Tumbuh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fabel (Hewan)
Lolos moderasi pada: 12 January 2021

Tempat ini dulunya tak setegang ini. Pernah ada masa dimana semua baik-baik saja. Saat itu banyak harapan yang digantungkan agar terus bertumbuh dan berkembang. Bersemi membawa keindahan. Itulah yang kami semua harapkan, harapan yang digantung setinggi langit agar dapat membawa perubahan.

“Kamu kenapa murung begitu Anna?”
“Aah, nggak papa Heni”
“Aku tahu kamu lagi sedih kan, melihat keadaan sekarang?”
“Kita semua sedih Hen, hanya saja beginilah hukum alam, siapa yang kuat dia yang menang”
Percakapanku dengan Heni saat itu seharusnya tidak diperlukan, kita hanya akan mengingat luka lama. Setelah dipindahkan, dia tinggal didekatku. Dialah yang terus menemaniku berproses, bertumbuh, sama-sama berjuang untuk lepas dari luka lama itu.

Awalnya semua terlihat indah. Ada harapan yang disemai dengan baik, berharap akan tumbuh subur, membawa perubahan bagi daerah ini. Tidak ada yang mengira rencana ini tidak akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan, karena semua sudah ditata sedemikian rupa, telah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.

Harapan itu mulai tumbuh, perlahan menjalar menembus awan, memperlihatkan kepada kita tentang masa depan yang rupawan. Sampai pada suatu hari mereka datang, tentara yang entah sebenarnya memiliki motif apa. Mereka datang hanya untuk memuaskan nafsu mereka, tidak segan untuk menghabisi siapapun yang sudah mereka incar. Kami semua tahu kami tidak bisa apa-apa, satu demi satu mereka memenggal kami. Mereka berusaha untuk memutus pertahanan kami dari pangkal, membuat kami menjadi semakin tidak berdaya. Saat itu harapanku pupus, mungkin kami semua akan bernasib sama. Harapan yang perlahan tumbuh, perlahan layu.

Namun semua akhirnya berubah, setelah tempat baru ditemukan. Semua orang yakin tempat itu akan jauh lebih aman, jauh dari jangkauan tentara-tentara bersama operasinya. Satu masalahnya, tempat itu tak terlalu luas untuk kita semua bertahan. Jika tempat itu kapasitasnya dipaksakan, hanya akan membunuh kita secara perlahan.

Kami terpaksa berbagi, sebagian bertahan di tempat lama dan berdoa agar tidak menjadi korban, sedangkan yang lain berada di tempat yang lebih aman, jauh dari jangkauan para tentara. Aku masih bisa melihat mereka yang bertahan, miris rasanya meninggalkan mereka harus bertaruh pada alam. Namun apa dayaku, aku hanya bisa berdoa memohonkan perlindungan. Kami semua merasa merana atas hal ini, tak mungkin kami tak iba atas apa yang harus teman-teman kami lalui. Namun pastinya pengorbanan mereka tak akan sia-sia, harapan yang direncanakan akan terus tumbuh, dan nantinya akan melahirkan generasi beru untuk meneruskan perjuangan ini.

Sekarang semua harus tetap berjalan, meskipun sakit ini masih kurasa, aku harus terus menumbuhkan harapan ini. Suasana sendu tidak pernah lepas dari tempat ini, guyuran hujan semakin membawa kedukaan. Namun di tempat ini ada hal yang sangat aku suka, melihat seorang ibu dan anaknya yang bercengkerama, bercanda dengan membawa suasana hangat. Entahlah aku sangat mencintai mereka. Meskipun mereka belum bisa menyelamatkan kami semua, namun mereka membuat harapan itu terus tumbuh. Aku masih mengingat betul bagaimana percakapan mereka saat hari tragedi itu terjadi.

“Looh bu, bunga mataharinya mati”
“Kok bisa mati nak? Coba deh kamu cek!”
“Kenapa ya bu, tapi pangkal batangnya berongga, kayaknya digerogotin sama semut deh”
“Coba kamu pindahkan aja ke atas meja, tapi nggak cukup untuk semua ya?”
“Nggak masalah deh bu, yang penting ada yang bisa diselamatkan”

Cerpen Karangan: Adhitiya Ef
Blog / Facebook: Fikri Akhmad Adhitiya
Fikri Akhmad Adhitiya, dengan nama pena Adhitiya Ef lahir di Malang pada tanggal 08 November 1999. Saat ini dia tinggal di Kabupaten Tuban bersama keluarganya yang tercinta. Mulai gemar menulis sejak mengikuti lomba cerpen saat masih menempuh pendidikan SMP. Sebelumnya dia pernah belajar di SDN Mulyoagung 1 Singgahan Tuban, SMP Plus Ar-Rahmat Bojonegoro dan MAN 1 Kota Malang. Saat ini masih dalam proses menyelesaikan studi Diploma di sebuah kampus di Tangerang Selatan, Banten. Memiliki motto hidup bertekad kuat menjunjung kejujuran yang mengisyaratkan pentingnya semangat berjuang dan integritas baginya. Teman-teman bisa menghubunginya untuk memberikan saran, kritik atau masukan pada emailnya fikriadhitiya[-at-]gmail.com atau Instagram fikri_adhitiya. Jangan sungkan untuk menghubunginya, dia akan sangat senang jika mendapatkan masukan positif dan belajar bersama, karena tentunya tidak ada satu manusia yang luput dari kekurangan.

Cerpen Tumbuh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Si Landak Baik Hati

Oleh:
Pada suatu hari di hutan gunung muria tinggallah seekor Landak. Landak adalah hewan kecil yang mempunyai duri-duri tajam di tubuhnya seperti durian. Ia tinggal di sebuah lubang pohon bekas

Pak Moo

Oleh:
Pak Moo, si sapi, benar-benar gundah. Tanaman di kebun mulai mengering. Warnanya coklat kusam. Hari ini hujan belum juga turun. Sementara, sungai telah kering. Tidak ada air yang tersisa!

Asal Usul Kota Surabaya

Oleh:
Dahulu di lautan hiduplah 2 hewan. Yaitu ikan sura dan buaya. Kedua hewan itu sering berkelahi untuk memperebutkan makanan. Pada akhirnya kedua hewan itu bosan. “hai buaya apa yang

5 Bulan Menghilang Aku Sendiri

Oleh:
Ku pandangi sebuah rumah yang tak berpenghuni itu dengan tatapan hampa, seharian aku menunggu. Di depan rumah itu, berharap ada seseorang yang membukakan pintu, terkadang aku tertidur di depan

Kambing Yang Baik Hati

Oleh:
Di sebuah desa di dalam hutan, hiduplah seekor kambing yang bernama Mbek. Dia memiliki tanduk yang lumayan besar di kepalanya, Dia hidup sebatang kara, dia hanya memiliki rumahnya sebagai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *