The Prince, Double Princess, and I (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat)
Lolos moderasi pada: 9 August 2017

“Krista, sudah kau lakukan tugasmu kemarin?” tanyanya. Bahkan aku pun tak yakin sungguh akan melakukannya. Putri Laluna, pandai sekali membuat orang tegang.
“Maaf Yang Mulia, saya belum melakukannya,” jawabku.
Raut senyum dari wajahnya seketika memudar dan berganti dengan tatapan tajam seperti kemarin yang ia berikan padaku.
“Dengar, Krista. Tidak ada gunanya untuk menunda-nunda pekerjaan. Lakukanlah apa yang ku suruh sebelum kuperintahkan dirimu keluar dari istana ini!”
Aku hanya mengiyakan dengan anggukan kepala saja. Sedikit beruntung, putri yang angkuh itu tidak berlama-lama menceramahiku.

“Klekk!”
Kubuka pintu ruangan yang tampak kosong itu dan menutupnya kembali dengan hati-hati.
“Putri Larissa?” Oh, tiada siapapun yang menghiraukanku. Kurasa ini waktu yang tepat. Aku mendatangi sebuah lemari besar yang terdapat di sana. Segera kucari benda yang kubutuhkan dari lemari tersebut. “Dapat!”
Lagi-lagi aku melakukan tindakan bodoh. Mencuri, yang tak lain adalah tindakan kriminal. Tapi, ini harus kulakukan. Ini adalah perintah dari majikanku, seorang putri kerajaan. Aku sadar, kali ini kurasa akulah penjahatnya. Tetapi, gaun -yang kurasa mahal- ini telah berada di tanganku. Selangkah lagi, aku akan menyelesaikan tugasku setelah aku menyerahkan ini pada Putri Laluna. Dan kali ini, aku berada di posisi sebagai pelayan. Aku tak mau dipandang salah sebagai pencuri.

“Hai, Krista!”
Aku melemparkan arah pandangku ke suara itu. Akhirnya temanku datang juga. Di waktu yang tepat.
“Hai, teman. Aku, bisa memanggilmu teman, kan?” ucapku senang menyambut kehadirannya. Mungkin dia bisa membantuku menyelesaikan masalahku. Ya, benar begitu. Sebagai teman, kami seharusnya dapat saling membantu bukan? Aku pun menyeretnya untuk duduk bersamaku di salah satu bangku taman.
“Aku ingin meminta pendapatmu mengenai suatu hal,” pintaku.
“Woah, akhirnya, kamu minta pertolongan juga padaku.” serunya yang terdengar menggelikan. Hampir saja aku ingin menarik poninya yang kurasa terlalu panjang untuk ukuran seorang lelaki. Mencapai alis. Beruntung aku dapat mengontrol emosiku dengan baik.
“Kau, pernah mencuri? Apa rasanya? Lalu bagaimana kalau pemilik barang yang kau curi itu adalah orang yang baik? Ah, bukan. Bahkan sangat baik. Tapi di sisi lain, kalau kau tidak melakukan hal -buruk- itu, kau akan mendapat masalah yang cukup serius,” jelasku persis dengan apa yang kurasakan sekarang.
“Ini rumit.”
Menyebalkan sekali. Aku sudah berbicara panjang lebar dan dia hanya meresponku dengan kalimat seperti itu. Tapi kulihat ia masih memasang wajah yang tengah berpikir. Mungkin aku lebih baik diam dan menunggu jawaban selanjutnya yang lebih memuaskan.

“Sekarang kutanya, memangnya masalah seserius apa yang kamu dapatkan jika tidak mencuri? Kupikir hal yang lebih serius dari masalahmu itu adalah justru ketika kamu mencuri. Karena setiap tindakan buruk yang kamu lakukan, akan terus memberi kesan buruk di kedepannya. Dan tindakan buruk, juga tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan memunculkan masalah baru,”
Dia benar. Mengapa aku tidak berpikir juga sampai ke sana? Mungkin saja Putri Laluna hanya mengancamku. Dia tidak benar-benar serius akan melakukannya. Aku baru sadar ternyata aku telah termakan oleh tipunya. Putri Larissa yang tidak bersalah pun jadi ikut terlibat. Aku hanya bisa merenungi kesalahanku. Hanya penyesalan yang kini tersisa di pikiranku.

“Aduh, sakit!” seruku sepersekian detik setelah temanku mencubit pipi kiriku. Aku yakin seratus persen ia sengaja melakukannya
“Habis kamu diam saja dari tadi. Aku sudah memberimu solusi kan? Apa kamu tidak mau berterima kasih padaku atau apalah itu,” katanya. Aku tak menyangka dia bisa memasang wajah seimut itu untuk memohon padaku. Apa barusan aku memujinya? Ah, mungkin ini pertanda kalau kami mulai dapat menjalin hubungan baik. Sebagai teman.
“Jangan merengek seperti itu padaku. Itu menjijikan,” ketusku. Ya, seperti inilah caraku untuk mengakrabkan diri pada setiap orang.
“Baiklah, teman, yang tiba-tiba muncul di hidupku dan masih menjadi misteri dari mana kau berasal, terima kasih ya sudah mau menolongku,”
Dan terima kasih juga sudah mau menjadi temanku dan tempat curahan hatiku. Tapi aku belum bisa mengutarakan ini padamu.
“That’s what friend are for,” ucapnya sangat lembut, persis seperti senyum yang ia berikan lagi padaku.

“Hmm jadi, siapa namamu sebenarnya, teman?” tanyaku lagi, berharap kali ini ia mau menjawab dengan jujur.
“Kau akan tahu nanti,”
Lagi-lagi, hanya kalimat singkat dari mulutnya yang kudapatkan. Tanpa berdosa, ia langsung pergi meninggalkanku. Aku baru ingat satu hal lagi.
“Teman, kalau kau melihat sebuah kalung berliontin tulip di jalan, beritahu dan berikan padaku ya!” kataku berteriak karena langkahnya sudah terpaut jauh dari tempatku berdiri. Ia meresponku dengan menunjukkan tangan kanan yang menempelkan ibu jari dengan telunjuknya.

“Krista tahu tentang kalung ini? Bagaimana bisa?” ujar Pangeran Gervin dalam hati seraya ia menatap kalung berliontin lambang kerajaannya yang kini berada di telapak tangannya.
“Gervin, besok kita akan berkunjung ke Kerajaan Flaryna untuk pertama kalinya. Kau tahu bukan apa yang harus dilakukan?” tanya Ayahanda Pangeran.
“Menjaga kehormatan Kerajaan Flatyra di hadapan mereka,” jawab sang pangeran, sementara tangannya sibuk menyembunyikan kalung yang dirinya pegang.
“Tepat sekali. Sudah saatnya otakmu yang cerdas ini digunakan untuk mencari cara bagaimana agar rakyat kita terus sejahtera,” lanjut Sang Raja.
“Aku sama sekali tidak mengerti apa maksud Ayah,” balas Pangeran Gervin yang kini menatap ke arah Baginda Raja.
“Nak, dalam waktu dekat ini aku akan mengangkatmu sebagai seorang raja. Dan kunjungan esok kita ke Kerajaan mereka, adalah untuk membicarakan pernikahanmu dengan putri mereka.”
“Pernikahan? Pernikahan apa? Bahkan Ayah tidak mau membicarakan hal ini terlebih dulu denganku. Aku bisa memimpin kerajaan ini tanpa didampingi oleh seorang ratu. Ayah pun bisa tetap menjadi raja walau ibu sudah tidak ada.”

Sang Raja mengarahkan langkahnya menuju ke singgasana dan menempatkan diri diatasnya. Kemudian mulai melanjutkan percakapan kembali dengan putranya.
“Lima tahun lalu ketika ibumu terluka karena tertancap panah saat kami pergi ke hutan bersama-sama, ada seorang gadis berjubah gelap menghampiri kami dan ikut berusaha menolong ibumu. Dia mengeluarkan sehelai kain yang dibawanya untuk membalut luka itu. Namun, usaha yang ia lakukan tetap sia-sia. Ratuku, memang telah ditakdirkan untuk pergi selamanya. Melihatnya sudah tak bernyawa, sama seperti Ayah, gadis itu nampak sangat kecewa. Ia menangis, lalu kemudian ia meminta maaf karena tidak berhasil menyelamatkan ibumu,”
“Lalu, apa yang dilakukannya setelah itu?” tanya Pangeran Gervin sangat penasaran dengan cerita tersebut.
“Kematian ibumu sangat jelas bukan karena salahnya. Tetapi, ia terus saja menangis meminta maaf di hadapan Ayah dan di hadapan ibumu yang sudah tak bernyawa. Lalu Ayah mencoba untuk menenangkannya dan menyuruhnya untuk pulang meninggalkan kami. Dan kau tahu apa yang terjadi setelahnya?” tanya Baginda Raja. “Gadis itu langsung berlari menuruti perintah Ayah. Seketika itu, Ayah sama sekali tak berpikir untuk menanyakan namanya, bahkan dari mana asalnya. Tetapi, kain yang terbalut di luka ibumu menjawab semuanya. Sulaman bunga krisan indah terpatri di kain tersebut. Gadis itu, berasal dari Kerajaan Flaryna,” lanjutnya.
“Ah, begitu rupanya,” ujar Pangeran Gervin mengerti setelah mendengar seluruh cerita masa lalu tersebut.

Namun ada sesuatu yang janggal dari sepanjang kisah yang raja katakan. Gadis itu sepertinya berhati mulia. Sedangkan kenyataannya yang ia lihat selama menyamar di lingkungan Kerajaan Flaryna, sepertinya gadis yang bersifat seperti itu bukan berada dalam diri para putri kerajaan. Melainkan ada pada diri seorang pelayan, yang ia cintai.

Esok paginya, aku, maksudku seluruh petugas dari kerajaan ini tengah sibuk mempersiapkan sebuah acara menyambut kedatangan keluarga dari kerajaan lain. Entah itu kerajaan apa, yang jelas masih dalam satu negeri, Flatopia. Dalam langkahku, tiba-tiba aku dicegat oleh Putri Larissa. Tak biasa, ia memasang ekspresi panik di wajahnya. Seketika perasaanku menjadi tidak enak.
Benar saja, sewaktu ia mengatakan sesuatu padaku, ia membicarakan tentang gaunnya yang hilang. Dia pun bilang padaku kalau Yang Mulia Ratu menyuruhnya untuk mengenakan gaun itu hari ini.

Gaun mana lagi yang menghilang selain yang aku curi kemarin? Lantas aku pun langsung mengerti maksudnya. Ini kesempatan yang tepat. Aku segera memberi saran padanya untuk menanyakan langsung tentang ini pada Putri Laluna. Aku juga bilang padanya agar memakai gaun terbaik miliknya terlebih dahulu untuk sementara waktu.

Cerpen Karangan: Elvaya Zalfa Nabilah
Blog: elvayaznabilah.blogspot.com

Cerpen The Prince, Double Princess, and I (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kamar Sebelah

Oleh:
“Tobi, tolong simpan kardus-kardus ini ke kamar sebelahmu.” perintah ibu. “Siapa tahu nanti berguna,” Aku langsung membawa setumpuk lipatan kardus itu ke kamar di sebelahku. Saat itu kami sekeluarga

Pemuda Gila, Peri dan Bulan

Oleh:
Sore menjelang, dan pemuda itu berjalan menaiki bukit. Bukit yang sangat tinggi, bahkan awan pun selalu berada di bawah puncak bukit itu. Bukit yang sangat sepi, hanya terdapat padang

Dunia Transparan

Oleh:
“Hah?? Ke Samarinda, Bu?” ucapku terbelalak. “Iya, kampung halaman ibu. Kamu udah lama nggak bermain ke sana, kan?” “Iya, bu.. tapi, malas, ah” gerutuku sambil terus memainkan gadget. Ibu

Putri Duyung Yang Berubah Wujud

Oleh:
Putri duyung adalah cerita dongeng yang mempunyai beperapa versi. Suatu hari ada seorang ibu yang membuang anak perempuanya yang bernama arum, zaman itu masih zaman kuno. Bayi itu ditemukan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *