5 Demon Butlers (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 11 January 2016

Cerita tentang seorang anak perempuan yang menemukan daerah yang ditinggali banyak orang. Anak ini tidak tahu tentang kutukan apa pun dan masuk dalam persahabatan yang rumit.

“Daripada aku harus menanggung derita saat teman-temanku mati akan lebih baik bila aku pergi.” kataku lalu aku membuka portal menuju paralel world, dan aku masuk ke dalam dimensi. Tak tahu harus ke mana aku yang bingung terus maju ke depan.

“huuweee.. hiks hiks huuuu..” bunyi suara.
“mmm? siapa yang sedang menangis itu?” tanyaku.
“hahahaha woi anak manja masa cuma segini aja kamu menangis.” bunyi suara yang lain tersebut.
“he-he-hentikan, huuueee… hiks hiks huuuuu… hiks hiks.” bunyi suara tersebut.

“ah, oi! kalian, beraninya sama anak perempuan, sini kalian aku beri kalian pelajaran!” kataku yang melihat kejadian tersebut.
“hoi! siapa kau? kau bukan orang sini ya? pergi sana! orang asing dilarang berbicara pada kami.” kata anak lelaki tersebut.
“apa!? ku hajar kalian, biar bisa bicara sopan padaku.” kataku yang kesal dengan perlakuan mereka.
“Sean, lebih baik jangan.” kata anak lelaki A.
“emang kenapa? cuma anak cewek ini.” kata Sean.

“tapi gimana kalau cewek itu bukan manusia biasa, jangan-jangan itu cewek yang terkena kutukan.” kata lekaki B.
“aku tidak tahu apa yang kalian katakan, tapi kalau kalian masih mengganggu perempuan ini, maka aku tidak akan tinggal diam.” kataku.
“diam kau cewek iblis!” teriak Sean.
“he? heee? aku tidak tahu siapa itu cewek, tapi sepertinya perkataan tersebut mengarah padaku.” dengan kesalnya aku bersiap untuk memukul, dan…

“duakh!! buk!! plak!!” perkelahian pun terjadi, ya.. terjadi.
“kemarilah hiiaah! hiat, haah!” kataku dengan lantang.
“wawawa, sakiiit, hei kalian cepat bantu aku!” kata Sean yang dihajar olehku.
“hiiii, kan kan sudah ka-ka-ka-kami bi-bilang.” kata mereka.
“apa?! kalian mau juga?!” kataku sedang kesal.
“ng-nggak ka-ka-kabuur!!” teriak mereka yang lalu melarikan diri.

“kurang ajar, kalian pengecut! nggak setia kawan!” teriak Sean.
“fiuh, akhirnya mereka pergi juga.” kataku, aku pun berhenti untuk memukul anak tersebut.
“huuu sakitt.” kata Sean.
“kamu memang sakit, karena aku pukuli, akan tetapi, anak perempuan ini juga sakit karena kalian jahili.” kataku.
“eh? mmm makasih ya, sudah menolongku.” kata anak perempuan tersebut.

“nah kalau begitu ayo salaman, salaman itu tanda minta maaf.” kataku, lalu mereka pun mulai salaman.
“maaf ya, aku nggak ada maksud kok, habis kamu diam saja sih, kami ajak main aja nggak mau.” kata Sean.
“tapi kan tidak harus seperti tadi, bicaralah baik-baik, tidak perlu dijahili.”

“ngomong ngomong, kamu ini siapa? kenapa ke desa kami?” tanya Sean.
“eh? aku? aku Serene, aku cuma kebetulan lewat saja.” kataku.
“oh, namaku Sean Samuel Breaker, aku adalah tetangga Chloe.” kata Sean.
“aku Chloe salam kenal.” kata Chloe.
“salam kenal.” kataku.

“Chloe, ayo cepat kita pulang, sudah sore nanti aku dimarahi Kakak.” kata Sean.
“loh kok buru-buru pulang?” tanyaku.
“kenapa kami harus jawab pertanyaanmu itu? ayo Chloe, kita pulang, lagi pula kita dilarang untuk bicara dengan orang asing, kalau ketahuan kamu bicara sama orang asing nanti Ayahmu bisa marah.” kata Sean.
“eh, tunggu dulu el.” kata Chloe.
“sombong sekali aku kan hanya bertanya.” kataku dengan sedikit cemberut.

“sudahlah.” kata Sean.
“eh? el?” tanyaku.
“kalau Serene mau kamu bisa tinggal beberapa hari di rumahku.” kata Chloe.
“Chloe! apa kau tidak dengar barusan aku bilang apa?” kata Sean.
“aku tahu, tapi kita tidak bisa membiarkan Serene di luar sendirian, apalagi ini sudah sore, kan bahaya kalau malam.” kata Chloe.
“terserah kau sajalah.” kata Sean.

“oi! Sean! Chloe!” teriak seseorang.
“hmm? geee! Kakak, gimana nih? pasti aku kena marah lagi.” kata Sean.
“itu sudah pasti terjadi, kan kamu anak yang menjahili Chloe.” kataku.
“kalian berdua! sudah ku bilang jangan main di sini.” kata anak yang baru datang.
“maaf.” kata Sean dan Chloe.

“eh? kamu siapa?” kata anak tersebut.
“aku Serene, salam kenal.” kataku dengan sedikit membungkuk dan berdiri tegap lagi.
“aku Dean Leviathan Breaker.” kata Dean.
“eeh? Breaker, berarti Sean ini Adikmu ya?” kataku dengan sedikit terkejut.

“iya, apa dia melakukan hal yang aneh?” kata Dean.
“hahaha tidak, pastinya.” kataku ke Dean sambil melirik ke Sean.
“hahaha, Kakak kenapa ke mari? bukankah ada pekerjaan yang harus diselesaikan?” tanya Sean yang mengalihkan pembicaraan.
“aku sudah selesai, tapi saat Ayah Chloe mencari Chloe dan menanyaiku, aku pun segera mencarimu, karena Kakak tahu kamu pasti bersama Chloe.” kata Dean.
“jangan sok tahu ah, aku kan biasanya bermain dengan teman-temanku.” kata Sean.

“heheee teman-teman ya? lalu kenapa Chloe ada di sini?” tanya Dean.
“pengalihan pembicaraan pun dimulai.” kataku.
“eh? maksudnya pengalihan?” tanya Dean.
“kau tanyakan saja pada Sean Breaker Adikmu ini.” kataku.
“Sean Samuel Breaker, apa kau berbuat sesuatu pada Serene.
“a-a-aku tidak berbuat apa-apa kok, dia yang mukul aku duluan.” kata Sean.

“heeee? dipukul cewek?” kata Dean.
“iya, aku yang memukulnya.” kataku dengan tegas.
“ghhh, khhh gyahahahaha!” tawa Dean.
“woi! jangan ketawa!” kata Sean yang marah.
“hahaha, maaf hahaha, habis kalau soal pertarungan kamu kan tidak pernah kalah.” kata Dean.
“itu kalau manusia, dia ini jangan-jangan monster yang sedang menyamar.” kata Sean.

“apa!? aku ini bukan monster tahu.” kataku dengan marahnya dan.. “duakh.” suara pukulan pun dilayangkan.
“aduh, kepalaku sakit…” kata Sean.
“Kamu juga sih yang salah, perempuan kamu lawan.” kata Dean.
“habis dia ikut campur urusanku sih.” kata Sean.
“kalau kamu bersikap begitu terus, nanti kamu dibenci loh.” kata Dean.

“Dean baik ya, mmm tidak seperti Adiknya.” kataku dengan Chloe.
“tidak juga, Sean itu sebenarnya baik, hanya saja dia seorang pemalu.” kata Chloe.
“saya harap Serene tidak membenci Adik saya, dia memang keras kepala dan susah diatur, tapi dia ini orang baik kok.” kata Dean.
“hmm, begitu ya, sudah aku kira, ternyata Kakaknya lebih pengertian dibandingkan Adiknya yang keras kepala.” kataku sambil membandingkan, lalu aku tidak sengaja melihat rumah besar yang di dalamnya ada sesuatu yang membuat aku penasaran.

“itu, aku ingin bertanya, di rumah itu ada penghuninya?” tanyaku sambil menunjuk.
“eh? umm, begini Serene, sebenarnya daerah ini sangat berbahaya.” kata Dean.
“eh? kenapa ini? ini kan hanya jalanan biasa.” kataku dengan terkejut.
“lebih baik kita pergi, sebelum terjadi masalah.” kata Sean.
“baiklah.” kataku dengan patuh.

“Serene, kamu belum pernah ke sini ya?” tanya Dean dan dengan cepat aku menjawabnya.
“iya, aku baru pertama kali, tapi saat ke sini seperti ada orang yang memanggilku.” kataku dengan jujur.
“memanggilmu, suaranya seperti apa?” tanya Dean lagi dan lalu ku jawab.
“suaranya agak sedikit halus tapi juga kasar, tetapi sepertinya dia sedang dalam keputusasaan dan juga kesedihan yang dalam.” jawabku dengan jelas.
“di sini tidak ada yang punya suata seperti itu.” kata Sean.

“tapi aku yakin, dan terdengar jelas bahwa dia meminta pertolongan.” kataku lagi.
“tapi memang benar Serene, tidak ada seseorang yang mempunyai suara tersebut.” kata Chloe.
“sayang sekali, ternyata hanya perasaanku saja mungkin yang mendengarnya.” kataku dengan perasaan yang sedih.
“begini Serene, hari ini mau menginap di rumahku?” kata Chloe.
“apa boleh? apa aku tidak mengganggu keluargamu?” kataku yang ragu, tetapi Chloe meyakinkanku dengan memegang tanganku. “tidak apa-apa, mereka pasti senang aku punya teman.” kata Chloe sambil tersenyum.

“iya, hari ini menginap saja di rumah Chloe” kata Dean.
“ah!? Kakak, jangan berbicara yang tidak-tidak!” kata Sean yang tidak setuju.
“he~h kamu tidak setuju ya, tapi sayangnya Chloe yang mengajaknya terlebih dahulu.” ledek Dean ke Sean, tidak beberapa lama mereka pun sampai di dekat tengah-tengah kota pedesaan.

“Chloe! dari mana saja kamu? Ibu sangat khawatir pada dirimu, bagaimana kalau terjadi sesuatu? jangan pernah pergi seperti ini lagi, mengerti!” kata seorang wanita tua.
“iya Bu, aku minta maaf, pasti Ibu khawatir.” kata Chloe yang merasa takut.
“Chloe, ini siapa?” kataku dengan bingung.
“kenalkan Serene, ini Ibuku Clarissa.” kata Chloe.
“oh, salam kenal, saya Serene.” kataku dengan sopan.

“kamu, sepertinya aku tidak pernah melihatmu di desa ini.” kata Clarissa.
“Ibu, dia baru pertama kali ke sini.” kata Chloe.
“benarkah? kalau begitu selamat datang di desa primera.” kata Clarissa.
“Bu, kalau boleh, izinkan Serene menginap di rumah kita dulu tidak apa-apa kan.” kata Chloe.
“boleh saja, tapi kamarnya belum siap, tidak apa-apa kan.” kata Clarissa.
“tidak apa-apa, Serene bisa tidur bersamaku di kamarku.” kata Chloe.
“ya sudah, sekarang lebih baik kalian berempat pulang dan mandi, lalu kita makan bersama.” kata Clarissa.
“baik.” kami serempak pun berkata demikian.

Setelah itu kami pun pergi ke rumah Chloe. “wah, rumahnya luas ya.” kataku dengan sangat senang.
“memangnya rumahmu sempit ya?” ejek Sean padaku.
“tidak, hanya saja aku merasakan kehangatan di rumah ini.” kataku, lalu aku pun akhirnya mandi dan makan bersama mereka.

Bersambung

Cerpen Karangan: Ratu Tridiany
Facebook: mamoru_yueki[-at-]yahoo.com
Saya hanya iseng untuk menulis cerita ini di masa SMA dulu.

Cerpen 5 Demon Butlers (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hampa

Oleh:
Senja semakin mendekati klimaksnya, semburat awan yang semula putih kini menjadi kuning oranye sempurna. Suara uap air dalam ketel yang terus berhembus dan mendesak keluar, meramaikan suasana sore itu.

Batang Singkong

Oleh:
Aku adalah sepotong batang yang telah berkayu berdiameter kurang lebih 2,5 cm, tubuhku lurus dan belum ditumbuhi oleh tunas-tunas baru. Aku sangat berterimakasih pada Allah SWT karena telah memberiku

Dunia Kita Berbeda

Oleh:
Namaku Vesya. Aku adalah seorang gadis berkacamata yang duduk di bangku kelas X SMA Nusa Bangsa, selain gadis yang berkacamata aku juga seseorang yang pendiam dan tidak terlalu akrab

Paradoks Penyelamat

Oleh:
Langit mulai berwarna jingga pekat, matahari sudah mulai tak terlihat menunjukkan malam akan segera tiba. Seperti biasa setiap hari, bos menyuruhku untuk bekerja lembur karena akhir-akhir ini perusahaan kami

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *