Lautku Rumahku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fabel (Hewan)
Lolos moderasi pada: 13 January 2022

Seekor kepiting merah berjalan menyamping menyusuri bentangan padang lamun di bawah permukaan laut. Kedua mata panjangnya meneliti gundukan pasir, mencari-cari di mana kiranya si penyu mengubur telur-telur mungil si kepiting. Dia melewati banyak seagrass tinggi yang mengayun pelan, melindunginya sesaat dari sinar matahari yang menembus laut.

Beberapa menit yang lalu dia menitipkan telurnya pada Niu, si penyu. Dan meminta si penyu untuk menjaganya baik-baik saat dia pergi. Lalu sekarang, di manakah Niu? Benda bulat putih itupun juga tak terlihat.

“PITY, AWAS!”
Suara teriakan samar-samar terdengar dari atas, pada permukaan laut. Si kepiting mendongak. Niu! Si penyu yang tadi berteriak segera menukik turun. Mendadak kemarahan si kepiting muncul, namun ada waktunya untuk melampiaskannya nanti. Bukan sekarang, karena ada sesuatu yang bergerak di kejauhan. Dan sosok itu semakin lama semakin besar seiring jarak yang mendekat. Ketakutan menyelimutinya.

Seekor hiu putih besar menghampiri tempat Pity berada. Pity bisa melihat ekor si hiu yang mengibas lincah dan sangat cepat. Kelihatannya indra penciuman si hiu telah mendeteksi adanya mangsa, sebab dia masih berenang sampai ke hamparan pasir di belakang Pity, agak jauh dari si kepiting.
Walaupun masih takut, Pity bergegas menyusul hiu putih dan berusaha keras untuk mendahuluinya. Demi anak-anaknya.

Pasir berhamburan ke segala arah, menyisakan lubang kosong yang tadinya perlindungan benda bulat putih itu. Telurnya sekarang menjadi santapan si hiu. Pity menahan tangisnya.

Dalam jeda sejenak ini, Niu menarik Pity agar bersembunyi di bawah batu karang berwarna abu-abu.
Si penyu bergegas masuk ke tempurungnya saat si hiu menyerangnya dengan agresif. Tempurung itu bergulingan tak terkendali karena kekuatan hiu putih, sehingga menghamburkan pasir padang lamun di sana dan menekuk batang-batang seagrass di sini. Namun sia-sia saja, si hiu tak bisa membelah tempurungnya yang sekeras batu.

Kemudian, sang predator berganti sasaran. Dia mendekati karang kelabu tempat Pity berlindung. Dengan serangan yang sama, si hiu mencoba meremukkan karang. Batu itu tak goyah, hanya bergeser sedikit, meski keagresifan hiu putih tak berkurang.

Setelah beberapa usaha yang gagal, hiu putih terdiam sejenak. Badannya yang putih tergores-gores karang. Gigi tajamnya tanggal satu, membuat kucuran darah yang membentuk bayangan merah, bergolak terhanyut dalam air asin laut. Perlahan, si hiu meninggalkan mereka.

Pity mengawasi hiu itu menjauh sampai menjadi titik putih, lalu menghilang. Barulah dia keluar dari celah yang ada pada karang. Hamparan pasir di padang lamun ini tidak sama rata seperti sebelumnya. Pada satu sisi, dia melihat sekumpulan seagrass yang masih bergoyang. Di sisi lain, di antara batang-batang rumput laut yang tertekuk dan berantakan, sebuah tempurung hijau besar tergeletak.
Kepala si penyu menyembul dari dalam tempurungnya, diikuti kakinya. Begitu dia bertatapan dengan si kepiting, dia tersenyum senang dan menubruknya.

“Kau baik-baik saja, Kawan. Kau baik-baik saja…”
“Tidak juga,” balas Pity terengah-engah, sembari bersusah payah membebaskan diri.
“Oh maaf,” ucap Niu malu. Dia segera melepaskan si kepiting.

Tiba-tiba, Pity merasakan sakit pada capit kanannya. Dia menoleh.
“Ca… Capitku-”
Putus. Bukan karena ulah Niu, tetapi oleh si hiu putih. Baru sekarang Pity menyadari rasa sakitnya.
Pity tak sanggup menangis.

“NIU!” katanya keras. “Ke mana saja kau ini? Aku sudah mempercayakan telurku padamu!”
Suaranya bergetar dalam kemarahan dan kesedihan yang luar biasa. Semua kejadian ini, dari nyaris diterkam maut, kehilangan sebelah capit, dan anak-anaknya yang bahkan belum menetas, namun menjadi santapan sang predator… Membuatnya sangat berduka.
“Maafkan aku, Pity…”

“Pity?”
Si kepiting tak menoleh, dia terus memamah pasir.
Ya, semenjak kejadian itu, Pity tak pernah lagi dekat-dekat dengan laut. Dia trauma. Baginya, lebih baik di daratan yang kemungkinan bahayanya kecil. Lagipula, tidak ada seorangpun di pantai yang sepi ini.

Dari kejauhan, Pity memandang debur ombak yang menghempas daratan. Bunyinya membuat dia merindukan laut, terbayang betapa senangnya melihat batu karang berwarna-warni, dan juga teman-temannya… Bambin si bintang laut, Bulb si bulu babi, Tery si teripang, Cici si cumi-cumi, dan-
Niu bertanya, “kenapa kau tidak melaut?”
Si kepiting merah diam saja.
“Takut?”
Pity tak menjawab. Sebenarnya dari tadi dia lapar, dan untuk mengganjalnya, dia tak berhenti mengunyah pasir.
“Atau kau masih marah padaku? Kalau begitu, aku minta maaf sekali lagi. Aku terpaksa meninggalkan telurmu karena lapar, jadi aku mencari ubur-ubur.”

Si kepiting pindah tempat di bawah pohon kelapa. Niu menyusulnya.
“Pity, kalau kau begini terus, maka seumur hidup kau akan jadi si induk kepiting menyedihkan dengan satu capit yang-”
“NIU!”
“Tak usah dimasukkan dalam hati, temanku, tapi pikirkanlah… Laut adalah segalanya bagi kita. Bahkan kau sendiri yang memberitahuku betapa berartinya laut bagimu. Kau ingat, kan?”
“Apa?”
Si penyu tersenyum. Kepalanya yang bersisik menengadah menatap langit senja, dengan gumpalan-gumpalan awan jingga. Air laut memantulkan kilauan sinar matahari yang bersiap akan terbenam.

“Ingatlah engkau kepada batu karang, padang lamun
Yang merindukanmu kembali ke laut
Ingatlah engkau kepada debur ombak bergelombang
Yang ‘kan memanggilmu pulang.”

Air mata Pity menetes. Benar… Dia sendiri yang mengarang lagu ini. Lagu yang dinyanyikannya dengan iringan biola di tempat ini, ditonton oleh seekor penyu hijau serta burung pelikan. Dan Niu masih mengingatnya, meskipun sudah sekian lama.

“Nah, kuharap kau akan pulang…”

Cerpen Karangan: Fatiha Wardiya
Facebook: Fatiha Wardiya
Menuliskan ide sebelum menghilang

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 13 Januari 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Lautku Rumahku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Swimming Contest

Oleh:
Di kutub ada wali kotanya yang sedang menyelenggarakan Swimming contest 1 hari lagi di pantai: “Wah ada lomba renang ikutan ah!”, “Tapi… Harus berdua ajak siapa yah?” Pikir Sella

Datangku Deritaku

Oleh:
“Ku mendengar tangisan bayi mungilku yang semalam menetas, kurasa dia sedang kedinginan dalam dekapan lembut Ibunya.” Kataku dalam hati sambil merentangkan sayap putih bercorak kuning oranyeku lebar-lebar mencari makanan

Tidak Seperti Yang Diduga

Oleh:
Setiap hari setiap saat, kucing-kucing pergi kesana kemari ke setiap rumah. “Disy!!! ya ampun kenapa kau nekat untuk mengambil makanan disana, kau tau sendiri kan disana selalu ramai jadi…

Gajah Yang Jujur

Oleh:
Di negeri gajah, hiduplah sepasang gajah. Gajah itu bernama Arine dan Ronald. Dari hubungan Arine dan Ronald, lahirlah dua ekor gajah. Gajah itu bernama si Elie. Elie mempunyai seorang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *