga akhirnya hening dipecahkan oleh dewi kumala,
“aku menyukaimu” katanya sambil memandang wajah jayanegara.
“kenapa kamu menyukaiku? Padahal kita baru bertemu”
“apa cinta butuh alasan?” dewi kumala menanya balik.
“huh, kamu memang pintar memainkan kata-kata”
“satu hal lagi, sebenarnya belum semuanya aku ceritakan padamu. Alasan aku kabur adalah karena ayahku raden wijaya memaksaku menikah dengan seorang pangeran dari cina untuk memperbaiki hubungan kerajaan kami. Padahal aku tidak menyukainya. Benar. Aku adalah putri dari kerajaan majapahit. Putri dari raden wijaya. Aku sudah mengatakan semuanya padamu. Maukah kamu menceritakan asal usulmu hingga tiba di semeru ini? ” ujar dewi kumala terus terang.
Jayanegara menghela nafas, kemudian berkata,
“aku anak jayakatwang, orang yang dibunuh ayahmu.”
“APA? Pantas aku rasanya pernah mendengar namamu. Lalu… apa kamu akan membunuhku untuk membalaskan dendam ayahmu?” dewi kumala tersontak kaget.
“bodoh, mana mungkin aku menyakiti gadis yang aku cinta? Balas dendam hanya akan melahirkan balas dendam yang baru. Ayahku pun dahulu membunuh kertanegara karena balas dendam atas terbunuhnya tunggul ametung di kediri di masa lalu. Lalu ayahmu membalas dendam atas kematian kertanegara. Lihat? Jika diteruskan tidak akan pernah usai. Ibarat lingkaran setan yang tak akan pernah berakhir. Satu-satunya hal yang aku sesali adalah karena lari dari pertempuran. Aku terlalu takut untuk bertempur dan setidaknya mati secara terhormat. Bahkan aku menyaksikan ayahku sendiri tewas di hadapanku. Lalu aku pergi ke semeru ini berharap agar menjadi lebih kuat. Semenjak saat itu aku seperti kehilangan semangat hidup, aku hanya menginginkan kekuatan agar jadi lebih kuat. Aku hanya peduli pada diriku sendiri. Hingga akhirnya kau datang. Aku merasa kembali hidup.”
“apa kamu yakin bisa mengalahkan mereka?”
“aku akan mencoba”
Mereka kembali ke pondok untuk tidur, namun tak ada satu pun dari mereka yang bisa.

Matahari telah terbit dan jayanegara telah bersiap dengan baju perangnya. Pedangnya telah ia asah dan panah telah ia siapkan.
“tinggallah di pondok ini sementara waktu, aku akan mengalihkan mereka ke dalam hutan. Disini terlalu terbuka untuk melakukan peperangan.” Ucap jayanegara.
“tidak, aku ikut bersamamu. Aku takut kau tidak akan kembali.”
“jangan. Terlalu berbahaya. Percayalah aku pasti kembali.”

“mereka datang. Baiklah aku berangkat” sambung jayanegara sambil naik ke atas pawana.
Walaupun jarak mereka masih jauh tapi jayanegara mampu mendengarnya.
500 meter… 400… 300.. 200… 100, di depan. Jayanegara memacu kudanya. Dari derap kudanya dia dapat menghitung musuhnya berjumlah 10 orang. Mereka muncul, tepat seperti perkiraan jayanegara. Mereka berjumlah 10 orang, tapi kini menjadi 9 orang karena satu orang telah jatuh dipanah jayanegara.
“tangkaapp diaa…” teriak seseorang yang mungkin pemimpinnya.

Jayanegara memacu pawana menjauhi pondok. Dia merubah duduknya hingga menghadap ke belakang dan berhasil memanah satu orang lagi. 8 orang lagi. Kini mereka telah jauh berada di dalam hutan. Jayanegara melompat dari kudanya dan membiarkan pawana melaju hingga hilang dari pandangan. Dia lalu bersembunyi di salah satu semak-semak. Sesaat kemudian, mereka muncul. Jayanegara tetap diam hingga pengejar terakhir muncul dia segera melompat menuju musuh dan berhasil menjatuhkan lawannya. Dengan sekali tebasan musuh tersebut sukses kehilangan kepalanya. Penyerang lainnya yang berada di hadapan kawannya yang telah mati segera sadar dan memberi tau temannya.
“dia di belakang” teriaknya.
Namun itu menjadi kata-kata terakhirnya karena setelah itu sebuah panah menancap di tenggorokannya. Lawannya yang lain berbalik arah dan membentuk barisan lurus. 2 orang yang paling depan segera membidikkan panah mereka ke arah jayanegara. Jayanegara segera berlindung di belakang tubuh orang yang ia panah tenggorokannya sambil terus merangsek maju. Panah hanya menghujam tubuh mayat itu. Saat mereka bersiap memanah kembali jayanegara berguling ke depan. Panah hanya lewat di atas kepala jayanegara. Jayanegara langsung menyabetkan pedangnya ke kaki kuda seorang pemanah. Kuda tersebut berdiri dan menjatuhkan penunggangnya, disaat itu jayanegara langsung menghujamkan pedangnya ke dada si penunggang. Penunggang berubah nama menjadi mayat. Pemanah yang masih hidup kembali mencoba memanah, namun dia kalah cepat dengan jayanegara. Jayanegara melempar pedangnya hingga tepat menancap di antara kedua mata pemanah tersebut.
Tiga orang temannya yang hanya menyaksikan dari tadi segera turun dari kudanya dan menghunus pedangnya, lalu mengelilingi jayanegara.
“tiga lawan satu? Ho ayolahh.. ini tidak adil” ucap jayanegara.

Jayanegara mencabut pedangnya dan bersiap. Serangan pertama datang dari kanan. Prajurit itu mengayunkan pedangnya ke arah leher jayanegara, jayanegara segera menangkisnya, tapi serangan kedua dari depan segera menyusul, mengarah langsung ke perutnya, kali ini jayanegara memiringkan tubuhnya sedikit ke kiri dan memukul punggung pedang lawan. Kalau jayanegara berhasil menghalau serangan pertama dan kedua tapi tidak dengan serangan ketiga. Serangan ketiga berhasil menyabet pinggangnya menembus baju perangnya. Darah sedikit keluar. Jayanegara dengan sigap berguling ke belakang mengatur jarak. Dia kini memejamkan mata dan menajamkan pendengarannya. Dia merasakan angin dari sebelah kiri, dia mundur satu langkah dan memutarkan badannya lalu mengayunkan pedangnya, ketika dia membuka matanya kepala lawannya telah hilang. Jayanegara kembali mundur lalu dia bersiul. Tak lama kemudian datang pawana yang segera menyerang prajurit kedua dari belakang. Alhasil prajurit kedua langsung tewas dengan tengkorak remuk disepak kuda. Melihat kedua temannya mati prajurit ketiga kehilangan konsentrasi, dia menyerang dengan membabi buta. Kedua pedang mereka beradu, saling menangkis dan menyerang, hingga pada suatu kesempatan prajurit itu berhasil menggores lengan jayanegara dan menendang perutnya hingga terjatuh. Disaat prajurit itu akan menyudahi jayanegara, jayanegara segera mengambil tanah dan melemparkannya ke mata prajurit tersebut. Prajurit itu menutup matanya dan kesempatan yang sepersekian detik itu dimanfaatkan oleh jayanegara untuk menyerang. Dia berguling ke depan dan menusuk perut prajurit itu hingga tembus ke punggung. Prajurit itu menutup mata untuk selama-lamanya.

Semua musuh telah tewas. Ini sudah berakhir. Tapi jayanegara merasa ada yang salah. Intuisinya yang tajam mengatakan ini belum berakhir. Benar, dia melakukan kesalahan. Dengan orang terakhir yang dia bunuh tadi maka baru 9 orang yang telah tewas. Masih ada satu orang lagi. Terlambat, tepat saat jayanegara membalikkan badan satu panah menancap di pahanya. Dia berlutut dengan satu kaki. Penyerangnya yang merupakan komandan musuh keluar dari tempat persembunyiannya.
“sepertinya pertempuran tadi membuatmu lelah sehingga tidak menyadariku. Dimana dewi kumala? Serahkan kepada kami ini titah raja. Kalau kau menyerahkannya maka kau akan mendapat imbalan.” Kata komandan pongah.
“bukan cinta lagi namanya kalau sudah diperjualbelikan” ucap jayanegara seraya bangkit dan menyerang musuh.
Pedang mereka beradu menimbulkan percikan api dan berdenting sangat keras. Mereka saling menyudutkan tapi tak ada yang mau mengalah. Saling mengincar kelemahan lawan. Kaki jayanegara yang luka membuat kecepatannya menurun. Mereka sudah bertarung sangat lama. Komandan musuh memfokuskan serangan ke bagian yang luka. Darah yang keluar dari luka panah semakin banyak. Membuat gerakan jayanegara menjadi lamban dan mudah dibaca hingga akhirnya pada satu kesempatan komandan musuh berhasil menendang kaki jayanegara yang luka. Jayanegara mengerang kesakitan dan terduduk. Pedangnya berhasil dijatuhkan.
“ayolahh… aku harus membawa gadis itu agar diperbolehkan pulang. Jika tidak mendapatkannya aku akan dihukum mati.” Kata komandan.
“pertempuran bisa terjadi karena 2 pihak memperjuangkan sesuatu yang ia anggap benar. Jadi jika kamu mati setidaknya kamu mati terhormat” jawab jayanegara.
Jayanegara mencoba menggapai pedangnya namun pedang komandan musuh menancap di telapak tangannya. Sekali lagi dia mengerang kesakitan. Komandan musuh mengeluarkan kerisnya dan menghunusnya ke arah jantung jayanegara lalu berkata,
“kata-kata terakhir?”
Jayanegara telah pasrah. Namun disaat terakhir dari balik semak-semak melompat seekor harimau ke arah komandan musuh. Komandan musuh berteriak histeris minta tolong, tapi percuma. Harimau itu telah mengoyak tubuhnya dan menyeretnya ke dalam rimba. Jayanegara merasa beruntung sekali. Dia mencabut pedang dari telapak tangannya sambil menahan sakit, kemudian memanggil pawana dan segera pulang. Tapi dia merasa pusing sekali, seluruh persendiannya terasa lumpuh. Padahal lukanya tidak seberapa. Hanya ada satu kemungkinan, dia lalu mencabut panah dari pahanya, melihat ujung panah dan benar sesuai dugaannya. Namun dia harus kuat, dia telah berjanji untuk pulang.

Ketika sampai di pondok dia terjatuh dari kuda. Kumala yang telah menunggunya segera berlari ke arahnya.
“jayanegara bertahanlah. Aku akan mengambilkan obat-obatan untukmu.”
“mereka telah tewas kumala. Kita menang. Namun aku terkena panah beracun. Aku kenal racun ini, ini racun mematikan yang tidak ada penawarnya. Racun dari daerah borneo”
“tidak… tidak mungkin, pasti ada yang bisa aku lakukan” kata kumala yang mulai menangis.
“tidak apa kumala, aku punya permintaan padamu. Bawa aku ke tanjakan yang waktu itu.”
Kumala kemudian memapah jayanegara mendaki tanjakan.
“aku pernah mendengar cerita dari saudagar arab tentang seorang pria bernama achilles yang meninggal pada saat perang troya hanya karena tumitnya terkena panah.” Kata jayanegara.
“sudahlah, jangan banyak bicara. Kau akan tetap hidup. Aku tak bisa hidup sendiri tanpamu.” Kumala terisak.

Mereka berhasil sampai ke ujung tanjakan tanpa melihat ke belakang. Lalu kumala mendudukkan jayengara.
“aku selalu merepotkanmu, tapi kamu tetap menolongku. Rela jalan kaki dan aku naik kuda, rela mencarikan kapas ketika aku bilang tempat tidurnya tidak nyaman, mau menemaniku memetik bunga, mengajariku memancing sementara tidak ada yang bisa kuberikan padamu.” Air mata kumala mengalir begitu deras.
“kau memberiku hidup. Itu lebih dari cukup.” Jayanegara tersenyum untuk pertama kalinya semenjak kumala datang.
“aku tidak mau cinta kita berakhir seperti ini. jayanegara, kau percaya reinkarnasi?”
“tidak, tapi aku percaya cinta yang tulus akan tetap abadi walau melewati berbagai zaman.” Setelah mengatakan itu jayanegara menutup matanya untuk selama-lamanya. Kumala memeluknya. Air matanya terus keluar tak percaya bahwa mereka dipisahkan seperti ini. satu-satunya alasan dia untuk hidup telah hilang. dia tak beranjak dari tempat itu, dia tak makan dan tak minum. Selama itu dia tetap menangis. Pada hari keempat kumala meninggal diakibatkan kesedihannya yang mendalam.

Waktu terus berlalu, selama itu tidak ada yang mendaki ke gunung semeru, hingga akhirnya pada tahun 1830 diadakan ekspedisi oleh belanda ke gunung semeru. Di tanjakan tersebut mereka menemukan 2 buah kerangka yang saling berpelukan. Kemudian mereka dimakamkan secara layak di kawasan semeru. Mulai dari situ maka dibuatlah mitos tentang “Tanjakan Cinta” yang populer di kalangan pendaki semeru hingga kini.

EPILOG
Jalan menuju ranu kumbolo, semeru, 31 desember 2013,
“lo tau kan kalau gue malas banget mendaki gunung” kata seorang cewek dengan wajah cemberut.
“kumala… jangan gitu dong. Ini kan baru pertama kalinya lo mendaki, tunggu sampe lo liat pemandangan di ranu kumbolo. Satu lagi, kabarnya pemandu kita untuk kepuncak nanti adalah cowok ganteng yang udah terkenal sebagai pemandu di semeru ini.” Kata cewek di sebelahnya.
“aku tidak tertarik” jawab kumala ketus.
“makanya kamu sampai sekarang belum pernah punya pacar” temannya ngeledek.

Sesampainya mereka di ranu kumbolo…
“lihat indah kan?” kata teman kumala.
“tunggu… danau ini rasanya aku sudah pernah kesini. Aku merasa sudah sangat kenal dengan danau ini” batin kumala.
“itu pemandu yang gue bilang ke lo kumala? Ganteng kan?”
Ketika kumala melihat pemandu yang dimaksud dia terdiam. Agak jauh di hadapannya berdiri seorang pemuda yang tengah menjelaskan tentang rute yang akan ditempuh menuju puncak. Di telapak tangannya ada bekas luka melintang. Tepat pada saat yang sama, pemuda itu juga melihat kumala. Mata mereka bertatapan. Tiba-tiba kumala merasakan sakit kepala yang hebat, dia memegang kepalanya.
“kamu kenapa kumala? Kamu sakit, kalau sakit beristirahatlah di tenda. Sebentar lagi pendakian akan dilanjutkan ke puncak. Kamu tunggu saja di tenda sampai aku kembali” kata temannya sambil memapah kumala ke tenda.

Kumala berbaring dan berusaha mengingat wajah pemuda itu. Wajah yang tidak asing rasanya walaupun mereka belum pernah bertemu. Dan bekas luka itu… ketika dia memejamkan mata bayangan-bayangan melintas di pikirannya. Majapahit. Kuda. Pengejar. Semeru. Badai pasir. Danau. Pondok. Tanjakan cinta. Pertempuran. Luka. Racun. JAYANEGARA! Ingatan masa lalunya kembali. Dia segera bergegas keluar tenda, rombongan kini sedang mendaki tanjakan cinta. Di depannya ada pemuda itu. Dia mengejarnya. Air mata mengalir di pipinya. Tepat di ujung tanjakan kumala memegang tangan tersebut dan berkata,
“jayanegara!!!” dia tak kuasa menahan tangis.
Pemuda itu melihat wajah kumala lantas berkata,
“ya kumala. Ini aku..” suaranya masih tetap sama, datar dan tegas.
“apa kau menungguku selama ini?”
“iya… butuh 700 tahun untuk kita bertemu. Dan aku menemukanmu sekarang”
“terima kasih jayanegara… terima kasih karena telah menungguku.”
“kau percaya reinkarnasi?” tanya jayanegara.
“tidak, tapi aku percaya cinta yang tulus akan tetap abadi walau melewati berbagai zaman.”
Mereka berpelukan.

THE END

Cerpen Karangan: Reyhan R.
Padang. seorang siswa SMA Kelas 3 yg mencoba menyalurkan imajinasinya lewat tulisan. kritik dan saran sangat diharapkan.

Cerpen Silk Road (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Untukku (Part 1)

Oleh:
Seperti kebiasaanku setiap minggu. Aku selalu meluangkan waktuku di sini. Aku duduk dengan membawa serangkaian bunga untuk kekasihku. Kubelai nisannya, bahkan sering kukecup nisannya di sini. Aku sangat menyayanginya.

Kembali

Oleh:
Setiap kali Fuji melewati perempatan jalan itu, selalu ada bayangan seorang gadis disana. Gadis yang membuatnya jatuh cinta, gadis yang membuatnya mengacuhkan gadis-gadis cantik lain. Dan gadis itu pula

Sang Belahan Jiwa

Oleh:
Di sebuah lapang rumput yang luas, aku duduk sendiri. Ditemani hembusan angin yang sejuk, siang itu aku duduk dengan santainya. Cuaca sedang cerah, nggak terlalu panas, nggak mendung, bisa

One In A Million

Oleh:
Dear diary Dear, cinta itu indah ya.. sebuah perasaan yang bisa buatku bahagia Tapi dear, mengapa ketika aku sedang bahagia, ada saja hal yang membuatku berjatuhan air mata.. aku

Precious Chocholate

Oleh:
Langit mulai berwarna, Matahari sudah mulai tersenyum, aku bergegas dan bersiap untuk segera pergi ke tempat kerjaku, aku bekerja disebuah toko cokelat bernama “Precious Chocholate”, disana aku menjadi pelayan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

9 responses to “Silk Road (Part 2)”

  1. yufitri syahila says:

    keren cerita, gue suka banget
    ada seru, romantis dan lucu juga, bikin ga bosen baca ceritanya, padahal itu cerita rakyat yg ga gue suka
    tapi ko bisa ketemu lagi setelah 700 thn lamanya? ko bisa ada lagi jayanegara sama kumalanya? disitu bikin gue bingung
    tapi tetep bagus cerpen karangan lo

  2. jessica says:

    bagus bgt, bagus BANGET !!!

  3. Nanda says:

    Gile lu bro, bagus banget ceritanya!!

  4. Juni says:

    wow ceritanya keren. Part 1 & 2 top (y)

  5. nicolas says:

    mantap gan ceritanya, lanjutkan! 😀

  6. Stevanie Athena says:

    Keren banget !!! Ditunggu lgi karya2nya bro (y)

  7. ismiani says:

    Keren banget ceritanya! paling top deh! 😀 (y)

  8. poreetz says:

    kerennn. cuma epilognya rada maksa, coba ga perlu kumala dan jayanegara yg bertmu, tp dua anak manusia yg menyimbolkan keduanya

  9. risma says:

    Ceritanya bgs Banget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *