Tertembus Bedil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Daerah, Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat)
Lolos moderasi pada: 29 March 2016

Distrik limbung, Afdeling Makassar 1917.
Aku memandangi tubuhku yang telah menjadi mayit, masih ada darah segar mengalir dari bekas bedil yang menembus tubuhku, aku masih memandangi tubuhku yang dipertontonkan layaknya hiburan di depan para masyarakat yang telah dipertuankan paksa.

“Apa yang akan terjadi pada butta ini kedepannya Daeng?” I Rajamang menepuk pundakku, ku tatap sejenak ia.
“Entahlah Rajamang apa yang akan terjadi pada butta ini sepeninggal kita dan sepeninggal sombaya Sultan Husain bertahun-tahun lalu?” Aku dan I Rajamang masih terpaku memandangi tubuh kita masing-masing yang bersimbah darah, bedil menembus jantung kami, namun bukan bedil itu yang membuat kami sakit, namun pengkhianatan sahabat kami yang menyakitkan ruh ini.

Masih segar dalam ingatanku ketika para bangsawan kerajaan melakukan perlawanan dengan si mata putih, saat itu kami bersama Daeng Barani Putra Arung Matoa Wajo, Daeng Manromo saudara tiri Sultan Husain dan Daeng Mapata mantan duta kerajaan gowa untuk kerajaan bone, kami melakukan perampokan-perampokan terhadap kaki tangan si mata putih, para penjilat, dan regent-regent di afdeling makassar, hasil rampokan itu bukan kami nikmati sendiri tetapi membagi-bagikan kepada tosama dan tomaradekaya terutama di distrik polobangkeng dan distrik limbung yang saat itu hidup mengenaskan, menanggung luka lama yang digoreskan belati si mata putih apatalagi ketika sombaya meninggal di tahun 1906.

“Tolok Daeng magassing apalagi rencana kita menghadapi W.J coenen dan para pengikut si mata putih itu?” tanya I Camango pemuda yang kami kenal sebagai perampok ulung dari limbung. “Malam ini kita harus bersembunyi kembali kamu tahukan keadaan kita terdesak karena ulah pengikut Coenen terutama sersan kadi yang bengis itu,”
“Seandainya Daeng Barani masih ada, kita tidak akan terdesak seperti ini,” sahut Daeng Manromo.
“Sudahlah Daeng, kepergian Daeng Barani jangan disia-siakan, karena sesungguhnya Daeng Barani mate ni gollai melindungi kita semua,”

Keadaan kerajaan gowa sudah tidak menentu lagi, setelah kepergian sombaya praktis terjadi kekosongan kekuasaan yang mengakibatkan huru-hara di sana-sini, perlawanan-perlawanan terjadi di beberapa daerah pedalaman, puncaknya ketika Daeng Barani tertembus bedil sersan kadi, entah siapa gerangan yang membocorkan tempat tuddang sipulung malam itu.

“Gawat Daeng, maega tahu ri saliweng?!” sahut I Camango kepada Daeng Barani dalam bahasa bugis, maklum Daeng Barani adalah bangsawan wajo yang berdagang sutera di staatds gemeente makassar, beliau adalah penyandang dana terbesar dalam kelompok perlawanan ini. Daeng Barani hanya tersenyum kepada Camango yang wajahnya pucat pasi, “Tenanglah Camango, tolong antarkan Daeng magassing dan kawan-kawan lain ke tempat lebih aman, biar saya sendiri yang menghadapi mereka,”

“Tapi Daeng bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Daeng?”
“Jika malam ini karaeng alla ta’ala memanggilku maka saya harus siap,” Daeng Barani melangkahkan kakinya meninggalkan Camango, kami semua menyusuri taman belakang kediaman Daeng barani bersama gelapnya malam dan. Door!!! Suara letupan bedil memecah kesunyian.

Sejak dua tahun meninggalnya Daeng Barani, kami dan beberapa sisa pengikut melakukan aksi-aksi gerliya di daerah pedalaman, satu persatu para pembesar kerajaan yang ikut bagian dalam gerakan ini telah berpulang ke sisi ilahi, tinggallah saya dan I Ramajang memimpin perlawanan. Di distrik limbung adalah perlawanan terakhir kami, rumah yang kami anggap paling aman dari incaran kaki tangan W.J coenen, rupa-rupanya perangkap yang di pasang mata-mata W.J coenen. “Kita sudah terkepung Daeng, kita sudah kala Daeng,” sahut I Rajamang dengan gusar, tangannya gemetar memegang badik, tatapannya mulai kosong seolah-olah ia telah menatap malaikat maut yang akan mencabut nyawanya.

“I Rajamang, tenanglah Rajamang mari kita melewati ini dengan penuh keikhlasan,” aku sejenak memeluk Rajamang menenangkan batinnya yang gundah.
“Rajamang badik telah dicabut dari sarungnya pantang kembali sebelum tertancap di tubuh si mata putih,” sahutku dan kami berdua ke luar dari persembunyian dan menyerang belasan mata bedil yang mengarah ke kami, Rajamang bersimbah terkena bedil ia belum roboh badik di tangannya berhasil tertancap di tubuh tentara knil, ruhnya telah terlepas dari tubuhnya, demikian pula denganku yang berhasil menancapkan badik di tubuh sersan kadi, aku tumbang… bedil bersarang di jantungku, mataku terbelalak melihat sosok pria I Camango, sahabatku berdiri di samping W.J coenen mantan gubernur zuid celebes, tatapannya sinis begitu memilukan dan memuakkan.

“Terkutuklah kau Camango pengkhianat!!!” seruku sebelum ruh ini terlepas dari tubuh bersimbah darah ini.

Kini aku bersama kembali kawan-kawanku, I Macang Daeng Barani, abasa Daeng Manromo, I paciro Daeng Mapata menyambut kami di alam sana, berdoa semoga kelak butta itu lepas dari si mata putih.

Cerpen Karangan: Ilyas Ibrahim Husain
Facebook: Ilyas Ibrahim Husain
Twitter: @adilbabeakbar

Cerpen Tertembus Bedil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senandung Seruling

Oleh:
Di Desa Hindun, ada desas-desus menarik yang sedang jadi bahan pembicaraan dari anak-anak sampai orang dewasa. Katanya, di dalam hutan pinggir desa, ada lelembut yang muncul dan meniup seruling

Cerita Yang Tak Berujung

Oleh:
Pada zaman dahulu kala hidup seorang Raja yang bijaksana, baik dan suka membantu rakyatnya. Salah satu kegemaran Raja ini ialah suka mendengarkan orang bercerita. Raja sudah sering kali mendengarkan

Kisah Saudagar Kaya

Oleh:
Alkisah hiduplah seorang saudagar kaya raya yang hidupnya bergelimpangan harta tanpa pernah merasa susah. Segala apa yang dia inginkan dapat dimilikinya dengan mudah tanpa perlu menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkannya.

Silk Road (Part 2)

Oleh:
Keesokan harinya sebelum matahari terbit jayanegara membangunkan dewi kumala. Dewi kumala segera berdiri dan mengambil sikap siaga, “ada apa? Apa mereka datang?” “tidak, aku ingin membawamu ke suatu tempat.”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *