3 Permintaan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 17 February 2016

Andi, Toni, dan Lukman. Ketiga pemuda tersebut sedang melakukan petualangan di sebuah hutan belantara. Dan sekarang mereka sedang beristirahat di bawah pohon Jati di tengah hutan belantara. “Aku mau keliling-keliling sekitar sini. Sebentaaar doang… Oke?” jelas Lukman.
“Oke, tapi jangan lama-lama,” pesan Andi.
“Siip!” jawab Lukman. Lukman pun pergi dengan santainya.
“Di, kamu masih punya minum nggak? Kalau masih, minta dong…” pinta Toni kepada Andi.
“Enak aja! Nanti minumku dihabisin lagi…” jawab Andi menolak.
“Yaah… sedikiiit saja… boleh ya?” tanya Toni memelas.
“Nggak mau!” tolak Andi.
“Yaah… dasar pelit!” ejek Toni. Hening sesaat, namun Toni mulai angkat bicara lagi.

“Kalau makanan boleh minta? Aku lapeer…” tanya Toni sambil cengengesan.
“Huu… tadi udah ngejek. Eeeh… masih be–” kata-kata Andi terputus karena mendengar jeritan Lukman. Dengan segera, Andi dan Toni berlari menghampiri asal suara Lukman.
“Hosh… hosh…. Eh, ngapain sih pakai teriak-teriak segala? Kayak anak perempuan aja!” omel Andi dengan napas belum teratur. “Nih, lihat!” kata Lukman sambil menunjukkan sebuah benda. Seperti teko, namun lebih kecil, berwarna emas, mirip seperti lampu ajaib.
“Apaan tuh? Kayak lampu ajaib aja…” tanya Toni.
“Memang lampu ajaib!” jawab Lukman semangat.

“HAH?!”
“Ish… kalian nggak percaya?” tanya Lukman meyakinkan.
“Nggak!” jawab keduanya serempak.
“Oke, kalau gitu kita buktiin… yang kalah, suruh traktir sepulang nanti. Gimana, setuju?” tawar Lukman.
Andi dan Toni saling berpandangan. “DEAL!!” Lukman menggosok-gosokkan lampu ajaib seperti yang ada di dalam film-film. Tiba-tiba ke luar sesuatu dari dalamnya.

JIN!!

Berwarna biru, tidak punya kaki, memakai aksesoris yang berlebihan. Mirip jin-jin yang ada di film-film.
“WAAH!!! Kerenn… aku nggak percaya!” ujar Toni.
“Selamat siang wahai tiga pemuda! Saya jin dari dunia lampu ajaib. Masing-masing dari kalian akan menerima satu permintaan karena sudah membebaskan saya dari lampu ajaib itu. Dan saya akan mengabulkannya,” ujar Si Jin. “Dimulai dari kamu!” kata Si Jin sambil menunjuk Lukman.
“Saya mau menjadi idola sekolah!” kata Lukman bersemangat.
“Akan saya kabulkan. Yang kedua, kamu!” tunjuk Si Jin kepada Toni.
“Karena saya sedang haus dan lapar. Saya mau makanan dan minuman yang enak!” jawab Toni sambil melirik Andi.
“Baiklah.”

Tring!!

Di sana langsung tersedia beberapa makanan dan minuman mewah. Toni langsung memakan semuanya dengan lahap dan rakus. “Dan yang terakhir, kamu!” tunjuk Si Jin kepada pemuda terakhir. Yaitu Andi.
“Sa-saya…. Saya mau jin bisa memiliki kakinya kembali!” kata Andi.
“Apa maksudmu wahai anak muda?” tanya Si Jin.
“Aku kasihan lihat jin nggak punya kaki. Dia nggak bisa jalan. Jadi aku meminta agar jin memiliki kakinya kembali,” jawab Andi polos.
“Kamu aneh…” kata Lukman melongo.
“Walaupun begitu, aku akan tetap mengabulkan permohonanmu,” jawab Si Jin cengengesan.
Tring!! Mulai sekarang, jin sudah memiliki kakinya kembali.

Cerpen Karangan: Salsabila Husniyya
Facebook: Salsabila Hantoro

Cerpen 3 Permintaan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cermin Antik

Oleh:
Rose terus memandangi dirinya di depan cermin. Sebuah cermin antik yang sudah ada sejak ia dilahirkan, kira-kira sudah berusia ratusan tahun. Tak henti-hentinya Rose mengelus-elus wajah cantiknya itu. “Wahai

Bebas

Oleh:
Bebas, apakah salah jika seseorang mengharapkan kebebasan di hidupnya? Menjalani segala sesuatu tanpa mengkhawatirkan apapun. Sayangnya hal itu takkan pernah bisa terwujud karena hidup itu sendiri tidaklah bebas. banyak

Joana (Part 2)

Oleh:
Aku terus berpikir apa yang sedang terjadi. Setelah bel istirahat berbunyi lola mengajakku untuk ke kantin bersama namun aku menyuruhnya pergi duluan nanti aku menyusul, sebenarnya aku ingin berbicara

Godaan Es Campur

Oleh:
Aku di sini menetap. Diam tak berkata. “Itu mereka!” dengan cepat aku menggoda. Keringatnya mulai bercucuran. “Hei, Nak! Kemarilah” Aku terus memanggil orang-orang itu di tengah keramaian. Mereka hanya

Asembagus, Situbondo

Oleh:
Arum cepat-cepat melepaskan sandal jepitnya yang usang. Melipat celana panjangnya. Lalu, merendam kakinya buru-buru. Ia duduk di bibir sungai. Merendam kaki mungilnya di sungai kecil itu. Cara ini memang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *