2996 bukan 1996

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 30 January 2017

Aku menyeka keringat yang terus bercucuran. Langit hitam di atas sana tidak menunjukkan adanya cahaya matahari yang menyengat kulitku. Terus berlarian ditengah napas yang memburu, membuat tubuh ini cepat lelah. Bertahap mencoba bertahan. Beberapa kali terjatuh, terseok, terpental, tertelungkup namun rentetan peluru yang menghujam tubuh ini terus membuatku berlari. Rambutku basah bukan karena hujan. Darah terus keluar, membanjiri kaki kananku.

“Hentikan! Hentikan pemuda itu!” teriak seorang tentara berseragam militer Kolonial Colorado sambil membawa senapan yang terus memberendengku dengan peluru-pelurunya.

“Tetap di situ kalau tidak ingin terluka lebih parah!” teriak tentara lainnya.

Di tangga ke-379, aku sudah tak tahan lagi. Di sini sangat pengap, tak ada udara ataupun oksigen. Hawa dingin segera menusuk-nusuk tulangku yang menonjol seperti kulit tak berdaging. Tapi aku harus terus menuju atas gedung parlemen ini jika tak mau semua usaha yang telah kukerjakan sia-sia. Bahkan jika ku mati, aku tak mau semua orang yang ada di dunia ini di bawah pengaruh Darko. Aku harus menghentikan ini! Jika tak ingin populasi manusia berkurang karena zat berbahaya itu.

20 anak tangga lagi pikirku, kalau tidak salah. Gedung parlemen ini berbentuk bundar melingkar menuju cakrawala langit. Dari atas kalau tak salah adalah ruang kontrol, diikuti lantai di bawahnya adalah ruang-ruang para penjabat yang menduduki di pemerintahan Koloni ini. Dan ada satu lantai di mana lantai itu ditempatkan menjadi laboratorium. Dan aku tahu di lab itu sedang dilakukan percobaan yang menurutku sangatlah kontroversial dan tidak manusiawi. Dan malam ini juga, aku harus segera pergi ke sana untuk menghentikan semua ini sebelum terlambat.

“Itu dia!! Dia di lantai 385!! Cepat! Cepat!” sebuah suara dari belakang yang sepertinya seorang kapten.

Aku tahu aku tak punya cukup waktu lagi untuk berlari. Bahkan kudengar suara derap langkah kaki tak kurang dari 3 anak tangga yang berarti mereka lebih dekat dan mungkin saja bisa melihat wajahku.

“Tangkap dia! Tembak di kakinya! Buat dia lumpuh!” aku capek! Mendengar suara-suara perintah yang entah datang dari sang komandan atau prajuritnya. Yang pasti setiap peluru yang mereka keluarkan, kucoba menghindar. Walau kaki ini sudah tak tahan lagi untuk setidaknya beristirahat.

Tepat ketika tubuh ini menoleh, dalam sekejap kulihat sebuah peluru terbang melintasiku. Hampir saja, pikirku. Sebelum saatnya bernapas untuk fokus berlari, dua peluru berturutan menembus kulitku. Mengenai kakiku yang terluka parah. Dan… semua keadaan mulai gelap di sekelilingku.

Aku tak bisa melihat diriku. Aku juga tak bisa merasakan apa yang seharusnya kau rasakan ketika tubuhmu bercucuran penuh darah. Tapi aku sama sekali tak merasakan sakit yang menyerang kakiku. Aku tak bisa melihat sekeliling. Gelap. Penuh debu —sepertinya. Mataku tak biasa dengan keadaan gelap seperti ini. Meskipun pernah tinggal di gua yang gelap tapi itu masih tak seberapa dibanding saat ini. Aku tak tahu di mana aku. Aku juga tak bisa melihat siapapun sampai kudengar derap langkah orang dan sebuah percakapan yang membuatku geram.

“Dia ada di sini.” Suara lelaki —aksen Inggrisnya kental.

Zachr!

Aku hapal siapa orang itu. Tapi aku tak tahu dengan siapa atau untuk siapa dia berbicara seperti itu. Yang aku tahu hanyalah suara langkah-langkah yang terus mendekat. Dua sepatu berlainan. Aku kenal sepatu yang satunya, benar-benar Zachr! Tapi aku tetap tak tahu siapa sepatu lainnya. Suara itu semakin dekat.

“Bagaimana keadaannya? Kudengar kakinya berdarah.” Suara laki-laki juga! Tapi entah kenapa, yang satu ini suaranya berat dan terkesan berkuasa di banding suara Zachr yang dingin.
“Dioperasi semalam. Diganti dengan logam —kaki buatan.” Hatiku geram, apa yang mereka bicarakan? Siapa yang mereka bicarakan dan apa maksudnya? Kaki? Kakiku memang kurasakan berdarah. Tapi itu dulu, dan kini…

Jangan-jangan… Kucoba meraba kedua kakiku dengan tanganku. Dan yang benar saja! Sebuah benda licin, tebal dan seperti besi. Bertengger di kaki kananku dari paha mungkin sampai ujung jari-jari kakiku.

Seseorang telah menggantikan kaki asliku dengan logam kaki palsu!! Tidak mungkin! Kapan? Ketika ku pingsan semalam? Semalam? Kemarin kah? Di manakah aku? Bukankah waktu itu aku hanya ingin menuju ruang laboratorium? Kok…

“Selamat datang di penjara istimewa The Darko`s Company —selamat telah mencapai gedung parlemen Koloni Colorado tercinta ini, dan selamat datang di rumahku.”

Darko`s Company!! Jadi… aku sekarang berada di penjara bawah tanahnya, mungkin?

Ketika Darko sedang berbincang-bincang dengan Profesor Karl John —ayah Allex di sebuah ruangan gedung parlemen Koloni Colorado.

“Kau yakin?” tubuh profesor yang baru lulus S3 dari Oxford University tersebut terhenyak ke pangkuan empuk sofa berbahan wol itu.

“Tentu saja, dengan membangun sebuah perusahaan yang berguna bagi umat manusia aku yakin nama kita akan melejit kembali sebagai pasangan ilmuwan dan pembisnis yang populer seperti dulu. Dan kita akan gunakan ruangan ini untuk kita jadikan laboratorium sebuah percobaan terhadap manusia.” Profesor muda itu kembali membetulkan kacamatanya, menunggu rekan kerjanya melanjutkan explanationnya.

“Percobaan ini aku sangat yakin akan berhasil.” Hanya itu.

“Percobaan apa?” kali ini profesor itu benar-benar di buat penasaran dengan pernyataan Darko yang terputus-putus.

“Kau tahu? Percobaan pengendalian zat pada otak manusia.” Suara Darko yang terdengar menggelegar penuh semangat. Memecah kesunyian di ruang itu —malam bulan purnama ke-41. Di sebuah ruang —gedung parlemen Koloni Colorado, Amerika.

Kedua wajah itu berseri-seri bak malaikat turun dari langit. Kedua lelaki pemimpin utama perusahaan itu tersenyum lebar. Ketika sang profesor memasukkan sebuah tabung berisi zat ke dalam selang-selang kecil yang telah terhubung satu sama lain. Ketika zat tersebut mulai mengaliri darah tubuh seorang manusia.

“Sepertinya ini akan berhasil.” Gumam salah satu dari pemimpin itu.

Yang satunya hanya mengangguk takjub —melihat perubahan yang terjadi pada si tubuh manusia itu. Setelah zat tersebut mencapai titik teratas —otak, tiba-tiba jari-jemari tubuh itu bergerak. Walau tak kelihatan. Karena tubuh itu berada di dalam tabung besar berisi air.

Bip bip bip bunyi ditandai dengan munculnya sesuatu di layar monitor.

“Dia bergerak! Kita berh—” suara lelaki itu berhenti.

“Zachr —otaknya, telah berubah.” Kata lelaki lainnya dengan dingin.

Mereka semua, kedua lelaki dan profesor di ruangan itu dibuat takjub dengan tiba-tiba tubuh seseorang itu keluar dari tabung dengan sendirinya. Seperti sebuah mesin —yang sudah dikontrol untuk melakukan sesuatu. Tiba-tiba, manusia bernama Zachr itu melangkah dengan tubuh telanjang menuju lemari pakaian di samping layar berkedip itu. Mengambil pakaian kebesarannya dan siap melangkahi dunia.

“Hebat!!” kedua lelaki itu tak henti-hentinya mengagumi hasil eksperimen si profesor tersebut yang digagas oleh seseorang —di balik itu semua.

“Sudah kukatakan kan? Bahwa eksperimen ini, pasti akan berhasil.” Sesosok lelaki muda bersetelan jas datang menghampiri keduanya.

Tapi dia tidak sendiri, di belakangnya seorang wanita paruh baya yang kedatangannya langsung membuat sang profesor terkejut.

“Istriku! Syecha?!” lelaki yang mengantarnya tadi tersenyum—sinis.

“Zachr!” perintahnya —manusia yang baru saja keluar dari tabung itu menoleh. Siap diberi perintah oleh bossnya.

“Bunuh wanita ini!” dengan cepat manusia berotak robot itu membunuh wanita —Syecha —istri profesor tersebut dengan menembaknya.

Sang Profesor jelas tak terima, “Darko! Apa yang kau lakukan?!” marahnya. Kaget —tiba-tiba saja istrinya dibunuh di depan mata kepala sendiri oleh manusia robot yang diciptakannya.

“Sudah kukatakan bahwa robot ini dibawah kendaliku. Jadi, dia tidak mungkin menolak perintahku.” Ujar Darko dengan tenang.

“Ini tidak seperti dalam perjanjian itu, kau bilang bahwa perusahaan ini berdiri atas dasar kemaslahatan umat manusia. Rupanya… kau…” sang profesor benar-benar tidak bisa berpikir —bagaimana mungkin?

“Kalau kau memang tak setuju denganku lebih baik kau pergi dari sini.” Jawab Darko masih dengan enteng.

Sang profesor terdiam. Kedua lelaki itu menatap rekan mereka, lalu jika profesor itu pergi siapa yang membuat eksperimen ini terus berjalan?

“Baik —aku akan pergi dari sini.” Kata Profesor.

“Tunggu! Jack? Tidakkah kau setuju dengan pernyataan Darko?” orang yang dipanggil Jack menggeleng.

“Tidak, Johnattan. Aku pikir, profesor ini harusnya tetap di sini. Untuk kelangsungan perusahaan ini.” Johnattan mengangguk.

“Tidak masalah jika dia akan pergi, toh aku sudah memiliki zat itu dan tinggal mengaturnya untuk membuat semua tentara-tentara di sini tunduk padaku.” Sang profesor menggeleng dan siap mengambil sampel zat yang masih tersisa di tabung itu.

Namun terlambat! Dengan cepat, peluru menembus jantungnya. Seperti sinyal handphone yang begitu kuat. Manusia robot itu merobohkan sang profesor atas perintah Darko.

Allex tumbuh dengan baik di lingkungan yang cukup baik. Hanya saja, dirinya tidak tinggal dengan orang-orang terkasihnya. Dia tinggal di sebuah kota elit di Koloni Colorado —sendirian. Dia memiliki misi —menghancurkan perusahaan Darko yang telah menghancurkan kedua orangtuanya. Berhasilkah dia? Kita tunggu cerita selanjutnya pada cerpen berikutnya.

Cerpen Karangan: Afina Anfa Ana
Blog / Facebook: Imajinasi Liar / Afina Ana
Afina Anfa Ana
aanfaana01
Jl Kaliurang km 14,5 Yogyakarta

Cerpen 2996 bukan 1996 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Putri Tasya Yang Baik

Oleh:
Di bagian barat laut arafuru, terdapat kerajaan yang besar dan megah. Ada seorang Raja dan Ratu. Ratu itu bernama Keisya. Ratu Keisya baru melahirkan bayi ketujuh. Dia sangat senang

Onregelmatig

Oleh:
Masih kukayuh sepeda tua ini menghampiri sebuah toko “Doll winkel”. Kulihat ada sebuah boneka yang sangat lucu, kupegang kedua tangannya. Boneka itu berbicara padaku “Weg van mij(menjauh dariku)” kata

Dimensi

Oleh:
“Tapi sekarang aku cinta sama kamu Na” Arfan berkata agak keras karena Runa berada agak jauh darinya. Runa hanya diam. Memandang Arfan sebentar. “Jangan pergi” Arfan lari, tapi tiba-tiba

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “2996 bukan 1996”

  1. Afina says:

    Makasih ya… udah di posting, maaf baru buka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *