Kakek Burung Hantu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fabel (Hewan)
Lolos moderasi pada: 28 July 2018

“Jangan ganggu aku!” Timmy berteriak dari kamarnya.

Kamar Timmy berbeda dengan kamarmu atau kamarku. Kamar Timmy tidak punya kasur dan lemari mainan. Kamar Timmy ada di dalam pohon beringin besar yang lebih tinggi dari rumahmu atau rumahku. Paman Boris yang membuatkannya.

“Ada apa sayang?” Kata Ibu. Dia bersama Ayah duduk ranting yang seperti belalai gajah. Cedric ada di bawah, tidur terlentang di atas rumput basah. “Ayo turun sayang, sudah siang.”

Timmy tidak menjawab. Dia bangun dari tidur dan berjalan lambat-lambat ke lubang pintu kamar lalu melompat ke ranting di bawahnya. Kakinya meleset tapi dia tidak jatuh. Ekornya melilit ranting kecil dan dia bergantung di atas kepala ayahnya.

Iya. Timmy bukan manusia seperti kamu atau aku. Dia monyet -eh maaf, gorilla. Timmy marah kalau disebut monyet. Dan mukanya merah seperti tomat kalau sedang marah.

“Duduk di sini,” kata Ayah. Ditariknya tangan Timmy untuk membantunya turun. “Mau pepaya?” Kata Ayah lagi.

Timmy menggeleng. Dia mengambil tiga buah duku kecil dan besar. Yang besar dikupas dan dimakannya, yang kecil dijatuhkannya dan kena hidung Cedric.

“Awas kau ya!” Teriak Cedrik. Dia melotot dan menggeram tapi tidak bangkit dari tidur.

Ayah dan Timmy tertawa. Ibu diam saja karena dia tidak melihatnya. Kalau tidak, Ibu pasti mengomeli Ayah dan Timmy.

“Kenapa kau marah-marah?” Tanya Ayah.
“Mataku silau karena matahari. Aku nggak bisa tidur kalau dia menggangguku terus,” jawab Timmy.
“Itu karena kau bangun kesiangan,” kata Ayah. Dia membelah pepaya dengan kedua tangannya.
“Cedric juga nggak pernah bangun pagi. Tapi dia nggak pernah diganggu matahari.” Timmy merengut.
“Matahari nggak pernah mengganggu siapa-siapa,” kata Ayah. “Dia sudah punya jadwal datang dan pergi. Dia nggak peduli kau masih tidur atau nggak, dia pasti datang.”
“Matahari memang nggak mau berteman denganku,” Timmy mengomel.

Ibu tiba-tiba tertawa. Dia sudah selesai membungkus ikan dengan daun pisang dan menyusunnya di lobang yang lebih kecil daripada kamar Timmy.

“Timmy sayang,” kata Ibu. “Ayahmu nggak pernah diganggu matahari karena kamar kami tidak menghadap ke timur. Cedric nggak pernah silau, karena dia selalu tidur di rumput, membelakangi pohon kita. Matahari tidak bisa menembus pohon.”

“Kau tahu Tim,” Ayah mengangkat Timmy ke punggungnya dan berayun turun ke rumput yang sudah kering di bawah pohon mereka. “Kau itu mirip dengan tetangga lama kita.”
“Siapa?”
“Burung hantu yang tinggal di samping sungai, di bawah pohon bambu.”

Dia kenal burung hantu yang dibicarakan Ayah. Burung hantu tua yang suka mengomel. Kepalanya besar dan hampir botak. Badannya gemuk, sayap dan kakinya kecil. Kalau duduk, kakinya ditekuk dan tertutup bulunya yang sudah berubah warna jadi abu-abu. Sayapnya dilipat ke belakang punggung dan hampir tidak kelihatan. Kalau sedang tidur, kakek burung hantu jadi lebih mirip batu berbulu daripada makhluk hutan.

Teman-teman Timmy tidak suka dengan kakek burung hantu. Timmy juga tidak suka, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka tinggal bersebelahan. Kakek burung hantu mengomel hampir setiap pagi. Bahkan sebelum ayam berkokok untuk membangunkan penghuni hutan.

Cedric dan gerombolan anak kukang sering mengganggu kakek burung hantu. Mereka berteriak-teriak “uhuu.. uhuu…” meniru kakek burung hantu kalau sedang mengomel.

“Jangan melompat-lompat di depan rumahku. Uhuu… uhuu..” Kata kakek burung hantu ke keluarga kelinci yang lewat di depan rumpun bambunya.

Kelinci tidak bisa berjalan seperti gorilla. Mereka harus melompat karena kaki mereka sangat panjang. Kalau mereka harus berjalan, mereka pasti tersandung dan jatuh.

“Jangan mengambil ikan di sungaiku. Uhuu… uhu..” Kata kakek burung hantu ke burung enggang yang berdiri di atas di tengah sungai.

Burung enggang tidak makan ikan. Burung enggang makan buah pohon, dan waktu itu dia sedang membersihkan paruhnya dari getah buah.

Timmy tidak pernah memarahi keluarga kelinci. Dia juga tidak pernah menyuruh burung enggang pergi dari sungai. Kenapa Ayah menyebutnya mirip dengan kakek burung hantu?

“Aku nggak mirip kakek burung hantu.” Timmy membantah. Dia menggeleng-geleng sampai kupingnya menampar pipinya pelan. “Dia pemarah.”
“Bukan pemarahnya.” Jawab Ayah. “Dia juga nggak suka matahari.”
Timmy diam, alisnya mengernyit memandangi ayahnya.

“Waktu kau belum lahir -bahkan sebelum Ayah bertemu dengan Ibumu- kami berteman baik dengan kakek burung hantu. Aku, paman Boris, paman Gagak, dan Bello si bekantan tua itu. Kami sering berlomba siapa yang bisa mengelilingi hutan sebelum matahari terbit.”
“Kenapa?”
“Karena burung hantu tidak bisa terbang siang-siang.” Jawab Ayah. “Kami berlomba hampir setiap hari, kecuali musim hujan karena pohon-pohon jadi licin dan kami tidak bisa memanjat. Tapi satu hari, ada makhluk baru di hutan -burung elang- yang katanya datang dari puncak gunung batu di seberang sungai. Nggak ada yang tahu kenapa dia pindah ke hutan.

“Waktu itu kami mau pulang dan tidur waktu elang itu muncul. Dia berdiri di ranting pohon randu, melihat ke bawah ke arah kami. ‘Pertandingan menarik,’ katanya. ‘Tapi hanya burung lemah yang berlomba melawan monyet.'”

“Tapi kita bukan monyet!” Sanggah Timmy.

“Kami nggak peduli, Tim.” Jawab Ayah. “Kami juga nggak peduli omongan elang itu karena sudah kecapean. Tapi kakek burung hantu nggak bisa terima. Dia kesal karena dianggap lemah. ‘Apa maksudmu?! Uhuu… uhu…’ kata kakek burung hantu. Matanya melotot bulat-bulat. Bulu di kepalanya berdiri tegak – dulu dia belum botak.

“Kakek burung hantu membentangkan sayapnya dan terbang. Dia melayang di depan burung elang itu masih dengan mata melotot. ‘Siapa kau?’ Katanya ke burung elang.
“‘Ah, bukan siapa-siapa,’ kata burung elang. Dia tersenyum sinis dan menggaruk-garuk paruhnya dengan sayapnya. ‘Cuma burung elang biasa yang nggak suka berlomba dengan monyet yang nggak bisa terbang.’
“‘Jadi apa maumu? Ngapain kau datang ke hutan ini?’ kata kakek burung hantu. Sekarang dia hinggap berhadap-hadapan dengan burung elang.
“‘Aku nggak punya maksud apa-apa,’ jawab elang. ‘Tapi kalau kau masih punya tenaga, mungkin kita bisa berlomba ke puncak gunung batu itu.’
“‘Kau menantangku?’ kata kakek burung hantu.
“‘Oh, nggak. Nggak. Aku cuma mengajak. Kalau kau nggak mau juga nggak masalah. Aku bisa pulang dan tidur.’ Jawab burung elang.

“Kakek burung hantu nggak terima. Matanya yang bulat itu jadi memerah. Dia ber “uhuu…uhu..” sambil mengomel. Singkatnya, kakek burung hantu dan burung elang itu sudah siap-siap untuk berlomba ke puncak gunung batu. Ayah sudah melarang, karena sebentar lagi matahari terbit, tapi kakek burung hantu terlalu marah untuk mendengarkan Ayah.”

Ayah berhenti bercerita. Dia melihat ke Timmy – dan Cedric. Dia tidak tidur terlentang lagi tapi sudah duduk bersebelahan dengan adiknya.

“Kakek burung hantu dan elang itu berlomba. Mereka kejar-kejaran, susul-susulan. Sebentar saja kakek burung hantu sudah jauh di depan meninggalkan elang. Kalau malam hari, burung hantu pasti menang karena mereka punya mata yang spesial. Tapi waktu itu matahari sudah mulai kelihatan di balik pohon-pohon. Kakek burung hantu tidak sadar karena dia terlalu serius berlomba. Ayah berteriak-teriak dari pinggir sungai tapi sia-sia. Paman Boris menyuruh gagak mengejar mereka untuk mengingatkan, tapi mereka sudah terlalu jauh.

“Mereka sudah di tengah sungai waktu ayam berkokok. Matahari semakin tinggi dan bayangan pohon sudah mulai muncul di atas sungai. Kakek burung hantu bisa merasakan panas matahari di belakangnya tapi dia tetap terbang dengan cepat. Matanya mulai kabur karena silau tapi dia terus mengepak-ngepakkan sayapnya sambil memicingkan matanya.

“Kami berteriak dari pinggir sungai untuk menyemangati, tapi akhirnya burung elang mulai menyusul karena kakek burung hantu mulai melambat. Sebenarnya kakek burung hantu bisa menang, karena puncak gunung batunya mulai kelihatan.

“Terus? Terus?” Cedric memotong cerita Ayah. Timmy meninju perutnya karena mengganggu.

“Tinggal beberapa meter lagi sebelum kakek burung hantu menang. Tapi burung elang menukik ke sungai dan tiba-tiba berbalik. Kepakan sayapnya membuat air menyiprat ke depan kakek burung hantu. Air itu mengenai bulu-bulu kakek burung hantu tapi itu nggak jadi masalah. Burung elang terus mengepak-ngepakkan sayapnya sampai air sungai semakin banyak berlompatan. Air-air itu memantulkan cahaya matahari dari belakang mereka dan mengenai mata kakek burung hantu.

“Dia tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Dia terus mengepak-ngepakkan sayapnya, tapi arahnya berbelok menyimpang. Kakek burung hantu mengibas-ngibaskan bulu kepalanya untuk membersihkan air yang menempel.

“Tapi sayangnya, waktu air itu bersih, kakek burung hantu sudah salah arah. Bukannya ke arah puncak, tapi justru ke semak-semak duri di kaki gunung. Kakek burung hantu yang terbang sangat cepat tidak sempat berhenti dan bum!! dia menabrak semak-semak itu.

“Kakek burung hantu luka-luka. Sayap kirinya patah, dan bulu-bulunya robek. Dia luka parah dan nggak boleh terbang berminggu-minggu.”

“Burung elang itu curang!” Timmy berdiri dan memukul tanah dengan kedua tangannya.

“Iya. Tapi kakek burung hantu nggak tahu. Dia bilang matahari yang membuat dia kalah. ‘Kenapa matahari itu nggak muncul nanti saja? Kenapa dia nggak muncul dari belakang gunung saja?’ katanya ke semua penghuni hutan.”

“Tapi matahari kan nggak salah,” kata Timmy. “Dia yang nggak mau mendengarkan kalian. Kalau dia nggak berlomba waktu matahari hampir terbit, dia pasti nggak silau.”

“Ayah sudah bilang seperti itu,” jawab Ayah.

“Matahari selalu muncul di sebelah sana,” kata Timmy sambil menunjuk ke balik hutan. “Nggak mungkin dia tiba-tiba pindah ke belakang gunung karena kakek burung hantu mau berlomba. Harusnya -”

Timmy tiba-tiba terdiam. Dia melihat ke Ayah yang cuma tersenyum. Ayah mengangkat alis matanya, menunggu Timmy menyelesaikan ucapannya.

Timmy menyengir. Dia lalu menunduk sambil menggaruk-garuk kepalanya yang entah kenapa tiba-tiba jadi gatal. Ayah memeluk Timmy dengan satu tangan dan Cedric di tangan yang lain. Dia meletakkan kakak beradik gorilla itu di punggungnya dan berjalan ke arah sungai. Timmy tersenyum di atas punggung ayahnya, dia akhirnya tahu kenapa Ayah menyebutnya mirip dengan kakek burung hantu.

Cerpen Karangan: Ricky Brahmana
Facebook: facebook.com/ricky.brahmana

Cerpen Kakek Burung Hantu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kelinci Dan Kura-kura

Oleh:
Di hari minggu yang cerah, telah berkumpul seluruh penghuni hutan untuk menonton sebuah pertandingan. Semua mata penuh rasa penasaran untuk melihat siapakah yang akan keluar sebagai pemenang. Sebenarnya bukan

Bunny Helper

Oleh:
Pada zaman dahulu, hiduplah seekor kelinci yang bernama Tutu. Tutu adalah kelinci yang hidup sebatang kara tanpa seorang anggota keluarga. Namun walaupun ia hidup sebatang kara tetapi semangat hidupnya

Octo, Gurita Merah yang Pelit

Oleh:
Hoaaammm… Octo masih mengantuk ketika Ibu membangunkan Octo dari tidurnya, “ayo Octo, bangun. Kamu tidak mau terlambat kan di hari pertamamu ke sekolah?” Octo, gurita merah kecil itu hanya

Siput Yang Lamban

Oleh:
Pada suatu hari di sebuah hutan, hiduplah seekor siput dan juga kawan kawannya. Siput itu bernama Tatam. Tatam adalah binatang yang suka bergaul dan pantang menyerah. Walaupun Tatam berjalan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *