The Poor Little Cat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fabel (Hewan)
Lolos moderasi pada: 5 May 2017

Aku lahir di keluarga kucing hutan, keluarga kami terdiri atas 4 orang, yaitu aku (felis), adikku (katy), kakakku (merry), dan ibuku (Jean), kami hidup bersama ibu kami, kenapa hanya ibu?, karena… Ayah kami selalu berpindah-pindah mencari pasangan, itulah naluri kucing jantan, untunglah di keluarga kami tidak ada yang laki-laki, tapi menjadi kucing perempuan juga tidak mudah, kau tau kenapa?, karena kucing perempuan yang sudah hamil diharuskan untuk meninggalkan keluarganya dan memulai hidup yang baru dengan anak-anaknya,

Untuk saat ini, kak merry dan ibu yang selalu mencari makan, tugasku adalah menjaga adikku, disaat adikku sudah bisa berlarian nanti, ibuku akan menyuruhku untuk membantu pekerjaannya, seperti menangkap tikus dan berburu hewan lainnya, tapi sebenarnya aku tidak mau melakukan itu, aku lebih suka merawat diriku, selama ibu dan kakak pergi, aku akan menjilati buluku agar tetap rapi dan cantik, terutama poniku yang berwarna coklat, aku selalu menyuruh adikku untuk menjilatinya agar selalu terlihat cantik, sementara itu aku menjilati buluku yang berwarna putih mengkilap dan ekor panjangku yang berwarna coklat dengan garis garis putih,

Kehidupanku benar-benar indah, sampai semuanya berubah menjadi malapetaka, dan disinilah aku sekarang, tersesat di hutan sendirian, itu semua karena adikku, mereka berkata padaku “kalau kau tidak menemukan adikmu, jangan harap kau bisa pulang!!”, aku masih ingat bagaimana ibu memarahiku, ia benar benar marah dan bahkan ia mencakarku, sedangkan kakakku hanya bisa diam melihat aku diperlakukan seperti itu, aku tak mengerti, kenapa ibu bisa sekejam itu, bukannya adik akan kembali, ia pasti akan kembali, lagipula siapa yang mau memakan kucing kecil jelek tak berguna itu, karena dia aku harus kelaparan, bahkan aku belum makan saat ibu mengusirku dari rumah,

Aku terus berjalan, tiba-tiba aku melihat seekor belalang tengah meloncat-loncat di dedaunan, aku pun mengejarnya dan mencoba menangkapnya dengan mulutku tapi dia malah menghindar, aku terus mengejarnya dan ia terus melompat lompat menghindariku, aku pun kesal, sungguh rasa lapar ini menyiksaku dan aku menyerah,

Aku terus melangkahkan kakiku menelusuri hutan yang kotor dan bau ini, tapi tunggu.. ada yang aneh, tadi aku tidak mencium bau ini tapi, kenapa sekarang baunya semakin menyengat, aku mencoba menelusuri bau apakah ini dengan mengendus sekitarku, tiba-tiba kedua mataku tertuju pada belalang yang diam tepat di depanku, aku pun langsung melahapnya, aku takut kalau ia lompat dan aku tak mampu mengejarnya, tapi weekkk, rasanya tidak enak, seperti ada yang menggeliat-geliat di lidahku, aku pun memuntahkannya, benar saja, puluhan belatung telah mengerubuti belalang itu, rupanya aku tadi makan belalang mati, tiba-tiba suara raungan singa menggema di kawasanku berada,

Aku pun berlari, kini aku baru ingat kalau bau ini adalah bau air kencing singa dewasa, mereka selalu menandai wilayah mereka dengan air kencing mereka, pantas saja tadi baunya tidak enak, tiba-tiba, Waaaaaaaaaaa, aku mengerem keempat kakiku secara tiba-tiba, tapi byurr, aku sudah terkena air sungai, dengan susah payah aku mencoba berenang ke tepian, aku tidak tahu dari mana aku bisa berenang, yang penting, aku harus bisa menyelamatkan diri, aku tak tau sudah berapa air yang masuk ke dalam mulutku dan hidungku, arus deras sungai semakin menghabiskan tenagaku, aku tak kuat lagi, ya tuhan kumohon, tolong jangan kau ambil nyawaku, aku belum minta maaf pada ibuku, aku belum menemukan adik-adikku, blurbb, aku tenggelam, aku pasrah, mungkin tuhan ingin menghukumku karena kesalahanku pada adikku, aku memejamkan mataku, saat itulah aku merasa ada sesuatu yang melingkar di perutku dan menarikku ke atas.

“Uhuk.. uhukk…”, aku membuka mataku perlahan, kepalaku masih sedikit pusing, rasanya air telah memenuhi tubuhku, tiba-tiba aku mendengar sesuatu,
“Bangunlah, ayo bangun..”, itu seperti suara kucing laki-laki, aku membuka mataku dan kulihat kucing laki-laki yang berada di depanku, ia basah kuyup dan terlihat ketakutan, tapi bagiku, ia terlihat sangat tampan,
“Kau sudah bangun?”,
“Iya”, ucapku sambil tersenyum manis padanya, dia juga tersenyum
“Apa yang kau lakukan di sini, tempat ini berbahaya untuk kucing cantik sepertimu”, ucapnya, rasanya nyawaku melayang tinggi sampai ke langit ke tujuh, dan hatiku berbunga bunga,
“Tadi aku melihat kucing kecil di sini, dia ditangkap oleh pemburu, dia dibawa oleh pemburu itu ke arah utara, aku mencoba untuk menyelamatkannya tapi aku kehilangannya”, ucapnya panjang lebar,
“Tunggu.. Apa kucing kecil itu matanya mirip denganku?”, aku mulai khawatir,
“Iya, matanya hijau sepertimu”, jawabnya,
“Apa bulunya belang tiga”,tanyaku lagi
“Iya, kau mengenalnya?”,
“Dia adikku”, ucapku, aku pun menangis, tapi kucing kan tidak bisa menangis, pokonya aku sedih.

Aku pun pergi mencarinya, tentunya tidak sendirian, tapi bersama si kucing tampan, oh ya, aku belum tau namanya,
“Namamu siapa?”, tanyaku,
“Namaku Rambo Sylvester Stallone”, wah macho banget namanya, kaya’ rambo yang pernah main di film itu, bukan rambo yang di upin ipin itu loh ya, jangan jangan kalian mikirnya gitu.
“Kalau namamu siapa?”, tanyanya,
“Aku Felicia Taylor Swift, panggil aja aku felis”, ucapku malu-malu, namaku keren juga kan, kaya namanya penyanyi luar negeri yang rambutnya pendek itu.

“Oh ya felis, kok adik kamu bisa sampai di tempat itu?”, aku bingung, kalau aku jelasin, ntar dia malah benci sama aku, tapi aku tetep harus jelasin sama rambo,
“Waktu itu, aku dan adikku sedang mengambil air di sungai, tapi di perjalanan pulang, dia lepas dariku dan lari ke arah sungai, aku pun mencarinya ke sini, tapi aku tidak menemukannya”, ucapku sedih,
“Jangan sedih, kamu jelek kalau lagi sedih”, ucapnya, rasanya nyawaku yang tadi di langit ke tujuh langsung dibanting ke bumi, dan tulangku patah jadi dua, Dia pun tertawa melihat wajah geramku,
“Aku cuman bercanda felis, biar kamu gak sedih lagi”, ucapnya di sela sela tawanya, aah aku jadi salting,

Kami pun tertawa di sepanjang perjalanan, sampai akhirnya kami menemukan rumah pemburu itu yang letaknya masih di dalam hutan, tiba-tiba ada yang keluar dari rumah itu,
“Merunduk!”, ucap rambo sambil menurunkan kepalaku yang sedang mengintip dari balik batu, kami pun mengintip lagi,
“Ayo kita ikuti dia”, ucapnya sambil menarik kaki depanku, kami naik ke dalam mobilnya secara diam diam,
“Apa rencana kita?”, bisikku kepada rambo,
“Kau cari adikmu, aku akan mengurus pemburu ini”, aku pun mengangguk, kuambil nafas dalam dalam daaaan,
“KATYYYY, DI MANA KAU??”,teriakku
“Kakaaaak, aku di sini”, sepertinya suaranya dari bagasi mobil, dan kurasa manusia itu mendengarku berteriak, ia menoleh dan menangkapku, ia memasukkanku ke dalam kandang kucing,
“Hahaha”, dia tertawa, suaranya sangat menakutkan, tapi kenapa rambo tidak ditangkap juga?, pemburu itu pun meletakkan kandangku di kursi belakang,

“Kenapa kau tidak ditangkap juga?”, tanyaku keheranan,
“Hahaha, aku menjebakmu felis, kau kira aku sebaik itu?, kau pikir aku mau membantumu?, majikankulah yang menyuruhku untuk membawamu padanya!”, jawabnya, ia pun tersenyum licik, aku benar-benar salah sangka, ternyata ia jahat, tapi apa yang bisa kulakukan?, aku hanya bisa menangis sepanjang perjalanan,

Tak lama kemudian, kendaraan ini berhenti, pemburu itu membuka pintu mobil dan mengeluarkan kandangku dan juga mengeluarkan katy dari sana, aku menatap rambo dengan kecewa,

Aku bahagia sudah menemukan katy, tapi aku sedih karena tidak bisa pulang ke hutan, pemburu itu pun membawa kami ke suatu tempat, di tempat itu ada bermacam macam hewan, mereka dikurung seperti kami, setelah itu si pemburu pun mengurung kami di tempat yang terpisah,
“Kakak..”, ucap katy padaku,
“Tenang Kat, kita akan pulang ke hutan, kakak janji, kakak tidak akan meninggalkanmu lagi”, ucapku padanya,

Tiba-tiba ada anak perempuan yang masuk ke tempat ini, ternyata dia adalah anak dari pemburu itu, ia memperhatikan satu persatu kucing di sini, tiba-tiba pandangannya tertuju padaku, ia pun mengambilku dari kandang dan menggendongku, aku menatap adikku,
“Aku janji akan mengeluarkanmu dari sini”, gadis itu pun membawaku ke kamarnya, saat ia membuka pintu kamarnya, ia mendapati rambo tengah meminum susu,
“Sudah kubilang pergilah dari sini rambo!!”, ucapnya lalu menendang perut rambo yang membuat rambo terpental ke luar kamar,

Setelah bermain cukup lama, gadis ini pun tertidur, saat itulah aku berencana untuk kabur, aku pun pergi ke ruang tamu, namun ada rambo di sana, ia sedang menatap hujan lewat jendela, aku jadi bersimpati padanya,
“Kau bisa ikut dengan kami ke hutan”, ajakku padanya, ia pun menoleh,
“Aku tak perlu dikasihani!”, marahnya,
“Baiklah, kalau kau berubah pikiran, aku ada di tempat dimana para hewan dikurung”, aku pun keluar lewat pintu kucing dan menembus hujan,

“KATYY…. kau di maana”, katy pun menyahut,
“Aku di sini kaaak”, aku pun bergegas menuju ke sana, ternyata dia ada diatas, aku tak bisa menggapainya, aku mencoba memanjat namun aku selalu jatuh, Kriiiing, bunyi berisik itu membuat pintu kandang terbuka sendiri, semua hewan berebutan keluar dari sana, adikku pun melompat dari kandangnya dan langsung memelukku, di antara hewan hewan yang berlarian keluar, aku melihat rambo, ia berdiri di sana, ia menatapku lalu tersenyum padaku,

Aku pun menghampirinya,
“Jadi kau akan ikut bersama kami”,
“Tidak, tapi aku janji akan membantumu, keluar dari sini”, kami pun naik ke mobil si pemburu, dan bersembunyi di kursi belakang, sesampainya kami di hutan, kami pun turun dari mobil,
“Sekarang kau sudah pulang, jaga dirimu baik baik felis”, ucap rambo,
“Kumohon ikutlah bersama kami”, rambo pun berpikir sejenak,
“Maaf, kehidupan hutan tak cocok dengan kucing yang memiliki masalah penciuman sepertiku”, ucapnya, sebenarnya aku baru tau kalau dia punya masalah dengan hidungnya tapi yang ia katakan benar juga,
“Jaga dirimu baik baik rambo”, ucap katy, rambo pun kembali ke mobil sedangkan aku dan adikku kembali pulang ke rumah, di petualanganku kali ini, aku mendapatkan pelajaran yang penting yaitu keluarga lebih penting dari apapun, keluarga adalah tempat berlindung dari ancaman di dunia luar, dan aku senang karena keluargaku bisa utuh kembali.

Selesai

Cerpen Karangan: Elis Handayani
Facebook: elis handayani (yang fotonya gambar kartun berhijab)
Haii,
Kalau kalian suka cerpenku, silahkan kunjungi akun wattpad ku
Akun Wp : @0nly_Reader(pake’ nol bukan o), okay makasih…

Cerpen The Poor Little Cat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kancil dan Buaya

Oleh:
Alkisah, di sebuah pinggir hutan terdapat seekor kancil yang sangat cerdik. Ia hidup di hutan bersama hewan-hewan lainnya, diantaranya adalah kerbau, gajah, kelinci dan masih banyak lagi. Si Kancil

Kabar Sang Pipit

Oleh:
“Sudah. Di sini saja kita parkirkan mobilnya.” Ucap ketua rombongan yang membawa para pemburu ke hutan. “Bukankah hutan yang menjadi tempat buruan kita masih jauh?” Keluh salah seorang pemburu

Zebra Kros

Oleh:
Di padang rumput yang luas, terdapat rombongan zebra yang sedang istirahat. Terkecuali si zebra betina, Zebie, yang sedang melahirkan anak pertamanya. “Ayo, Zebie. Sedikit lagi! kau pasti bisa!” teriak

Sepasang Merpati

Oleh:
Alkisah sepasang merpati nan elok terbang di angkasa menikmati cinta mereka yang murni. Bulu putih mereka menyinarkan warna biru cerah saat terkena sinar matahari. Saat sedang asyik terbang tiba-tiba

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *