Pak Moo

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fabel (Hewan), Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 18 April 2018

Pak Moo, si sapi, benar-benar gundah. Tanaman di kebun mulai mengering. Warnanya coklat kusam. Hari ini hujan belum juga turun. Sementara, sungai telah kering. Tidak ada air yang tersisa! Padahal air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan.

Pak Dok, si kodok, hampir setiap hari menyanyi minta hujan. Klang-klung, klang-klung, pok-pok, woak-woak. Biasanya, hujan segera turun. Namun tidak kali ini.
“Hujan, hujan turunlah, hujan, hujan basahilah hutan kami” pinta Pak Dok.

“Kita terlalu boros memakai air,” kata Pak Woli, si burung hantu “Air itu sangat lembut, kalau kita sia-siakan, ia akan pergi.”
“Kita akan hemat, asalkan ada airnya,” kata Pak Nyet bergantungan di pohon.
“Benar,” Kata Pak Moo. “Yang penting sekarang hujan turun dulu”.
Hewan-hewan lain yang berkumpul mengangguk setuju.

Tiba-tiba pak Woli menegakkan lehernya. Ia memandang langit. Ada angin dingin yang bertiup. Ia lalu terbang berputar-putar. Tidak berapa lama, awan mendung bergerak ke atas hutan. Dan, hujan pun turun.
“Hore!” Teriak Pak Nyet dan anak-anaknya berlompatan di dahan pohon.
“Hore!” Teriak Pak Moo. Ia merasa tahun ini akan ada banyak makanan untuk semua penghuni hutan dari kebun mereka.
“Hore! Hore! Hore!” Teriak para penghuni hutan.
Tapi, hujan hanya rintik-rintik. Angin bertiup kencang. Awan mendung kembali berarak meninggalkan hutan.
Kali ini Pak Moo tidak mau kehilangan air. Dengan cepat ia mengambil semua ember di rumahnya lalu berlari menyusul awan mendung.
“Ayo cepat ambil ember!” teriaknya. “Kita tampung airnya.”

Semua binatang dengan cepat mengikuti Pak Moo. Mereka mengambil ember dan mengejar awan mendung, berlari menyusuri jalanan hutan yang berdebu. Ketika angin berhenti bertiup mereka menyusun semua ember. Cepat, cepat, teriak semuanya bekerja sama dengan gembira. Dalam sekejap, semua ember telah siap menampung air hujan. Semua terduduk kelelahan. Menunggu harap-harap cemas. Berdoa agar hujan segera turun.
Namun, angin kembali bertiup. Awan mendung kembali berarak menjauh. Pak Moo dan kawan-kawan juga kembali bergerak, berlari kembali berlari mengejar awan, saat berlari Pak Dok terjatuh namun ia bangkit kembali. Meski lelah, mereka tak putus asa. Pak Nyet memimpin di depan. Tapi, kali ini angin bertiup lebih kencang dan tak henti-henti. Meski masih bersemangat, namun tenaga Pak Moo, Pak Nyet, Pak Dok dan yang lainnya semakin lama semakin lemah.

“Duh, awannya semakin menjauh, habis harapan kita” lelah Pak Kancil.
“Iya, tak ada yang bisa kita lakukan lagi” kata Pak Kura-kura.
“Ini karena kamu Pak Kura-kura, terlalu lambat” kata Pak Kijang.
“Kok aku yang disalahkan, kamu seharusnya yang lebih kuat mengejar awan itu” sela Pak Kura-kura.
Beberapa penghuni berdebat dan saling menyalahkan.
“Sudah, cukup. Tidak ada yang perlu disalahkan, mungkin ini belum rezeki kita” bijak Pak Woli.
Mendengar penjelasan Pak Woli, akhirnya mereka hanya bisa menatap awan mendung yang terus berarak menjauh. Sedih sekali rasanya. Habis harapan mereka. Tanpa air, maka tidak akan ada makanan. Tanpa makanan, Pak Moo juga tidak bisa menghasilkan susu untuk anak-anak Pak Nyet dan anak-anak yang lain. Siang itu mereka berjalan pulang sambil menundukkan kepala.

Keesokan harinya, Pak Moo sibuk menebang bambu di belakang rumahnya. Bunyi bambu yang berderak jatuh mengundang para penghuni hutan.
“Apa yang kau lakukan Pak Moo?” tanya Pak Dok.
“Aku akan mengaliri air di kebun kita dari hutan sebelah. Sungai di sana airnya masih cukup banyak.”
“Tapi jaraknya sangat jauh,” kata Pak Nyet.
“Kamu jangan berkhayal, ini mustahil,” kata Pak Kijang.”
“Aku tidak peduli. Aku akan terus berusaha sebelum semua tanaman di kebun kita mati,” jelas Pak Moo penuh semangat.
Semangat itu dengan cepat menular pada seluruh penghuni hutan. Hari itu semuanya berusaha keras untuk menebang dan membuang penyekat bambu. Bambu-bambu itu lalu disambung dan terus disambung hingga panjang.
“Satu, dua, tiga. Sambung” teriak Pak Moo.
“Sambung, ayo sambung” yang lain menyambut.

“Pak Moo dan kawan-kawan, istirahatlah dulu ini ada makanan pengisi tenaga biar tenaganya pulih kembali” tawar Bu Merpati.
“Iya bu” teriak yang lain.
Mereka istirahat sejenak, memulihkan tenaga mereka, beberapa saat kemudian mereka bekerja kembali, menebang, memotong dan menyambung bambu.

Namun, hutan sebelah sangat jauh. Perlu waktu lebih dari satu minggu jika dikerjakan sendiri. Tapi dengan seluruh penghuni hutan, pekerjaan besar ini hanya membutuhkan waktu 3 hari. Apa lagi jika dilakukan dengan gembira, bernyanyi dan tertawa.
“Ayo semangat, ayo gembira. Potong bambu, potong bambu, sambung-sambung jadi satu” nyanyi Pak Dok dengan semangat.
Akhirnya semuanya siap. Hari besar yang ditunggu-tunggu semuanya. Pak Woli yang diberi tugas untuk membuka keran. Seluruh penghuni hutan menunggu dengan gelisah. Dan, setelah sekian lama, air itu belum juga mengalir. Pak Woli lalu terbang menyusuri pipa bambu. Ia melihat ada beberapa sambungan bambu yang terlepas.
“Ini tidak akan berhasil,” kata Pak Dok lesu. Ia lalu menyanyikan lagu minta hujan. Klang-klung, klang-klung, pok-pok, woak-woak. Sedih sekali suaranya. Tak semangat. Hampir putus asa.

Belum selesai lagunya, tiba-tiba air memancur dengan derasnya. Semua bersorak gembira. Lagu Pak Dok langsung berubah riang. Anak-anak menari. Semua ikut bernyanyi. Nyanyian dan tarian itu tidak berlangsung lama, semua penduduk hutan saling pandang dan mata mereka mencari sesuatu.
“Ke mana Pak Woli?,” ujar Pak Kijang. Semua penghuni hutan berpikir dan diam sejenak.
“Pak Woli belum kembali” teriak Pak Kura-kura.
Semua penghuni hutan bingung dan saling bertanya antara satu dengan yang lain. Pak Moo berusaha menenangkan suasana, ia mengambil alih keadaan.
“Tenang, tenang,” kata Pak Moo. “Semua harus tenang, kita akan menelusuri sambungan bambu karena tadi Pak Woli yang memeriksa sambungan ini.
“Ya, ya, ya” . Kata penghuni hutan sambil mengangguk tanda tahu.

“Pak Nyet, Pak Dok, Pak Kijang, kalian ikut saya. Kita telusuri sambungan bambu ini, siapa tahu kita bisa menemukan Pak Woli”. Kata Pak Moo sungguh-sungguh.
Mereka menelusuri sambungan bambu sambil sesekali memanggil nama Pak Woli. Sambungan itu ternyata cukup panjang dan berliku.

Tiba-tiba Pak Nyet mendengarkan suara rintihan.
“Pak Moo, apakah kau mendengarkan suara rintihan”. Ujar Pak Nyet.
Pak Moo memasang kedua telinganya seksama dan matanya sesekali melihat ke kanan dan ke kiri.
“Ya, aku dengar rintihan itu, apakah yang lain juga mendengarkan”. Kata Pak Moo kepada yang lain.
“Ya, ya, kami juga mendengarkan suara rintihan itu”. Ujar teman yang lain kompak.

Mereka mencari sumber suara rintihan tersebut, ternyata suara rintihan tersebut berasal dari Pak Woli. Sayapnya terjepit di antara ranting dan cabang pohon besar di dekat sambungan bambu. Pak Nyet dengan sigap memanjat pohon kemudian menolong Pak Woli. Akhirnya Pak Woli terlepas dari jepitan tersebut, tapi ketika Pak Woli mengepakkan sayapnya untuk terbang, kepakkan sayapnya tidak mampu menerbangkan dirinya, Pak Woli terjatuh. Pak Moo dan lainnya langsung menolong Pak Woli.

“Baik sekarang kita angkat saja Pak Woli dan letakkan ke punggungku, kita bawa ke rumah dulu”. Kata Pak Kijang dengan harap-harap cemas.
“Semoga tidak terjadi apa-apa pada Pak Woli”. Kata yang lain.

Setelah beberapa hari, kondisi Pak Woli sudah kembali pulih. Pak Moo dan penghuni hutan lainnya menjenguk Pak Woli.
“Air kembali membasahi kebun kita. Akan ada cukup makanan untuk kita”. Kata Pak Woli terbata-bata
“Ya, semua karena kerja keras dan pengorbanan kita”. Kata Pak Moo. Untuk itu, mari kita berjanji pada diri kita masing-masing untuk lebih menghargai air dan berhemat menggunakannya. Sebab, air adalah kehidupan semuanya, bukan begitu Pak Woli”. Kata Pak Moo
Pak Woli hanya tersenyum. Semua tersenyum tanda bahagia. Karena air membasahi kebun mereka. Dan akan ada cukup makanan untuk mereka. Semua itu karena kerja sama dan pengorbanan semua penghuni hutan.

Tanjung Enim, 18 April 2013, 23:30 WIB

Cerpen Karangan: Sadikin Khairsah
Facebook: Raki Aymi Antritusa

Cerpen Pak Moo merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semut yang Sombong

Oleh:
Di sebuah hutan tinggallah seekor semut. Semut itu dijuluki si Mungil karena ia berbeda dengan semut yang lainnya. Karena di usia remajanya ini semut itu belum mengalami perubahan tinggi

Faith (Part 1)

Oleh:
Namaku Zulfahmi aku adalah mahasiswa semester akhir di universitas yang cukup ternama di jakarta, aku memiliki seorang kekasih bernama Nadya di satu kampus denganku, saat ini aku sedang menulis

Monyet Yang Rakus

Oleh:
Pada zaman dahulu di sebuah hutan yang rindang hiduplah seekor monyet. Monyet tersebut sangatlah rakus akan semua jenis makanan. Suatu hari datanglah burung yang memberi kabar ke semua penghuni

Asal Usul Belalai Gajah

Oleh:
Suatu hari, ada seekor binatang yang hanya memiliki moncong pendek. Saat itu, cuaca terik membuat seekor binatang ini kehausan dan mencari danau yang memiliki air jernih. Binatang ini tidak

Salah Paham

Oleh:
Pada suatu hari, hiduplah seekor Kelinci di suatu taman. Ia hidup bersama-sama dengan Kucing, Kucing adalah sahabatnya yang sangat setia. “Mengapa aku sering terkena penyakit seperti ini?” Ucap si

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *