The Prince, Double Princess, and I (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat)
Lolos moderasi pada: 1 August 2017

Di sinilah aku berada, di sebuah negeri yang bernama Flatopia. Nama itu diambil dari kenyataannya bahwa daratan yang aku tempati ini seluruhnya datar. Tiada bukit sebagai dataran tinggi, ataupun lembah sebagai dataran rendah.
Beruntung, aku dapat hidup tenang dan damai di salah satu istana. Di Kerajaan Flaryna -yang kutempati- ini terdapat dua orang putri yang cantik jelita. Bukan aku, tentunya.

Suatu hari, Yang Mulia Raja dan Ratu menghadiahkan sesuatu untuk putri-putrinya. Sang Raja memakaikan sebuah kalung berliontin bunga tulip di leher Putri Laluna. Sementara itu, Ibu Ratu memberikan sebuah bingkisan bermotif -lambang kerajaan- bunga krisan. Kedua putri tersebut berterimakasih dan memeluk kedua orangtua mereka.

“Kira-kira apa ya kak, isi di dalamnya?” tanya Larissa pada kakaknya Laluna, sembari menggerak-gerakkan bingkisan tersebut. Berharap ia akan menemukan jawabannya.
“Entahlah. Apapun itu isinya, kupikir hadiahku ini jauh lebih cantik dari punyamu.” jawab Laluna tegas. Putri Larissa hanya tersenyum tipis memahami tingkah kakaknya itu. Keduanya akhirnya berpisah menuju ke kamar masing-masing.

Di kamar, Putri Larissa terus menerka-nerka isi benda dalam kotak digenggamannya itu. Tak sabar, ia pun menghampiri tempat tidurnya dan langsung merobek pembungkus kotak itu. Dan, Tada! ternyata isinya ialah sebuah gaun berwarna biru berhiaskan permata yang berkilauan dan semakin memperindah penampilan benda tersebut. Dan yang pasti, kiranya hadiah Putri Larissa jauh lebih cantik dari hadiah milik Putri Laluna.

“Gaun yang sangat indah, Tuan Putri.” pujiku yang terlanjur terpesona dengan benda nan menawan itu.
“Ya, Krista. Kau benar. Gaun ini terlalu cantik menurutku. Rasanya, aku tidak ingin memakainya agar dia tidak cepat rusak.” kata Putri Larissa yang terus saja merebahkan dan menatap gaun itu tanpa kedip. Ucapan polosnya itu sedikit mengundang tawaku.
“Yang Mulia, gaun itu akan terlihat sempurna bila dikenakan oleh seseorang yang anggun seperti Anda.” pujiku kembali.
“Ya, ya, aku tahu, Krista. Kau pandai sekali untuk membuat orang merasa percaya diri.”
“Kuanggap itu suatu pujian, Yang Mulia.” jawabku, mencoba untuk merendah diri. “Kalau begitu, saya ingin pergi ke taman istana untuk…”
“Menyiram pepohonan?” potong Sang Putri seolah peramal.
“Benar, Yang Mulia. Saya permisi.”
Aku melangkah mundur membungkukkan badan seraya keluar dari ruangan megah yang padahal hanya sebuah kamar itu. Walau pandanganku menunduk, tapi aku tahu Putri Larissa tengah menatap ke arahku.

Ketika aku telah sampai di luar pintu, aku terkejut karena sudah ada Putri Laluna di sampingku. Lebih yang aku takutkan adalah tatapannya yang tajam, membuat siapapun akan mematung saat menangkap matanya itu. Termasuk aku, saat ini.
“Hey, kenapa kau diam?” tanyanya yang mengaburkan lamunanku sesaat.
“Akan lebih baik kalau Tuan Putri yang bicara terlebih dahulu,” ucapku spontan tanpa disadari.
“Benar juga. Pantas kau ini sering disebut sebagai pelayan terbaik,” jawabnya.
“Kuanggap itu suatu pujian, Yang Mulia.” balasku seperti tadi saat menanggapi Putri Larissa.
“To the point saja. Sekarang, cepat katakan padaku apa isi kotak itu!” pintanya. Bukan, kukira itu lebih ke arah interogasi.
“Kotak apa Yang Mulia?” Saya tidak paham maksud Anda.”
“Jangan berlagak bodoh, Krista! Kotak itu, hadiah Larissa pasti kau tahu bukan? Cepat beritahu aku!” bentaknya yang membuat aku ingin lari secepatnya.
“Saya tidak tahu apa-apa, Yang Mulia. Sungguh,” dustaku. Kupikir ini hal yang semestinya tidak diketahui olehnya.
“Diam! Aku tahu kau berbohong. Kalau kamu tidak mengatakannya, aku akan…”
“Jangan, Tuan Putri!” teriakku saat aku menjatuhkan benda tajam yang tiba-tiba dikeluarkan Putri Laluna dan hendal digunakannya untuk menyakiti dirinya sendiri. Ia pun berhasil menaklukkan aku dengan ancaman seriusnya itu.
“Kalau kau tidak ingin aku terluka, cepat jawab pertanyaanku!” ancamnya lagi yang benar-benar membuatku sesak.
“Bingkisan itu berisi gaun, Yang Mulia,” ucapku yang langsung benar membuatku merasa menyesal.
“Apa?! Dia mendapatkan aku sementara aku hanya mendapat kalung sampah ini?!” ungkap Putri Laluna kesal. Ia melepas paksa kalungnya dan membuangnya begitu saja ke lantai. Aku tetap dalam keadaanku yang menunduk dan kini menatap kalung yang jatuh itu lekat-lekat. Tidak ada kata sampah yang bisa terlukis pada kalung berliontin ungu itu. Kalung tersebut sama menawannya dengan gaun Putri Larissa. Yang berbeda hanyalah ukurannya saja.

“Krista?”
“Ya, Tuan Putri?”
“Aku mau kau melakukan sesuatu untukku.”

“Hey, mau sebanyak apa air yang kau berikan pada pohon itu? Bisa-bisa ia akan mati karena kau menyiramnya terlalu banyak.”
Seseorang yang -kurasa tadi- mengucapkan kalimat tersebut rupanya langsung mengarahkan selang yang kupegang ke arah pepohonan lain. Aku pun menoleh padanya. Wajahnya tidak jauh dari wajahku, ternyata.
“Siapa kau?”
“Maaf tadi kamu bilang apa? Aku tak mendengar suaramu karena suara aliran air dari selang ini terlalu deras.” ucapnya seraya menangkap tatapanku dan berhasil membuatku terpaku sejenak. Belum lagi ditambah dengan senyumnya yang tak berapa lama muncul menghiasi bibirnya.
Kubuyarkan segala pikiranku tentangnya, lalu kuambil alih selangku dan menjauh dari dirinya.

“Tadi ku bilang, kau ini siapa?” tanyaku acuh tak acuh.
“Panggil saja aku temanmu,” ujarnya singkat.
“Cih, apa-apaan ini. Kau, aku baru melihatmu sekarang. Dan apa kau bilang? Teman? Hahahaha.. Kau gila,” responku seangkuh mungkin padanya. Aku benci dengan orang yang tiba-tiba muncul dan mengganggu pekerjaanku. Seperti dia.
“Baiklah, nanti akan kubuktikan kalau aku adalah temanmu dan kita, bisa lebih dari itu. Sampai jumpa, Krista.”
Aku diam. Tak menjawab bahkan sedikitpun menoleh ke arahnya yang baru saja menjauh. Ia cukup berhasil membuatku terkejut dengan kalimat yang keluar dari mulutnya tadi. Lebih dari teman. Ah, ini benar membuatku takut untuk kembali bertemu dengannya.

Aku sebagai salah satu pelayan di istana ini, kembali melanjutkan tugasku. Kali ini adalah tiba waktunya makan malam. Dan kami mengamati keluarga kerajaan yang tengah menikmati menu makanan malam ini. Tak sekedar itu, kami pun bertugas untuk menantikan perintah yang sewaktu-waktu akan mereka titahkan.

“Laluna, di mana kalungmu, Nak?” tanya Sang Raja memulai perbincangan melihat benda yang dimaksudnya tak terlihat di leher Putri Laluna.
“A..aku.. Aku menghilangkannya, Ayah.” jawabnya tertunduk malu. “Maafkan aku.” lanjutnya. Sang Raja hanya terdiam. Mungkin ia tidak mampu untuk berkata apapun setelah mendengar pengakuan tadi.
“Kau tahu seberapa pentingnya kalung itu, Laluna?” tanya Sang Ratu memecah keheningan.
“Sekali lagi maafkan aku, Ayah, Ibu. Aku pasti bisa menemukannya kembali. Percayalah.” ujar Sang Putri.
Aku menyadari, sesekali Putri Laluna menatap ke arah para pelayan dan kurasa tatapan itu ditujukan padaku. Tetapi ia tak kunjung mengucapkan perintah. Pandangannya itu, mengingatkanku pada perintah besar yang ia berikan padaku di depan kamar Putri Larissa tadi. Aku tidak tahu apakah aku akan menuruti dan melaksanakannya, atau tidak. Karena bila aku melakukannya, pasti masalah baru akan muncul.

“Larissa! Berhenti kau!”
Putri Larissa menghentikan langkah anggunnya dan menoleh ke arah panggilan itu berasal.
“Kak Luna? Ada apa?”
“Kau jangan pura-pura tidak tahu, Rissa. Kalungku, di mana kau menyembunyikannya?!” desak Putri Laluna pada adiknya.
“Apa maksudmu, Kak? Kalung itu tidak ada padaku,” ungkapnya.
“Hentikan omong kosongmu! Berikan kalung itu padaku, kalau tidak aku akan mengatakan pada mereka kalau kau yang mencurinya!” ancam Putri Laluna. Lagi, sebagai senjatanya.
“Baik, Kak. Aku akan mencoba mencarinya. Dan aku tahu, kakak tidak memiliki bukti apapun atas tuduhan ini.” tegas Putri Larissa. Ia berderap pergi berlalu dari hadapan Putri Laluna.

“Carilah sampai ketemu, Larissa sayang. Benda itu sudah kubuang jauh-jauh!” gumam Putri Laluna.

Tidak salah satu dari mereka pun ada yang menyadari akan kehadiran seseorang yang tak jauh dari tempat itu. Dia, hanya seseorang yang mendengar percakapan itu, mencoba untuk mencerna kalimat-kalimat yang ia baru saja simak. Di tengah renungannya, ia memperhatikan sekitaran ruangan istana yang ia pijaki. Tak sengaja matanya tertuju ke arah sebuah benda yang berkilauan. Ya, dia menemukan kalung yang menjadi permasalahan kedua putri tadi. Tak seorangpun mungkin yang menyadari adanya benda berharga yang tergeletak begitu saja di lantai. Lantas ia meraih benda tersebut dan menyimpannya di saku pakaian yang ia kenakan.
“Gadis licik! Benar-benar licik!” gumamnya.

“Krista!”
Putri Larissa tiba-tiba datang langsung memelukku serta menangis di pundakku. Aku tidak tahu apa sebabnya.
“Tenangkanlah dirimu, Tuan Putri. Ceritakanlah. Mungkin aku bisa membantumu.” kataku. Aku melepaskan pelukkannya dan menghapus cairan yang keluar dari pelupuk mata indahnya. Sang Putri meminta padaku untuk mencarikan kalung milik Putri Laluna. Ia lantas menyebutkan ciri dari kalung itu, berwarna perak, berliontin bunga tulip berwarna ungu, berhiaskan beberapa berlian. Ia pun berkata bahwa jika benda itu belum juga ditemukan, maka sesuatu yang buruk akan terjadi.
“Apa mungkin Putri Laluna mengancam melukai dirinya lagi?” pikirku.

Bodohnya aku. Mengapa waktu itu kubiarkan benda itu terbuang sia-sia dan tidak memungutnya? Kini aku merasa bersalah di hadapan Putri Larissa. Yang bisa kukatakan hanyalah mengatakan padanya kalau aku akan membantu mencarinya. Padahal benda itu mungkin telah tertiup angin entah ke mana. Kali ini, aku melakukan hal terbodoh dalam hidupku selama tinggal di kerajaan ini.

Setelah Putri Larissa berlalu, aku mendapati -objek lainnya- Putri Laluna saat kusapukan pandangan sekelilingku. Buruknya, ia menghampiriku. Aku pun terpaku kembali karenanya.

Cerpen Karangan: Elvaya Zalfa Nabilah
Blog: elvayaznabilah.blogspot.com

Cerpen The Prince, Double Princess, and I (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tertembus Bedil

Oleh:
Distrik limbung, Afdeling Makassar 1917. Aku memandangi tubuhku yang telah menjadi mayit, masih ada darah segar mengalir dari bekas bedil yang menembus tubuhku, aku masih memandangi tubuhku yang dipertontonkan

Dunia Transparan

Oleh:
“Hah?? Ke Samarinda, Bu?” ucapku terbelalak. “Iya, kampung halaman ibu. Kamu udah lama nggak bermain ke sana, kan?” “Iya, bu.. tapi, malas, ah” gerutuku sambil terus memainkan gadget. Ibu

Silk Road (Part 1)

Oleh:
Hutan di gunung mahameru 2013, SEMERU, gunung tertinggi di pulau jawa dengan keindahan alamnya, bunga beraneka warna semerbak bermekaran, hutan pinus dengan baunya yang khas, danau indah nan jernih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *